
Setelah hari itu, semuanya kembali seperti sedia kala. Seperti tak pernah terjadi masalah apa pun, apa lagi sampai diam-diaman di antara suami istri itu. Kini, keadaan pun telah membaik.
Vino sering di rumah, tak pergi ke mana pun kecuali ada hal penting masalah pekerjaan. Dan, Olivia pun lebih sering di rumah.
Terlebih, saat ini perut wanita itu semakin terlihat membesar. Ia bahkan sudah mulai kesulitan bergerak maupun berjalan.
Ketika hendak beranjak dari duduk, Olivia akan meminta bantuan. Ia sudah kepayahan untuk berdiri dengan tenaganya sendiri.
Pakaian yang dimiliki sebelumnya juga tak ada lagi yang muat. Berat badannya sudah naik drastis dari sebelumnya.
"Aku gendut banget ya," keluh Olivia suatu hari.
Wanita itu berdiri di depan cermin dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Perutnya terlihat membuncit. Kedua tangannya menepuk-nepuk pipi, lalu pindah ke lengan mencubit di sana. Lemak di tubuhnya itu bertebaran di mana-mana.
"Bukan gemuk, tapi chubby," sahut Vino lalu berdiri di belakang sang istri. Kedua tangannya merengkuh pinggang Olivia yang sudah pasti tak bisa digapainya. Tangan panjangnya kini sudah kesulitan untuk memeluk tubuh itu secara sempurna.
Tangan Vino mengelus perut buncit istrinya dengan gerakan naik turun. Hatinya akan menghangat dengan rasa gembira ketika si jabang bayi menyambut sentuhannya.
"Mama enggak gemuk kan sayang? Mama cantik karena punya pipi chubby," ujar Vino dengan suara lembut.
"Emang biasanya aku enggak cantik?" protes Olivia dengan merajuk manja. Lantas, ia mengurai pelukan tangan Vino di perutnya itu lalu melangkah cepat menuju lemari pakaian. Ia harus berpakaian, dingin mulai menembus kulitnya.
"Lho, bukan gitu, Sayang. Kamu di hari biasanya juga sangat amat cantik, kok. Cuma sekarang ini lebih lebih berkali lipat cantiknya. Kan ada baby ganteng di dalam perut kamu." Vino mencoba menjelaskan. Merayu dengan suara selembut mungkin dan dengan wajah semelas mungkin.
Ya, mereka memang telah melakukan USG pada si bayi dan telah diketahui jenis kelamin anak mereka. Betapa senangnya Vino saat si dokter kandungan tempat Olivia periksa menunjukkan alat kelamin bayi di dalam perut istrinya itu.
__ADS_1
"Lihat! Ada menaranya. Sudah bisa dipastikan kalau dia laki-laki. Selamat ya."
Hari itu, Vino sampai ingin meloncat-loncat saking senangnya. Kalau saja tidak ingat sedang di mana dirinya berada saat itu, sudah bisa dipastikan ia akan berteriak kencang. Alhasil, saat keluar dari ruangan sang dokter Vino berseru keras sampai semua mata yang antre hari itu tertuju padanya.
"Yes!" seru Vino sembari mengepalkan tangan yang berasal mendapatkan pukulan keras di bahunya. Dan entah mengapa pukulan keras dari Olivia yang ia terima itu tak berasa sakit Sama sekali.
Vino masih senyum senyum sendiri saat mendengar Olivia meringis kesakitan. Sontak saja, lelaki itu kaget dan langsung berlari mendekati sang istri.
"Ada apa? Apa sudah mau lahiran?" Vino bertanya khawatir.
"Belum. Ini cuma kontraksi palsu aja. Bentar lagi juga hilang." Olivia duduk di pinggir ranjang sembari mengelus perutnya.
Vino tak ingin diam saja, ia bergerak cepat naik ke atas ranjang. Duduk di belakang sang istri lalu mengelus punggung sampai ke pinggang Olivia. Mengantarkan rasa nyaman pada wanita yang dicintainya itu.
Dering ponsel menginterupsi kegiatan keduanya. Ragu-ragu, Vino menoleh ke arah sumber suara.
Vino pun bergerak ke arah nakas. Mengambil ponselnya di sana. "Mama," cicitnya.
"Angkat!" ujar Olivia.
"Iya, Ma?" sahut Vino setelah mendengar sapaan dari seberang sana.
"Kamu lagi ngapain? Sudah lama enggak mengunjungi Mama. Apa kamu enggak kangen atau khawatir sama Mama?" ketus wanita yang telah melahirkannya itu.
Vino meneguk ludah susah payah. Rasanya ada duri yang tersangkut di tenggorokannya membuatnya kesulitan untuk berucap kata membalas ucapan sang mama.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain?" tanya mama lagi.
"Enggak lagi ngapa-ngapain kok, Ma. Ini lagi temenin Olivia aja--"
"Berapa bulan usia kehamilan istrimu itu?" tanya sang mama masih dengan suara ketus.
"Sembilan bulan, Ma. Tinggal nunggu waktu lahiran. Cuma tadi ngalami kontraksi palsu, jadi dia kesakitan," jelas Vino hati-hati.
"Mana dia? Mama mau bicara sama istrimu."
Vino menjauhkan benda pipih dari telinganya, lalu berbicara pelan pada sang istri. "Mama mau bicara sama kamu. Mau?" tanya Vino memastikan kesediaan sang istri.
"Mana?" tanya Vino sebagai bentuk persetujuan darinya.
Selanjutnya, ponsel dari tangan Vino pun telah berpindah ke tangan Olivia.
"Halo, Ma. Apa kabar?" sapa Olivia ramah dan sopan.
"Baik. Kamu mengalami kontraksi palsu ya?" tanya wanita di sebarang sana tanpa perlu repot-repot menanyakan kabar menantunya itu.
"Iya, Ma. Mungkin karena--"
Belum sempat Olivia menuntaskan kalimatnya saat ibu mertuanya telah lebih dulu menyahut, "Kamu harusnya banyak bergerak. Jangan manja kalau lagi hamil."
"Oh, iya, Ma." Suara Olivia pun tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
"Ya sudah. Mama tutup dulu teleponnya. Bilang sama Suami kamu itu jangan lupa berkunjung ke rumah mamanya."
Sambungan pun diputus secara sepihak. Dan Olivia hanya tergemam di tempat.