
Vino tidak menjawab pertanyaan sang mama. Ia juga berusaha untuk bersikap abai atas tatapan sinis yang mamanya berikan.
Vino menggandeng tangan Olivia untuk mendekati wanita yang telah melahirkannya itu. Pertama Tama, dirinya yang lebih dulu mengulirkan tangan meminta Salim yang langsung disambut oleh sang mama. Kemudian ia memberikan kode kepada sang istri untuk melakukan hal yang sama.
Olivia menurut. Tentu saja, sebagai bentuk kesopanan ia mengulurkan tangan melakukan seperti apa yang telah Vino lakukan sebelumnya
Awalnya, Olivia bernapas lega ketika ibu mertuanya itu menyambut uluran tangannya. Namun, di detik berikutnya ia merasa kecewa karena belumlah genap hidungnya menempel pada punggung tangan itu. Sang pemilik tangan telah menarik tangannya. Tidak apa -apa, mungkin ibu mertuanya itu merasa canggung.
Olivia tersenyum tipis. Kemudian memberikan kode kepada sang suami agar meletakkan papar bag yang mereka bawa ke atas nakas.
"Ini kami bawakan makanan ringan, Ma," kata Vino mengerti kode sang istri.
"Makasih. Mama memang belum sempat makan," sahut sang mama dengan suara lirih. Kemudian tersenyum tipis.
__ADS_1
"Mama makan dulu aja." Vino membalas pelan lalu melangkah mendekati Raisya yang terbaring di ranjang dengan mata tertutup rapat. "Kamu apa kabar? Kakak udah di sini," kata Vino dengan suara bergetar menahan Isak tangis.
Sementara itu, Olivia yang berdiri di samping suaminya itu telah menangis. Air matanya terus saja mengalir tanpa mau berhenti. Entah karena dirinya yang sekarang sangat sensitif, melihat keadaan saudara suaminya itu membuatnya sedih.
"Gimana bisa terjadi, Ma?" tanya Vino lalu menoleh sebentar pada sang mama yang kini tengah duduk di sofa sembari menikmati makanan yang mereka bawa.
"Pulang dari mall," jawab sang mama lalu meletakkan roti di tangannya ke atas meja. Selera makannya telah menguap begitu saja. Bahkan roti yang telah ada di mulutnya harus ditelan dengan susah payah. Terasa nyangkut di kerongkongan.
"Untungnya sih enggak. Itu dia tidur karena emang efek dari obat aja. Enggak ada kondisi yang harus dikhawatirkan." Penjelasan sang mama membuat perasaan Vino lega.
"Syukurlah," ujar Vino.
"Mama makan aja dulu. Biar Vino yang jagain Raisya," kata Vino kemudian saat melihat sang mama menghentikan makan.
__ADS_1
"Besok bawain roti ini lagi, ya. Lumayan enak rasanya," sahut sang mama dengan senyum lebar.
"Oke, Ma!" balas Vino riang. Lantas tatapannya beralih pada Olivia yang sibuk mengusap air mata. "Udah, enggak usah terlalu khawatir. Pikirkan juga kondisi kandungan kamu, Sayang. Kata Mama keadaan Raisya enggak sampai gawat kok, Tuhan masih berlaku baik sama kita," ujar lelaki itu memberi ketengan pada sang istri sembari mengusap punggung Olivia. "Oh iya, besok kita beli roti itu lagi ya. Mama seneng tuh, kan kamu yang tahu di mana tempat belinya," lanjut Vino santai.
"Iya, dekat cabang yang aku urus kok, besok bisa beli," balas Olivia dengan senyuman.
Sementara itu, sang mama tersedak sampai terbatuk-batuk.
Vino dengan cekatan mengambilkan air mineral dalam botol dari atas nakas. Memberikan pada sang mama dan membantu minum.
"Hati hati, Ma. Enggak ada yang mau ngambil roti mama, kok," goda Vino sembari terkekeh. Tanpa mengetahui jika sang mama itu tengah meliriknya dengan kesal. "Besok Vino bawain, minta Olivia beli yang banyak untuk Mama dan Papa sekalian," lanjut Vino.
Kali ini sang mama melirik pada Olivia dengan tatapan sinis. Olivia yang menyadari itu pun langsung membuang pandangan.
__ADS_1