
Masih mengenakan pakaian pengantin, Vino menuju bandara. Di perjalanan tadi, ia sudah memesan tiket untuk bisa segera terbang menemui Olivia. Orang suruhannya sudah mengirimkan alamat istrinya itu.
Vino merasa, semesta sedang mendukungnya kali ini. Ia telah masuk ke pesawat dan siap terbang.
Saat telah sampai di Jakarta, ia pun telah dijemput oleh orang suruhannya. Jantungnya begitu saja berdebar kencang, ketika dirinya masuk ke dalam mobil.
Lelaki di sampingnya itu memberikan lembaran- lembaran foto sebelum melajukan kendaraan yang mereka tumpangi.
Mata Vino berkaca-kaca melihat gambar yang ada do foto itu. Ia sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan sang istri.
"Di sini tempatnya, Pak. Di jam segini ... Bu Olivia biasa mengajar di sana," kata lelaki di sampingnya itu saat mobil mereka berhenti di perkampungan kumuh.
"Kamu yakin?" Vino bertanya tidak percaya. Ia memperhatikan keadaan sekitar yang menurutnya amat tidak layak itu.
"Saya yakin." Lelaki itu mengangguk mantap. "Setelah gang ini, Anda akan bertemu dengan lapangan kemudian ada bangunan yang digunakan Bu Olivia untuk mengajar--"
Belum sempat lelaki itu menyelesaikan kalimat saat Vino membuka pintu mobil dan langsung menutupnya. Ia berjalan dengan tergesa menuju tempat yang ditunjukkan orang suruhannya itu.
Benar saja, ada sebuah bangunan yang terlihat cukup tua di sana. Keadaan di luar cukup sepi.
Vino melangkah lebar. Ia memasang telinga lebar lebar agar bisa mendengar suara dari dalam sana.
Rasa rindu itu membuncah di dalam dada ketika lamat lamat Vino mendengar suara sang istri. Sudah tidak tahan, ia pun berlari dan begitu saja masuk ke ruangan itu.
Olivia tampak tengah duduk di kursi, sementara beberapa orang ibu ibu dan para remaja duduk di lantai beralasan karpet. Di tangan tangan mereka ada benang yang Vino sendiri tidak tahu apa.
Vino melangkah ragu, perasaan yang sedari tadi menggebu seolah tersebut kala melihat tatapan dingin sang istri.
Lantas, tatapan matanya tertuju pada tangan Olivia yang mengelus perut.
Suasana seketika menjadi sangat hening. Vino sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar sangat kencang bagai genderang perang yang ditabuh kencang.
Waktu seakan berhenti. Vino melangkah pelan, mendekati sang istri yang kini berdiri. Tatapan yang semula tampak dingin itu, kini berubah menjadi kaca kaca bening yang mengalir membasahi pipi. Ada yang teriris perih di dalam dada Vino.
__ADS_1
Seolah mengerti dengan keadaan mereka. Satu per satu orang dalam ruangan itu pun bergerak keluar, meninggalkan dua insan yang tampaknya memang tidak ingin diganggu oleh hal apa pun dan siapa pun juga.
Vino semakin mendekat. Ia melirik sekilas tempat yang semula ramai itu kini menjadi kosong. Hanya ada mereka berdua sekarang.
"A ... pa boleh kalau aku peluk kamu?" Suara Vino terbata dengan getaran yang tidak bisa disembunyikan.
Tanpa menunggu jawaban wanita di hadapannya, Vino langsung bergerak cepat meraih tubuh itu dan menarik ke dalam pelukan.
Vino menelusupkan kepala di ceruk leher sang istri yang tertutup kain. Ia memejamkan mata, menghirup aroma yang sangat dirindukannya itu.
"Aku sangat merindukan kamu," katanya dengan suara bergetar.
Vino mengurai pelukan. Ia biarkan air matanya mengalir membasahi pipi.
"Maafkan aku yang datang terlambat ya ...." Vino berkata lagi.
Tampaknya, banyak hal yang ia utarakan kepada istrinya itu.
Di hadapannya, Olivia masih mengatupkan bibir. Wanita itu menangis, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir itu.
"Ini ... anak kita?" tanyanya setelah memberikan satu kecupan di perut itu. Kemudian, ia mendongak menatap wajah Olivia yang lagi lagi hanya diam saja.
"Apa kamu masih ingin menghukumku lagi, Olivia?" tanyanya lagi tanpa mengubah posisi.
Olivia menghapus air matanya yang mengalir. Lantas, ia memundurkan langkah dan duduk di kursinya semula. Sedangkan Vino menatap nanar kepadanya.
Vino mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Lantas membuka kotak itu. Ia mengubah posisi layaknya seseorang yang sedang melamar wanita pujaannya.
"Aku tahu jika ini terlalu cepat. Kita bahkan belum memperbaiki keadaan kita dengan benar. Tapi, izinkan aku melamar kamu lagi menjadi istriku. Kamu mau hidup bersamaku kan? Kita hanya bertiga saja, tidak ada lagi siapa pun lagi. Terserah kamu mau mengajakku hidup di mana pun. Aku turuti. " Vino berkata yakin dengan getaran yang tidak bisa enyah dari suaranya.
"Aku sangat mencintaimu, Olivia, " katanya dengan air mata yang menitik. Vino menangis lagi.
"Kamu mau punya istri berapa?" Pertanyaan itu yang keluar dari bibir Olivia. Suaranya terdengar ketus juga merujuk khas wanita yang sedang cemburu.
__ADS_1
"Hanya kamu seorang, Sayang." Vino menjawab dengan senyum teekulum di bibir.
"Raisya?"
"Riasya itu adik aku. Kami enggak mungkin menikah."
"Lalu pakaian kamu ini? Kamu sudah melangsungkan akad nikah kan, hari ini kalian menikah?" Wajah Olivia kembali dingin.
"Kamu tahu? Kamu mencari tahu tentang aku?" Vino terkekeh pelan. "Tidak ada pernikahan. Kamu cuma cinta sama kamu," katanya dengan suara lembut.
"Bohong! Kamu sering bohong sama aku. Buktinya, kamu sering tinggalin aku sendirian untuk memperhatikan Raisya. Aku tahu kalau Raisya itu adik kamu, tapi perlakuan kalian berdua lebih dari kakak adik kan. Kalian bahkan akan menikah kan, makanya aku pergi dari kamu. Kenapa kamu enggak ceraikan aku aja." Olivia terus mengoceh, mengeluarkan semua beban di dalam dadanya.
Sebenarnya, Olivia berencana untuk memukul lelaki itu kemudian mengusir tanpa ampun. Namun, saat melihat wajah itu, dirinya tidak tega. Ah, Olivia benci dengan hormon kehamilannya ini.
"Kamu bebas memarahiku seperti apa pun, Olivia. Aku tidak akan pergi dan akan menerima semuanya. Tapi tolong jangan pergi lagi. Dan ... kakiku sudah sangat pegal sekarang. "
"Jadi, cuma begitu doang usaha kamu untuk membujuk aku. Kalau begitu, lebih baik kamu pergi saja." Olivia merajuk. Ia menyilangkan tangan di dada, laku memalingkan wajah dengan bibir cemberut.
Oh, Olivia. Kamu kekanakan sekali.
"Tidak. Aku akan tetap duduk dengan posisi ini selama yang kamu mau."
"Kalau begitu, kamu begitu saja terus sampai besok, besoknya lagi, besoknya lagi," sahut Olivia. Ia akhirnya bergerak, menyambar kotak dari tangan suaminya itu.
Vino mengulum senyum. "Baiklah, aku akan duduk seperti ini sampai kapan pun yang kamu mau."
Di ambang pintu, Bunda Kania melihat interaksi keduanya dengan gelengan kepala. Ia merasa lucu dan merasa lega dalam waktu bersamaan. Lantas, ia pun meninggalkan bangunan itu. Rasanya mereka berdua sudah cukup untuk berbaikan dan membenahi semuanya.
Olivia berdiri. Ia melangkah melewati Vino tanpa menoleh ke arah lelaki itu.
Di ambang pintu, Olivia melihat para murid sekaligus partner kerjanya tengah menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Kakak mau aku kenalkan sama mereka tidak?" tanya Olivia yang langsung disambut dengan senyum riang sang suami.
__ADS_1
Vino melangkah mendekati Olivia dengan kaki terpincang pincang karena kesemutan.
Olivia tahu, setelah ini tidak ada hal mudah yang akan mereka lalui. Namun, keputusannya untuk memaafkan lelaki itu adalah pilihan yang tepat. Sebab, bukan hanya dirinya yang membutuhkan keberadaan Vino, melainkan janin yang berkembang di dalam rahimnya.