
Setelah dari rumah sakit, Olivia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Ia tak ingin kembali ke tempat kerjanya. Rasanya tak enak jika harus kembali mengurusi pekerjaan sementara dirinya merasa bahwa badannya itu tidak baik-baik saja.
Lelah, lesu menjadi satu di dalam dirinya. Saat ini, Olivia hanya ingin agar cepat sampai di rumah. Berbaring di atas ranjangnya sepertinya dapat mengurangi keletihan tubuhnya itu.
Telpon dari Vino tadi sengaja tak dijawabnya karena Olivia tak ingin mengatakan keadaan dirinya yang sebenarnya untuk saat ini. Namun, ia juga tak ingin berbohong kepada suaminya tersebut mengenai keadaan dan tempat di mana ia sekarang.
Olivia mengembuskan napas kasar. Ia menghubungi salah satu karyawannya dan mengabarkan jika dirinya tak akan kembali ke sana.
"Tolong jangan katakan apa pun pada suami saya ya, kalau ditanya -tanya," pintanya kemudian.
"Oh iya, baik, Bu. Jangan khawatir. Ibu bisa istirahat dengan tenang di rumah," balas Santi yang membuat Olivia tersenyum lega.
__ADS_1
"Terima kasih," balas Olivia lalu memutuskan panggilan. Ia bersandar pada sandaran kursi, kemudian memejamkan mata. Olivia berharap bisa beristirahat sejenak sampai kendaraan roda empat itu sampai ke kediamannya.
"Sampai, Bu."
Olivia tersentak kaget ketika mendengar suara si sopir. Lantas, ia pun mengerjapkan kedua matanya secara perlahan dan menguceknya dengan jari dengan gerakan pelan. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan jika mobil telah berhenti di depan rumah.
Olivia bergerak cepat membuka pintu mobil setelah mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada sang sopir. "Makasih, Pak," katanya sopan.
Begini rupanya ketika apa yang diusahakannya berhasil. Olivia bisa menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini. Mulai dari tinggal di kontrakan hingga bisa membeli rumah sendiri. Rasanya sungguh melegakan sekaligus menyenangkan. Ia mengelus perutnya yang masih datar. Olivia sadar, ada rezeki calon bayinya sekarang yang mengantarkan mereka pada hidup yang lebih baik.
Olivia menolak tawaran asisten rumah tangganya untuk makan terlebih dahulu. Ia memilih untuk langsung masuk ke kamar. Tubuhnya sudah terasa amat sangat lelah. Ia ingin segera baring dan mimpi indah.
__ADS_1
"Tadi Bapak telepon, nanyain Ibu."
Gerakan Olivia yang hendak membuka pintu kamar itu terhenti. Ia menoleh, menatap penuh tanya pada wanita yang masih berdiri di hadapannya kini.
"Berhubung Ibu belum pulang, jadi saya bilang kalau belum pulang. Nah, Bapak pesan kalau Ibu sudah pulang minta dikabari ...."
"Biar aku aja yang ngabari langsung ya. Makasih, Bik," sahut Olivia cepat. Ia mengulas senyum tipis, lalu membuka pintu kamar. Masuk ke ruangan pribadinya meninggalkan Bibik yang masih berdiri di balik pintu.
Tanpa ingin berganti pakaian, Olivia langsung merebahkan diri ke atas ranjang. Ia mendesah lega mendapati kasur empuk itu langsung memberikan kenyamanan padanya. Letihnya mulai berkurang, lambat laun kantuk itu mulai menyapa. Kelopak matanya pun mulai terasa berat, hingga dirinya kini telah lelap sepenuhnya.
Olivia tak menyadari jika ada seseorang yang kelimpungan mencari keberadaannya. Setelah dirinya masuk ke kamar tadi, seseorang itu menghubungi pembantu rumah tangga mereka. Dan betapa kesalnya seseorang itu karena dirinya justru tak memberi kabar sama sekali, bahkan tak menjawab setiap panggilan yang ada di ponselnya.
__ADS_1