Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 70


__ADS_3

Dengan alasan ingin hidup tenang dan tidak ingin jika banyak perdebatan antara dirinya dan sang suami, Olivia pun menonaktifkan ponselnya sejak kemarin.


Hari ini, baru dua hari dirinya meninggalkan rumah, tetapi ketenangan itu sudah diusik oleh panggilan Vini di ponsel Bunda Kania.


"Aku ... lupa untuk mengaktifkan hp, Bunda." Olivia meringis. Ia merasa tidak enak hati karena wanita itu harus mengetahui permasalahan rumah tangganya.


"Dia kelihatannya panik banget lho. Kamu enggak ada niat untuk menghubungi atau memberi kabar gitu?" tanya Bunda penuh dengan kehati hatian.


"Nanti saja, Bunda. Nanti juga berhenti sendiri si Vino. Lagi pula, dia pasti lagi sibuk."


Entah apa lagi yang akan Olivia katakan sebagai alasan. Sepertinya, ia sudah kehabisan kata kata untuk menghindari pertanyaan itu.


"Bunda enggak bilang kalau aku di sini kan?" tanya Olivia dengan tatapan lekat.


"Enggak sih. Cuma merasa enggak enak aja kalau setiap dia tanya, Bunda ngeles terus." Selanjutnya suara kekehan terdengar dari bibir wanita itu.


Olivia pun ikut terkekeh. Kekehan yang hambar, sebab hatinya merasakan kehampaan.


***


Satu pekan berikutnya, Olivia benar benar tidak mengaktifkan ponselnya. Seperti alasan sebelumnya bahwa ia ingin menenangkan diri.


Selama seminggu itu pula ia belajar menyulam dari Bunda Kania. Lumayan untuk mengisi waktu luang dan fokusnya. Sejak ia melakukan kegiatan itu, pikiran dan hatinya sedikit merasakan kelegaan.


Olivia telah berhasil membuat dua pasang sepatu bayi. Wah, prestasi yang luar biasa. Bagaimana tidak? Ia hanya duduk dan mengerjakan sulaman tanpa melakukan apa pun. Sepanjang hari, pagi, siang, sore dan malam hari.

__ADS_1


Akan tetapi, di saat bangun tidur Bunda selalu mengingatkan agar dirinya sedikit berolah raga mengingat kondisi Olivia yang sedang mengandung si buah hati.


"Kasihan dia kalau mamanya enggak pernah ajakin dia jalan barang sebentar. Yang enggak boleh kan capek." Begitu pesan Bunda setiap pagi saat Olivia bangun tidur.


Olivia memang tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sudah ada orang yang mengerjakannya. Bunda juga bisa dikatakan jarang ke dapur, hanya di saat waktu tertentu saja. Terutama di kala Bunda menginginkan aktivitas itu.


"Anggap rumah sendiri. Di sini kamu enggak bakalan ada yang marahin atau menegur. Santai saja sama Bunda." Begitulah pesan Bunda kepada Olivia.


Pada akhirnya, Olivia merasakan kenyamanan justru bukan di rumahnya sendiri. Ia sedikit merasa menyesal kenapa tidak menyendiri dari dulu.


Kadang kala, lingkungan yang asing memang lebih membuat seseorang merasa nyaman. Tidak ada yang mengenalnya, tidak pula ada yang merecoki hidupnya. Ia hidup sendirian dengan lingkungan yang tidak dikenal, bebas melakukan apa pun tanpa harus memenuhi tuntutan ini dan itu dari kerabat ataupun orang lain.


Pagi itu, Olivia tidak melakukan aktivitas menyulam seperti biasanya. Ia mengetuk kamar Bunda. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


Begitu pintu kamar itu dibuka, tampak Bunda yang baru saja mandi. Wajahnya tampak segar. Walaupun usianya tidak lagi muda, tetapi kecantikan Bunda memang tidak bisa disepelekan. Ibarat kata, Bunda adalah sosok wanita yang semakin tua semakin cantik saja.


Olivia masuk ke kamar dan duduk di pinggiran ranjang. Sementara itu, Bunda Kania melangkah menuju lemari pakaian dan masuk ke dalam bilik itu, berganti pakaian di dalam sana.


Tidak sampai lima belas menit, Bunda telah keluar menemui Olivia dengan pakaian santai yang terlihat rapi. Rambut sepunggungnya yang hitam berkilau dibiarkan tergerai. Olivia seperti tengah melihat artis iklan sampo saja. Ia tersenyum tipis.


Bunda duduk di samping Olivia dengan posisi miring, sehingga mereka bisa duduk berhadapan saling memandang.


"Ada apa? Apa tidak sebaiknya kita sarapan dulu?" tanya Bunda dengan suara lembut dan senyum menenangkan.


Olivia berdeham pelan, mengatur suara yang tiba tiba saja menghilang. Sesaat, ia memilin ujung pashmina yang dikenakan.

__ADS_1


Kepala Olivia mendongak seketika saat merasakan elusan lembut di lengannya. Bunda Kania mengusap lembut lengan itu, memberikan rasa nyaman dan perhatian kepadanya.


"Aku mau izin pamit. Udah seminggu tinggal di rumah ini. Harusnya tamu itu tiga hari saja, tetapi Bunda malah mengizinkan aku untuk terus menginap sampai hari ini." Olivia berujar pelan. Sesekali ia menunduk, menghindari tatapan Bunda Kania.


"Emang kamu mau ke mana? Pulang ke rumah atau mau ke tempat lain lagi?" tanya Bunda Kania hari hati. Ia tahu betul jika emosi Olivia belumlah stabil. Mengingat jika wanita itu belum lama ini telah kehilangan sang putra, lalu diterpa masalah yang menggoncang rumah tangga, terlebih dengan kondisi Olivia yang hamil, sungguh paket komplit untuk menaik turunkan kestabilan emosi.


"Rencananya sih mau pergi lagi. Aku memang lagi malas banget untuk pulang ke rumah. Malah rencananya enggak akan pulang sama sekali sampai Kak Vino mengajukan cerai. Mungkin." Olivia berkata tegas, tetapi terdengar jelas jejak keraguan pada dirinya.


"Apa tidak sebaiknya kalian selesaikan dulu masalah yang terjadi di antara kalian? Setelah itu barulah mengambil jalan berikutnya." Bunda mencoba memberikan usulan.


Olivia mengedikkan bahu. "Sudah pernah, Bunda. Tapi enggak selesai, cuma ada perang dingin saja. Dan puncaknya saat ibu mertua saya datang saat orang tua aku sedang berada di rumah menemani. Mereka perang mulut dan saat itu pula aku sadar kalau masalah di antara kami memang sudah separah itu."


Olivia menghela napas. Lantas, kembali melanjutkan ceritanya. "Awalnya, aku merasa tidak terlalu jadi masalah selama Kak Vino masih bersikap baik. Tapi, sudah beberapa kali dia seolah mengabaikan kesedihan aku. Dia mengabaikan apa yang aku rasakan. Jika begitu, aku tidak memiliki alasan apa pun untuk mempertahankan pernikahan kami di saat ibunya saja tidak menginginkan diriku ini."


Air mata Olivia menitik. Kali ini, ia menumpahkan segala rasa yang telah lama terpendam di dalam dada. Benar saja, perasaan diabaikan itu jika dipendam terlalu lama kelak akan menjadi bom yang siap menghancurkan apa saja.


Diamnya Olivia justru telah merusak apa pun di sekitar dirinya termasuk perasannya sendiri.


"Kalau gitu, lebih baik kamu di sini saja dulu. Kalaupun pada akhirnya Vino kembali menghubungi, akan lebih baik jika kita beritahu dia kalau kamu bersama Bunda. Mau bagaimanapun tidak akan menjadi baik jika kamu tiba tiba saja menghilang begini --"


"Kayaknya lebih baik menghilang, Bunda. Aku merasa jauh lebih tenang sekarang." Olivia menyela ucapan Bunda dengan cepat.


Bunda tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan, ia mengerti keputusan itu.


"Baiklah. Kita kasih waktu untuk pikiran dan hatimu sampai batas waktu tertentu. Setelah itu, kamu harus mengambil keputusan. Tidak baik jika terus menerus menggantung seperti ini."

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan sepucuk surat untuknya. Aku harap suatu saat Kak Vino akan membaca dan memahami keputusanku ini." Olivia berujar lirih.


Sesaat suasana menjadi hening sampai suara seorang dari depan pintu kamar memanggil bahwa sarapan sudah siap di atas meja makan.


__ADS_2