Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 54


__ADS_3

Olivia tersenyum lebar saat melihat Alvin tengah bermain di lapangan yang luas. Bayinya itu sudah pandai berlarian ke sana kemari. Hehe, siapa yang bilang kalau anaknya belum bisa jalan? Coba lihat! Betapa Alvin telah menjadi bayi laki laki yang ceria juga aktif.


"Ma ... Ma ...." Alvin memanggil sang mama dengan wajah cerianya. Ia terus berlari, seakan dunia luas itu hanya miliknya seorang.


Sesaat Alvin berhenti tepat di hadapan Olivia yang sedari tadi mengawasi gerak geriknya. Ia merentangkan tangan kemudian memeluk sang mama dengan pelukan erat di leher. Lantas, ia pun mencium pipi Olivia dengan penuh semangat.


"Muah!"


Alvin dan Olivia tertawa lepas. Olivia merasa bahwa dirinya tidak butuh apa apa lagi, juga tidak butuh siapa pun lagi. Hanya ada dirinya dan Alvin sudah cukup membuat perasaannya dilingkupi perasaan bahagia yang tidak terkira. Alvin adalah hartanya yang paling berharga di dunia.


Suara perdebatan menyentak kesadaran Olivia. Ia mengerjapkan mata kemudian menoleh ke samping. Di sana Raisya dan Vino tengah ada mulut, entah apa yang keduanya bicarakan. Olivia hanya mendengarkan tanpa mau mengusik mereka.


"Mama seharusnya enggak terlalu ikut campur begini, Dek. Cukup kita saja yang menyelesaikan masalah kita. Mama enggak usah ikutan begini. Malah jadi runyam kan?" Vino mengerang frustrasi. Ia mengacak rambut kemudian mengusap wajah dengan kasar.


"Aku tahu, Kak, tapi mau bagaimanapun Mama itu orang tua kita. Mana ada ibu yang mau melihat anaknya sengsara. Itulah kenapa Mama dari dulu berusaha menyatukan kita, Kak. Kalaupun Kakak juga enggak mau sama siapa pun yang dijodohkan sama Kakak, enggak masalah kan. Buktinya Mama mau menerima istri beserta anak Kakak." Raisya tidak mau mengalah mendebat sang kakak.


"Kenapa kamu enggak menolak perjodohan itu. Kita saudara dan kamu tahu bagaimana perasaan aku ke kamu."


"Aku cuma punya kalian. Enggak punya siapa siap lagi. Tapi aku juga sadar diri kok kalau enggak bisa memaksa siapa pun. Papa juga sudah kasih pengertian ke aku dan aku terima." Raisya menunduk. Ia menyadari jika Olivia telah terjaga lalu pura-pura memejamkan mata. Namun, ia sedang tidak ingin menjadi sok baik dengan terus mengalah kepada wanita itu. Biarkan saja istrinya Vino tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku tahu kalau Kakak mulai marah sama aku karena Maka terus mengingatkan betapa Mama menyayangi aku dan tidak mau aku pergi dari kalian. Aku juga tahu kalau Kakak juga marah karena aku diam saja. Tapi aku harus gimana, Kak? pergi gitu aja dari kehidupan kalian dari sisi mama. Padahal Kakak tahu kan gimana sakitnya Mama saat aku memutuskan kuliah jauh dari sini." Raisya pun putus asa.

__ADS_1


Setiap orang pasti ingin agar perasaannya bisa terbalaskan. Namun, ia juga sadar bahwa tidak akan bisa memaksakan kehendak. Ia bukan Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati seseorang. Meminta hatinya sendiri untuk tidak mencintai kakaknya saja tidak bisa. Bagaimana mungkin dirinya bisa memaksa hati Vino untuk mencintainya sementara hati lelaki itu sudah terisi penuh oleh wanita bernama Olivia.


Raisya menunduk. Sungguh, rasanya harga diri yang ia miliki telah terkikis habis oleh lelaki itu. Seorang Vino yang tidak memiliki perasaan lebih terhadapnya melebihi perasaan seorang kakak kepada adik. Namun, perhatian yang diberikan justru semakin membuatnya sakit dan takut kehilangan.


Perasaan yang pernah tumbuh dan dipangkas habis kini telah bertunas dengan subur. Sampai Raisya sendiri kuwalahan menerima tunas itu di dalam dadanya. Terlebih, saat dirinya dulu kecelakaan dan Vino dengan penuh perhatian nya menemani, merawat juga ikut menjaganya sampai jarang pulang.


Memang, apa yang dilakukan Vino sepenuhnya karena perintah sang mama, tetapi Vino juga bisa menolak bukan.


Vino adalah lelaki dewasa yang sepenuhnya bisa mengendalikan diri. Mengatur diri dan bisa menolak apa pun yang mau ditolak.


Hah. Perasaannya sungguh dibuat tak karuan oleh lelaki itu.


"Ya, karena aku Alvin tiada. Karena aku Alvin ... seharusnya aku tidak lagi mengindahkan perkataan Mama dan berujung perdebatan dengan kamu, Dek. Maafkan Kakak ya karena sudah menyakiti kamu. Harusnya--"


"Jadi ... apakah Alvin anakku benar-benar sudah tiada?" Suara Olivia yang tercekat mengalihkan fokus perdebatan kedua orang itu.


Vino segera menghampiri Olivia, duduk di pinggir ranjang dan menggenggam erat tangan istrinya.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku karena telah menjadi ayah yang tidak becus. Maafkan aku." Vino tertunduk dalam. Ia menangis. Tidak lagi merasa malu karena dilihat Raisya. Padahal, selama ini dirinya selalu menunjukkan kekuatan bahwa tidak akan menangis.


Lantas, sepasang suami istri itu pun tidak lagi saling bicara. Keduanya sama-sama menumpahkan kesedihan dalam tangis yang terdengar di ruangan rawat inap itu.

__ADS_1


Sementara itu, Raisya keluar dari kamar tersebut. Memberi waktu kepada suami istri itu dan tidak ingin mengganggu.


Vino memeluk erat Olivia dan mengucapkan kata maaf yang sepertinya tidak akan pernah habis walau berjuta kali ia ucapkan.


Olivia tidak membalas. Ia hanya bergeming dengan wajah dan senyum Alvin yang berkelebatan di pelupuk mata. Ada hangat yang menyelinap di dada juga rasa sedih yang tidak bisa ditepis. Namun, ia bisa menarik kesimpulan bahwa mimpi yang ia alami tadi adalah tanda bahwa anaknya itu baik-baik saja.


"Alvin di mana sekarang?" tanya Olivia sambil mengurai pelukan mereka.


"Anak kita sudah dimakamkan saat kamu tidak sadarkan diri. Aku tidak mau kamu semakin histeris karena melihat kondisinya yang ... yang ... yang tidak lagi bernyawa," jelas Vino dengan suara terbata.


"Terima kasih, Kak. Setidaknya kamu masih memikirkan perasaan aku di saat kamu sendiri sedang mengalami kesedihan. Terima kasih." Olivia membalas penjelasan suaminya itu dengan kata-kata tulus dari lubuk hati terdalamnya. Ia mengulas senyum tipis. Setidaknya anaknya sekarang sudah aman, sudah tidak perlu lagi mendengar ledekan ataupun sindiran dari sang nenek ketika berkunjung.


Jika dipikir-pikir, betapa menyedihkannya masih Alvin. Di usianya yang masih sekecil itu harus mendengarkan sindiran dan ledekan dari orang terdekatnya karena dia belum lancar berjalan, belum pula lancar berbicara. Terlebih sikap aktif Alvin yang sering kali membuat sang nenek repot.


Padahal, sebagai seorang Ibu, Olivia sudah mencoba menjaga puteranya itu dengan sangat baik. Jangan sampai ada yang menyakiti Alvin. Doanya sepertinya terkabulkan karena sekarang Alvin sudah aman dan tidak sakit lagi.


"Sepertinya doaku dikabulkan sama Allah dalam waktu cepat, Kak," kata Olivia kemudian mengurai keheningan yang beberapa saat tadi membelenggu Keduanya.


"Doa apa itu?" tanya Vino penasaran. Ia merasa miris melihat senyum di wajah Olivia.


"Doa agar Avin dijaga dan tidak diejek lagi." Olivia terkekeh pelan dengan air mata yang kembali mengalir deras membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2