Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 42


__ADS_3

Olivia menggeliat pelan. Lelapnya terganggu. Ketika menggerakkan tubuh, gerakannya itu terganggu oleh dekapan erat di balik punggungnya.


"Kak ...." Olivia memanggil lirih. Ia hendak menolehkan kepalanya ke belakang. Walaupun sebenarnya, ia yakin betul siapa lelaki yang memeluk tubuhnya itu. Siapa lagi kalau bukan Vino, suaminya. Namun tertahan oleh lelaki itu yang meletakkan kepala di ceruk lehernya.


"Gini aja. Biarkan gini aja." Vino berkata lirih. Ia bergerak pelan memberikan kecupan ringan di ceruk leher itu.


Rupanya, gerakan -gerakan kecil itu mampu memantik api gairah pada keduanya. Terlebih, setelah mereka sibuk pada hal -hal seputar pekerjaan dan banyak lainnya membuat hubungan keduanya terasa merenggang di beberapa Minggu terakhir.


Gejolak hasrat itu tak lagi mampu dibendung. Saat lelah menyergap yang mampu melemahkan keegoisan. Akal pun mulai dikaburkan oleh sesuatu yang terus membara dari dalam tubuhnya. Panas itu tak lagi tentang emosi yang meluap luap, melainkan tentang dorongan yang ingin segera tertunaikan.


Suara keduanya saling bersahutan. Gerakan tubuh mereka saling berbalas. Gerutuan jua terus dilontarkan hingga akhirnya kepuasan diraih bersama.

__ADS_1


"Ah ...." Olivia merintih sembari memegangi perutnya. Detik itu juga dirinya amat menyesal karena tak kuasa menahan diri atas rayuan yang Vino berikan.


"Ada apa?" tanya Vino panik. Suaranya terdengar berat. Kantuk yang sempat menyapa kini hilang seketika.


"Perutku sakit. Harusnya aku bisa menahan diri untuk tidak melakukannya."


"Apa maksud kamu?" tanya Vino bingung dengan raut gusar. Namun matanya yang memerah menandakan jika dirinya didera amarah. "Apa kamu menyesal telah melayaniku? Setelah berhari -hari aku harus ...." Ia tak melanjutkan ucapan. Tangannya bergerak cepat menjambak rambutnya frustrasi.


"Apa maksud kamu dengan hamil?" Vino spontan terlonjak kaget. Ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk. "Kamu hamil? Hamil anak aku dan enggak bilang kalau kamu hamil," kesalnya.


"Aku baru tahu hari ini." Olivia membenahi posisi tidurnya. Kemudian, ia menarik satu tangan Vino untuk diletakkan di atas perutnya. "Cepat elusin," pintanya setengah memerintah.

__ADS_1


Olivia tersenyum lembut saat merasakan elusan pelan di perutnya. Benar saja, perutnya pun terasa mulai enakan. Lantas saat mata keduanya saling bertemu tatap, mereka pun sama sama mengulas senyum penuh arti. Seseorang yang ditunggu -tunggu kehadirannya beberapa bulan lagi akan bisa ditemui. Dan mereka juga berharap agar kehamilan ini bisa dilalui dengan baik.


Mata Olivia kembali terpejam. Kemudian disusul Vino yang ikut membaringkan tubuh. Tangannya mulai terasa pegal, tetapi ia terus bergerak di sana. Memberikan elusan lembut untuk perut Olivia. Ia senang jika apa yang dilakukan bisa memberikan efek positif untuk sang istri. Amarah dan kekhawatiran yang sempat menyelimuti hatinya beberapa jam lalu, kini telah berganti dengan perasaan haru.


"Sehat sehat di dalam perut mana ya, Nak." Vino berbisik pelan. Seakan wujud calon bayi di dalam perut Olivia sudah bisa dilihat. "Papa ingin ketemu sama kamu," lanjutnya dengan suara yang berubah bergetar. Air matanya menitik tak mampu bisa dibendung. Dengan perasaan bahagia bercampur keharuan itu, Vino menyingkap selimut Olivia kemudian mencium perut rata yang tak tertutup apa pun itu.


Olivia menggeliat pelan, mungkin terusik oleh gerakan lembut di kulitnya.


Sementara itu, Vino tersenyum lalu mengelus pucuk kepala sang istri. Kemudian berbaring dan memeluk tubuh Olivia. Ia berjanji akan memberikan kabar bahagia ini kepada sang mama. Secepatnya.


Vino juga berharap, hubungan mereka akan membaik seiring dengan kabar kehamilan yang Olivia bawa.

__ADS_1


Vino ikut terlelap. Biarkan mereka bertemu di alam mimpi dan biarkan mereka bercinta sekali lagi dalam pelukan dan ciuman mesra.


__ADS_2