Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 59


__ADS_3

Perasaan hati Olivia telah bercerai berai, yang awalnya ia begitu semangat untuk menikmati sarapan bersama, kini justru nafsu makannya telah menguap. Terlebih, saat dirinya mendapati sang suami yang hanya menyapa sejenak saja di ruang makan.


Lelaki itu tidak ikut sarapan. Ia berpamitan sebentar dan begitu terburu-buru meninggalkan rumah.


Tentu saja sikap Vino itu mengundang tanya kedua orang tua Olivia.


Sebisa mungkin, Olivia bersikap biasa saja. Vino tidak tahu saja bagaimana ia memutar otak untuk mencari alasan yang tepat.


"Tadi ada telepon dadakan, Bu. Ada kendala di kerjaan." Olivia tidak mau berani memandang wajah sang ibu ketika berujar. Ia khawatir jika gelagat salah tingkahnya bisa diketahui wanita yang telah melahirkannya itu.


"Apa suami kamu enggak suka kalau ada kami berdua di sini!"


Tuh, kan, ini yang paling Olivia hindari. Pertanyaan enggak penting yang berisi terkaan tidak berdasar. Ibunya terlalu berpikiran negatif yang tentu saja bisa memicu pertengkaran.


"Ibu ini ada-ada saja. Ya enggak gitu konsepnya. Kak Vino lagi ada kerjaan mendadak makanya dia buru-buru pergi, enggak ada hubungan sama bapak dan ibu." Olivia menjelaskan dengan perasaan kesal.


Andai saja ada Alvin, pastilah ada yang bisa menghibur dan mengalihkan perhatiannya di kala perasaannya sedang tidak baik-baik saja seperti ini. Namun, sayang sekali apa yang ia rasakan saat ini pun bersumber dari kesedihannya karena kehilangan putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Ya tapi, kan, coba aja suami kamu itu sarapan barang sesendok atau dua sendok dulu baru keluar. Masak langsung keluar begitu, buru-buru. Kelihatan bener kalau dia enggak suka sama ibu dan bapak. Dulu aja pas mau nikahin kamu sikapnya baik banget, sekarang apa? Mau apa-apa aja suka ngebantah, enggak nurut sama omongan orang tua. Kayak kamu enggak dilahirkan aja, langsung ada gitu ke dunia. Sampai semua omongan Ibu pun dia bantah begitu."


Kepala Olivia berdenyut sakit, ibunya itu tidak berhenti berbicara. Dan apa yang dibicarakan sudah merembet ke mana-mana.


"Ibu sudah," sahut Bapak mengingatkan.


"Ya biar Olivia tahu kalau suaminya itu begitu, Pak. Masak pas Ibu minta dia untuk antar Olivia pulang ke rumah malah enggak mau. Banyak banget alasannya--"


"Ya, kan, emang enggak bisa, Bu. Udah dibilang alasannya apa. Mereka lagi merintis usaha, mana bisa ditinggal sekehendak hati. Sekarang sudah berkembang usahanya, harusnya kita senang--"


"Halah, Bapak terus aja belain dia itu ...."


"Itu karena mereka enggak bilang, Pak." Ibu tidak mau kalah. Ia sudah duduk menyerong, menatap sang suami dengan sepenuhnya. Wajahnya tampak kaku menahan amarah yang siap meledak kapan saja.


"Kalau bilang emang Ibu mau langsung bantu? Yang ada pasti ngomel dulu, bilang kalau punya suami enggak becus nyari uang, enggak bisa menghidupi anak kita." Bapak juga sama tidak ingin kalah dalam perdebatan ini. Ia sudah sangat pusing mendengarkan setiap keluhan yang diutarakan sang istri tentang anak dan menantunya.


"Terus jadi alasan gitu, sampai mereka enggak pernah kirim uang ke kita?"

__ADS_1


"Ya Allah, Ibu! Jadi Ibu ngarepin kiriman uang dari anak-anak kita. Apa dikira Bapak ini sudah enggak mampu membiayai hidup kita. Bapak ini masih mampu, Bu. Masih mampu." Bapak berdiri, tangannya menepuk dada berulang kali. "Seharusnya kita sudah merasa senang dan cukup lihat anak-anak kita bahagia dengan keluarga yang mereka bangun. Itu tandanya kita sebagai orang tua sudah berhasil mendidik mereka. Bukannya mengeluh sepanjang waktu tentang ini dan itu. Itulah makanya mereka enggak mau menghubungi kita duluan, itu karena Ibu yang selalu mengeluhkan ini dan itu setiap hari."


Di tempat duduknya, Olivia sudah menangis sesunggukan. Bukan ini yang ingin ia dengar. Bukan ini pula yang ingin ia saksikan. Di pagi buta, di tengah kekalutan hatinya.


Dulu, di kala masih melajang, dirinya akan bersikap cuek dengan pertengkaran dan perdebatan yang dilakukan kedua orang tuanya. Toh, itu adalah hal yang biasa. Sebab, setelah itu mereka akan kembali akur dan bermesraan. Seperti tidak pernah terjadi apa pun.


Dulu, saat dirinya masih melajang, ia akan menjawab setiap perkataan sang ibu atau memilih diam dan menangis di kala ibunya itu sudah mengomel tidak jelas. Namun sekarang, hatinya terasa rapuh. Ia berpikir seakan setiap pertengkaran dan ucapan yang menyakitkan yang didengarnya itu bersumber darinya. Bukankah begit? Sumber kebahagiaan orang tua adalah anaknya.


Ibu merasa tidak bahagia karena dirinya. Entah karena alasan yang mana. Dirinya pun tidak bisa menebaknya.


"Terus Ibu mau ngeluh sama siapa kalau enggak sama anak-anak? Sama Bapak? Yang ada Bapak cuma bisa ceramah saja panjang lebar tanpa mengerti perasaan Ibu yang ditinggal sama anak-anaknya. Mereka hidup bahagia, tapi ibu sengsara karena didera rasa rindu terus menerus sampai rasanya mau mati." Ibu menepuk dadanya kuat, berharap dengan begitu rasa sakitnya itu sedikit mau menghilang.


"Ngelahirin udah susah-susah, ngerawat mereka juga enggak mudah. Nyekolahin mereka tinggi-tinggi, ujungnya ditinggal juga. Enggak ada yang mau sama kita, Pak. Mereka udah sibuk dengan keluarga sendiri, kehidupan mereka sendiri," keluhnya lagi dengan derai air mata.


Olivia tidak kuat lagi mendengar curahan hati ibunya itu. Dalam diam dan menahan isak, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, suara sang bapak masih terdengar jelas di telinganya.


"Kita ini awalnya cuma berdua, Bu, pada akhirnya pun cuma berdua. Biarkan mereka berbakti menurut cara mereka saja, kalau menurut cara kita bakti itu tidak akan pernah ada kata pantas. Karena ukuran kita itu perasaan kita, kepuasan kita. Padahal, seharusnya kita cukup memikirkan kebahagiaan anak-anak. Kita juga pasti tersiksa kalau anak-anak tinggal bersama kita, tetapi mereka terus tertekan oleh sikap-sikap kita, Bu. Sadarlah. Lapangan hati Ibu. Bahwa anak-anak itu hanya titipan saja, mereka bukan milik kita sepenuhnya yang bisa diatur, dikerasi dan dituntut." Bapak sudah duduk di kursinya. Mengulurkan tangan, ia mengelus punggung sang istri yang bergetar hebat.

__ADS_1


"Anak-anak kita pun mungkin banyak keluhan tentang kita. Sebab kita yang belum bisa menjadi orang tua yang baik kepada mereka, tetapi mereka tetap diam karena memikirkan perasaan kita. Tapi kenapa kita tidak memikirkan perasaan mereka. Berdoa, Bu, berdoa yang banyak, berdoa yang baik agar kita semua bisa bahagia. Lihatlah sekarang! Olivia kehilangan anaknya, dia sedang berduka tapi tidak sedikit pun dia mengeluh di depan kita. Dia justru terus tersenyum menguatkan kita, agar kita tidak terlalu khawatir dengan keadaan dia." Ucapan Bapak berakhir dengan memeluk sang istri.


Sementara itu, Olivia mengunci kamarnya dan dia langsung menuju kamar mandi. Rasa sedihnya bercampur aduk, banyak perkara yang menerjang pertahanannya. Ia pun menumpahkan tangis dan berharap tangisan ini mampu meleburkan rasa sakit dari dadanya.


__ADS_2