
“Aku punya hak tidak dengan pekerjaan yang akan kamu ambil?”
Hening. Keduanya membisu seakan lidah mereka tak mampu
bergerak untuk sekadar mengucapkan sepatah kata. Terutama Olivia. Mungkin
beberapa detik yang lalu ia bisa bernapas lega. Akan tetapi, setelah menyadari
bahwa sang suami tak kunjung menjawab pertanyaan yang ia ajukan itu membuatnya
berpikir keras. Apakah selama ini dirinya memang tidak memiliki hak atas
pekerjaan yang Vino ambil? Maksudnya, Olivia sebagai istri tak berhak ikut
memilih pekerjaan apa yang dilakukan suaminya itu.
Olivia kembali menghela napas. Jika tadi embusan napas lega.
Kali ini ia menghela napas guna melonggarkan dadanya yang mulai terasa sesak.
Nyatanya, beberepa detik menunggu dalam keheningan justru membuatnya kesal.
Pada akhirnya, Olivia pun memutuskan untuk kembali
berbicara. “Kalau memang sebagai istri, aku tak memiliki hak apa pun atas
pekerjaan yang akan kamu ambil. Aku juga tak akan masalah kok, Kak,” katanya
dengan suara yang ditahan agar tak terdengar jika dirinya sangat kesal sekali
sekarang ini.
Lantas, saat Olivia hendak meninggalkan lelaki itu. Vino
justru berbicara sehingga apa yang dikatakan suaminya itu menahan gerakan
Olivia.
“Aku enggak ngerti maksud kamu dengan hak atas pekerjaan
aku, Olivia,” kata Vino dengan suara pelan.
Olivia mendengkus pelan. Ingin sekali dirinya mengumpat
kesal dan mengutarakan umpatannya itu secara terang –terangan di hadapan
suaminya tersebut. Namun, sekuat mati ia tahan agar pertengkaran di antara
mereka tidak terjadi.
“Apa aku enggak punya hak memilih pekerjaan yanga akan kamu
ambil untuk ke depannya?” tanya Olivia lagi dengan suara yang lamban dan nada
yang tegas.
“Tentu saja kamu punya hak.” Vino menatap lekat sang istri
yang kini kembali duduk di kursi yang berada di seberangnya itu. “Aku tidak
akan mengambil pekerjaan yang tidak kamu sukai. Dan aku juga akan meminta
pendapatmu terlebih dahulu jika ingin mengambil pekerjaan yang aku mau.” Vino
mencondongkan tubuh semakin mendekat ke meja. Kedua tangannya saling bertautan
di atas meja. “Apa itu hak yang kamu maksud?” tanya lelaki itu dengan mata
memicing.
Olivia menganggukkan kepalanya sekali lalu mehana senyum. Ia
tidak ingin jika lelaki itu tahu bahwa di dalam dadanya itu ada kelegaan yang
luar biasa. Ah, apa tidak sebaiknya lelaki itu memang tahu dengan apa yang ia
pikirkan sekarang?
“Lalu, kenapa kamu bertanya begitu sekarang?” tanya Vino
__ADS_1
kemudian.
Olivia membuang muka. Wanita tersebut mengedikkan bahu
dengan acuh tak acuh. Jawaban yang di berikan lelaki itu sudah cukup. Ia tak
ingin membahas yang lain lagi.
“Apa ini ada hubungannya dengan keputusanku untuk fokus pada
usaha kita saja?” tanya Vino lagi.
“Bisa ya dan tidak sih. Hanya saja, aku Cuma khawatir jika
apa yang Kakak Vino putuskan itu justru memberatkan Kakak sendiri,” ujar Olivia
kemudian.
“Tentu saja tidak. Kita telah membahasnya bukan? Kamu punya
hak atas pekerjaan yang aku pilih. Dan tentu saja aku akan sangat senang jika
kita bisa fokus pada usaha kita sendiri. Lebih baik begitu bukan?” ujar Vino
menjelaskan dengan yakin. Mau tak mau, Olivia mengangguk setuju dengan
pernyataan lelaki itu. “Aku bahkan telah merencanakan ini dan itu,” kata Vino
lagi.
“Ya. Baiklah ... kita akan fokus pada usaha kita sekarang.
Dan aku harap Kakak Vino bisa fokus memikirkan tentang rencana ke depan usaha
itu,” lanjut Olivia dengan tenang.
“Tentu.” Kali ini, Vino mengangguk setuju.
Dan, keduanya pun sepakat pada keputusan yang telah mereka
buat sebelumnya. Kali ini Olivia tak ingin memikirkan apa pun lagi. Ia hanya
kehilangan dan juga tentang keluarga suaminya tersebut. Akan lebih baik jika
dirinya tetap fokus pada usaha yang sedang ia geluti. Mengembangkan sampai
memiliki peralatan dan bangunan sendiri.
Ah, banyak sekali hal yang memang harus ia rencanakan untuk
ke depan. Terutama tentang rencana membuka lowongan pekerjaan untuk membantu
dirinya di laundry.
Setelah malam itu, Olivia sengaja tidak menjawab panggilan
sang mama mertua. Ia tak ingin wanita yang telah melahirkan suaminya itu justru
akan kembali mengintrogasi dan menuduhnya ini dan itu. Bagi Olivia sekarang,
fokus pada usahanya adalah hal yang sangat penting. Ia akan membuang jauh-jauh
segala hal yang bisa menggangguk konsentrasinya dan menciptakan pemikiran buruk
di dalam kepalanya.
Setiap hari, Olivia dan Vino pulang pergi antara kontrakan
dan tempat usaha. Pergi di pagi buta dan pulang saat malam. Keduanya telah
sepakat akan memulai semuanya kembali dari awal. Dari titik nol seperti sebelum
mereka merasa kehilangan. Keduanya pun saling berbagi tugas dalam menjalankan
usaha itu.
“Kayaknya kita harus pindah ke sini dulu deh. Soalnya kan
capek banget kalau harus bolak balik gini. Sementara semua hal masih kita
__ADS_1
kerjakan sendiri.” Perkataan Vino itu seperti sebuah keputusan yang tak bisa
diganggu gugat. Oleh karena itu pula, Olivia pun langsung menurut.
Keduanya memindahkan barang –barang milik mereka itu
sesempatnya saja. Sebab, tak ada waktu untuk memindahkan semuanya secara
langsung.
Olivia bahkan hanya membawa beberapa helai pakaian saja.
Yang penting mereka bisa berganti pakaian. Lagi pula, setelah berganti pakaian,
ia bisa langsung mencuci baju kotor itu dan langsung mengeringkannya. Walaupun
tanpa perlu repot untuk menyetrikanya. Lambat laun, semua barang yang mereka
miliki akhirnya bisa dipindahkan semuanya ke bangunan itu.
“Nah, gini kan lebih mudah dan simpel. Enggak perlu repot ke
sana dan ke sini. Waktu juga bisa lebih efisien,” kata Vino saat mereka sedang
beristirahat. Hari itu pakaian kotor yang masuk lumayan banyak.
Olivia memang sangat menjaga kualitas pekerjaan. Baik dari
segi kerapaian pakaian maupun pengharum yang diguanakan. Masalah packing, ia
serahkan kepada Vino. Lelaki itu lebih cekatan dan termasuk orang yang sangat
rapi dalam pekerjaan. Olivia sangat beruntung bisa bekerja sama dengan lelaki
itu.
“Halo, Kak. Aku mau laundry bad cover dong!” seru seseorang
dari arah depan. Olivia buru-buru bangkit dari posisi baringnya dan segera
menuju ke asal sumber suara.
“Bisa,” sahut Olivia ramah. Tak lupa, ia mengembangkan
senyumnya dan mengangguk sopan.
“Kiloan apa satuan kalau bed cover gini?” tanya wanita itu.
“Satuan. Dua puluh lima ribu, ya,” ujar Olivia lalu segera
mengambil pena dan nota setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari wanita
tersebut. Di sela ia menulis. Olivia menyempatkan diri untuk bertanya ini dan
itu. Ia membangun keakraban kepada wanita tersebut. Selanjutnya, keduanya pun
berbincang akrab.
“Iya. Aku kemarin pernah laundry. Eh, enggak wangi. Nanti
kasih parfum yang banyak ya, Kak, jangan
pelit –pelit ....”
“Oke. Siap-siap.” Olivia tersenyum sembari mengacungkan ibu
jarinya. Lantas, ia pun memberikan nota tersebut.
“Eh. Aku bayar lunas deh.” Wanita tersebut lalu memberikan
uang pembayaran kepada Olivia.
“Terima kasih,” kata Olivia sembari mengambil uang tersebut.
Interaksi kedua wanita itu tak luput dari perhatian Vino. Lelaki
itu tersenyum melihat bagaimana Olivia bisa bersikap natural dan tampak tulus
dalam melayani para pelanggan mereka.
__ADS_1