
Olivia terbangun dengan kepala pening dan pandangan kabur. Perlahan ia mengerjakan mata beradaptasi pada pencahayaan lampu di ruangan itu. Semuanya serba putih. Matanya menatap langit-langit kamar, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Kosong. Tidak ada siapa pun. Seperti pikirannya yang juga terasa kosong.
Olivia berpikir, mengingat-ingat kejadian yang telah ia alami sampai berada di tempat ini.
Seketika, Olivia bangkit dari tidurnya. Tangannya melepas jarum infus secara kasar. Tidak peduli dengan rasa sakit yang diderita, Olivia bergegas turun dari ranjang dan mencari seseorang.
"Alvin!" serunya. Dan, seruan itu seperti gonggongan anjing yang menakutkan siapa saja.
Air matanya berderai, suaranya terdengar serak melengking merintihkan kesakitan kepada siapa saja yang mendengarnya. Malam telah larut, suasana di rumah sakit pun telah sepi dan suara Olivia menggetarkan siapa saja yang mendengarnya.
"Alvin! Kamu di mana, Nak?" Olivia berjalan di lorong rumah sakit, mencari seseorang yang sangat dirindukannya.
Olivia seperti tersesat dalam kegelapan yang tiada penerang sedikit pun. Pikirannya buntu. Ia tidak tahu harus mencari ke mana buah hatinya itu.
Ingatan akan darah Alvin yang bercecer di mana-mana seketika membuat tubuh Olivia menggigil. Olivia ketakutan. Lututnya pun terasa sangat lemas, tidak mampu menopang bobot badannya.
Olivia bersandar ke dinding rumah sakit yang dingin. Tangannya berpegangan, menopang raga yang mulai terasa tidak bertenaga. Ia terus berjalan menyusuri lorong-lorong kegelapan sampai menemukan sedikit penerang di dalam hati dan pikirannya.
"Kak, Alvin mana?" tanyanya kepada lelaki yang kini berlari mendekat kepadanya.
"Olivia, Sayang. Kenapa kamu keluar dari kamar? Kita masuk." Vino meraih tubuh tidak berdaya itu. Wajah kacau istrinya membuat perasaan bersalah semakin menguasai jiwa, menghimpit dada.
__ADS_1
Di belakang Vino, Raisya berjalan mendekat. Ia pun berusaha membantu Olivia yang tidak berdaya itu. Sayangnya, Olivia menepis tangannya. Tatapan mata itu tajam menusuk hatinya. Ia mundur, tidak ingin lagi mengganggu interaksi sepasang suami istri itu.
"Alvin mana?" Olivia mencengkeram baju bagian depan Vino. Air matanya terus berderai bagai air bah yang jebol dari bendungannya. Tidak bisa tertahankan dan mampu menyeret siapa saja yang ditemuinya.
"Kita masuk dulu ke kamar, nanti aku jelaskan ya." Vino terus bersabar dalam menjelaskan. Ia merengkuh tubuh Olivia dan membawanya kembali ke kamar, diikuti oleh Raisya di belakang mereka dalam diam.
Sesampainya di kamar, Olivia menolak untuk berbaring. Ia duduk di pinggir ranjang. Tangannya tidak lepas memegang erat lengan Vino, menahan agar lelaki itu tidak pergi ke mana pun.
"Katakan di mana Alvin. Setelah ini, jika kalian akan pergi, pergi saja. Aku bisa mengurus anakku sendiri.l," ujar Olivia dingin.
"Lebih baik Kakak istirahat saja dulu." Itu suara Raisya. Gadis itu berdiri di samping Vino, seakan tidak mau jauh barang seinci pun dari lelaki itu.
"Sabar, Sayang. Tenanglah. Alvin sudah tidak sakit lagi, dia sudah tenang," ujar Vino dengan suara bergetar. Air matanya merah menahan kesedihan yang mencekam di dadanya.
"Apa maksud kamu dengan Alvin yang enggak sakit lagi? Dia sehat, kok, dia tadi habis ngerayain ulang tahun pertamanya. Apa maksud kamu?" cecar Olivia. Namun, tiba-tiba saja ingatan akan kondisi Alvin tadi sore merampas napasnya.
Dadanya seketika menyempit dan napasnya pun sesak. Alvin kecilnya terpelanting ditabrak kendaraan dan seketika itu juga darah berceceran di mana-mana. Oleh karena melihat kejadian itu juga dirinya sampai pingsan karena tidak sanggup menyaksikan peristiwa nahas itu.
"Apa mungkin, anakku sudah meninggal?" tanya Olivia getir. Napasnya semakin sesak dan dirinya pun kembali tidak sadarkan diri.
"Olivia! Olivia!" seru Vino memanggil nama sang istri, tetapi tidak mendapatkan jawaban. "Dek, tolong panggilkan perawat," katanya kepada Raisya yang tampak bergeming di tempat.
__ADS_1
"Oh iya, Kak." Raisya berlari keluar, memanggil perawat yang piket di malam itu.
Setelah diperiksa, Olivia kembali dipasang jarum infus di tangan.
"Jangan dibiarkan sendirian ya, Pak, pasiennya. Dia shock dan membutuhkan teman."
"Baik. Terima kasih, Sus."
Perawat tersebut pun pergi dari ruangan itu, meninggalkan keheningan di lamar kamar tersebut.
Vino duduk di kursi di samping ranjang pasien, menggenggam erat tangan Olivia. Perasaannya kacau dan tidak bisa dijelaskan seperti hidupnya yang terasa sangat kacau hari ini.
"Kak, sabar ya. Semuanya akan baik-baik saja." Raisya berdiri di samping Vino memeluk bahu lelaki itu dan mengusap pelan, memberikan ketenangan.
"Iya. Makasih ya, udah mau nemenin Kakak di sini." Vino mendongak, menatap Raisya yang juga tengah menatapnya.
Sesaat keduanya hanya saling menatap tanpa kata. Hingga, Raisya mendekatkan wajah dan mencium kening Vino.
Tentu saja Vino tersentak kaget, ia langsung memalingkan wajah menghadap Olivia.
Jantungnya berdebar kencang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Raisya kepadanya. Mereka kakak beradik bukan? Walaupun bukan saudara kandung.
__ADS_1