Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (14)


__ADS_3

Kenzo dan Adelle datang menghadiri pesta. Sebagai pasangan, tentu saja Adelle bersikap layaknya pasangan. Ia merangkul lengan Kenzo tanpa ragu-ragu dan menoreh senyuman saat ada yang menyapa.


"Apa kamu baik-baik saja?" bisik Kenzo.


Adelle menganggukkan kepala, "Ya, aku baik-baik saja." bisik Adelle.


Kenzo tidak ingin Adelle merasa tidak nyaman. Ia akan merasa bersalah kalau sampai membebani Adelle, karena ialah orang yang membawa Adelle ke pesta, maka ia juga yang harus bertanggung jawab.


"Hallo, Ken. Lama tidak bertemu," kata seseorang menyapa Kenzo.


Kenzo mengerutkan dahi tanpa menatap siapa orang yang menyapanya. Suara yang tidak asing milik seseorang yang tidak ingin ia temui, yakni Jassper.


Adelle dan Jassper saling bertatapan. Melihat wanita yang dibawa sepupunya begitu cantik, Jassper pun ingin sekali tahu siapa itu.


"Hallo, Nona cantik. Apa kamu pendamping Kenzo?" tanya Jassper menatap Adellw lekat.


Adelle menatap Kenzo, lalu menatap Jassper. Ia diam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jassper.


"Bukankah seharusnya Anda memperkenalkan diri dulu, Tuan? sikap Anda tidak sopan," kata Adelle yang tersenyum cantik.


Mendengar ucapan Adelle. Kenzo pun terkejut, ia langsung tersenyum senang karena Jassper dipermalukan oleh Adelle.


"Dasar bodoh. Bisa-bisanya dia mempermalukan diri sendiri," batin Kenzo.


Kenzo kagum pada Adelle yang tidak langsung terpikat oleh wajah tampan Jassper. Dibandingkan wanita lain yang langsung menjawab dan langsung akrab, Adelle lebih memperhatikan etika. Seolah dengan jelas menunjukkan, jika ia bukanlah wanita sembarangan yang akan bisa dengan mudah didekati.


Jassper kaget. Ia langsung tertawa dan meminta maaf atas sikapnya yang kurang ajar. Ia pun memperkenalkan diri pada Adelle, agar Adelle tidak berpikir buruk tentangnya lagi.


"Maafkan saya, Nona. Izinkam saya memperkenalkan diri. Saya Jassper Luwigh, Sepupu Kenzo." kata Jassper memperkenalkan diri pada Adelle.


"Saya Adelle," jawab Adelle singkat tanpa ekspresi.


Jassper mengerutkan dahi, "Apa-apaan wanita ini. Dia hanya menyebutkan nama, dan itupun tanpa tersenyum?" batin Jassper.


Jasper tersenyum, "Kamu tidak berniat menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa kamu pendamping Kenzo?" tanya Jassper.

__ADS_1


"Ya, seperti yang kamu lihat." jawab Adelle.


Jassper dibuat kesal. Biasanya wanita akan mulai terpancing dan bahkan memulai percakapan lebih dulu dengannya. Akan tetapi kali ini berbeda, wanita dihadapannya bahkan tidak menganggap ada keberadaannya.


Karena Kenzo dipanggil seseorang lain, makan Kenzo pun segera membawa Adelle pergi. Adelle hanya menatap Jassper dan menunduk tanpa bicara, seolah dengan bahasa tubuh saja ia mengatakan kalau ia harus pergi.


"Hahaha ... ini gila! dia menarik perhatianku," batin Jassper tersenyum masam.


Jassper menatap kepergian Kenzo dan Adelle. Melihat tangan Adelle yang digenggam erat oleh Kenzo, membuatnya salah paham. Jika Adelle mungkin saja lebih dari sekadar pemdamping pesta.


***


Selesai berbincang dengan beberapa orang, Kenzo dan Adelle pun akhirya bisa punya waktu luang menyendiri. Kenzo tampak lelah, dahinya berkeringat.


"Apa kamu baik-baik saja, Ken?" tanya Adelle.


"Ya, aku tidak apa-apa." jawab Kenzo.


Adelle mendekatkan dahinya dan menempelkan ke dahi Kenzo. Ia bisa merasakan suhu tubuh Kenzo yang hangat. Kenzo kaget, tapi ia tidak punya kesempatan untuk mengelak atau menolak apa yang Adelle lakukan.


"Aku memang sedikit pusing. Entahlah, mungkin karena aku kurang tidur." kata Kenzo.


Adelle terus membujuk Kenzo agar ia segera istirahat. Adelle bahkan menawari Kenzo untuk tidur saja di Hotel agar keadaannya membaik.


Kenzo menolak. Ia tidak akan tidur di Hotel karena ia tidak ingin ada orang yang tahu, ia sedang sakit. Belum lagi ada Jassper yang bisa saja akan terus mengganggunya. 


"Boleh aku ke tempatmu?" tanya Kenzo.


"Ya? A-apa? maksudmu apartemenku?" tanya Adelle memastikan apa yang didengarnya.


Kenzo menganggukkan kepala, "Aku tidak punya tujuan lain. Kalau sampai ada yang tahu aku sakit bisa-bisa orang itu melapor pada Asistenku. Aku tidak mau mendengar omelannya saat ini," jelas Kenzo.


Adelle diam sesaat. Melihat wajah pucat dan keringat yang terus keluar, membuat Adelle tidak tenang. Ia pun akhirya setuju dengan permintaan Kenzo.


Mereka pun segera, berpamitan dan segera meninggalkan Hotel menuju apartemen Adelle.

__ADS_1


***


Adelle menggantikan Kenzo mengemudi. Sebelum sampai tujuan, Adelle mampir ke toko obat untuk membeli obat-obatan yang sekiranya akan dibutuhkan. Di tempatnya tidak banyak obat, akan lebih baik jika memiliki persediaan yang lengkap sesuai kebutuhan. Setelah dari toko obat, Adelle membawa Kenzo ke apartemennya.


Sepuluh menit kemudian. Adelle dan Kenzo sampai diparkiran. Adelle langsung memapah Kenzo masuk ke dalam gedung apartemen. Mereka berdiri di depan lift, menunggu. Tidak lama pintu lift terbuka, Adelle dan Kenzo pun masuk.


Adelle menekan tombol lantai kamarnya. Ia menatap Kenzo, dan meminta Kenzo untuk menahannya sebentar lagi. Kenzo menganggukkan kepala, meski rasanya ia sudah mau pingsan, tapi ia berusaha menahan agar tidak menyudahkan Adelle.


Pintu lift terbuka, Adelle dan Kenzo keluar dan berjalan menuju kamar Adelle. Sesampainya di depan kamar, Adelle segera memasukkan sandi pintu dan membuka pintu.


"Akhirnya kita sampai," ucap Adelle lega.


Ia segera membawa Kenzo masuk ke dalam dan mendudukan Kenzo di sofa. Adelle membantu Kenzo membuka jas, melepas dasi dan membuka beberapa kancing kemeja Kenzo. Adelle bahkan melepas kancing lengan dari kemeja yang dikenakan Adelle.


"Berbaringlah, aku akan bawakan handuk hangat dan minum. Oh, ya. Karena kamu tadi makan apa-apa. Mau aku buatkan bubur? kebetulan ada nasi, tinggal aku masak saja," kata Adelle menawari.


"Ya, terserah saja. Maaf merepotkanmu," jawab Kenzo lemas.


Adelle segera membaringkan Kenzo di sofa. Setelah itu ia bergegas ke dapur untuk memasak bubur. Melihat Adelle dari jauh yang tampak sibuk karena merawatnya sakit, menbuat Kenzo teringat akan sang Mama. Mamanya dulu juga begitu, karena Mamanya sangat khawatir kalau Kenzo terluka atau sakit.


"Mirip sekali," gumam Kenzo yang langsung terlelap tidur.


***


Adelle selesai memasak bubur. Ia mengambi semangkuk dan meletakkan di nampan. Di ambilnya teko dan gelas yang juga ia letakkan di nampan. Adelle segera membawa nampan ke ruang tamu.


Diletakkannya nampan di meja. Adelle melihat Kenzo terlelap. Ia kembali ke dapur untuk mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil.


Dengan hati-hati Adelle menyentuh pipi Kenzo dengan tangannya. Karena ia tidak yakin, Adelle pun mendekatkan dahinya ke dahi Kenzo untuk memeriksa kembali suhu tubuh Kenzo.


"Demamnya semakin tinggi," batin Adelle.


Adelle ingin berdiri, tapi ia merasa kesulitan kerena rambutnya tersangkut dikancing kemeja Kenzo. Mau tidak mau Adelle harus melepasnya dulu.


Merasakan sesuatu bergerak-gerak, Kenzo pun membuka mata. Ia melihat Adelle sedang sibuk melakukan sesuatu dengan kemejanya. Tangan Kenzo memegang tangan Adelle, membuat Adelle terkejut. Seketika Adelle malingkan pandangan menatap Kenzo, dan Kenzo juga menatap Adelle.

__ADS_1


__ADS_2