
Vino menelisik ekspresi yang diberikan Olivia tas pertanyaannya barusan. Tampak sekali jika Olivia terkejut dan tidak percaya.
"Apa maksud ekspresimu itu, Sayang?" tanya Vino kemudian.
"Ha? Oh, itu ... tidak." Olivia tampak gelagapan. "Tidak ada," ujar wanita itu lagi.
"Jadi, kamu ingat atau tidak dengan Raisya?" tanya Vino meyakinkan.
Mau tidak mau Olivia pun menggeleng karena merasa jika dirinya tidak mengingat nama itu. Mungkin pernah didengar sesuai apa yang dikatakan Vino kepadanya, tetapi sekarang otaknya sedang tidak ingin berpikir apa pun.
"Jadi, kamu enggak ingat sama Rasya? Dia itu adik perempuan aku, Sayang. Ingat enggak waktu Papa ke kossan kita waktu kita baru datang ke kota ini? Papa tuh nyeritain Raisya yang masih kuliah. Dia itu ...."
Entah apa lagi yang diceritakan Vino tentang wanita bernama Raisya itu. Olivia tidak mendengarnya lagi, lebih tepatnya ia tidak berniat sama sekali untuk mendengar penjelasan Vino.
"Kita pulang, Kak," ujar Olivia pada akhirnya.
Rasanya, telinganya panas mendengarkan penjelasan Vino yang terdengar tidak penting itu. Bagi Olivia, cukup Vino berbicara jika yang memanggilnya tadi adalah adik perempuan nya. Itu saja. Cukup. Tidak perlu diperpanjang ke mana mana. Seakan cerita tentang Raisya itu sangat menarik perhatian.
"Oh, mau pulang ya?" Vino menghentikan ceritanya dan langsung bertanya kepada Olivia yang tampak melangkah meninggalkannya.
"Tapi kamu belum makan?" Vino mengejar langkah wanita itu.
"Nanti saja," jawab Olivia malas.
"Nanti kalau pas Raisya libur lagi aku kenalin ya. Dia pasti seneng kenal sama kamu. Dia itu walaupun manja, tapi baik kok."
Olivia memutar bola mata malas. Namun, tidak menanggapi ucapan suaminya itu.
Olivia sedang lelah sekarang. Lantas, ia pun hanya melirik sebentar lalu kembali melangkah keluar gedung satu lantai tersebut. Mengabaikan ucapan Vino tentang apa pun. Ya, tentang apa pun.
Hah, kalau saja tidak ingat jika Vino adalah suaminya. Pasti Olivia sudah melangkah meninggalkan lelaki itu pergi tanpa berniat menghampiri saat Vino memanggil.
"Ayo pulang!" seru Vino setelah duduk di jok motornya.
__ADS_1
Olivia membalikkan badan, melangkah menuju kendaraan roda dua itu, duduk di jok belakang dengan tangan diletakkan di atas perutnya.
Beberapa menit menunggu, kendaraan itu belum juga dinyalakan. Olivia mengernyit bingung, tetapi sedang enggan untuk bertanya.
"Pegangan, Sayang. Nanti kalau jatuh gimana?" keluh Vino seraya menarik tangan kanan Olivia.
"Jatuh lho ke bawah. kalau jatuhnya itu ke atas baru aneh," celetuk Olivia asal sebagai jawaban.
"Ya kalau kamu jatuh terus terjadi apa apa gimana?" Suara Vino kini terdengar sedikit meninggi
"Kalau enggak parah ya enggak meninggal. Kalau parah baru meninggal," balas Olivia santai.
"Kamu itu kenapa, sih? Apa dikira aku enggak sedih kalau terjadi apa apa sama kamu?"
"Ya mana kutahu. Kalau aku meninggal kan aku enggak bisa lihat kamu nangis apa enggak, sedih apa enggak." Olivia masih membalas santai perkataan Vino. Padahal ia tahu jika suaminya itu sedang menahan emosi yang sudah sampai di ubun ubun.
"Terus kalau kamu meninggal aku gimana?" tanya Vino masih menanggapi ucapan istrinya yang terdengar asal bicara itu.
"Nikah lagi kan bisa. jangan bilang kamu enggak mau nikah lagi, kamu bakalan nungguin sampai kami tua dan mati." Kali ini Olivia berujar tajam.
"Kamu tinggal nikah lagi aja. Laki laki lho, istrinya masih hidup aja bisa nikah lagi, apa lagi istrinya sudah mati." Suara Olivia masih terdengar ketus dengan tatapan tajam membalas Vino.
Vino tak habis pikir dengan apa yang diutarakan istrinya itu. Bergegas ia turun dari motor, berjalan mondar mandir dengan kedua tangan di pinggang, sesekali tangannya itu menjambak rambutnya dengan keras.
"Ayo! Mau pulang enggak?" tanya Olivia sinis.
"Ada apa denganmu ini? Aku sampai bingung sekarang mau gimana. Bisa bisanya kamu mengatakan hal hal yang mengerikan seperti itu?" Vino berhenti tepat di hadapan Olivia. Satu tangannya memegang setir kemudi.
Olivia tidak menjawab. Ia mengangkat bahu lalu memalingkan wajah ke samping, melihat orang yang lewat di jalanan.
"Lihat suamimu kalau sedang diajak bicara!" bentak Vino tak mampu menahan emosi.
Olivia menoleh, air matanya kembali membasahi pipi. Sebenarnya, ia tidak tahu ada apa dengan dirinya hari ini. Setelah mimpi bertemu gadis kecil tadi, pikirannya kacau, hatinya gelisah tak menentu.
__ADS_1
Olivia ingin cepat pulang lalu tidur di kamarnya. Tidak ingin bangun seharian atau malah ingin tidur sampai besok pagi dan besoknya lagi. Yang jelas, dirinya sedang tidak ingin apa pun. Akan tetapi, Vino sepertinya tidak mengerti dengan keadaan yang ia alami. Lelaki itu malah menceritakan hal hal tidak jelas, seharusnya suaminya itu menanyakan bagaimana perasaannya setelah bermimpi atau apa yang ada di dalam mimpinya secara detail.
"Kenapa menangis terus? Aku bahkan tidak memukulmu?" tanya Vino ketus
"Menyakiti tidak harus dengan pukulan, Kak." Olivia berujar dengan suara bergetar. Tangannya cekatan menghapus air mata di pipinya. "Aku mau pulang," ujarnya lalu memalingkan wajah
Vino menghela napas panjang lalu naik ke kendaraannya itu. Tanpa kata, ia pun menghidupkan mesin kendaraannya lalu melajukan motor itu.
Tidak ada percakapan apa pun selama di jalan, tidak seperti pagi tadi yang dilalui dengan banyak rencana. Ya, cerita hidup memang begitu cepat berubah.
Sesampainya di rumah, Olivia langsung masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri. Ia membasahi rambutnya agar kepalanya itu bisa sedikit didinginkan. Usai mandi, ia pun berganti pakaian dan langsung tidur. Tidak peduli jika rambutnya basah dan membasahi banyak yang digunakannya.
Olivia memejamkan mata, tetapi baru sesaat terpejam dering ponsel di dalam tasnya itu berbunyi.
Olivia duduk menoleh ke sekitar kamar, tidak ada Vino. Mengabaikan rasa penasaran akan keberadaan lelaki itu, Olivia pun segera beranjak dari ranjang mengambil ponselnya di dalam tas.
"Halo ...," sapanya lembut.
"Halo, Olivia, ini Mama."
Tubuh Olivia menegang mendengar siapa si penelepon itu.
"Iya, Ma ...," lirih Olivia.
"Kamu kenapa menyuruh Vino berhenti bekerja dan mengurus usaha yang belum jelas akan berhasil atau tidak itu, Olivia?" Pertanyaan tajam dari ibu mertuanya membuat hati Olivia terasa teriris.
"Apa maksudnya, Ma?" tanya Olivia pelan. Ia harus kuat menghadapi ibu mertuanya itu. Ia pun berusaha menahan getar suaranya agar tidak terdengar ke seberang sana.
"Usaha laundry itu memalukan. Belum tentu juga akan berhasil, masih coba coba. Tapi Vino harus berhenti dari pekerjaannya. apa selam ini kamu merasa kurang dengan uang yang suami kamu berikan? Dia sudah cukup kesulitan menikah dengan kamu, jangan kamu tambah lagi."
"Olivia tidak pernah memaksa ...."
"Kalian memang seharusnya tidak menikah."
__ADS_1
Suara Olivia tercekat, ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun sekarang.