
Carilah kesibukan yang positif, agar fikiranmu tak fokus pada dukamu. Mungkin itu adalah kalimat motivasi yang paling pas diberikan untuk Olivia. Setelah dirinya sibuk dengan cabang baru usahanya berlanjut dengan cabang -cabang yang lain, menjadikan Olivia tak lagi mengingat dukanya. Lebih tepatnya, fikiriannya tak lagi berpusat dengan rasa kehilangan.
Hari ini tepat tiga bulan, Olivia mengurus anak cabang usahanya. Ia sengaja melakukan itu agar fikiriannya bisa teralihkan. Beberapa bulan ini, dirinya hanya sibuk mengurus kebutuhan saja, mengingat Vino lah yang menghandle segalanya.
Awalnya, Vino tentu saja menolak usulan Olivia. Akan tetapi, dirinya tetap bersikeras untuk bisa mengambil alih segala urusan satu laundry itu. Bukan apa- apa, Olivia hanya ingin bekerja secara penuh. Itu saja.
Siang ini, di ruang kerja tiba tiba saja perutnya terasa bergejolak. Padahal, di rumah tadi dirinya menyempatkan diri untuk sarapan. Beberapa hari terakhir Olivia memang sering melewatkan sarapannya dengan alasan tak ada nafsu makan.
Banyaknya pekerjaan Vino yang menunggu untuk diselesaikan membuat lelaki tersebut tak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan kesehatan Olivia. Vino berangkat lebih pagi karena harus memeriksa beberapa pekerjaan di tempat yang berbeda. Sehingga hari ini dirinya tak mengantar istrinya itu.
Namun, sampai siang hari seperti tak ada waktu untuk sepasang suami istri tersebut berkirim kabar. Hubungan keduanya seperti mulai merenggang, tak lagi menyempatkan diri untuk sekadar mengirim pesan.
Pusing dan mual yang semakin menjadi, membuat wajah Olivia semakin pucat. Dan sampai detik ini, perutnya belum diisi oleh makanan berat. Pada akhirnya, ketika rapat berlangsung Olivia pingsan di tengah rapat.
__ADS_1
Dua orang karyawan mengantarkan dirinya menuju rumah sakit terdekat. Setelah Olivia sadarkan diri, wanita itu meminta pada para karyawannya itu untuk segera kembali ke kantor. Walaupun dengan berat hati, kedua karyawan tersebut pun menuruti perintahnya.
"Saya tidak apa apa kan, Dokter?" Olivia bertanya ketika sang dokter beserta perawatnya datang.
"Kita periksa dulu, ya, Bu," ujar sang dokter dengan senyum lembutnya.
Beberapa menit menunggu disertai berbagai pertanyaan yang diajukan, jantung Olivia berdetak kencang.
"Kita periksa ke bagian kandungan untuk memastikan," kata dokter tersebut lalu meminta kepada sang perawat untuk mengatur janji.
Betapa terkejutnya saat Olivia mendengarkan penjelasan bahwa dirinya telah mengandung.
"Lihat, ini dia bayinya. Belum kelihatan ... masih berumur dua minggu ...."
__ADS_1
Selanjutnya, Olivia tak lagi mendengar penjelasan sang dokter. Ia telah sibuk dengan isak tangis yang tak lagi bisa dibendung. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi membuat matanya sembab.
Syukurlah, sang dokter mengerti. Ia membiarkan Olivia menangis. Memberikan waktu sejenak untuk dirinya melampiaskan kegembiraan. Rasa terharunya begitu besar sehingga dirinya tak lagi bisa menahan gejolak dalam dadanya.
"Sudah tenang, Bu Olivia?" tanya sang dokter berikutnya saat melihat tangis Olivia mereda.
Olivia mengangguk seraya mengelap wajahnya dengan tisu yang diberikan perawat kepadanya.
"Maafkan saya, Dokter," kata Olivia kemudian.
"Tidak apa -apa. Saya bisa mengerti. Beruntung Anda adalah pasien terakhir saya siang ini. Setelah ini, saya akan beristirahat. Suami Anda sudah diberi tahu?"
Olivia terkesiap atas pertanyaan sang dokter. Senyum di wajah anggun itu tak pernah surut, tetapi tak mampu menembus kegusaran Olivia saat ini. Ia begitu bingung. Lantas, dengan gerakan pelan, kepala Olivia menggeleng. Bersamaan dengan itu, suara nada dering ponselnya terdengar.
__ADS_1
Olivia dengan gerakan cepat memeriksa siapa si pemanggil. Rupanya lelaki yang sedang ia pikirkan. Namanya terpampang jelas di layar yang berpendar.
Vino.