
Olivia tak ingin memikirkan apa pun. Terutama masalah yang akhir akhir ini mengganggu pikirannya. Kata orang, jika ibu hami mengalami tekanan berat di hatinya maka akan memberi pengaruh yang negatif pada si jabang bayi. Dan dirinya, tak mau mengalami itu.
Sudah cukup baginya kehilangan calon buah hatinya yang pertama. Ia tak akan sanggup jika harus kehilangan lagi. Untuk itulah, ia berusaha mengabaikan perasaannya sendiri. Sebab, dirinya tak ingin perasaan sedihnya itu bisa mengganggu kesehatan dan perkembangan janin di dalam perutnya.
Semakin hari, keadaan rumah tangganya semakin dingin. Hati Olivia pun mulai membeku menghadapi kedinginan itu.
Hari ini, ia memeriksakan kandungannya. Dan merasa senang karena keadaan janinnya baik baik saja.
Betapa kagetnya Olivia saat di rumah, tiba tiba saja Vino telah menunggunya di kursi teras. Lelaki itu langsung berdiri saat melihat ia turun dari taksi.
"Kamu dari mana?" tanya Vino dengan wajah khawatir.
__ADS_1
Belum sempat Olivia menjawab, lelaki itu telah mendekat lalu menarik tubuhnya dalam rengkuhan. Kontan saja, Olivia menegang kaku. Tak biasanya lelaki itu seperti ini. Ya, setidaknya selama beberapa bulan terakhir ini. Hubungan mereka tak sehangat biasanya.
"Aku dari periksa kandungan. Jadwal bulanan. Ada apa, Kak?" Olivia menatap bingung.
"Enggak. Aku cuma lagi khawatir aja sama kamu. Maafkan aku yang beberapa bulan terakhir ini seakan tidak peduli dengan keadaan kamu dan anak kita. " Vino mengurai pelukannya lalu mengajak Olivia masuk ke rumah.
Di ruang tamu, keduanya duduk saling berdekatan. Vino bahkan tak melepaskan genggaman tangannya. Sesekali, ia akan mencium punggung tangan istrinya itu.
"Kak Vino ke mana aja?" tanya Olivia pada akhirnya. Air matanya mengalir, tetapi segara ia hapus dengan tangannya yang bebas.
"Aku diminta Mama nemenin Raisya. Besok saja aku jelaskan, aku hanya ingin peluk kamu sekarang ...." Vino merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Serta merta tangan Olivia bergerak mengelus kepalanya. Dan detik itu pula rasa hangat menjalar di hatinya yang beberapa bulan terakhir ini menjadi beku.
__ADS_1
Hati Vino mencari, kehangatan menjalar kesekujur tubuhnya. Menghantarkan rasa damai dalam jiwanya.
"Gimana keadaan Raisya? Bukannya pas kita jenguk ke rumah sakit itu katanya dia baik -baik aja, enggak perlu dikhawatirkan?" tanya Olivia lagi. Tak mengindahkan permintaan Vino yang tak ingin membahas masalah wanita itu.
Mau bagaimana lagi. Berbulan bulan diabaikan oleh sang suami, tentu saja membuat Olivia penasaran apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Mama tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Raisya tak mengakui apa yang terjadi kalau sebenarnya dia kabur dari pacarnya yang hendak menodainya lalu dia pun tertabrak mobil." Suara Vino tercekat di tenggorokan. Ia kembali sedih membayangkan wanita itu berada dalam masalah seperti ini.
"Mengerikan sekali. Jadi karena mengurus semuanya membuat Kak Vino abai padaku. Kalau saja Kakak berbicara apa adanya, mau jujur sama aku pasti keadaan kita akan baik baik saja, enggak perlu saling diam dan aku juga pasti akan mendukung kakak kok." Olivia menjelaskan panjang lebar dengan senyum lega.
"Maafkan aku. Saat itu, aku cuma enggak mau buat kamu khawatir. Kamu juga harus fokus pada anak kita ...."
__ADS_1
"Iya. Aku mengerti."