
Olivia tidak tahu jam berapa Vino pulang ke rumah semalam. Yang pasti, ketika ia terbangun di pagi hari untuk salat Subuh suaminya itu sudah ada di sampingnya tengah tertidur pulas.
Olivia memandangi wajah lelah lelaki itu. Ia merasakan bahwa cintanya masih sama seperti dulu. Ia sangat mencintai Vino. Sangat. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini dirinya merasa ada keraguan yang dirasakan hatinya.
Mungkin karena mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga sudah jarang sekali menjalin kasih berdua saja. Bukankah hubungan itu perlu selalu dijaga agar tetap harmonis.
Tidak ingin berpikir terlalu berat, Olivia pun memutuskan untuk segera menuju dapur. Ia akan segera menyiapkan sarapan.
Satu jam kemudian, Olivia kembali ke kamar. Ia tertegun kala melihat sang suami yang masih terlelap.
Olivia mendekati ranjang, menggoyang tubuh Vino agar lelaki itu segera bangun.
"Kak, bangun. Sudah siang banget ini."
Sekali tidak mendapatkan respons. Olivia masih menggoyang tubuh Vino.
"Kak, udah siang, lho." Tidak juga mendapatkan respons, Olivia akhirnya duduk di pinggir ranjang, mencondongkan tubuh dan mengelus pipi Vino dengan jemari.
"Raisya, geli, ah," gumam Vino dengan suara serak. Matanya masih terpejam erat.
Olivia tidak menyangka jika suaminya itu justru memanggil nama wanita lain di saat ia bangunkan. Ia pun kontan tersentak kaget, menarik tangannya dan langsung turun dari ranjang. Wajahnya sangat pucat.
Olivia segara melangkah ke kamar mandi, mencuci wajah. Oh tidak, ia bahkan langsung mandi dengan pakaian yang masih utuh di badan. Tidak ia lepaskan terlebih dahulu.
Olivia berdiri di bawah kucuran air shower. Air matanya berderai seiring dengan jatuhnya air membasahi kepala sampai ke ujung kaki. Hatinya terasa ada yang meremas kuat, sakit sekali.
Adakah yang tidak ia ketahui pada hubungan Vino dengan Raisya?
Olivia menyudahi mandinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang suami. Kalaupun mereka memang memiliki hubungan, ia ingin semuanya menjadi jelas. Olivia akan mencari bukti untuk menguatkan dugaannya itu.
Saat Olivia keluar dari kamar mandi, tampak Vino sedang duduk di pinggir ranjang. Sesekali, mulut lelaki itu terbuka lebar. Vino menguap dan ditutup dengan satu tangan. Sementara satu tangan yang lain sibuk memegang ponsel.
__ADS_1
Olivia ingin menyapa, tetapi ia urungkan saat menyadari jika suaminya itu tengah fokus pada benda pipih di tangan. Ia pun lewat begitu saja menuju lemari untuk mengambil pakaian.
Sesaat, gerakan tangan Olivia yang sedang memilih pakaian ganti pun terhenti ketika mendengar suara Vino yang mengajaknya bicara.
"Sayang, ini jam berapa ya?"
Olivia menoleh. Ia mengerutkan kening. Telinganya tidak salah dengar kan dengan pertanyaan Vino. Bukankah lelaki itu memegang ponsel, di sana sudah ada penunjuk waktu bukan?
"Kok, malah bengong," tegur Vino kemudian saat tidak mendengar jawaban dari Olivia.
"Memangnya ponsel kamu mati, Kak? Apa tidak ada penunjuk waktunya di sana?"
"Oh iya. Habisnya enggak kelihatan karena aku fokus lihatin kamu yang cantik, sih," sahut Vino terdengar receh sekali.
Olivia mencebikkan bibir. Ia kembali berbalik menghadap lemari, mengambil secara asal pakaian gantinya dan segera berganti pakaian. Mengabaikan kekehan Vino.
"Semalam aku sampai rumah tapi kamu sudah tidur. Maaf ya kalau kemalaman, kamu pasti capek banget." Lelaki itu kembali mengeluarkan kata.
"Kakak belum solat subuh, lho, ini udah jam berapa coba?" kata Olivia mengingatkan. Ia sedang tidak ingin berpelukan atau melakukan sentuhan intim dengan suaminya. Perasaan hambar sedang menguasai hati Olivia sekarang ini.
"Iya. Begini sebentar saja, ya. Enggak sampai--"
"Aku mau siapin sarapan, enggak enak sama bapak dan ibu." Olivia menyela ucapan Vino dan langsung melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Olivia bergerak cepat turun dari pangkuan. Sekali lagi. Dirinya sedang tidak ingin berdekatan dengan lelaki itu, apalagi harus bermesraan. Perasaannya terasa hambar sekarang.
"Olivia, aku ...." Vino tidak lagi melanjutkan ucapannya. Melihat sang istri yang berlalu dari hadapannya membuat benaknya dipenuhi banyak tanya.
"Aku tunggu di ruang makan ya. Bajunya aku siapkan sekarang kalau Kak Vino mau ganti baju." Olivia berbicara sambil menuju lemari, mengambil pakaian kerja untuk sang suami.
Setelah itu, tanpa menunggu persetujuan dari Vino, ia pun segera keluar dari kamar. Olivia ingin mengajak kedua orang tuanya untuk sarapan bersama.
"Suami kamu mana, Olivia?" Ibu bertanya saat keluar dari kamar dan mendapati Olivia yang berdiri sendirian.
__ADS_1
Olivia menggandeng lengan sang ibu mengajak ke ruang makan. Ia menoleh ke belakang sebentar, memastikan jika bapaknya juga ikut ke ruang makan untuk sarapan bersama.
"Lagi ganti baju, Bu. Hari ini kan Kak Vino harus kerja." Olivia berkata pelan menjawab pertanyaan sang ibu.
"Semalam suami kamu pulang jam berapa? Ibu enggak dengar suara mobilnya." Ibu kembali bertanya. Jujur saja, ia amat sangat penasaran dengan sikap menantu yang pergi begitu saja dan entah jam berapa pulangnya.
"Olivia juga udah tidur sih, soalnya capek banget. Jadi enggak nungguin. Pulangnya enggak terlalu malam kok. Cuma kita udah pada tidur, makanya enggak kedengeran suara mesin mobilnya." Olivia menjelaskan panjang kali lebar, memikirkan alasan yang bisa diterima akal.
'Bohong. Orang kata bapakmu saja Vino itu pulang jam satuan malam kok.' Ibu menyangkal ucapan putrinya itu di dalam hati. Ingin mengutarakan secara langsung, tetapi mengingat peringatan sang suami untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya itu, membuatnya urung berkata-kata.
Pada akhirnya, wanita paruh baya itu hanya mengangguk berulang kali. Tidak lagi berkomentar.
"Ayo sarapan, Pak!" ajak ibu kepada bapak yang ada di belakang mereka.
Ibu segera mengambilkan piring dan mengisi dengan nasi, diberikan kepada sang suami yang telah menunggu dengan manis. Sikap wanita memang seperti itu, suka melayani dan sangat senang memberikan perhatian.
"Enggak kamu panggil suami kamu, Olivia. Makan bersama di sini sama bapak dan ibu?" tanya sang ibu saat nasi di piring sudah hampir habis, sementara sang menantu justru tidak juga menampakkan diri.
"Oh iya. Aku lihat dulu ya, Bu ... Pak." Olivia berdiri meninggalkan sarapannya dan berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Sesampainya di kamar, memang belum ada tanda-tanda bahwa suaminya itu keluar dari kamar. Pintu kamar masih tertutup rapat, tetapi sosoknya belum juga terlihat.
Olivia menurunkan handel pintu, masuk ke kamar dengan langkah lebar. Ia berdiri dalam diam saat melihat sang suami yang sedang menerima panggilan. Ia mendengarkan dengan seksama dan dari perkataan Vino dirinya menebak jika panggilan itu berasal dari Raisya.
"Iya, nanti Kakak ke sana. Bukannya sudah selesai semua ya?"
Vino menggaruk kening. Merasa bingung sendiri.
"Iya nanti Kakak bantuin. Bila perlu kita usut kasus itu. Pokoknya harus selesai."
Merasa keberadaannya tidak disadari oleh Vino, Olivia pun keluar dari kamar membiarkan lelaki itu menyelesaikan urusannya.
__ADS_1