
Hari ini adalah hari ulang tahun Alvin yang pertama. Olivia berencana merayakan pesta di tempat kerjanya, mengajak karyawan dan mengundang beberapa pelanggan.
Tidak ada pesta yang meriah. Hanya sebatas ucapan syukur karena dirinya bisa bersama Alvin satu tahun ini secara penuh. Bahagia sekali rasanya. Dengan keaktifan Alvin itu yang selalu menguras tenaganya. Sering kali pula ia akan kewalahan menghadapi si kecil Alvin.
Di usia yang sudah genap satu tahun, Alvin belum bisa berjalan. Entah ada apa gerangan. Kata dokter tempat ia memeriksa tumbuh kembang Alvin, dokter mengatakan jika bocah itu sehat. Hanya keaktifannya saja yang perlu diwaspadai. Namun, tidak begitu dengan komentar ibu mertuanya.
Mamanya Vino selalu mengatakan jika Alvin lambat berjalan, tidak sehat dan banyak hal lagi. Pasalnya, di usia yang belum genap satu tahun anak laki-laki nya sudah berjalan dengan lancar juga sudah mulai belajar bicara.
"Anak zaman sekarang memang bodoh. Apa-apa enggak bisa," kata wanita berpakaian modis itu tempo hari saat berkunjung.
Jika biasanya ibu mertua Olivia itu akan datang bersama Raisya, hari itu tidak. Olivia pun berpikir jika lebih baik mertuanya itu datang bersama Raisya, sehingga mereka berdua akan sibuk berbicara bukan sibuk mengomentari segala hal tentangnya dan tentang anaknya.
"Ibunya jangan malas juga. Ajak Alvin jalan-jalan, latih di rumput biar ada rangsangan untuk kakinya." Omelan itu terus terdengar sepanjang wanita itu berkunjung.
Dan kali ini, entah apa lagi yang akan ibu mertuanya katakan tentang ulang tahun yang diadakan di tempat kerja, bukan di rumah sendiri apalagi di gedung seperti yang disarankan.
"Sudah siap?" tanya Vino yang datang ke kamar memeriksa persiapan istri dan anaknya.
Olivia memasang senyum yang ... hambar. Sejak hari di mana ia mendapatkan teguran pasal tidak memberi izin ibu mertuanya untuk menggendong Alvin, Olivia sudah tidak banyak bicara kepada suaminya itu. Ia tidak ingin memicu pertengkaran.
Cukup tenaganya sudah habis untuk mengurus Alvin yang aktif. Rasanya, dirinya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berdebat dengan papanya Alvin.
__ADS_1
"Iya." Olivia mengangkat Alvin yang masih dibiarkan di dalam box selama dirinya bersiap.
"Sini aku aja yang gendong." Vino mengambil alih Alvin dari gendongan Olivia.
Olivia ingin menolak, tetapi ia urungkan ketika Vino bergerak cepat mengambil alih bocah itu.
Mereka bertiga pun berangkat menuju tempat acara yang telah siap.
Sesampainya di lokasi, para karyawan telah siap menyambutnya. Dekorasi ruangan yang Olivia siapkan bersama karyawan tampak indah dan ramai.
Tidak berapa lama kemudian, keluarga Vino datang. Ibunya yang lebih dulu memberikan selamat, lalu disusul sang ayah dan adiknya.
Mereka berpoto, memotong kue dan bernyanyi bersama. Riuh sorak sorai memenuhi ruangan itu. Aura bahagia sangat jelas terpancar dari setiap wajah yang datang.
Saat sedang beres-beres, Olivia mencari keberadaan Vino yang tak kunjung tampak. Ia pun menitipkan Alvin kepada salah satu karyawan karena sudah tidak tahan untuk ke kamar mandi.
Olivia menitipkan Alvin dengan sangat hati-hati dan pesan bahwa jangan membiarkan Alvin turun. "Digendong saja ya, Alvin-nya."
Olivia masuk ke kamar mandi. Saat sudah selesai membuang hajat, ia pun bergegas kembali ke tempat acara. Namun, seseorang yang dititipkan Alvin tidak terlihat. Olivia mencari keberadaan Vino.
Rupanya Vino sedang berbicara serius dengan Raisya. Entah kapan adik Vino itu datang lagi setelah ikut pulang bersama kedua orang tuanya. Ingin bertanya, tetapi pikirannya sedang tertuju kepada Alvin yang tidak juga terlihat.
__ADS_1
Padahal, hanya tinggal beberapa orang saja di tempat acara itu. Para undangan dan karyawan yang lain sudah pulang. Hanya tinggal yang ikut membereskan tempat acara setelah pesta.
Olivia keluar dari bangunan itu, betapa terkejutnya ia saat melihat karyawan yang dititipkan Alvin justru tidak bersama bocah itu.
"Lho, Alvin mana?" tanya Olivia panik.
"Tadi sama Bapak, Bu. Soalnya saya disuruh beli ini." Karyawan itu menunjukkan kantong plastik di tangan.
Olivia semakin didera panik dan khawatir. Pasalnya, ia tadi tidak melihat Vino membawa Alvin. Lelaki itu sedang sibuk mengobrol dengan Raisya.
"Alvin!" seru Olivia memecah fokus orang-orang di sana.
Olivia berlari keluar. Mengabaikan panggilan Vino kepadanya.
"Sayang, ada apa?" Vino berlari cepat menyusul Olivia yang terlihat sangat kacau.
Air mata Olivia telah mengucur deras. Hingga akhirnya, ia melihat seorang bocah merangkak di pinggir jalan.
"Alvin!"
Terlambat. Sebuah sepeda motor yang melaju berhasil mengaburkan pandangan Olivia dalan kegelapan. Ia pingsan melihat dengan mata kepala sendiri anaknya terpental tertabrak sepeda motor tersebut.
__ADS_1
Ulang tahun pertama Alvin menjadi hari yang paling menyedihkan bagi Olivia.