Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab Tiga Delapan


__ADS_3

“Aku punya hak tidak dengan pekerjaan yang akan kamu ambil?”


Hening. Keduanya membisu seakan lidah mereka tak mampu


bergerak untuk sekadar mengucapkan sepatah kata. Terutama Olivia. Mungkin


beberapa detik yang lalu ia bisa bernapas lega. Akan tetapi, setelah menyadari


bahwa sang suami tak kunjung menjawab pertanyaan yang ia ajukan itu membuatnya


berpikir keras. Apakah selama ini dirinya memang tidak memiliki hak atas


pekerjaan yang Vino ambil? Maksudnya, Olivia sebagai istri tak berhak ikut


memilih pekerjaan apa yang dilakukan suaminya itu.


Olivia kembali menghela napas. Jika tadi embusan napas lega.


Kali ini ia menghela napas guna melonggarkan dadanya yang mulai terasa sesak.


Nyatanya, beberepa detik menunggu dalam keheningan justru membuatnya kesal.


Pada akhirnya, Olivia pun memutuskan untuk kembali


berbicara. “Kalau memang sebagai istri, aku tak memiliki hak apa pun atas


pekerjaan yang akan kamu ambil. Aku juga tak akan masalah kok, Kak,” katanya


dengan suara yang ditahan agar tak terdengar jika dirinya sangat kesal sekali


sekarang ini.


Lantas, saat Olivia hendak meninggalkan lelaki itu. Vino


justru berbicara sehingga apa yang dikatakan suaminya itu menahan gerakan


Olivia.


“Aku enggak ngerti maksud kamu dengan hak atas pekerjaan


aku, Olivia,” kata Vino dengan suara pelan.


Olivia mendengkus pelan. Ingin sekali dirinya mengumpat


kesal dan mengutarakan umpatannya itu secara terang –terangan di hadapan


suaminya tersebut. Namun, sekuat mati ia tahan agar pertengkaran di antara


mereka tidak terjadi.


“Apa aku enggak punya hak memilih pekerjaan yanga akan kamu


ambil untuk ke depannya?” tanya Olivia lagi dengan suara yang lamban dan nada


yang tegas.


“Tentu saja kamu punya hak.” Vino menatap lekat sang istri


yang kini kembali duduk di kursi yang berada di seberangnya itu. “Aku tidak


akan mengambil pekerjaan yang tidak kamu sukai. Dan aku juga akan meminta


pendapatmu terlebih dahulu jika ingin mengambil pekerjaan yang aku mau.” Vino


mencondongkan tubuh semakin mendekat ke meja. Kedua tangannya saling bertautan


di atas meja. “Apa itu hak yang kamu maksud?” tanya lelaki itu dengan mata


memicing.


Olivia menganggukkan kepalanya sekali lalu mehana senyum. Ia


tidak ingin jika lelaki itu tahu bahwa di dalam dadanya itu ada kelegaan yang


luar biasa. Ah, apa tidak sebaiknya lelaki itu memang tahu dengan apa yang ia


pikirkan sekarang?


“Lalu, kenapa kamu bertanya begitu sekarang?” tanya Vino

__ADS_1


kemudian.


Olivia membuang muka. Wanita tersebut mengedikkan bahu


dengan acuh tak acuh. Jawaban yang di berikan lelaki itu sudah cukup. Ia tak


ingin membahas yang lain lagi.


“Apa ini ada hubungannya dengan keputusanku untuk fokus pada


usaha kita saja?” tanya Vino lagi.


“Bisa ya dan tidak sih. Hanya saja, aku Cuma khawatir jika


apa yang Kakak Vino putuskan itu justru memberatkan Kakak sendiri,” ujar Olivia


kemudian.


“Tentu saja tidak. Kita telah membahasnya bukan? Kamu punya


hak atas pekerjaan yang aku pilih. Dan tentu saja aku akan sangat senang jika


kita bisa fokus pada usaha kita sendiri. Lebih baik begitu bukan?” ujar Vino


menjelaskan dengan yakin. Mau tak mau, Olivia mengangguk setuju dengan


pernyataan lelaki itu. “Aku bahkan telah merencanakan ini dan itu,” kata Vino


lagi.


“Ya. Baiklah ... kita akan fokus pada usaha kita sekarang.


Dan aku harap Kakak Vino bisa fokus memikirkan tentang rencana ke depan usaha


itu,” lanjut Olivia dengan tenang.


“Tentu.” Kali ini, Vino mengangguk setuju.


Dan, keduanya pun sepakat pada keputusan yang telah mereka


buat sebelumnya. Kali ini Olivia tak ingin memikirkan apa pun lagi. Ia hanya


kehilangan dan juga tentang keluarga suaminya tersebut. Akan lebih baik jika


dirinya tetap fokus pada usaha yang sedang ia geluti. Mengembangkan sampai


memiliki peralatan dan bangunan sendiri.


Ah, banyak sekali hal yang memang harus ia rencanakan untuk


ke depan. Terutama tentang rencana membuka lowongan pekerjaan untuk membantu


dirinya di laundry.


Setelah malam itu, Olivia sengaja tidak menjawab panggilan


sang mama mertua. Ia tak ingin wanita yang telah melahirkan suaminya itu justru


akan kembali mengintrogasi dan menuduhnya ini dan itu. Bagi Olivia sekarang,


fokus pada usahanya adalah hal yang sangat penting. Ia akan membuang jauh-jauh


segala hal yang bisa menggangguk konsentrasinya dan menciptakan pemikiran buruk


di dalam kepalanya.


Setiap hari, Olivia dan Vino pulang pergi antara kontrakan


dan tempat usaha. Pergi di pagi buta dan pulang saat malam. Keduanya telah


sepakat akan memulai semuanya kembali dari awal. Dari titik nol seperti sebelum


mereka merasa kehilangan. Keduanya pun saling berbagi tugas dalam menjalankan


usaha itu.


“Kayaknya kita harus pindah ke sini dulu deh. Soalnya kan


capek banget kalau harus bolak balik gini. Sementara semua hal masih kita

__ADS_1


kerjakan sendiri.” Perkataan Vino itu seperti sebuah keputusan yang tak bisa


diganggu gugat. Oleh karena itu pula, Olivia pun langsung menurut.


Keduanya memindahkan barang –barang milik mereka itu


sesempatnya saja. Sebab, tak ada waktu untuk memindahkan semuanya secara


langsung.


Olivia bahkan hanya membawa beberapa helai pakaian saja.


Yang penting mereka bisa berganti pakaian. Lagi pula, setelah berganti pakaian,


ia bisa langsung mencuci baju kotor itu dan langsung mengeringkannya. Walaupun


tanpa perlu repot untuk menyetrikanya. Lambat laun, semua barang yang mereka


miliki akhirnya bisa dipindahkan semuanya ke bangunan itu.


“Nah, gini kan lebih mudah dan simpel. Enggak perlu repot ke


sana dan ke sini. Waktu juga bisa lebih efisien,” kata Vino saat mereka sedang


beristirahat. Hari itu pakaian kotor yang masuk lumayan banyak.


Olivia memang sangat menjaga kualitas pekerjaan. Baik dari


segi kerapaian pakaian maupun pengharum yang diguanakan. Masalah packing, ia


serahkan kepada Vino. Lelaki itu lebih cekatan dan termasuk orang yang sangat


rapi dalam pekerjaan. Olivia sangat beruntung bisa bekerja sama dengan lelaki


itu.


“Halo, Kak. Aku mau laundry bad cover dong!” seru seseorang


dari arah depan. Olivia buru-buru bangkit dari posisi baringnya dan segera


menuju ke asal sumber suara.


“Bisa,” sahut Olivia ramah. Tak lupa, ia mengembangkan


senyumnya dan mengangguk sopan.


“Kiloan apa satuan kalau bed cover gini?” tanya wanita itu.


“Satuan. Dua puluh lima ribu, ya,” ujar Olivia lalu segera


mengambil pena dan nota setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari wanita


tersebut. Di sela ia menulis. Olivia menyempatkan diri untuk bertanya ini dan


itu. Ia membangun keakraban kepada wanita tersebut. Selanjutnya, keduanya pun


berbincang akrab.


“Iya. Aku kemarin pernah laundry. Eh, enggak wangi. Nanti


kasih parfum yang banyak ya,  Kak, jangan


pelit –pelit ....”


“Oke. Siap-siap.” Olivia tersenyum sembari mengacungkan ibu


jarinya. Lantas, ia pun memberikan nota tersebut.


“Eh. Aku bayar lunas deh.” Wanita tersebut lalu memberikan


uang pembayaran kepada Olivia.


“Terima kasih,” kata Olivia sembari mengambil uang tersebut.


Interaksi kedua wanita itu tak luput dari perhatian Vino. Lelaki


itu tersenyum melihat bagaimana Olivia bisa bersikap natural dan tampak tulus


dalam melayani para pelanggan mereka.

__ADS_1


__ADS_2