Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 62


__ADS_3

Kata orang, hubungan intim antara suami istri itu bisa menghilangkan stress.


Kata orang, bermesraan antara suami istri itu bisa mengurangi beban pikiran.


Pada akhirnya, itulah yang Vino coba lakukan dengan sang istri. Ia tidak tahan melihat Olivia yang terlalu bersedih hati.


"Alvin enggak kepanasan, Sayang." Vino berkata dengan terbata bata. Ia bingung harus menanggapi dengan kalimat apa racauan istrinya itu. Hingga, niat awalnya ingin mengajak Olivia pulang, ia urungkan.


Vino membelokkan setir mobil kala melihat sebuah bangunan hotel. Segera ia ajak turun wanita di sampingnya itu, dirangkulnya bahu Olivia dan langsung memesan sebuah kamar mewah.


"Kita mau ngapain?" tanya Olivia bingung saat pintu kamar itu terbuka.


Vino membimbing Olivia masuk, lalu mendorong pintu itu dengan kaki sampai tertutup. Vino membimbing Olivia duduk di ranjang.


"Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu rasakan tadi." Vino membenarkan posisi duduk Olivia sampai kaki wanita itu naik ke atas ranjang dengan posisi lurus. Punggung Olivia bersandar pada sandaran ranjang. Vino pun memijat kaki Olivia dengan gerakan pelan agar memberikan sensasi lembut dan nyaman.


"Aku enggak tahu. Aku melakukan itu begitu saja. Berjalan dan merasa kalau Alvin sedang kepanasan." Olivia bercerita dengan bulir bening yang menitik membasahi pipi. Vino dengan gerakan cepat mengusap pipi Olivia dengan ibu jari.


Perasaan Vino hanya satu, ia ingin memberikan ketenangan kepada istrinya itu. Maka, dengan gerakan lembut ia mengecup bibir itu. Awalnya, Olivia menolak. wajah gadis itu menoleh ke samping, tetapi Vino tidak menyerah. Ia menangkup pipi Olivia memaksa wajah itu agar menghadapnya.


Dirasa tidak menerima perlawanan, Vino pun melanjutkan keinginan hatinya untuk menyentuh sang istri. Akhirnya, setelah terjadi bujuk rayu keduanya pun melebur dalam kehangatan.

__ADS_1


"Jangan sedih lagi. Kita harus bisa melewati semuanya dengan ikhlas," ujar Vino sembari mengelus punggung polos wanita dalam pelukannya itu. Tidak ada jawaban dari Olivia, kelopak mata Vino terasa berat dan ia pun terlelap.


Vino tidak menyadari pergerakan Olivia yang melepaskan diri dari pelukannya, turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Bahkan, Vino pun tidak tahu jika sang istri menumpahkan tangis di dalam bilik itu.


Olivia memukul dadanya dengan keras, berharap segala sakit yang ia derita bisa berkurang dan meluruh bersama kucuran air yang membasahi tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang tidak bisa Olivia prediksi bahwa rasa sakit di dalam dirinya tidak selamanya akan mudah dihilangkan. Ada kalanya, rasa sakit itu terus bertahan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Hingga, dirinya sendiri yang terus melalui hari dengan kenangan yang mengikat ingatannya itu.


Hingga, pada akhirnya ... semua ingatan mulai mengabur seiring banyaknya waktu yang dijalani. Hal yang perlu Olivia lakukan adalah terus kuat, terus bertahan pada kesakitan -kesakitan itu.


***


"Hai, kamu sudah bangun?" Suara serak Olivia menyapa gendang telinga Olivia yang sedang berdiri menghadap kompor. "Lagi apa, Sayang?"


Tubuh Olivia menegang saat merasakan kedua tangan Vino yang melingkar di perutnya. Dagu lelaki itu bersandar di bahunya sampai terasa embusan napas hangat Vino menerpa ceruk leher.


"Aku mandi dulu ya, nanti ke sini lagi dan kita makan. Harum masakan kamu wangi sekali, menggoda nafsu makanku." Vino tersenyum lebar. Lebih tepatnya, senyum getir yang ia berikan. Ada rasa kecewa yang ia rasakan atas penolakan yang diberikan Olivia, tetapi sekuat tenaga ia tepis dan sembunyikan agar tidak semakin memperburuk keadaan mereka.


Vino menyadari perubahan-perubahan yang terjadi terhadap Olivia pasca kematian putra mereka. Sebisa mungkin ia bersabar menghadapi perubahan itu. Sebagai suami, dirinya harus bersikap lebih kuat dan tegar. Walaupun tanpa bisa dipungkiri bahwa Vino juga butuh kekuatan dari orang terdekat atas kondisi yang terjadi dalam rumah tangganya.


Vino bergegas meninggalkan area dapur dan kembali ke kamar. Ia segera mandi, lalu berganti pakaian. Sesaat kemudian, ponselnya berdering. Nama Raisya berkedip di layar ponsel.


"Iya, Raisya?"

__ADS_1


"Kakak lagi apa? Aku baru selesai mandi, terus ingat Kak Vino. Jadi telepon deh," jawab Raisya. Suaranya terdengar riang dan tentu saja berhasil menerbitkan senyum di bibir Vino.


"Baru selesai mandi juga. Kamu sudah makan belum ini?" tanya Vino tidak kalah riang. Ia tidak mau adiknya itu menangkap kegelisahan hatinya.


"Belum, sih, aku pingin ngajak Kakak makan bareng. Soalnya, aku bingung mau makan apa sekarang. Biasanya Kak Vino kan yang paling jago kalau soal pilih menu."


Selanjutnya, keduanya pun saling mengobrol mengenai banyak hal dan segala macam obrolan remeh temeh. Namun, dengan begitu telah membuat perasan Vino membaik. Lelaki itu melupakan rasa kecewanya, melupakan pengabaian yang dilakukan Olivia kepadanya juga melupakan kalau tadi niatnya ingin makan bersama sang istri.


Vino begitu saja menyetujui ajakan Raisya. Ia pikir, dirinya memang sedang butuh teman ngobrol untuk saat ini. Dan, teman ngobrol yang selalu pas dan bisa memahami perasannya itu hanyalah Raisya. Mungkin karena mereka memang telah dekat sedari kecil, sehingga bisa sudah saling mengenal satu sama lain.


Lantas, tanpa berpamitan kepada Olivia yang tampaknya sedang asyik dengan dunia sendiri di dapur, Vino pun segera pergi melajukan kendaraannya menuju restoran tempatnya membuat janji bersama Raisya. Restoran tempat favorit mereka.


Karena keasyikan mengobrol lalu dilanjut dengan menonton di bioskop, Vino pun sampai rumah larut malam. Ketika sampai di kamar, ia mendapati Olivia yang telah tertidur lelap.


Satu dengkusan kasar meluncur di mulutnya. Vino mengacak rambut dengan kasar pula. Merasa geram dengan kondisi mereka saat ini. Keadaan ini tentu sangat tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saling berdiam diri, tidak saling menyapa bahkan ditinggal tidur lebih dulu. Benar-benar sangat menyebalkan.


Iya, Vino tahu jika dirinya telah khilaf tadi karena sudah pulang malam tanpa memberi kabar. Namun, Olivia juga tidak menghubunginya sama sekali. Istrinya itu terlalu sibuk dengan perasaan sendiri sampai mengabaikan dirinya yang juga butuh perhatian lebih.


Hah. Bukan hanya Olivia saja yang merasa kehilangan anak. Dirinya juga merasa kehilangan. Dan sekarang harus juga kehilangan kebersamaan mereka di dalam kamar.


Banyak umpatan yang keluar di dalam dada Vino, sampai rasanya ingin meledak saat itu juga. Jika tidak berpikir bahwa dirinya harus tetap waras demi keseimbangan rumah tangga ini, mungkin ia sudah mengamuk saja.

__ADS_1


Vino masuk ke kamar mandi dengan langkah lebar, membasahi kepala yang terasa otaknya menggelegak ingin mengeluarkan lahar. Tanpa melepaskan pakaian terlebih dahulu, Vino mandi di tengah malam buta menggunakan air dingin. Lupakan jika mungkin dirinya bisa terserang demam. Lupakan saja jika dirinya mungkin bisa sakit. Toh, jiwanya sekarang memang sudah sakit.


__ADS_2