Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (31)


__ADS_3

Jassper bertanya pada Mamanya. Kenapa Papa dan Mamanya bertengkar. Apa yang terjadi?


Sang Mama awalnya diam saja mengabaikan pertanyaan putranya. Setelah Jassper bsrgumam, jika Kakeknya bicara sesuatu tentang Papa dan Mamanya, dan mengatanan apa ucapan sang Kakek. Mama Jassper pun terkejut.


"Apa Mama tahu, tadi Kakek bilang apa padaku?" kata Jassper.


"Katakan. Apa yang Kakekmu bilang," sahut sang Mama.


"Kakek bilang aku tidak menggunakan isi kepalaku dengan baik. Apa aku tidak tahu, apa yang dilakukan Papa dan Mama pada Paman dan Bibi yang merupakan orang tua Kenzo. Kakek juga bilang, agar aku tidak mengikuti jejak Papa dan Mama." jawab Jassper menjelaskan.


Bagian terakhir ucapan Jasseper hanyalah kata-kata yang ditambahkan Jassper untuk memancing Mamanya bicara. Meski Jassper tidak begitu yakin Mamanya mau cerita, setidaknya ia bisa menemukan suatu pentunjuk sekecil apapun itu.


Mama Jassper menghentikan kegiatannya dan memanggil pelayan. Ia meminta pelayan menggantikannya memasak makanan untuk Jassper.


"Ayo, kita bicara di belakang." ajak sang Mama menatap putranya.


Jassper segera bangkit berdiri. Ia lantas mengikuti Mamanya yang berjalan lebih dulu darinya menuju halaman belakang rumah.


Jassper diam, ia terus mengikuti Mamanya. Dalam hatinya Jassper sangat berharap agar Mamanya mau saja sedikit berbicara tentang apa yang terjadi, agar tidak membuatnya penasaran dan kepikiran.


"Jassper ... " panggil sang Mama.


"Ya?" jawab Jassper.

__ADS_1


"Kamu tahu, kenapa kamu selalu Mama tekan untuk terus maju dan berkembang?" tanya sang Mama.


"Karena Mama ingin aku melampaui Kenzo, kan?" jawab Jassper.


Mama Jassper menggelengkan kepala. Ia tidak menampik jawaban Jassper salah, tapi tak juga sepenuhnya benar. Mengungguli Kenzo sebenarnya hanya alasan. Yang sebenarnya adalah, Mama Jassper meluapkan semua kekecewaannya pada anaknya sendiri. Ia sebagai anak sulung, meeasa iri pada si bungsu yang baru dilahirkan, tapi sudah disayang layaknya sang Pangeran.


Mama Jassper bukannya tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Hanya saja, semenjak Adiknya lahir, semua perhatian seluruh keluarga rasanya hanya ditujukan pada sang Adik. Sang Adik dimanja, disayang dan dicintai. Sedangkan ia merasa tersisihkan. Terlebih lagi, ternyata sang Adik memiliki kecerdasan di atasnya. Yang semakin membuat orang tuaya mengelu-elukan Adiknya itu.


Sebagai sesama anak, tentu saja rasa isi perlahan-lahan muncul. Keirian yang mendalam berubah menjadi kebencian. Dan itu terbawa hingga dewasa. Sampai suatu waktu, saat  Mama Jassper hendak menikah, orang tuanya hanya mengiakan saja tanpa mengeluh atau berkomentar. Sedangkan saat Adiknya menikah, orang tuanya begitu sibuk mencarikan jodoh dan terlihat begitu peduli dengan pasangan sang Adik.


Saat pembagian perusahaan. Mama Jassper yang sudah percaya diri akan mendapatkan posisi tinggi dan bagian yang besar, nyatanya hanya diberikan hotel kecil dan sebagai miliknya. Meski posisinya Direktur, ia tidak puas karena skala Hotelnya tak sebanding dengan Hotel pusat.


Dan sang Adik diberikan wewenang sebagai Presiden Direktur Star Hotel yang berada di pusat. Juga memiliki seluruh Hotel tersebut. Padahal selain Hotel cabang, orang tuanya juga memberikan villa mewah pada Mama Jassper. Tetap saja ia iri sampai pada akhirnya ia meminta sang suami, yakni Papa Jassper melakukan sesuatu. Papa Jassper yang kecewa pun setuju dan mereka merencanakan sesuatu.


Meski niat keduanya jahat. Mama Jassper mengatakan, jika ia hanya ingin sekadar memberi pelajaran pada sang Adik. Agar adiknya mau dengan sukarela mundur dari posisinya dan pergi sejauh mungkin ke luar negeri bila itu diperlukan. Sayangnya, Papa Jassper yang menggila pun nekat melakukan hal yang tak semestinya. Papa Jassper meminta seseorang mengutak-atik mobil Papa dan Mama Kenzo, yang akan mereka bawa ke luar kota. Dan mobil itu pun pada akhirnya mengalami kecelakaan dan orang tua Kenzo meninggal ditempat kejadian. Saat itu usia Kenzo masih sangatlah kecil. Sekitar satu tahun.


"Mama keterlaluan!" kata Jassper.


Mama Jassper menghentikan langkah dan berbalik, ia menatap putranya yang sedang menatapnya sambil mengepalkan tangan. Ia tahu, putranya sedang marah setelah mendengar ceritanya.


"Ya, Mama memang keterlaluan. Karena itu, jangan hidup seperti Mama." kata Mama Jassper.


Jassper mengerutkan dahi. Ia berbalik dan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan. Mamanya hanya diam. Ia merasa malu, dan ingin menjelaskan semuanya agar putranya bisa mengerti keadaannya.

__ADS_1


***


Jassper mengemudikan mobilnya pergi kembali kekediaman Kakeknya. Ia terlihat sangat kesal. Selama ini ia seperti orang bodoh yang hanya mengikuti kemauan Papa dan Mamanya untuk begini dan begitu.


Muncul rasa bersalah dalam lubuk hatinya. Ia mengingat kembali apa saja yang sudah ia lakukan pada Kenzo yang malang. Ia berusaha menjatuhkan Kenzo dan terus saja membuat masalah bagi Kenzo karena rasa benci yanh sejak dini ditanamkan Papa dan Mamanya. Tanpa tau apa yang sudah dilakukan Mama dan Papanya kepada orang tua Kenzo.


"Sial! bagaimana aku harus menunjukkan muka, jika seperti ini. Karena Papa dan Mama, aku melakukan hal yang tak semestinya. Kamu memang bodoh sialan, Jassper." kata Jassper mengatai dirinya sendiri.


Setelah menumpuh tiga puluh menit perjalanan. Akhirnya mobil Jassper sampai di halaman rumah Kakeknya. Ia menghentikan laju mobilnya di parkiran dan bergegas turun dari mobil. Jassper berlari menuju pintu utama dan menekan bell rumah berkali-kali tanpa jeda.


Tidak lama pintu dibuka oleh pelayan rumah, dan Jassper pun langsung berlari masuk mencari Kakeknya. Ia melihat di ruang tengah kosong, ia pun segera ke ruang kerja Kakeknya. Di sana ternyata Kakeknya juga tidak ada.


"Di mana Kakek?" tanya Jassper pada salah satu pelayan yang ditemuinya  di depan pintu ruang kerja Eric.


"Tuan besar sedang mandi, Tuan." jawab pelayan.


Jassper pun berlari menuju kamar Kakeknya. Ia mengetuk pintu, lalu masuk dan kembali menutup pintu. Ia berjalan masuk ke kamar, melihat Kakeknya sedang duduk di kursi goyang dan menatap ke arah jendela kamarnya.


"Kakek ... " panggil Jassper.


Eric mengerutkan dahi, "Kamu kembali? Apa masih ada hal yang ingin kamu katakan?" tanya Eric tanpa berpaling.


Mata Jassper sudah berkaca-kaca. Ia pun berlari dan langsung berlutut di kaki Kakeknya. Jassper menangis memeluk kaki Kakeknya. Ia meminta maaf.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kek. Maafkan aku. Aku mengaku bersalah," kata Jassper dengan suara bergetar.


Eric kaget. Jassper bertindak seperti Jassper yang berbeda. Eric menatap kepala Jassper dan mengusap rambut Jassper. Ia bertanya apa hal yang terjadi, sampai Jassper menangis tersedu-sedu bak anak kecil yang tak diberi permen.


__ADS_2