
Vino keluar dari kamar setelah mandi dan berganti pakaia. Wajahnya kini tanpa lebih segar. Rambutnya yang acak acakan tanpa disisir sekalipun tidak mengurangi ketampanan wajahnya. Ia berjalan santai menuruni anak tangga, lalu melangkah menuju area meja makan.
Vino mengenakan stelan pakaian santai, kaus pendek berwarna hitam dengan celana jogger di bawah lutut yang juga berwarna hita. Ia menarik kursi, lalu duduk menghadap hidangan yang telah disajikan oleh Raisya.
Ya, andai saja gadis itu tidak datang. Sudah tentulah dirinya hanya berdiam diri di dalam kamar, meratapi diri yang memiliki nasib mengenaskan.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Raisya yang sedang mengambil beberapa peralatan makan di lemari penyimpanan. Sesekali, gadis itu berjinjit sementara di tangannya sudah membawa piring.
Tidak tahan melihat pemandangan di hadapan, Vino pun bergegas menggeser kursi nya dan langsung melangkah cepat menghampiri Raisya. Tanpa kata, ia mengambil piring di tangan gadis itu.
Tentu saja, apa yang Vino lakukan tersebut sangat mengejutkan Raisya. Sampai sampai, tubuh Raisya oleng ke samping. Beruntung satu tangannya bergerak cepat menahan pinggang gadis tersebut, sehingga Raisya pun tidak jatuh ke lantai.
Sesaat tatapan keduanya pun bertemu, mengunci di udara dalam keheningan. Waktu pun seolah berhenti sejenak, mendukung dua insan itu untuk saling pandang. Gemuruh di dada Raisya begitu berisik membuat wajahnya merah padam.
Raisya akhirnya tersadar dan segera menggeliat, melepaskan diri dari rengkuhan Vino di pinggangnya. Ia berdeham pelan, menggosok paha kemudian merapikan rambut dan menyelipkan ke telinga. Oho, tampak sekali jika gadis itu sedang salah tingkah.
"Sorri ...."
"Makasih banget, Kak."
Kedua insan itu mengeluarkan suara secara bersamaan.
Raisya memalingkan wajah. Lagi-lagi degup jantungnya yang bergemuruh itu berhasil mengusik. Ia pun bergegas mengambil apa yang ingin diambilnya tadi, lalu melangkah cepat menuju meja makan.
"Kamu tadi mau ambil apa?" tanya Vino penasaran. "Kenapa bawa bubuk cabe?"
Raisya menatap botol di tangan. oh, ia bahkan sampai lupa ingin memgambil apa tadi di sana.
__ADS_1
"Oh iya, ini emang untuk tambahan kalau kurang pedas," jawabnya asal tidak ingin ketahuan dan menambah rasa malunya menjadi berkali lipat. Diletakkannya bubuk cabe itu ke atas meja. Lantas, Raisya pu segera menarik kursi dan duduk di sana.
Vino hanya tersenyum tipis. Ia pun segera duduk di kursinya yang tadi kemudian meletakkan piring di tangan ke atas meja.
Raisya dengan cekatan menyendok nasi beserta ayam ke piring, lalu meletakkan ke hadapan Vino. Perlakuannya itu persis sekali seperti seorang istri yang sedang melayani suami sendiri.
Vino mengucapkan terima kasih, lalu memgambil sendok beserta garpu. Saat ia akan menyuap nasi ke mulut, suara Raisya menghentikan kegiatannya tersebut.
"Oh iya, sambalnya belum aku tuang. Sebentar, Kak."
"Kan udah ada bubuk cabe?" Vino sama sekali tidak berniat untuk menyindir, tetapi saat melihat ekspresi manyun Raisya ia pun tahu jika sudah salah berbicara. "Biar Kakak yang ambil mangkuk kecilnya."
Seketika, Vino pun menyadari jika barang yang dicari Raisya tadi yaitu mangkuk untuk sambal. Tidak butuh waktu lama, lelaki itu telah kembali dengan mangkuk kecil di tangan.
Keduanya menyantap makan siang dalam diam. Jika biasanya selalu akan ada topik yang mereka bicarakan dengan penuh semangat, kini topik itu seolah telah habis tidak bersisa. Mungkin telah terempas oleh masa lalu, atau terbawa angin yang mengantarkan badai pada kehidupan keduanya. Entahlah.
Sementara itu, Vino pun tidak tinggal diam. Melihat wanita yang telah mau repot datang untuk mengantarkan makanan, lalu berlanjut mencuci piring, dirinya pun mengelap meja makan dan membereskan sisanya.
Setelah pekerjaan itu selesai dilakukan, Raisya bingung harus berbuat apa. Vino pun demikian. Keduanya sekarang seperti dua orang yang baru saja saling kenal. Kecanggungab itu begitu kental melingkupi keduanya sampai tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku pulang dulu, ya, Kak. Udah selesai makan juga. Nanti malam aja ke sini lagi, kalau ... Kak Vino kesulitan makan." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir Raisya dengan terbata.
"Mama ... apa kabar?"
Anak seperti apa kamu ini, Vino? Menanyakan kabar sang mama justru kepada orang lain. Seharusnya dirinya sendirilah yang menghubungi wanita itu langsung atau menjenguknya di rumah.
"Mama, sih, sudah baikan. Cuma nafsu makannya aja yang belum stabil. Tapi, Kakak jangan khawatir ... aku bakalan urus Mama dengan baik." Raisya mengangguk yakin, seyakin ucapan yang meluncur dari bibirnya itu.
__ADS_1
"Terima kasih. Seharusnya, kamu tidak perlu direpotkan dengan masalah seperti ini," sahut Vino merasa bersalah.
"Ya. Sebagai anak yang baik, aku akan memperlakukan Mama dengan baik pula. Apalagi, menantu Mama kan lagi jauh, Kak."
Oh, sepertinya Raisya salah ucap. Lihatlah! Wajah Vino yang kini tampak memucat.
"Oh, maaf. Aku sama sekali enggak ada maksud untuk--"
"Enggak apa-apa. Memang beginilah kenyataannya." Vino meringis tidak nyaman. "Kelak jika kamu menikah, maka menikahlah dengan orang yang Mama restui. Jangan seperti Kak Vino."
"Orang yang direstui Mama untuk jadi suamiku ini cuma Kak Vino. Gimana dong?" Raisya nyengir lebar. Pembicaraan ini adalah pembicaraan yang aneh.
Vino tertawa hambar. "Padahal kita sudah paling pas jadi kakak adik ya," balasnya kemudian.
"Selesaikan saja dulu masalah Kak Vino dengan Kak Olivia. Baru bisa memikirkan masalah yang lain lagi. Jangan memyakiti diri sendiri seperti ini, Kak. Bukan hanya Kak Vino saja yang sedih dan sakit, orang orang yang menyayangi Kakak juga merasakan sakit seperti Kakak," ungkap Raisya panjang lebar.
"Ya, aku tahu." Vino mengangguk. Tanpa sadar, tangannya terulur untuk mengelus kepala Raisya.
Sebenarnya, dirinya juga heran. Kenapa tidak bisa mencintai wanita secantik dan sebaik Raisya? Padahal, mereka sudah lama hidup bersama. Mungkin, karena perasaannya sebagai Kakak benar benar tulus, sehingga tidak bisa diubah lagi.
"Kalau ... Mama bersikera agar kita menikah bagaimana?" Pertanyaan yang diajukan Raisya itu seketika membungkam bibir Vino.
"Kamu maunya gimana? Kak Vino juga enggak mau kalau harus nyakitin kamu, Raisya?" kata Vino tulus. Tatapannya begitu hangat, menentramkan jiwa juga senyumnya yang tipis nan tulus itu menghangatkan hati yang memandangnya.
"Kalau kita pura pura aja gimana?" Mata Vino mendelik mendengar usulan tidak masuk akal itu. "Kita menikah, lalu saat dirasa tidak cocok kita bercerai, Kak. Mama juga enggak akan bisa memaksa kalau kita sama-sama enggak cocok, 'kan?" Raisya buru-buru meralat.
"Apa kamu tidak apa-apa jika kita melakukan nikah bohongan begitu?" tanya Vino ingin tahu.
__ADS_1
Raisya mengedikkan bahu. Namun, kemudian oa tersenyum tipis dan mengangguk yakin.