Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 60


__ADS_3

Setelah puas menumpahkan tangis di dalam kamar mandi, Olivia pun keluar dari bilik itu. Tubuhnya terasa menggigil kedinginan. Pada akhirnya, masih menggunakan bathrobe ia naik ke atas ranjang dan bergelung dalam selimut.


Olivia memejamkan mata, memeluk guling dan merapatkan banyak harap agar kesedihannya ini segera berakhir. Lelah sekali rasanya ketika orang-orang terdekat justru yang paling gencar menciptakan kesakitan di dalam dadanya.


Mungkin, Olivia terlalu banyak berharap kepada orang-orang terdekatnya agar bisa menghibur dirinya yang sedang dilanda duka. Namun, pada kenyataannya mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.


Ketukan di pintu kamar ia biarkan terus mengusik keheningan. Olivia sedang malas bertemu dengan siapa pun. Dirinya hanya ingin bersembunyi dan tidur, memeluk bayang Alvin yang selalu mendekap tubuhnya. Lagi-lagi, hanya Alvin saja yang selalu menemani dan menghibur kesendirian Olivia.


"Alvin ...," rintih Olivia pilu.


Perlahan, Olivia pun terlelap meninggalkan dunia nyata yang berselimut kesedihan. Biarkan dirinya pergi sejenak ke alam mimpi yang mengantarkan keindahan. Bersama Alvin membuat Olivia merasa utuh dan tidak butuh apa pun lagi di dunia ini.


***


Cukup lama Olivia terlelap dalam tidurnya. Saat bangun, tubuhnya terasa lebih segar dan semangat. Sisa kesedihan yang membayang di wajah perlahan sirna berganti dengan senyum ceria. Entah untuk alasan apa, ia ingin sekali makan es krim.


Olivia segera turun dari ranjang, mengganti pakaian dengan stelan santai. Ia mengenakan pashmina instan untuk menutupi mahkota indahnya. Setelah dirasa siap, Olivia mengambil tas dan memasukkan dompet serta ponsel ke dalam tas, mencangklongnya ke lengan lalu keluar dari kamar dengan langkah lebar.


Olivia berpamitan kepada ibu dan bapak yang sedang asyik menonton siaran televisi.


"Mau Bapak temani?" tawar Amri kepada putrinya itu.


"Enggak usah, Pak. Aku bisa sendiri. Lagian deket, kok. Bapak dan Ibu mau titip apa?" Olivia menolak secara halus.


Olivia tahu jika sang ibu masih enggan bercakap-cakap dengannya. Bahkan, wanita yang telah melahirkan dirinya itu pun tidak membalas tatapannya ketika diajak bicara. Sang ibu tetap fokus menetap layar lebar di hadapan. Tidak masalah, yang penting ibunya itu mendengar apa yang ia katakan. Ya, walaupun tidak juga membalas ucapannya.

__ADS_1


"Enggak usah lah, lagian masih banyak makanan dia atas meja makan. Mubazir nanti kalau enggak dimakan semuanya, sayang makanannya." Amri berujar panjang menjelaskan alasannya.


"Ya udah kalau gitu. Aku pergi dulu ya, Pak ... Bu." Olivia pun beranjak dari sana. Berjalan santai keluar dari rumah. Namun, baru beberapa langkah keluar dari pintu rumah, ia kembali lagi.


"Lho, kenapa balik lagi, Olivia?" tanya Amri melihat anaknya yang melewati ruang keluarga.


Olivia tidak menjawab, ia mengambil payung di rak penyimpanan.


Karena tidak mendapatkan balasan dari sang putri, Amri pun kembali bertanya. Belum sempat mulutnya terbuka, ia melihat kalau Olivia membawa payung. Ia pun mengurungkan niatnya.


"Panas, Pak. Kasihan Alvin kalau kepanasan." Olivia berkata santai, berjalan cepat keluar dari rumah. Membuka payung dan berjalan di bawah payung untuk menghindari panas matahari yang menyengat.


Memang hari ini sangat panas sekali. Rasa-rasanya matahari siap melahap siapa saja dengan hawa panasnya.


"Heh, gimana maksudnya Olivia tadi, Bu?" Amri bertanya kepada sang istri.


Sementara itu, Olivia terus berjalan menyusuri jalan-kalan komplek sampai ke jalan besar. Ia masih mengenakan payungnya. Saat melihat supermarket yang tadi ingin dituju, Olivia terus melewati. Seakan tidak ada niat untuk masuk ke sana sekadar membeli es krim.


Jika diperhatikan wajah itu, Olivia menatap kosong di depannya. Entah apa yang ia pandang, tidak jelas sama sekali. Otaknya pun seakan kosong, tidak memikirkan apa pun.


Olivia terus berjalan, sampai jarak dari rumahnya tidak lagi bisa dijangkau hanya hitungan menit. Sebab, ia sudah melangkah selama dua jam lebih. Terus ... Olivia terus melangkah. Tidak sedikit pun kakinya merasa pegal.


Ada sesuatu yang mendorong Olivia untuk menghentikan langkahnya, tetapi raganya tidak mampu di hentikan. Pikirannya seakan tumpul untuk mengendalikan gerak tubuh.


Hanya ada satu yang kini menguasai pikirannya bahwa sang putra tengah kepanasan sendirian. Bukankah Alvin di kubur di dalam tanah? Maka, biarkan ia memayungi anaknya itu dari terik panas matahari.

__ADS_1


Olivia terus melangkah di tepi jalan, mengabaikan suara klakson yang sesekali memekakkan telinganya. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah agar sang putra tidak kepanasan. Itu saja.


Tidak ada kesedihan yang membayang di wajah itu. Kosong, hanya itu yang tampak di pandangan mata. Ia melangkah lurus, menyusuri jalanan ramai setapak demi setapak.


Hingga akhirnya, suara dering ponsel bertalu-talu tiada henti memanggil. Seakan panggilan itu amatlah penting. Tidak. Olivia tidak menjawab panggilan itu. Bahkan dirinya pun seolah tidak mendengar panggilan itu.


Kaki Olivia mulai terasa lelah, begitu pula dengan tangan yang terus memegang payung dan mencangklong tas tangannya. Namun, lagi-lagi pikirannya tidak mampu mengambil alih kehendak raganya. Ia terus berjalan, mengabaikan semua kelelahan pada tubuhnya.


Langkahnya mulai melemah, terseok, tertatih bahkan sampai terseret karena waktu sore telah menjelang. Ke mana sebenarnya langkah ini akan membawa dirinya. Ia tidak tahu. Ia hanya mengikuti dan memahami jika anaknya sedang kepanasan.


Di dalam hatinya hanya ada naman Alvin, Alvin dan Alvin.


Alvin yang sedang meminta perlindungan dari seorang ibu. Alvin-nya sedang kepanasan di bawah terik mentari yang kini sudah sejuk. Tidak ada lagi sepanas tadi, sebab matahari telah sepenuhnya berada di barat.


"Kak, mau ke mana? Wajahnya tampak kelelahan." Seseorang bertanya dengan wajah khawatir.


Pasalnya, keringat telah mengucur deras membasahi wajah dan pakaian Olivia. Bibirnya juga telah bergetar pucat. Entah ke mana perginya rasa haus dan lapar itu.


Olivia berhenti sejenak, ia menggeleng lemah kemudian melanjutkan langkah.


Suara dering ponsel terus bertalu tiada henti. Sedikit lagi, sedikit lagi ponsel itu akan mati dan pastilah tidak ada seorang pun yang bisa menemukan dirinya. Ah, lupakan. Siapa yang akan mencari keberadaan. Sedangkan mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing.


"Tunggu! Tunggu sebentar!" pekik wanita itu menghentikan langkah Olivia.


Wanita asing itu merasa bahwa ada yang tidak beres pada seseorang yang ditemuinya ini. Maka, dipaksanya Olivia duduk di pinggir jalan. Ia pun langsung mengambil tas dan mengeluarkan ponsel di dalamnya.

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi, ia langsung meminta seseorang yang menghubungi itu datang ke alamat yang telah disebutkan.


"Oh, baik. Baik. Saya akan ke sana. Tolong jaga istri saya!" kata suara lelaki di seberang sana. Selanjutnya ponsel itu pun mati karena kehabisan daya. Seperti pemiliknya yang kini terduduk lemas dengan wajah pucat.


__ADS_2