
Pagi itu, Olivia diajak jalan-jalan oleh Nadia. Gadis itu juga mengajaknya ke kampus, sekadar melihat-lihat. Seketika, perasaan Olivia pun kembali ke masa -masa dirinya menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Olivia tersenyum membayangkan masa-masa itu. Seakan, beban pikirannya amatlah ringan. Tentu saja sangat berbeda dengan sekarang ini. Semua hal seakan masuk ke dalam otaknya, meminta perhatian untuk dipikirkan lebih dulu. Padahal, ada kalanya otak juga merasa lelah seperti tubuhnya yang lain yang merasa lelah ketika digunakan untuk bekerja.
Di samping Olivia, Nadia bercerita banyak hal. Tentang kuliah, teman-teman di kampus, sampai ke dosen yang menurutnya sangat killer.
"Masak kalau masuk harus pakai baju yang tertutup, enggak boleh pakai yang ketat-ketat. Terus, kalau pakai baju yang lengan pendek banget disuruh pakai almamater. Wah, bapak itu beneran seleranya mungkin ibu ibu yang pakai daster. Longgar." Nadia terus berceloteh.
"Mana kalau ada tugas waktu kumpulnya cuma dua hari doang. Padahal ketemunya kita seminggu sekali. Gila bener bapak itu." Lagi, Nadia terus mengomel.
Sementara itu, Olivia tidak terlalu mendengarkan. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri bahkan sampai tidak memperhatikan jalan juga. Tiba tiba saja, tubuhnya menabrak seseorang di hadapan.
"Oh, maaf ... maaf." Olivia berujar pelan, kepalanya menunduk. Merasa sangat bersalah karena tidak memperhatikan jalan.
"Nadia. Kamu kenapa kemarin enggak masuk kelas saya?"
Olivia mendongak kala mendengar suara berat itu justru bertanya hal lain, bukan menanggapi ucapan maafnya karena telah menabrak.
"Oh, Bapak." Nadia cengengesan. Ia garuk -garuk kepala yang tidak gatal.
"Kamu mau ke kampus atau ke club? Pakai pakaian seperti itu ...."
"Saya hari ini enggak ada jam kuliah, Pak. Cuma jalan-jalan saja," sahut Nadia. Senyum di bibir masih ia pertahankan karena tidak mau ketahuan jika di dalam hatinya banyak umpatan yang keluar untuk lelaki itu.
Nadia tidak menyangka jika hari ini dirinya akan apes karena bertemu si dosen killer. Niatnya mengajak Olivia liburan dan menyegarkan pikiran alamat gagal total, sebab justru dirinya lah yang merasa bahwa suasana hatinya telah kacau.
__ADS_1
Bertemu lelaki itu adalah petaka baginya.
Tangan Nadia terkepal erat di sisi tubuh, menahan diri agar tidak segera pergi dari sini tanpa pamit. Ah, ia kesal sekali dengan budaya sopan santun. Jika tidak mengingat itu, sudah tentulah dirinya memilih kabur dari sini. SE KA RANG.
"Jaga penampilan kamu. Jangan terlalu terbuka. Contoh wanita yang bersama kamu itu, Nadia." Setelah mengatakan kalimat penuh sindiran itu, lelaki tersebut melangkah lebar meninggalkan Olivia dan Nadia yang tampak melongo.
Olivia semakin terkejut mendapati lelaki asing itu menoleh dan menatapnya, setelah lelaki itu melangkah melewatinya.
"Kak, Bapak Killer nyebelin itu lihat ke Kak Oliv ya? Jangan bilang kalau dia naksir Kakak. Mana aku harus pakai pakaian yang kayak Kak Oliv lagi. Enggak banget deh. Kan panas, risih, susah gerak---"
"Kalau kamu enggak mau. Enggak masalah, Nadia. Jangan mendengarkan orang lain. Tubuh kamu adalah milik kamu sendiri." Olivia berkata lembut. Tentu saja, walaupun dirinya memang diwajibkan memakan pakaian yang menutup badan dengan sempurna, tetapi ia juga paham bahwa tidak akan bisa memaksakan penampilan itu kepada orang lain.
Kewajiban itu tentulah sudah menjadi tanggung jawab masing- masing orang. Toh, orang itu sendiri yang akan menerima akibatnya. Ia hanya mencontohkan, menjalani dan mengerjakan apa yang menjadi keyakinan dirinya sendiri. Dan, sudah barang tentu tidak akan bisa dipaksa untuk masuk kepada pemikiran orang lain.
"Kita pulang aja ya. Aku udah malas mau ke mana mana. Gara gara ketemu bapak killer itu." Nadia berujar manja. Ia segera merangkul lengan Olivia dan mengajak wanita itu untuk segera pergi dari sini.
Sesampainya di rumah, Bunda sedang berada di dapur. Wanita itu sedang menyiapkan hidangan makan malam juga tengah membuat camilan.
Usai mandi dan berganti pakaian, Olivia bergegas keluar dari kamar menuju dapur untuk bergabung dengan Bunda. Ia ingin membantu tuan rumah masak sekaligus belajar dalam satu waktu. Tidak banyak makanan yang bisa ia masak.
"Eh, gimana jadi mau belajar menyulamnya?" tanya Bunda begitu melihat Olivia yang berjalan mendekat.
"Kapan Bunda ada waktu saja, Bunda. Kalau masih sibuk ya nanti nanti saja," jawab Olivia santai lalu mengambil alih penggorengan di kompor yang sedang menyala.
"Besok pagi gimana? Bunda enggak ada kerjaan besok. Habis antar Ayah ke bandara."
__ADS_1
"Ayah mau pergi lagi, Bunda?" tanya Olivia, sekadar ingin tahu.
"Iya. Mau dinas ke luar lagi."
"Oke deh, Bunda. Aku nurut aja kapan Bunda bisanya." Olivia tersenyum lebar menyetujui usulan itu.
"Emangnya kenapa kamu mau belajar begituan. Agak ribet lho?"
Olivia menoleh sebentar. Mematikan kompor setelah mengangkat gorengan ayam yang terakhir.
"Ya, ngisi waktu luang saja, Bunda. Mau nyari pekerjaan agak malas. Ingin mengerjakan sesuatu dari rumah saja. Lagi pula, aku enggak bisa terlalu capek sih soalnya kasihan bayi dalam perutku."
"Kamu hamil?" Bunda tidak percaya. Wajahnya jelas menyiratkan keterkejutan.
"Ah iya. Setelah kehilangan anak yang berusia dua tahun, aku jadi suka stress gitu. Makanya mau ke sini saja, malas pulang ke rumah lagi, Bunda."
"Suami kamu sendiri gimana?"
"Dia sudah terlalu sibuk dengan keluarganya. Aku juga sudah pasrah aja sama kehidupan kami ini. Oh, maaf, Bunda aku malah kabur ke sini dan ngerepotin Bunda." Olivia merasa bersalah dan tidak enak hati.
"Justru kalau kamu tidak pergi ke sini, Bunda malah khawatir Olivia. Bunda seneng karena kamu memilih ke sini di saat rumah tangga kalian tidak baik- baik saja." Bunda Kania tersenyum lembut. Ia berdiri dan menghampiri Olivia yang masih bertahan di meja dapur. Bunda menepuk bahu Olivia. "Kalau ada apa apa dan butuh apa apa cerita sama Bunda ya," katanya.
Olivia menganggu berulang kali. Mengiyakan wanita itu. Tidak menyangka jika apa yang ia alami justru mendapatkan pertolongan dari seorang yang tidak terduga. Oh, padahal usaha yang mereka jalani sekarang pun asal muasalnya adalah modal dari Bunda.
Olivia ingat saat ibu mertuanya menentang usahanya di awal awal dulu. Namun, saat sekarang sudah berkembang dan memiliki cabang di beberapa tempat, wanita itu justru menentang pernikahan dirinya dan Vino. Memang jika awalnya tidak merestui akan sangat sulit menembus hati untuk berubah menjadi merestui.
__ADS_1
Namun, siapa yang bisa meneropong masa depan. Olivia berpikir jika Vino sangat baik, tidak pernah terpikir jika akan berubah seperti ini.
"Olivia, Vino menelepon. Nomor kamu tidak aktif ya?" Pertanyaan Bunda menyentak kesadaran Olivia.