
Undangan telah disebarkan. Semua kenalan, teman dan klien penting diundang ke acara pernikahan Kenzo dan Adelle yang akan digelar di Star Hotel.
Adelle memegang undangan yang niatnya akan ia berikan pada James. Tapi sebelum memberikan pada Jams, Adelle meminta persetujuan Kenzo lebih dulu.
"Hm, Ken ... " panggil Adelle. Manatap Kenzo yang sedang membaca buku.
"Ya?" jawab Kenzo lembut.
"Begini. Aku berencana mengundang orang tua James. Apa tidak apa-apa? aku tidak punya tujuan atau maksud tertentu, hanya ingin sekadar mengundang saja seperti aku mengundang staf kantorku. Kalau kamu kebertan, aku tidak akan melakukannya." Kata Adelle meminta izin.
Kenzo diam sejenak, lalu menjawab. Ia meminta Adelle untuk memberikan undangan itu secara langsung bersamanya. Adelle dilarang menemui James atau Lalisa sendirian untuk menitip undangan.
"Berikan saja. Aku tidak masalah. Aku akan menemanimu pergi memberikan undangan itu pada orang tua James." kata Kenzo.
Adelle tersenyum, "Wah, sungguh? kamu akan menemaniku? terima kasih, sayang." Kata Adelle. Menghampiri Kenzo dan memeluk Kenzo. Ia langsung duduk dipangkuan Kenzo.
Kenzo menyambut pelukan sang Kekasih. Ia meletakkan bukunya dan mengusap punggung Adelle lembut.
"Kamu tidak marah, kan?" tanya Adelle.
"Marah, kenapa?" tanya balik Kenzo.
"Ya, marah saja. Kalau aku masih memikirkan atau menjalin komunikasi dengan orang tua James." kata Adelle.
Adelle melepas pelukan. Ia menatap Kenzo dan bermain kancing kemeja Kenzo. Ia lantas meminta maaf, kalau perbuatannya dan sikapnya membuat Kenzo tidak nyaman.
__ADS_1
"Papa dan Mama James itu sangat baik padaku. Mereka tidak sekadar menganggapku menantu mereka dulu, tapi sudah seperti putri mereka sendiri. Justru aku merasa aneh, aku lebih diperhatikan dibanding anak mereka sendiri. Maaf, ya ... kalau aku membuatmu tidak nyaman. Jujur saja, aku tidak tahu harus bagaimana. Mereka tidak bersalah, aku tidak bisa membenci atau mengabaikan mereka yang pernah menjadi bagian dari hidupku." jelas Adelle bercerita.
Kenzo membelai wajah Adelle, "Sayangku ini memang wanita yang penuh kasih dan luar biasa, ya. Terima kasih sudah mau menjelaskan padaku, tapi aku sungguh tidak merasa keberatan. Menyukai atau tidak menyukai seseorang itu hak pribadimu, Adelle. Aku tidak bisa memaksamu suka padahal tidak suka, dan sebaliknya. Kamu paham?" kata Kenzo.
Adelle tersenyum, ia mengalungkan dua tangannya ke leher Kenzo dan mencium bibir Kenzo. Tidak perlu lama bagi Kenzo, untuk langsung membalas ciuman kesayangannya itu. Mereka pun berciuman panas.
***
Kenzo dan Adelle datang ke rumah orang tua James. Tidak di duga, ternyata di sana ada Lalisa dan juga James yang kebetulan sedang berkunjung. Adelle merasa tidak nyaman, tapi jika ia pergi begitu saja maka itu tidaklah pantas.
Adelle, Kenzo, James, Lalisa dan orang tua James duduk bersama di ruang tamu. Mama James menatap Adelle dan tersenyum cantik. Baginya Adelle sudah seperti putri kandung. Dikunjungi putrinya tentu ia amat senang.
"Bagaikana kabarmu, Adelle?" tanya Mama James.
"Baik, Ma. Mama sendiri bagaimana? Papa juga, apakah kalian berdua sehat-sehat saja?" tanya Adelle balik. Menatap Papa dan Mama James.
"Ya, Ma. Dia Kenzo. Dia calon suamiku. Kedatanganku ke sini juga ada kaitannya dengan hal itu. Aku mau Mama dan Papa datang ke pernikahan kami awal bulan depan, jika ada waktu luang." kata Adelle memberikan undangan pada Mama James.
Mama James menerima undangan dan melihat sekilas undangan itu. Ia lantas menatap Adelle, mengiakan permintaan Adelle. Mama dan Papa Adelle pun memberikan selamat. Keduanya turut bahagia atas kebahagiaan Adelle.
Jika Papa dan Mamanya senang, tidak begitu dengan James. Awalnya dia senang, saat mendengar Adelle masih memanggil Papa dan Mamanya dengan sebutan yang sama. James merasa ia tidak akan pernah bisa jauh dari Adelle karena Adelle begitu berarti bagi orang tuanya, ataupun sebaliknya.
Akan tetapi setelah mendengar Adelle mengenalkan Kenzo sebagai calon suami dan memberikan undangan pernikahan, entah mengapa dadanya begitu sesak seperti terbakar. James pun kesal. Serasa tidak mau Kenzo dan Adelle menjalin hubungan lebih jauh lewat pernikahan.
"Hahhh ... (menghela napas perlahan) aku ke sini karena butuh ketenangan. Yang terjadi malah sebaliknya. Aku sangat kesal," batin James.
__ADS_1
Setelah selesai dengan tujuanhya, Adelle dan Kenzo pun berpamitan pulang. Mereka tidak ingin mengganggu acar keluarga yang tadi sempat tertunda karena ia datang tiba-tiba bersama Kenzo.
Kepergian Adelle Dan Kenzo tampaknya membuat James sedikit kecewa, terlebih James harus merelakan wajah cantik Adelle hilang dari pandangannya.
***
Di dalam mobil, saat dalam perjalanan pulang. Kenzo dan Adelle berbincang. Mereka membicarakan rencana pesta pernikahan mereka yang sudah setengah jadi.
"Oh, ya. Besok jangan lupa datang ke butik. Kita harus mencoba pakaian pengantin kita." kata Adelle.
"Besok, ya? aku kira lusa. Jam berapa kamu ke butik?" Tanya Kenzo.
"Aku pergi bersamamu apa tidak apa-apa? Tapi kalau kamu sibuk aku akan pergi sendiri, kita janjian di butik saja." jawab Adelle.
"Tentu saja kamu harus pergi denganku, sayang. Masalahnya aku besok ada urusan di luar, aku mau bertemu Pamanmu. Jadi aku takut kamu akan lelah menungguku. Atau kamu mau ikut sekalian bertemu Pamanmu?" tawar Kenzo.
Adelle menatap Kenzo, "Kamu mau bertemu Paman? Ada apa?" tanya Adelle.
Kenzo menjawab, jika ia tidak tahu alasan pastinya. Hanya saja Paman Adelle mengirim pesan untuk janji temu esok hari saat jam makan siang.
"Apa mungkin membahas soal proyek Star Mall? seperti yang aku katakan waktu itu, kan. Paman akan menghubungi dan memberikan kabar." sahut Adelle.
Adelle berharap besok Pamannya akan memberikan jawaban yang diharapkan. Semisal tidak sesuai harapan pun, ia meminta sang kekasih untuk tidak putus asa. Mereka akan mencoba membujuk lagi, dan jika memang sudah menemukan jalan buntu. Adelle meminta Kenzo mencari perusahaan lain, atau perusahaan asing yang mau diajak kerja sama. Apapun itu, proyek pembangunan Star Mall harus terealisasikan.
Kenzo mengusap kepala Adelle, "Terima kasih, sayang. Sudah mebantuku. Apapun hasilnya aku akan menerima." jawab Kenzo.
__ADS_1
Adelle tersenyum, "Ya, aku akan selalu mendukungmu. Katakan saja kalau kamu butuh bantuanku," kata Adelle.
Kenzo tersenyum. Ia merasa sangat beruntung bertemu Adelle. Pertama kalinya ia kesulitan dan hampir mati karena di keroyok pembunuh bayaran, Adellelah yang menyelamatkannya. Padahal ia sudah pasrah, dan menunggu waktu kematian kalau memang sudah jalannya ia mati di tangan Jassper. Semenjak mengenal Adelle pula, banyak hal ia peroleh. Rasanya Adelle adalah sumber energi dan kebahagiaannya. Ia juga belajar mencintai seseorang, belajar percaya pada seseorang juga karena Adelle.