
Hari itu adalah menjadi hari yang paling buruk bagi Olivia. Ia sedang asyik mengobrol dengan kedua orang tuanya saat ibu mertuanya datang bersama Raisya.
Tentu saja, Olivia belum siap menerima dua orang tersebut. Selain karena kejadian tempo hari di rumah sakit, ia juga masih kesal dengan Raisya yang menurutnya terlalu menjadi pusat perhatian keluarga sang suami, juga menjadi pusat perhatian suaminya itu. Oh satu lagi, ia merasa kalau ... Raisya terlalu meminta perhatian kepada Vino melebihi perhatian adik kepada seorang kakak, begitu pun sebaliknya.
Kepala Olivia serasa langsung berdenyut sakit ketika mengingat aktivitas kedua orang itu. Saat suaminya itu justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan Raisya ketimbang dirinya di saat dirinya juga sedang membutuhkan perhatian.
Ah, sudahlah. Olivia tidak mau memikirkan masalah itu. Cukup tahu saja dan ia akan berhenti di kala tubuh dan perasaannya sudah tidak mampu lagi untuk bertahan.
Olivia pun berdiri, menghampiri ibu mertua dan adik iparnya tersebut. Tidak ketinggalan, senyum lebar ia berikan demi menyembunyikan perasaan hatinya yang sebenarnya. Rasanya, tidak akan terlihat pantas jika ia memasang wajah cemberut bukan?
"Apa kabar, Ma?" Olivia mengulurkan tangan, meminta salim kepada sang ibu mertua.
Ia tahu wajah ibu mertuanya itu masam. Menyambut tangannya pun dengan terpaksa pula. Sang ibu mertua bahkan memalingkan wajah ketika Olivia mencium punggung tangannya.
Olivia kembali menegakkan tubuh. Lagi, ia mengulas senyum tulus, tetapi tatapannya menyiratkan kesenduan. Lantas, ia beralih menyalami Raisya. Olivia cukup bersyukur karena Raisya menyambut uluran tangannya dengan senyum lebar, lalu keduanya pun saling berpelukan akrab.
"Terima kasih karena udah izinin Kak Vino untuk menemani aku ya, Kak." Raisya berkata lirih ketika mereka saling mengurai pelukan.
Jantung Olivia berdetak kencang. Sesaat, pikirannya kosong, bingung harus menanggapi apa. Sebab, sejujurnya saja dirinya tidak siap mendengar perkataan Raisya itu.
Olivia menarik napas dalam secara perlahan, mengurai kegugupan yang menguasai dirinya. Ia tidak ingin Raisya bisa menangkap jelas kegelisahan hati juga kesedihan yang menyelimuti diri.
"Sama -sama, Raisya. Aku senang karena bisa membantu kamu yang sangat membutuhkan bantuan." Olivia berkata dengan senyum yang terus bertahan di wajah. Ia merasa senang dan ada kelegaan tersendiri di hati kala melihat raut tegang do wajah gadis di hadapannya itu.
"Padahal ... Kak Olivia sedang dalam keadaan berduka. Tapi, Kak Vino justru bisa membagi waktunya untuk menemaniku." Tampaknya, Raisya pun tidak ingin kalah. Ia mengatakan kalimat serupa sindiran dengan senyum yang terlihat tidak tulus.
'Apakah kamu sedang mengejekku, Raisya? Atau sedang menguji kesabaran ku?' batin Olivia kesal.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku adalah wanita yang kuat kok dan tahu diri untuk tidak mengabaikan keluarga suami sendiri. Jadi, kamu bisa kapan saja meminta bantuan kepada Kak Vino. Mau bagaimanapun juga, kalian adalah kakak beradik dan selamanya akan begitu. Toh, aku juga yang menjadi istrinya dan kamu harus bersyukur atas itu." Olivia berkata dengan tenang dengan tatapan tajam. Ia menepuk bahu Raisya mengajak gadis itu untuk duduk di sofa bergabung bersama kedua orang tuanya.
"Bapak, Ibu, ini mamanya Kaka Vino dan ini adiknya." Olivia memperkenalkan kedua wanita itu kepada kedua orang tuanya.
Ibu dan Bapak pun berdiri. Amri mengangguk sopan sambil memperkenalkan diri. Ia menyadari jika sikap sang besannya itu tidaklah bersahabat kepadanya. Ibu mertua putrinya tampak memalingkan wajah dengan raut masam.
Siapa sangka jika ibunya Olivia lah yang justru membalas sikap tidak ramah ibu mertuanya Olivia itu. Wajahnya membalas masam, bahkan tidak menyapa. Ia hanya berkata kepada sang putri untuk menyuruh tamu mereka duduk.
"Suruh keluarga suami kamu itu duduk, Olivia. Itu pun kalau mereka mau," sarkas ibunya Olivia tersebut.
"Ibu ...." Amri merasa tidak enak hati. Ia menegur sikap yang tidak layak ditunjukkan oleh sang istri, mau bagaimana pun ibunya Vino itu adalah besan mereka.
"Oh, tidak usah repot -repot. Saya dan putri kesayangan saya ini hanya mampir sebentar," ujar sang mama dengan nada sinis. Ia menatap Olivia tajam penuh dengan ketidak sukaan. "Saya jadi tahu dari mana sifat kamu itu berasal, Olivia."
"Apa maksud Mama?"
Suara Olivia dan suara sang ibu terdengar bersamaan.
Wanita dengan wajah angkuh itu tersenyum miring. "Sejak awal, saya memang tidak menyetujui pernikahan anak saya sama anak Anda. Sayang sekali, anak saya telah dibutakan oleh cinta yang bodoh--"
"Olivia tidak bodoh. Dia adalah gadis pintar dan tahu sopan santun, itulah yang menjadi sebab Vino tergila-gila kepadanya--"
"Ya makanya, saking pintarnya mengurus satu anak saja enggak becus. Menjaga Alvin saja enggak bisa sampai ketabrak mobil begit," desis wanita angkuh itu.
Di tempatnya berdiri, Bapak mengepalkan tangan. Ia merasa geram sekaligus prihatin dengan apa yang diucapkan ibu mertua putrinya itu.
"Patas saja, Vino sampai kabur dari rumah. Punya ibu seperti Anda itu aku rasa membuat dia malu," sahut sang ibu tidak mau kalah.
__ADS_1
"Kalau Vino enggak memaksa dan memohon untuk menerima anak Anda saya juga tidak akan menerima--"
"Asal Mama tahu, saya tidak butuh restu pada siapa pun. Saya hanya tahu Vino tidak memiliki keluarga, itu yang saya akui." Olivia langsung menyahut. Ia sudah tidak peduli dengan tata krama dan kesopanan. Sebab, baginya ucapan sang ibu mertua sudah sangat keterlaluan.
"Anda kira kami juga merasa rugi jika Olivia bercerai dengan Vino. Kami sebagai orang tua akan langsung membawa Olivia pulang. Tidak akan menerima lagi Vino yang datang dengan mengemis-ngemis." Sang Ibu berkata pongah. Ia kesal sekali. Ini pertemuan pertama mereka, tetapi si besannya itu sudah ngajak berperang saja.
"Sudah cukup, Bu." Kali ini suara Amri yang terdengar.
"Vino bekerja keras, kalian hanya di sini berlama-lama. Merepotkan." Setelah mengatakan kalimat penuh penghinaan itu wanita tersebut pergi. Tidak lupa menarik tangan sang putri untuk ikut bersamanya.
Amri terduduk dengan wajah menunduk. Ia sakit hati. Tentu saja. Niat berkunjung adalah untuk menemani dan menghibur sang putri yang baru saja kehilangan anak. Tidak ada niat sedikit pun dirinya untuk merepotkan keluarga putrinya itu. Toh, ekonominya sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidup mereka malah masih berlebih.
"Kita pulang saja, Pak. Aku sakit hati dengan wanita sombong itu. Aku juga menyesal kenapa mengizinkan putri kita menikah dengan anaknya yang kere itu. Benar benar orang tidak tahu diuntung. Dasarnya gila." Sang ibu terus mengumpat kesal.
Olivia sampai menitikkan air mata mendengar setiap kalimat yang terlontar itu.
"Sudah, kamu cerai saja sama si Vino itu dan kita pulang saja," putus Ibu sepihak.
Olivia justru menggeleng. "Biarkan aku menyelesaikan urusan kami dulu, Bu--"
"Halah untuk apa. Kamu cerai, terus pulang ke rumah. Palingan juga ujungnya bakalan ngerepotin orang tua." Sang Ibu tidak mau kalah.
"Kalaupun aku bercerai dengan Vino, aku tidak akan pulang ke rumah, Bu. Aku dan Vino menikah atas dasar pilihan sendiri bukan paksaan dari siapa pun, maka biarkan aku menyelesaikan masalah ini dulu ...."
"Olivia, tapi kamu harus pulang, Nak." Suara sang bapak terdengar lirih.
"Aku tidak ingin semakin membuat Bapak dan Ibu malu." Suara Olivia terdengar lirih, tetapi tegas.
__ADS_1
Kedua orang tuanya saling berpandangan dan ibunyalah yang melengos duluan. Merasa kesal dengan sikap sang anak yang selalu membela suaminya itu.