
Olivia masih mematung di tempatnya dengan ponsel yang digenggamnya erat. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja didengar oleh indera pendengaran nya. Sang ibu mertua menuduh bahwa keputusan yang telah diambil oleh suaminya itu merupakan pengaruh darinya. Oh. Bisa-bisanya wanita itu berpikir demikian. Tega sekali.
Kemudian, Olivia pun akhirnya memutuskan untuk membicarakan secara langsung kepada suaminya itu. Ia ingin mengetahui pendapat Vino tentang berhenti bekerja dan mengurus usaha mereka saat ini. Maka, ia pun segera keluar dari kamar san mencari keberadaan suaminya itu.
Sampai di ruang tamu, Olivia tak juga menemukan keberadaan lelaki tersebut. Sampai pada akhirnya ia mendengar suara dari arah depan. Olivia pu keluar dan melihat Vino yang tengah berdiri di depan teras dan sedang melakukan panggilan.
"Aku enggak bisa, Ma. Kapan-kapan aja ke sana ajak Olivia juga. Tapi enggak bisa sekarang."
Ada yang berdetak kencang di dalam dada Olivia saat mendengar namanya disebut oleh Vino dalam panggilan itu. Ia menajamkan indera pendengarannya agar bisa semakin mengetahui apa yang mereka bicarakan. Katakanlah kali ini tindakan yang ia lakukan itu sangat tidak sopan. Menguping pembicaraan suami dan ibu. Tapi, tak bisa dielak bahwa dirinya sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Itu keputusan aku, Ma. Enggak ada hubungannya dengan Olivia."
Lelaki itu tampak sedang frustrasi. Vino bahkan sampai menjambak rambutnya dengan keras. Tampaknya, sang mama juga tengah mengintrogasi lelaki itu. Wajahnya tampak sangat kusut dan tak enak dipandang.
"Kenapa mengungkit ungkit yang dulu? Aku menikah dengan Olivia karena cinta sama dia. Sedangkan Mama malah enggak setuju, meminta aku menikah dengan wanita yang tidak aku inginkan sama sekali."
Hah. Rupanya masalah itu lagi Haruskah Olivia menyesal karena telah menikah dengan Vino sekarang?
Tak kuat dengan apa yang terus ditangkap oleh indera pendengarannya, Olivia memutuskan untuk beranjak dari sana. Namun, apa yang dikatakan oleh Vino masih bisa didengar olehnya.
"Vino sayang sama Mama. Tapi enggak akan bisa menilih antara Mama dan istri Vino, Ma. Olivia itu tanggung jawab Vino ...."
Cukup. Olivia tak mau mendengar lagi. Ia berjalan cepat meninggalkan ruang tamu menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan memoles wajah dengan bedak tipis, ia pun kembali menuju dapur dan menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Hai. Kamu di sini? Mau masak apa?"
__ADS_1
Dulu. Jika Vino mendapati Olivia tengah berdiri menghadap ke kompor, maka lelaki itu akan meluknya dari belakang. Kedua tangan lelaki itu akan melingkar erat di pinggang Olivia.
Dulu. Jika Vino mendapati Olivia di dapur tengaj menyiapkan makanan untuk mereka. Lelaki itu akan mengganggu sebisa mungkin sampai pada akhirnya Olivia tidak jadi menyiapkan makanan mereka dan memilih membeli makanan jadi saja.
Akan tetapi, semua hal sepertinya telah berubah. Masalah yang terjadi di dalam rumah tangga mereka sangat berpengaruh pada komunikasi dan keakraban keduanya.
Bisa jadi, apa yang telah terjadi tadi di tempat laundry juga memberikan efek tersendiri bagi perasaan lelaki itu. Bahkan mungkin bagi perasaan keduanya. Sebab, semua hal yang terjadi di masa dulu. Kenangan indah di masa dulu, sepertinya mulai terkikis oleh banyak hal yang terjadi di masa sekarang. Terutama pada apa yang baru saja didengar oleh Olivia tadi.
Rasanya, memang tak nyaman jika Vino yang datang lalu begitu saja memeluk dirinya tanpa ada rasa canggung sama sekali.
Pada akhirnya, Olivia menoleh sebentar lalu memasang senyum semanis yang ia bisa. Wanita itu membalas sapaan sang suami dengan perasaan canggung yang tak bisa dihindari atau pun disembunyikan dari raut wajahnya.
"Ha - hai, aku lagi masak untuk kita makan malam."
"Kamu masak apa?" tanya lelaki itu. Ia berdiri di samping sang istri sembari ikut melongok pada kuali panas yang diletakkan pada kompor yang menyala.
"I ... ni, aku lagi goreng tempe. Untuk lauk nasi goreng."
Olivia menyelupkan tempe yang telah dibaluri oleh tepung ke minyak panas. Kemudian ia menjauh dari kompor dan menyiapkan bumbu nasi goreng yan ingin ia buat.
"Kakak Vino enggak apa -apa, kan, kalau malam ini kita makan nasi goreng aja?" tanya Olivia. Ia menoleh sebentar pada sang suami yang kini sedang menatap dirinya dengan lekat. Tap bisa dielak, kegugupan Olivia semakin menjadi -jadi.
Vino tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Manik matanya itu masih menatap lekat wanitanya yang tampak salah tingkah. Ah. Vino pikir, semburat merah di kedua pipi Olivia tak akan terlihat lagi. Sebab, banyak hal terjadi sekarang ini. Terlebih, sikap Olivia yang akhir -akhir ini terlihat berbeda.
"Nasi goreng kayaknya enak untuk dimakan malam ini," kata Vino kemudian.
__ADS_1
Selanjutnya, tak ada percakapan lagi di antara mereka. Tampaknya, Olivia memang mati- matian menghindari dirinya. Wanita itu terlihat sangat sibuk sekali. Sampai pada akhirnya, nasi goreng yang ditunggu itu pun matang juga.
Vino dengan cekatan membantu sang istri menyiapkan menu makan malam mereka ke piring. Ia mengambil piring dan menunggu dengan sabar saat Olivia menuang nasi tersebut ke piring yang ia pegang.
Selanjutnya, keduanya pun makan malam dalam diam. Katakanlah, mereka sedang menikmati menu yang tersaji itu dengan khidmat.
"Mau tambah lagi, boleh?" tanya Vino sembari mengangkat piring miliknya yang tekah kosong.
"Bo ... leh." Olivia mengambil piring tersebut lalu mengisinya dengan nasi lagi dan memberikan kepada Vino.
Tangan Olivia tampak gemetar saat memberikan piring itu, yang membuat Vino semakin menyadari jika sedari tadi ... Olivia tampak gugup sekali.
"Jika kamu ingin mengatakan sesuatu yang penting, kamu bisa mengatakannya sekarang, Olivia. Tak perlu menunggu sampai nanti. Aku bisa mendengarkan apa yang kamu katakan sambil makan," kata Vino pada akhirnya karena merasa sudah tak sabar.
Olivia meletakkan sendoknya di piring. Nasinya baru dimakan sedikit saja. Seperti tadi, nafsu makannya masih belum kembali normal.
"Kak," panggil Olivia pada akhirnya. Ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang tiba- tiba saja terasa kerung itu.
Sama seperti Olivia. Lelaki itu juga memilih untuk menghentikan makannya. Sangat tidak sopan rasanya mendengar apa yang Olivia hendak katakan dengan tetap fokus pada makananannya. Sementara sang istri terlihat sangat gugup sekali.
"Aku mau tanya ...." Olivia kembali melanjutkan ucapannya. Namun, sedetik kemudian ia sudah kembali menjadi kalimatnya itu.
Olivia menarik napas panjanh. Mengisi paru -paru yang terasa sudah sesak saja. Sementara itu, di hadapannya Vino sudah menunggu dengan penuh kesabaran apa yang hendak ia katakan selanjutnya.
"Aku punya hak tidak dengan pekerjaan yang akan kamu ambil?" Akhirnya, Olivia mengutarakan isi pikirannya.
__ADS_1