
Kamar itu telah disulap dengan sangat indah. Rangkaian bunga bunga indah menghiasi dinding kamar. Seprai yang menutupi kasur telah diganti berwarna putih, begitu pula dengan sarung bantalnya. Ada taburan kelopak bunga mawar yang ditebar di atas ranjang. Selain untuk mempercantik hiasan juga menambah keharuman yang siap memanjakan indera penciuman.
Di pinggir ranjang, duduk seorang gadis yang telah mengenakan pakaian terbaik. Sang mama yang membelikan khusus untuknya.
Sebuah kebaya putih dengan hiasan full payet di bagian lengan dan dada juga kancing yang menghias memperjelas kecantikannya. Rok batik yang melilit di pinggang, semakin mebuatnya terlihat anggung. Raisya berdiri, menatapi penampilan diri di depan cermin. Wajahnya begitu cantik dengan riasan yang natural. Ia mengangkat kedua bibir, membentuk lengkungan tipis. Siapa pun yang melihatnya kini, ia yakin akan banyak yang langsung jatuh cinta.
Jatuh cinta??
Raisya mengangkat tangan, meraba dada kirinya. Ada detak yang bisa ia rasakan pergerakannya. Dan, detak itu semakin bergerak cepat seiring ingatan yang mengingat sosok lelaki yang akan menikahinya pagi ini.
Jam delapan, akad itu rencananya akan dilangsungkan. Semua persiapan juga sudah selesai, hanya tinggal mempelai lelakinya saja yang datang. Sebab, lelaki itu enggan untuk menginap di sini. Padahal, sang mama sudah membujuk sekaligus mengancam.
Sempat terjadi perdebatan panjang, juga penolakan dari sang papa akan rencana pernikahan ini. Entahlah, Raisya tidak mengarti mengapa papa angkatnya itu menentang rencanahan pernikahannya dengan Vino. Sangat berbeda dengan sang mama yang justru menginginkan.
Walaupun pada akhirnya, papanya tidak lagi berkata kata. Lelaki yang semakin hari semakin tampak sepuh itu, diam kemudian pergi entah ke mana. Tidak ada yang berniat mencari keberadaannya. Sang mama sempat menangia, tetapi wanita itu bisa bersikap biasa saja.
"Tenang saja, walaupun tanpa papa kalian, pernikahan ini akan tetap berlangsung." Begitu kata sang mama dengan yakin.
Raisya hanya bisa mengangguk. Ia paham betul, tidak akan ada yang bisa menentang keinginan wanita itu. Apalah dirinya yang hanya seorang anak yang dipungut dari panti asuhan, Vino saja yang notabene anak kandunh sendiri tidak bisa mengentikan keinginan wanita tersebut.
"Setelah ini apa yang akan terjadi?" tanya Raisya kepada diri sendiri. Pasalnya, pernikahan yang akan ia jalani ini adalah pernikahan pura pura belaka. Ia telah membujuk Vino agar mau menyetujui kesepakatan ini.
Sedalam apa pun perasaan yang ia miliki untuk lelaki itu, tetap saja dirinya tidak akan sanggup menyakiti perasaan Vino. Lelaki itu terlalu berharga untuknya.
Lantas, apakah dirinya akan sanggup jika menjanda dalam waktu tertentu tanpa bisa menyecap rasa manisnya sebuah pernikahan? Oh, ayolah Raisya! Jangan terlalu naif. Hanya demi membahagiakan keluarga ini, sanggup mengorbakan diri sendiri juga masa depan.
Menyandang statua janda bukanlah hal perkara yang mudah, terlebih di usia yang masih cukup muda. Terbesit satu pemikiran konyol di kepala bahwa dirinya akan melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta lelaki itu. Toh, sebentar lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri. Hidup berdua saja dalam satu atap tanpa ada yang bisa mengusik.
__ADS_1
Bodo amat dengan status nikah pura pura itu, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar Vino bisa masuk ke dalam hidupnya secara utuh.
Raisya tersenyum miring. Ia sudah merasa puas hanya dengan memikirkan rencananya sendiri. Ia juga merasa bahwa rencana tersebut pasti akan berhasil. Ya, pasti akan berhasil.
"Kamu cantik sekali."
Raisya tersenyum lebar. Dari pantulan cermin, ia bisa melihat wanita yang telah mengasuh dan merawat dirinya dengan sepenuh cinta itu berjalan mendekat dengan ekspresi yang sangat bahagia.
"Terima kasih, Ma." Raisya berbalik. Matanya berkaca kaca mendapati senyum tulus dan tatapan hangat yang wanita itu berikan kepadanya.
Tanpa bisa menahan diri, Raisya pun menghambur memeluk sang mama.
"Hei, calon pengantin jangan menangis. Nanti riasan cantikmu bisa habis, lho."
Godaan itu justru semakin membuat air mata Raisya menitik.
Ia mengurai pelukan, mengusap air mata dengan punggung tangan dan kekehan hambar dengan suara serak.
Raisya mengangguk sekali, lalu keduanya pun berjalan keluar dari kamar pengantin itu menuju ruang tamu di mana para tamu undangan telah berkumpul. Di sana juga tampak Vino telah duduk bersil menghadap meja yang akan digunakan sebagai tempat akad nikah.
Raisya ingin sekali bisa menatap wajah calon pengantinnya itu, tetapi lelaki itu terus saja menundukkan kepala. Entah apa yang Vino lakukan di saat acara sakral ini akan segera berlangsung.
"Kak," panggil Raisya begitu dirinya duduk di samping lelaki itu.
Vini tampak serius menekuri layar ponsel. Dia bahkan seolah tidak menyadari akan kehadiran wanita di sisanya.
"Kak," panggil Raisya lagi. Kali ini dengan suara yang sedikit lebih keras, tepat di telinga lelaki itu.
__ADS_1
Kontan saja, Vini berjingkat kaget. Ia menoleh dengan mata mendelik kaget. Seolah ia baru saja melihat penampakan tidak kasat mata.
"Eh ... oh ... aku ...." Vino tampak gugup. Ia seperti seseorang yang tertangkap basah telah melakukan kesalahan fatal. Entah apa.
"Apakah sudah siapa semua?" Pertanyaan dari pak penghulu berhasil mengalihkan perhatian keduanya.
Raisya menoleh dan memgangguk lemah. Wajahnya tampak merona merah karena malu. Wajar bukan? Ini pertama kalinya ia akan melangsungkan pernikahan.
Sementara itu, di samping Raisya duduk, suara dering ponsel terdengat nyaring mengentak meminta perhatian secara penuh.
Tanpa menoleh, Vino menjawab panggilan tersebut. Melakukan beberapa kali percakapan. Lantas, saat panggilan itu diputus ia pun menghadap Raisya.
"Raisya, sorri banget." Wajah Vino tampak menunjukkan raut tidak enak dan rasa bersalah.
"Vino apa yang terjadi?" Sang mama mendekat dengan ekspresi ingin tahu.
Vino berdiri sambil melepaskan peci dan meletakkan penutup kepala itu ke atas meja.
"Vino," desis wanita itu.
"Mama ... Raisya, aku minta maaf karena tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Aku harus pergi, maafkan aku. Suatu saat aku akan menjelaskan semuanya."
Vino telah bersiap pergi, tetapi cekalan tangan sang mama di lengannya cukup mampu menghentikan langkahnya.
"Kamu enggak bisa melakukan ini sama Mama dan Raisya, Vino!" ujar wanita itu tajam. Matanya pun menatap sang putera dengan tatapan tajam, bedanya kali ini diiringi dengan kaca kaca bening yang mengaburkan pandangan.
"Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah bisa berhasil, Mama. Suatu saat pasti akan hancur." Vino berkata pelan, lalu sekali lagi menoleh kepada Raisya yang kini tengah bercucuran air mata.
__ADS_1
Vino tahu, jika dirinya telah menyakiti banyak hati. Dan sayangnya, hati itu adalah milik wanita wanita yang amat disayanginya. Namun, dirinya juga harus mengambil keputusan. Dan, keputusan itu adalah harus keluar dari rumah ini sekarang juga.
Vino menepis tangan sang mama dari lengannya, lalu dengan langkah cepat dan lebar ia pun berlari meninggalkan pekik tangis sang mama juga kasak kusuk orang yang datang menyaksikan kejadian itu.