
Hari ini, Olivia ikut Vino memeriksa lokasi tempat mereka membuka cabang baru. Ia sangat bersyukur karena lambat laun usaha yang mereka rintis menemui titik terang.
Perlahan tapi pasti, satu persatu cabang bisnis ini telah dibuka. Dan sekarang adalah cabang ke lima di kota itu.
Vino telah menunggu Olivia di dalam mobil. Ya, mobil ini pun akhirnya bisa dibeli. Selain kendaraan roda empat yang digunakan sebagai operasional antar jemput para pelanggan yang akan melaundrykan baju mereka.
Vino membunyikan klakson, sebagai tanda bahwa dirinya sudah terlalu lama menunggu. Setelah wanita yang ditunggunya itu datang, dirinya pun bergerak cepat untuk membantu sang istri memasang sabuk pengaman.
"Cantiknya ... istriku," ujar Vino memberi komentar. Lantas dengan gerakan cepat, bibirnya mengecup singkat bibir berlipstik pink itu. Menggemaskan.
"Kak," desis Olivia tajam.
"Cuma cium dikit aja, enggak akan ngilangin cantiknya kamu kok." Vino meringis. Dan saat ia akan kembali ke tempat duduknya di belakang kemudi, Oliva justru menahan lengannya. Tentu saja, Vino nyengir kegirangan. Otaknya itu telah berpikir sangat positif bahwa istrinya tersebut minta lagi. Dengan semangat empat lima, Vino pun kembali menyecap rasa manis dari bibir wanita itu. Akan tetapi, apa yang dilakukan Olivia membuatnya kaget.
"Sayang ...," panggil Vino tak enak.
Kemudian, Vino pun segera menarik diri kembali duduk di kursinya dengan cepat. Sebagai seorang suami, egonya tentu saja tersentil. Bisa -bisanya, Olivia menolak apa yang ia lakukan.
Tanpa berujar kata -kata, Vino melajukan kendaraan itu meninggalkan pekarangan rumah menuju jalanan. Bibirnya terkatup rapat dengan mata menyorot tajam ke arah jalanan.
"Aku ... datang bulan pagi ini," kata Olivia memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
Rasanya sungguh menyesakkan dada berada dalam situasi ini.
__ADS_1
Olivia melirik lelaki di sampingnya. Ia juga paham jika Vino merasa tersinggung dengan apa yang tadi ia lakukan. Namun, mau bagaimana lagi dirinya sedang tak bisa melakukan acara manis -manis begitu di tengah kegundahan hatinya. Dan Vino juga harus tahu apa yang ia alami sekarang ini.
Setelah satu tahun peristiwa keguguran itu, Olivia pikir ia bisa kembali diberi amanah untuk bisa mengandung lagi. Bulan ini bahkan ia sudah sangat yakin akan hamil karena sudah telat haid satu pekan. Ternyata, kenyataan pagi ini harus ia hadapi bahwa tamu bulanan itu harus datang.
Ingin sekali Olivia membatalkan acaranya pagi ini, tetapi dirinya juga mengerti jika itu tidaklah mungkin. Terlebih setelah mendengar suara klakson yang dibunyikan oleh sang suami secara berkali -kali.
Olivia mengembuskan napas kasar. Kenapa rasanya sangat menyesakkan dada. Dengan keadaannya yang belum juga kunjung hamil, bagaimana ia akan menyetujui usulan Vino yang mengajaknya untuk bertemu dengan keluarga sang suami. Hah. Sangat mustahil sekali.
Lihatlah, sekarang! Bahkan Vino tak juga mengucapkan sepatah kata atas apa yang ia alami. Apakah lelaki itu memang sebegitu tak peduli?
Kaca -kaca bening mulai mengaburkan pandangan Olivia. Ia memalingkan wajah menghadap jendela, menyembunyikan gurat kesedihan yang sudah pasti tak akan bisa disembunyikan.
Olivia menoleh cepat saat mobil tiba -tiba berhenti di pinggir jalan. Ia menatap penuh tanya pada sosok lelaki yang masih bergeming di tempat itu.
"Kejadian ini bukan menjadi alasan untuk kamu nolak aku cium, kan?"
"Aku tidak bermaksud ...." Suara Olivia terasa tercekat di tenggorokan. Seakan ada yang sedang mencekik batang lehernya itu. Sakit sekali.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kita sangat tahu Kalau selama ini juga sudah berusaha keras untuk mendapatkan momongan lagi ...." Vino mengacak rambutnya frustrasi. Dirinya benar -benar bingung sekarang harus melakukan apa pada istrinya itu. "Aku selalu saja menuruti keinginan kamu. Tapi soal anak, aku enggak bisa karena aku sendiri enggak punya kuasa atas hal itu, Olivia," lanjutnya dengan nada putus asa dan wajah muram.
Vino menoleh membuat tatapan keduanya pun bertemu. Ia tahu, Olivia sangat sedih dengan apa yang baru saja terjadi hari ini. Namun, sama seperti wanita itu dirinya juga sangat menginginkan seorang anak di tengah keluarga kecil mereka.
Ya Tuhan! Rasanya sangat menyesakkan sekali. Terlebih saat melihat wanita yang dicintainya itu menangis.
__ADS_1
Vino melepaskan sabuk pengamannya lalu mendekat pada Olivia. Menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maaf ...," ujar Olivia dengan nada getir.
"Aku juga minta maaf. Aku enggak ingin kalau masalah ini malah menjadi lebih rumit. Seharusnya semakin mengeratkan hubungan kita bukan?" Vino mengelus punggung sang istri dengan gerakan pelan. Seakan menyalurkan kekuatan dan kenyamanan pada wanita itu.
"Lalu bagaimana dengan permintaan keluarga kami yang ingin kita berkunjung ke sana?" tanya Olivia di sela Isak tangis. Dirinya merasa sudah tak sanggup lagi jika harus menerima telepon dari ibu mertuanya itu yang menanyakan kapan mereka akan datang.
"Kita akan memikirkannya nanti. Sekarang kita masih sangat sibuk. Lebih tepatnya sedang menyibukkan diri. Aku juga enggak mau kalau kamu merasa enggak nyaman dengan keadaan ini ...."
"Iya, aku kayak sengaja nahan kamu untuk enggak berkunjung menemui orang tua kamu sendiri, Kak. Padahal kenyataannya enggak begitu." Olivia mengungkap jujur apa yang ada di dalam hatinya.
"Iya, aku tahu. Lagian aku juga masih berkunjung ke rumah mama kok, bukannya enggak sama sekali. Tapi ya gitu ... kamu tahu sendiri kalau mama juga nanyain kamu kan?" Vino mengurai pelukannya lalu kedua tangannya itu merangkum wajah sang istri. Mengusap air mata Olivia dengan ibu jarinya.
"Jangan nangis lagi," katanya lirih lalu mengecup kelopak mata Olivia secara bergantian.
Olivia mengangguk. Ia juga memang tak pernah melarang Vino untuk berkunjung ke rumah keluarga suaminya itu.Tentu saja ia tak memiliki hak untuk melarangnya bukan? Justru sekali waktu dirinya mengingatkan Vino saat lelaki itu terlalu sibuk.
Hah. Bagaimana mungkin ada pemikiran seperti itu? Bahwa dirinya melarang sang suami. Pemikiran gila dan sangat asal menuduh.
"Nanti kalau kamu sudah siap, kita baru ke rumah mama. Oke. Dan kamu juga enggak usah khawatir tentang ini dan itu. Yang penting, kita selalu bersama itu sudah cukup. Kamu percaya sama aku kan?" Vino berkata lembut dengan tatap yang menenangkan dan penuh harap.
"Iya aku percaya." Olivia mengangguk yakin. "Aku juga percaya kalau semaunya akan baik -baik saja selama kita tetap bersama," katanya lagi.
__ADS_1
"Pinter," sahut Vino dengan senyum terkembang. Wajahnya tampak ceria dan raut khawatir yang tadi sempat bergelayut di wajahnya, kini sudah sepenuhnya sirna. Hanya ada kelegaan di sana.
Selanjutnya, Vino pun kembali melajukan kendaraannya itu menuju lokasi yang mereka tuju. Harapan itu selalu ada bahwa semua hal yang dijalani berdua akan menuai hasil yang baik.