Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 71


__ADS_3

Vino gelisah. Hari ini, tepat dua pekan sang istri pergi. Wanita itu berjanji akan pergi selama sepekan untuk berlibur. Namun, selain melewati batas waktu yang dijanjikan, Olivia juga tidak pernah bisa dihubungi. Tidak pernah bisa.


Berulang kali, ia melakukan panggilan. Berulang kali pula dirinya mengalami keputus asaan, sebab nomor yang dihubungi tidak pernah aktif. Padahal, Vino melakukan panggilan hampir setiap jam.


Entah berapa banyak pesan yang telah ia kirimkan. Dan, sebanyak itu pula tidak ada satu pun centang satunya berubah menjadi centang dua, apalagi berubah warna menjadi biru sebagai tanda telah dibaca.


Setiap kali ponselnya berdering, harapan Vino selalu melambung tinggi, berpikir jika itu adalah panggilan dari sang istri. Namun, harapan tetaplah menjadi harapan semata. Di kala dengan penuh semangat ia melihat layar yang berpendar, semangat itu langsung pupus bersamaan dengan nama yang terpampang di sana. Itu bukan nama sang istri, melainkan nama orang lain. Dan, sang mama dan adiknya yang paling sering mendominasi.


Seperti kali ini. Vino tengah memimpin rapat. Dua pekan ini, ada dua cabang laundry yang luput dari perhatiannya. Sampai, ia tidak mengetahui jika selama sepekan ini dia cabang tersebut tidak memiliki pemasukan. Tidak ada pelanggan yang datang untuk mencucikan baju baju mereka. Padahal, di hari biasanya cukup ramai.


Hingga, pada akhirnya seorang pelanggan yang dekat dengan Olivia lah yang datang ke kantor pusat, mencari keberadaan wanita itu.


Katakan kepada Vino! Bagaimana caranya ia untuk tidak merindukan wanita itu? Sementara, jangankan masalah kesehariannya. Untuk masalah pekerjaan pun Olivia sangat memberikan pengaruh besar.


"Saya ini heran, kenapa para pekerja di sana bisa seceroboh itu? Baju saya kena noda lunturan juga ada banyak kancing yang lepas." Wanita yang tampak telah berumur lima puluhan itu mengeluh.


Setelah mendapatkan keluhan itu, keesokan harinya Vino langsung mengajak para penjaga laundry untuk rapat darurat. Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum membuka tempat usaha.


"Tolong jelaskan siapa yang bertanggung jawab atas kedua cabang di sana?" tanya Vino dengan raut tegas. Ia mengedarkan pandangan, menatap setiap penjaga dengan tatapan menelisik.


Semua kepala tertunduk dalam. Tidak ada yang berani membalas tatapan boss mereka. Sebenarnya, ini adalah kejadian baru sepanjang usaha itu berdiri.


"Jika kejadian ini berlangsung sampai satu pekan ke depan, bisa-bisa usaha kita gulung tikar." Vino berkata dengan intonasi lebih rendah, tetapi tatapannya masih tajam menatap para karyawannya.


"Padahal, belum lama usaha ini berjalan. Dan, ini adalah kesalahan yang paling fatal yang pernah ada. Terlebih, laporan ke saya sudah sangat terlambat. Saya yakin, jika tidak ada pelanggan yang komplain maka tidak akan ada laporan yang masuk sampai akhir bulan. Lantas, dengan apa kalian akan digaji?" Vino berkata panjang lebar. Ia mengembuskan napas secara kasar. Di saat seperti ini, bayangan wajah Olivia berkelebat di ingatan.

__ADS_1


Vino berpikir apa yang akan Olivia lakukan jika berada dalam kondisi seperti sekarang ini? Ah, ia pun semakin menyadari jika tidak akan bisa hidup tanpa ada Olivia di sisinya.


"Maafkan kami, Pak." Salah satu dari mereka akhirnya mau berbicara. "Sebenarnya, sebelum hari ini pernah ada masalah juga yang terjadi. Tapi, waktu itu Ibu Olivia langsung mengambil tindakan--"


"Apa? Apa yang istriku lakukan untuk mengatasi masalah di tempat kalian?" tanya Vino antusias. Matanya berbinar terang. Kerinduan itu ... terpancar jelas di wajahnya.


Karyawan yang hadir bisa merasakan kesedihan juga kerinduan yang Vino rasakan. Mereka juga tahu bahwa nama Olivia sangat mampu memadamkan amarah yang beberapa saat lalu menguasai lelaki itu.


Lelaki itu berdeham pelan. Ia sempat melirik kepada lelaki di sampingnya, seolah memberi tahu bahwa mereka pasti akan selamat dari masalah ini. Setelah mendapatkan anggukan dari teman sejawatnya, ia pun langsung menghadap boss mereka dan menjelaskan dengan penuh semangat.


Vino mengangguk. Rasa kagum membuncah di dadanya. Ia mendongak sembari menekan kedua ujung mata, menahan diri agar air matanya tidak mengalir di hadapan karyawannya. Malu dong!


"Baiklah. Lakukan seperti apa yang istri saya lakukan. Saya ikuti saja," kata Vino kemudian, mengambil keputusan.


Kedua wajah wajah yang sempat kuyu itu kini tampak berseri. Mereka mengangguk secara bersamaan, seperti telah mendapatkan kode secara serentak.


Belum sempat langkahnya terayun meninggalkan ruang rapat, ponsel itu berdering. Ia mengambil dengan semangat penuh, berpikir jika sang istri lah yang sedang melakukan panggilan.


Akan tetapi, sayang sekali karena bukan nama Olivia yang terpampang di layar melainkan nama sang mama yang berpendar di sana. Ia menjawab panggilan itu dengan lesu.


Vino menyapa dengan lirih. Tangannya mengusap wajah dengan kasar, memejamkan mata sejenak sebelum benar-benar keluar dari ruangan rapat meninggalkan kasak kusuk yang secara samar tertangkap di telinga.


"Kak, Mama masuk rumah sakit. Keadaannya kritis." Itu bukan suara sang mama melainkan suara sang adik, Raisya.


Raisya berbicara dengan terisak-isak. Ia menangis dan terdengar sangat khawatir.

__ADS_1


"Tunggu ya, sebentar lagi ke sana. Ini baru selesai rapat. Tunggu, jangan ke mana-mana." Vino berkata lembut. Ia juga merasa khawatir dengan apa yang dialami sang mama.


Terlebih, dua hari lalu telah terjadi perdebatan di antara dirinya dengan sang mama. Vino sadar jika telah berlaku kasar sampai membuat sang mama menangis.


Oh, jangan sampai gara-gara itu mamanya jadi drop.


Vino terus merapal doa dalam hati. Langkahnya lebar keluar dari gedung itu, mengangguk sekilas kepada karyawan yang menyapanya.


Mobil meluncur dengan kecepatan secepat mungkin. Tangan Vino sampai gemetar karena perasaan khawatir yang menguasai diri.


Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menghubungi Raisya menanyakan kamar tempat sang mama dirawat.


Rupanya papanya pun telah menunggu kedatangannya.


"Apa yang terjadi, Vino?" tanya lelaki yang paling Vino segani itu.


"Aku juga tidak tahu, Pa. Raisya menghubungi dan mengatakan jika Mama sedang dirawat di sini." Vino menjelaskan apa adanya.


"Ya. Mama kamu memang sempat pingsan sang langsung dilarikan ke rumah sakit ini." Sang papa mengiakan perkataan Vino.


Pintu ruangan itu terbuka, muncul Raisya dengan wajah cemas. "Kak, Mama memanggil Kak Vino," ujarnya buru-buru.


Vino menganggu kemudian segera mengikuti langkah Raisya memasuki ruangan. Ia melangkah lebar dengan hati-hati, mendekati ranjang dan duduk di samping sang mama yang terbaring lemah.


"Ma ...," panggil Vino lirih.

__ADS_1


"Mau kamu ke sini? Mama kira hanya sibuk memikirkan Olivia saja dan tidak lagi peduli sama Mama," ketus wanita itu. Air matanya mengalir dan itu membuat Vino merasa sedih.


__ADS_2