Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 64


__ADS_3

Olivia merasa sedih, tetapi berusaha untuk tegar ketika melihat kedua orang tuanya tengah bersiap -siap untuk pulang.


Olivia mecoba menutup telinga dengan Omelan panjang yang sang ibu utarakan.


"Sudah pas nikah enggak mau datang. Anak sudah kaya baru ngaku -ngaku kalau punya anak dan tidak mau mengakui kita sebagai besan. Lihat saja, enggak ada orang yang mau sama si Vino Badung itu."


Olivia mengembuskan napas lelah. Ia tidak akan bisa menghentikan Omelan sang ibu yang tidak ada habisnya.


"Ibu ini sudah bersabar dengan kelakuan Vino. Olivia hamil, enggak mau antarin pulang. Olivia lahiran, enggak ada temennya. Aku enggak yakin kalau mama mertuanya yang terhormat sok punya kuasa itu bakalan datang bantuin anak kita, Pak. Dasar orang enggak tahu diuntung."


"Sudahlah, Bu. Enggak ada guna juga mengomel. Semua ini salah Bapak." Amri bersuara pelan. Ia elus punggung sang istri dengan lembut. "Bapak yang sudah mau menikahkan mereka--"


"Dasar dia lelaki kurang diuntung. Enggak tahu malu--"


"Kak Vino itu suami yang baik, Bu," sela Olivia cepat. Ya, selama ini Vino memang selalu berlaku baik kepadanya. Hanya saja ... hanya saja sejak Raisya mengalami kecelakaan waktu itu, semua seakan telah berubah dengan sedia kala.


Sikap baik juga penuh perhatian seakan hanya menjadi masa lalu dalam rumah tangga yang mereka jalani. Akankah rumah tangga ini juga akan menjadi masa lalu?


Olivia menggeleng. Mau bagaimanapun, ia masih sangat mencintai sang suami. Ia berharap setelah ini, semua yang jadi masalah dan kesalah pahaman ini akan segera terselesaikan dengan baik.


Olivia menghela napas pendek. Ia merasa pesimis. Sebab, semakin hari sikap Vino semakin terasa semakin jauh untuk dijangkau.


"Kau enggak usah terus -terusan belain suami kamu itu--"

__ADS_1


"Tapi memang selama ini Vino selalu baik, Bu. Baik kepada kita maupun kepada Olivia anak kita. Kadang Ibu saja yang suka mengatur ini dan itu. Makanya kadang enggak klop," timpal Amri.


"Namanya juga orang tua, mau sampai kapan pun akan tetap jadi orang tua yang bakalan mengatur hidup anaknya, Pak," hardik Ibu tidak mau kalah.


"Kalau anak sudah berumah tangga itu bukan diatur, Bu, tapi diarahkan. Anak belum berumah tangga sendiri saja tidak boleh diatur, tapi diarahkan. Mereka bukan robot yang tidak punya perasaan. Mereka juga manusia seperti kita." Amri berusaha menjelaskan.


"Halah, Bapak itu tahu apa. Aku yang udah ngelahirin anak- anak aku dengan susah payah. Bapak bisanya cuma buat doang itu pun keenakan," sungut sang istri jengkel.


"Astaghfirullah. Ucapan kamu. Semakin hari ... semakin tidak keruan saja. Bagaimana bisa orang akan menghormati kamu. Anak -anak akan menghormati kamu, sementara kamu sendiri sebagai istri tidak pernah menghormati aku sebagai suami!" seru Amri nyalang sampai membuat Olivia berjingkat kaget.


Sejujurnya, ia tidak pernah melihat sang bapak sampai marah sedemikan rupa seperti sekarang. Selama ini, Amri dikenal sebagai sosok suami dan bapak yang sabar. Lelaki itu terlalu sabar menghadapi tingkah polah sang istri yang banyak menuntut dan mengatur, cenderung menguasai rumah tangga mereka yang notabene masih memiliki kepala keluarga.


Amri juga cukup bersabar untuk terus mengingatkan sang istri agar tidak berkata sembarangan, terlebih yang bisa menyinggung siapa saja yang ada mendengar. Sebab, istrinya itu cenderung selalu memikirkan kehendak sendiri, perasaannya sendiri dan meminta orang lain agar menuruti semua kemauan dia.


"Kau pikir, anak -anak yang kamu lahirkan itu bisa bertahan dengan sifat kamu yang sok itu? Sok mengatur, sok kuasa, sok tahu segalanya. Semuanya kehendak kamu sendiri, kau suruh orang untuk terus menghargai kamu ha?!" Wajah Amri memerah. Matanya seolah tengah tertutup rapat, tidak melihat Olivia yang terduduk lemas tidak jauh darinya.


Padahal selama ini, Amri selalu menjaga diri agar emosinya itu tidak meledak di hadapan anak- anaknya. Namun, kali ini dirinya tidak lagi mampu menahan diri.


"Sekarang terserah kamu. Mau ikut aku pulang atau tidak. Terserah. Aku sudah tidak peduli lagi. Niatku datang ke sini hanya untuk menghibur anakku yang baru saja kehilangan darah dagingnya sendiri. Sayang sekali, justru malah menambah beban kesedihannya." Kali ini suara Amri terdengar lirih, bergetar dan penuh kesedihan.


Lantas, lelaki itu menoleh. Melihat sang anak yang telah duduk dengan kepala bersandar di dinding kamar dengan wajah bersimbah air mata. Ia merendahkan diri, berjongkok di hadapan Olivia yang terus menangis dengan sedu sedan. Tangannya terulur, mengelus kepala sang putri.


"Maafkan Bapak ya, Nak. Bapak tidak bisa menahan diri untuk tidak marah. Maaf karena kamu harus melihat pertengkaran tidak berguna ini," kata Amri lalu menarik kepala sang putri ke dalam pelukan. Ia memejamkan mata merasai kesedihan dalam Isak tangis dan raungan Olivia.

__ADS_1


"Ibu ikut Bapak pulang aja," kata Olivia kemudian usai mengurai pelukan. Ia menatap sang ibu yang menatapnya tidak percaya.


"Kamu mengusir Ibu dari rumah kamu ha?!" tanya sang Ibu dengan nada tinggi.


"Ibu adalah seorang istri yang harus nurut sama Bapak," jawab Olivia lirih namun terdengar tegas.


"Kamu memang selama ini sudah jadi anak yang selalu membantah Ibu. Ibu menyesal sudah datang kemari, Olivia."


Olivia tersenyum tipis. "Sebenarnya, kami semua sama, Bu. Anak-anak Ibu. Hanya saja, aku yang mau bersuara dan aku juga yang selalu jadi pelampiasan Ibu marah," sahut Olivia.


Ia pun berdiri. "Selama ini, saat Ibu marah dengan anak-anak Ibu yang lain, maka akulah yang akan kena dampaknya. Satu kesalahan kecil yang aku lakukan akan mendatangkan kemurkaan Ibu. Saat aku menjawab ucapan Ibu sedikit saja, Ibu akan mengomel panjang dan menyebut semua hal yang telah Ibu lakukan dan sekua kesalahan yang aku lakukan. Bahkan, aku pun tidak ingat," jelas Olivia. Kali ini air matanya sudah mengering.


"Aku memang sudah berniat pergi dari rumah itu, Bu. Ingin tinggal jauh dan enggak perlu berdebat dengan Ibu lagi. Dan kalaupun pada akhirnya aku tinggal sendiri, aku akan tinggal sendiri. Ibu tidak usah khawatir aku akan pulang atau apa ... aku akan senang dengan pilihanku sendiri dan maafkan aku karena belum pernah bisa membahagiakan Ibu." Olivia menutup ucapannya. Ia tersenyum kepada sang bapak. "Maafkan Olivia, Pak. Nanti, aku pesankan taksi saja dari sini ya ... Tapi maaf karena aku enggak bisa mengantar bapak dan ibu."


"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Bapak pamit ya." Sekali lagi, Amri memeluk sang putri.


Kadang seseorang tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi pada hidupnya. Seakan, semua hal yang dijalani menjadi salah. Masa lalu yang pernah dilalui seperti membentuk karakter dan membuat dirinya berada dalam kesalahan yang terus-menerus.


Ah, bahkan seseorang pun pernah merasa bahwa dirinya dilahirkan di dunia ini pun adalah sebuah kesalahan.


Jika seseorang tidak lagi memiliki rumah untuk pulang. Maka, jalan satu-satunya yang ia tempuh adalah pergi. Pergi ke tempat asing. Pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun yang mengenal dirinya. Dan itulah yang Olivia lakukan.


Ia memilih pergi sejauh mungkin dari rumah, dari keluarganya. Bukan karena dirinya membenci mereka, tetapi agar dirinya sedikit saja memiliki ketenangan. Sebab, rumah yang sebenarnya baginya itu sudah tidak lagi ada.

__ADS_1


__ADS_2