Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab. 46


__ADS_3

Olivia mengerti. Ia juga sangat memahami bagaimana perasaan suaminya itu yang sanga mengkhawatirkan sang adik. Untuk alasan itulah, ia tak pernah protes saat Vino tiba -tiba saja memberi kabar bahwa dia akan menginap di rumah sakit. Olivia pun langsung menyetujui keinginan itu. Hingga di hari-hari berikutnya pun demikian. Vino mulai jarang pulang dengan alasan menemani sang adik.


Padahal, yang Olivia tahu dari apa yang ia dengar saat berkunjung ke rumah sakit kala itu. Kunjungan pertama dan terakhirnya. Sebab, di hari selanjutnya ia tak pernah lagi diajak Vino ke sana. Apa alasannya? Olivia tak pernah menanyakan alasan itu. Sekali pun.


Olivia bisa mendengar dengan jelas ketika ibu mertuanya mengatakan jika keadaan Raisya tidak perlu dikhawatirkan. Yang berarti, Raisya baik-baik saja, bukan?


Akan tetapi, kenapa Vino justru kerap kali menjenguk dan menemani wanita itu. Entahlah. Olivia tak ingin berandai-andai. Ia juga mencoba untuk tak peduli. Dalam artian, tak ingin menggali lebih dalam alasan di balik sikap Vino.


Olivia tetap bekerja seperti biasanya. Walaupun tak pernah lagi diantar atau pun dijemput oleh Vino.

__ADS_1


Olivia masih sibuk seperti hari saat dirinya belum dinyatakan hamil. Dan, kali ini ia bisa bernapas lega karena tak ada yang melarangnya. Oh, bahkan Vino pun tak pernah menanyakan perkembangan usaha mereka.


Seperti pagi itu. Saat mereka sarapan bersama. Vino justru sibuk dengan ponsel di tangan. Olivia hanya diam, menikmati sarapan dengan sesekali melirik pada sang suami yang tampak sangat fokus itu.


Sampai pada akhirnya, Olivia tak lagi bisa membendung rasa penasarannya. Pagi itu, kesabaran yang ia pupuk selama berhari-hari lalu terkikis begitu saja.


"Kak, sarapan dulu. Nanti lagi lihat ponselnya," kata Olivia dengan suara pelan. Namun herannya, respons Vino sungguh di luar dugaan.


Olivia sampai melongo dibuatnya. Apa yang salah dengan perkataan yang ia lontarkan barusan?

__ADS_1


"Aku cuma ingetin supaya kakak sarapan dulu," kata Olivia lirih. Ia sudah kehabisan kata untuk membalas ucapan suaminya itu.


"Kamu enggak tahu aja, kalau Raisya lagi stress berat. Gara-gara kecelakaan itu, dia sampai ditinggal sama pacarnya," sahut Vino sinis. "Heh. Gimana kamu bisa tahu. Boro-boro jengukin Raisya, menanyakan kabarnya aja enggak pernah," sindirnya kemudian. Lantas, Vino meletakkan sendok ke piring dengan kasar. Lebih tepatnya, lelaki itu membanting alat makan itu sampai terdengar bunyi denting yang sangat keras.


Selanjutnya, Vino mendorong kursi ke belakang dengan kasar. Lantas, beranjak pergi dari ruang makan itu dengan perasaan jengkel dan langkah tergesa.


Sementara itu, Olivia menatap punggung suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengerjap pelan, sampai pada akhirnya air matanya itu mengalir membasahi pipi.


Tak habis pikir dengan sikap suaminya itu. Atau, bisa jadi dirinya lah yang terlalu sensitif sampai harus menangis begini.

__ADS_1


Olivia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Ia juga sampai lupa, kapan terlahir kali Vino meraba perutnya merasakan kehadiran buah hati mereka di dalam perutnya itu. Ia juga lupa, kapan terakhir kali Vino mengantarkan dirinya memeriksakan kandungannya. Ah, mengingat itu membuat air mata Olivia mengalir deras. Ia tergugu sendirian. Bingung dengan semua hal yang ia alami akhir-akhir ini.


__ADS_2