
Paman Adelle pergi meninggalkan Adelle dan Jassper karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal. Ia berpesan pada keponakannya untuk menunggunya dan menggantikannya untuk menemami tamu.
Adelle mengiakan permintaan Pamannya dan menatap Jassper yang duduk di hadapannya. Dahi Adelle berkerut, ia mengatai Jassper dalam hati.
"Pria seperti ini tamu? hahhh ... yang benar saja. Dia ini lebih cocok dipanggil kuman bakteri jahat," batin Adelle.
Jassper juga menatap Adelle. Walaupun terlihat jelas Adelle tidak menyukainya, anehnya Jassper justru menyukai raut wajah seperti itu. Ia pun menggoda Adelle.
"Kamu sangat terpesona olehku, ya? tatapanmu langsung menusuk begitu," kata Jassper.
Adelle tersenyum masam, "Aku menyukaimu? Hahaha ... tidak akan pernah terjadi meski dunia ini lenyap. Pria sepertimu itu pandai menggoda wanita, untuk apa aku menyukai pria begitu. Menyedihkan," jawab Adelle ketus.
Jassper tersenyum, "Lihat wajah kesalnya. Dia menggemaskan. Gila ... wanita ini mmebuatku berdebar sejak tadi." batin Jassper.
Adelle pun menyampaikan sesuatu pada Jassper. Ia mengatakan pads Jassper untuk tidak lagi mengganggu Kenzo. Meminta Jassper menghentikan niat jahat dan kegilaannya.
"Apa kamu tidak bisa hidup normal-normal saja?" kata Adelle.
"Apa karena ini juga kamu menemui Presdir HM?" tanya Jassper langsung menyerang Adelle.
Adelle terkejut, ia terdiam sesaat sebelum akhirya melancarkan serangan balasan.
"Untuk apa aku ke sini, ku rasa itu bukan urusanmu. Aku mau bertemu siapapun itu hakku. Mau apa saja itu terserah padaku juga. Jangan mengatakan hal tidak penting denganku. Aku kesal mendengarnya," jawab Adelle menatap tajam pada Jassper.
"Apa kamu tahu? sosokmu yang seperti ini sangat menggoda, Adelle? Aku langsung jatuh cinta padamu," ungkap Jassper terang-terangan.
Adelle terkejut, "Kamu memang sudah gila, Jassper. Tutup mulutmu dan jangan bicara lagi," Sentak Adelle.
Adelle mengerutkan dahi, "Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Pria pemain wanita," batin Adelle.
__ADS_1
Adelle merasa risih lama-lama berada satu ruangan dengan Jassper, tapi ia juga tidak bisa begitu saja pergi karena harus segera bicara dengan Pamannya. Ia juga tidak bisa mengusir Jassper yang adalah tamu Pamannya.
Keduanya saling diam cukup lama, mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya Jassper berdiri dan mendekati Adelle. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya sedikit dekat pada Adelle.
"Aku dengar kamu akan menikah dengan Kenzo. Apa yang kamu lihat sampai mau menikah dengannya? Bagaimana denganku? apa tidak bisa kamu pertimbangkan?" tanya Jassper menatap Adelle lekat-lekat.
Adelle mendorong Jasseper dan segera berdiri dari posisi duduk untuk menghindari Jassper bertindak macam-macam. Adelle kesal, pria di hadapannya bertindak semaunya dan bicara omong kosong.
Melihat wanita yang ditanyai hanya diam saja dengan wajah penuh kekesalan, Jassper lagi-lagi hanya tersenyum.
"Kamu sangat menarik, Adelle. Aku semakin menyukaimu," kata Jassper yang langsung pergi meninggalkan Adelle di ruang kerja Pamannya.
Adelle mengepalkan tangan menatap kepergian Jassper. Ia sangat kesal pada pria perayu wanita itu, sehingga ingin rasanya ia memukulnya.
Setidaknya Adelle lega, Jassper sudah pergi dari hadapannya. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana kalau masih harus berada dalam satu ruangan.
Tidak lama setelahnya, Paman Adelle masuk dalam ruangan dan meminta maaf karena buru-buru pergi saat Adelle berkunjung.
"Paman, apa Paman kenal pria tadi?" tanya Adelle.
"Oh, Jassper?" jawab Paman Adelle.
"Iya, Jassper. Ada urusan apa dia datang menenui Paman?" tanya Adelle lagi.
"Kami membicarakan bisnis. Rencananya kami mau kerja sama," jawab Paman Adelle.
Paman Adelle lantas bertanya apa kepentingan Adelle datang padahal Adelle sedang sibuk.
"Pasti ada hal penting, kalau mendadak datang ingin bertemu, kan? katakan pada Paman. Kepentingan apa itu?" tanya Paman Adelle menatap Adelle.
__ADS_1
"Paman, apa sudah dengar kabar dari Mama aku akan menikah?" tanya Adelle.
Paman Adelle menganggukkan kepala. Mengatakan, jika ia memang sedikit dengar. Karena Mama Adelle sedih saat Adelle bercerai dengan James karena James berselingkuh. Dan beberapa waktu lalu bercerita lewat telepon, memberitahu kalau Adelle akan menikah lagi.
"Mamamu tidak bilang siapa pria beruntung itu. Sayang sekali. Dia bilang itu kejutan. Ada-ada saja," kata Paman Adelle.
"Calon suamiku adalah sepupu Jassper, Kenzo Jonathan. Dia pemilik Star Hotel. Paman pasti kenal, kan? tidak mungkin Paman tidak kenal," jawab Adelle manatap Pamannya.
Mata Paman Adelle melebar. Ia terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Paman Adelle tidak sangka, kalau keponakannya akan menikah dengan salah satu konglomerat.
"Ehemm ... (Berdehem) Paman tidak tahu kalau kamu akan menikah dengan konglomerat. Kenzo Jonathan kan bukan sembarang orang. Di usinya yang masih tiga puluhan, dia memiliki banyak aset dan kekayaan. Dia juga pandai berbisnis." kata Paman Adelle.
"Lantas kenapa Paman menolak proyek Star Mall. Bisa jelaskan alasannya detail padaku?" tanya Adelle menatap Pamannya.
"Ah, itu hal yang tidak bisa kami tangani saja. Itu proyek yang cukup besar yang tidak sesuai dengan perusahaan Paman." jawab Paman Adelle beralasan.
Adelle langsung tahu Pamannya hanya beralasan dan menyembunyikan sesuatu. Ia langsung bisa menebak, kalau alasan Pamannya menolak adalah karena Jassper.
Adelle bercerita, kalau Jassper adalah orang tidak tahu diri yang suka merayu wanita. Bahkan Adelle pun dirayu oleh Jassper. Adelle memberitahu juga, apa yang sudah Jassper lakukan pada calon suaminya, Kenzo.
"Paman tidak tahu juga kan, kalau Jassper pernah menyewa orang menghabisi calon suamiku. Pria itu sangat licik dan banyak trik. Paman tidak boleh termakan ucapannya. Tawarannya juga, Paman jangan menerimanya." kata Adelle.
Paman Adelle kembali dikejutkan oleh cerita Adelle. Sebagai orang yang kenal baik siapa itu Adelle, Pamannya tentu percaya ucapan keponakannya. Karena sangat sayang dan tidak mau menyembunyikan sesuatu, Paman Adelle mengakui kalau ia menolak proyek Star Mall karena larangan dari Jassper. Hanya saja Paman Adelle tidak detail mengatakan apa larangan yang dimaksud dan apa saja yang sudah Jassper katakan.
Adelle mengerutkan dahi. Sesuai dugaannya, Jassper telah melakukan sesuatu pada Pamannya. Sehingga Pamannya itu menolak proyek Star Mall.
"Meski tidak menjelaskan larangan apa yang dimaksud. Aku yakin selain larangan ada hal lain. Seperti mengiming-iming sesuatu yang memang bisa menggoyahkan hati dan pikiran Paman." batin Adelle.
"Apapun alasannya, tolong kembali pertimbangkan, Paman. Bukan demi siapa-siapa. Tolong Paman pikirkan demiku, yang merupakan satu-satunya keponakan Paman. Aku tidak tahu larangan apa yang Paman maksud. Aku juga yakin ada hal lain yang sudah ia tawarkan. Terserah saja dia mau apa, aku juga tidak peduli. Yang aku inginkan, Paman mau memikirkan semua ceritaku. Memikirkan untung dan rugi semuai pemikiran Paman yang biasanya. Apa Paman bisa lakukan itu?" tanya Adelle menatap Pamannya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Paman Adelle terdiam seperti sedang berpikir. Tidak lama ia bicara, mengatakan akan mencoba memikirkannya kembali. Meminta Adelle memeberinya waktu. Berubah tidaknya pikirannya, nanti akan dihubungi.