
Kenzo baru saja menyelesaikan pekerjaannya bersama Asistennya. Ia langsung berpamitan pada Asistennya untuk kembali ke kamar.
"Anda pergi ke kamar? tidak pergi ke apartemen?" tanya si Asisten.
"Kenapa ke sana kalau pemiliknya saja ada di kamar," jawah Kenzo.
"Ah, begitu. Baiklah, silakan bersenang-senang, Pak." goda si Asisten tersenyum.
"Ya, kamu cepat rapikan itu dan pulang. Besok datanglah siang," kata Kenzo.
Asisten menganggukkan kepala, dan berterima kasih karena Kenzo berbaik hati memberikan waktu istirahat yang panjang.
Dalam perjalanan menuju kamarnya. Pikiran Kenzo dipenuhi oleh sesuatu, yakni Jassper. Kenzo tidak tahu, apa yang direncanakan Jassper, sehingga membuat beberapa kenalannya berbalik memihak Jassper.
"Dia mulai bergerak. Dia kira dengan mempengaruhi beberapa orang akan bisa melengserkan posisiku? Jangan harap," batin Kenzo.
Ia mempercepat langkah kakinya menuju lift. Ia menekan tombol lift dan menunggu pintu lift terbuka. Tidak lama pintu lift terbuka, dan Kenzo pun segera masuk. Ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, ternyata sudah hampir tengah malam. Berpikir, jika Adelle pasti sudah tidur.
***
Kenzo membuka kamar. Ia disambut Adelle yang berlari menghampirinya. Kenzo memeluk erat tubuh kekasihnya.
"Belum tidur?" tanya Kenzo.
"Belum. Aku menunggumu. Apa pekerjaanmu sudah selesai? Apa ada masalah?" tanya Adelle melepaskan pelukan.
"Pekerjaanku sudah selesai. Memang ada sedikit masalah, tapi sudah teratasi. Kamu tidak mengantuk? Lihat wajahmu ini, tampak sangat lelah." kata Kenzo menangkup wajah Adelle dan mendekatkan wajahnya ke wajah Adelle hingg hidung mereka bertemu.
"Aku tidak lelah. Kamu kan selalu ada untuk jadi penghiburku, juga sandaranku." kata Adelle tersenyum cantik.
Kenzo tersenyum. Ia langsung menahan tengkuk leher Adelle dan mencium bibir Adelle. Mereka berciuman mesra.
__ADS_1
***
Di tempat lain. Di apartemen Lalisa. James yang kesal sedang minum-minum di ruang tamu. Ia tidak sangka, ia akan dikatai oleh Kenzo, yang merupakan calon suami dari mantan istrinya.
"Sialan! bedebah itu berani sekali dia meremehkanku." kata James marah.
Lalisa berdiri di belakang sofa tempat James duduk. Ia bertanya, siapa bedebah yang dibicarakan dan kenapa James malah minum-minum?
"Kamu sedang apa tengah malam begini, hah? apa besok tidak bekerja?" tanya Lalisa.
"Diam dan tidur saja sana. Jangan ganggu aku," kata James tidak peduli.
Lalisa meringkas gelas dan botol wine di atas meja, tapi tanganya langsung ditepis James sehingga gelas yang dipegang Lalisa jatuh ke lantai dan pecah.
James marah, ia tidak senang kalau kata-katanya dibantah. James meminta Lalisa tidur, dan tidak mengganggunya. Tapi Lalisa tidak mau dan mereka berdua pun berdebat.
"Kenapa kamu selalu membuatku mengulang kata-kata, Lalisa? tidak bisakah kamu sedikit saja mengerti aku?" kata James menatap tajam pada Lalisa.
"Apa? mengerti kamu? James, apa selama ini aku kurang mengerti kamu? bisa-bisanya kamu bicata seperti itu setelah apa yang aku lakukan selama ini," kata Lalisa protes.
"Terserah kamu saja. Lakukan sesukamu," kata James. Yang langsung pergi.
Lalisa tidak ingin pergi, ia pun mengikuti James dan merangkul lengan James, meminta James untuk tidak pergi.
"Kamu mau ke mana tengah malam begini? jangan pergi," kata Lalisa.
James berusaha melepaskan tangannya dari Lalisa, "Aku butuh ketenangan. Di sini kamu hanya mengajakku bertengkar. Aku bosan harus beradu mulut denganmu setiap saat." kata James.
"Aku tidak mengajakmu bertengkar, James. Kamulah yang selalu membuatku kesal sehingga aku menegurmu." jawab Lalisa tidak ingin disalahkan.
James menatap Lalisa, "Lihatlah, bahkan kamu tidak mau mengakui apa kesalahammu dan berdalih kalau aku mebuatmu kesal? Kamu tahu, aku itu butuh ketengaan. Bukan omelan ini dan itu ataupun keluhanmu. Setiap aku pulang kerja, kamu tidak pernah sekalipun bertanya kabarku di kantor, apa aku baik-baik saja? aku ada masalah, bagaimana pekerjaanku atau apalah yang bisa membuatku menceritakan apa yang aku keluhakan. Kamu hanya terus bertanya, jam berapa ini kamu baru pulang? apa yang kamu lalukan sampai pulang terlambat, lalu mengomel sampai telingaku panas. Aku cukup bersabar melihat keadaanmu yang sedang mengandung. Tapi nyatanya aku sudah tidak sanggup lagi. Aku lelah, Lalisa. Aku lelah," kata James mengeluarkan seluruh isi hatinya selama ini.
__ADS_1
Lalisa terdiam. Ia hany bisa melihat kepergian James tanpa mencegahnya lagi. Lalisa baru tahu, banyak hal yang dikeluhkan James padanya selama ini.
"Kenapa dia baru bicara sekarang?" batin Lalisa.
Tanpa sadar air mata Lalisa jatuh. Lalisa akhirnya menangis. Saat ia menangis, perutnya yang sudah membuncit pun teras mengencang. Lalisa mengusap perutnya dan terus manangis.
***
James pergi dari apartemen dan naik taksi menuju bar langganannya. Ia ingin melanjutkan minum.
Sesampainya di Bar. Ia bertemu bartender yang juga pemilik Bar, kenalan James. Bartender itu langsung senang melihat teman lamanya datang berkunjung.
"Hai, James. Sudah lama sekali," Kata Bartender itu menatap James.
"Berikan aku minuman," kata James yang langsung duduk.
"Ada apa? wajahmu muram, "kata Bartender itu. Meletakkan sebotol wine kesukaan James dan gelas kosong di atas meja di hadapan James.
"Biasalah. Aku dan kekasihku bertengkar," jawab James.
Bartender itu mengerutkan dahi, "Tunggu ... apa maksudmu kekasih? bukankah kamu sudabmh menikah? apa kamu sedang selingkuh dan bertengkar dengan selingkuhanmu itu?" kata Bartender dengan pemikirannya.
James baru ingat, temannya itu baru saja pulang dari luar negeri dan belum ada sebulan setelah kepulangannya. James pun menjelaskan, jika ia dan Adelle sudah bercerai. Ia mengakui, bahwa penyebab perceraiannya dengan Adelle adalah karena ketahuan selingkuh.
"Jadi benar kamu sudah selingkuh? gila sekali. Di mana kamu tinggalkan isi kepalamu itu, James. Bisa-bisanya kamu menduakan wanita secantik Adelle. Kamu sungguh menyia-nyiakan kesempatan," kata Bartender itu sampai tidak bisa berkata-kata.
"Jangan ungkit lagi. Aku memang salah dan sekarang sepertinya aku menyesal." kata James.
"Penyesalan selalu datang terlambat, ya. Kalian sudah bercerai, menyesal pun kamu bisa apa?" sahut bartender dari balik meja menatap James.
"Itulah ... aku tidak bisa apa-apa. Dia sudah punya calon suami," kata James.
__ADS_1
James juga menceritakan, kalau ia dan calon suami mantan istrinya baru saja berselisih. Dan James dikata-katai.
Bartender itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar cerita James. Ia berpikir, tentu saja di maki karena James sudah salah mengganggu orang yang bukan siapa-siapanya lagi. Meski begitu, sebagai teman yang baik ia berusaha menghibur James. Ia meminta James duduk tenang dan menikmati wine saja, juga menyingkirkan dulu hal-hal rumit di kepala James.