Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 73


__ADS_3

Vino tahu jika wanita yang telah melahirkannya itu sudah pulang dari rumah sakit. Sang mama dirawat selama satu pekan karena terkena gejala types. Raisya bilang kalau dokter berpesan agar mamanya itu tidak terlalu banyak pikiran, jangan telat makan dan harus banyak beristirahat.


Sementara itu, Raisya juga bilang kalau akhir-akhir ini sang mama memang sulit untuk makan dan sering uring-uringan.


Tentu saja keadaan sang mama itu tidak lepas dari pengaruh Vino yang selalu dipikirkan. Bisa dikatakan jika sedikit banyak penyakit mama itu disebabkan oleh dirinya.


Ah, malang sekali menjadi anak semata wayang ini. Tidak bisa bebas dan selalu saja dikaitkan dengan kedua orang tuanya. Kalau saja, Vini memiliki saudara kandung yang lain. Sudah barang tentulah mamanya itu tidak hanya memikirkan dirinya seorang saja. Masih ada saudara yang lain yang juga harus diperhatikan bukan?


Akan tetapi, apa hendak dikata? Pasalnya, sang mama memang sudah kesulitan dalam mendapatkan anak. Dirinya saja sudah sangat beruntung karena bisa selamat terlahir ke dunia dan bisa hidup sampai dewasa seperti sekarang ini. Sebab, berulang kali mamanya Vino itu mencoba mengandung kembali, berulang kali pula mengalami keguguran. Alhasil, orang tua Vino pun berinisiatif mengadopsi seorang putri yang cantik.


Hari ini, Vino enggan sekali untuk berangkat bekerja. Terlebih, dengan keadaan dirinya yang tampak kacau sepekan terakhir ini. Surat yang ditunggalkan Olivia telah berhasil mengubah hidupnya menjadi amat berantakan.


Kini, Vino tidak ubahnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Duduk di pojok kamar dengan kepala yang terus ditenggelamkan pada kedua lututnya. Ia bingung harus melakukan apa.


Mencari keberadaan sang istri yang entah di mana rimbanya? Sudah berminggu minggu wanita yang dicintainya itu menghilang. Apakah Olivia tidak sedetik pun memikirkan keadaannya sekarang? Bahkan, dulu ... betapa Vino bersikeras memperjuangkan kebersamaan mereka. Namun, jika Olivia sendiri yang memilih pergi. Dirinya bisa apa.


Amarah dan kecewa memggelegak di dalam dada, memancarkan hawa panas yang siap meledak di kepala. Vino sendiri tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa.


Sementara, keadaan dirinya sekarang justru diambil keuntungan oleh sang mama yang seharusnya datang untuk menghibur.


Ah, menyebalkan sekali hidupnya sekarang. Istri kabur. Orang tua tidak mendukung hubungan pernikahannya, lalu dirinya dihadapkan dengan pilihan yang sulit.


Vino tidak berniat menceraikan Olivia secara sepihak. Ia ingin bertemu dengan istrinya itu dan membahas semuanya. Namun, ke mana perginya sang istri? Di saat Olivia seharusnya mendukung dirinya yang tengah diterpa masalah, Olivia justru pergi.


"Arrgghhhh!!!"

__ADS_1


Vino memekik, menumpahkan gelisah yang sudah beehari -hari membuatnya tidak bebas bergerak dan bekerja.


Suara nada dering ponsel sedikit berhasil mengusik pikiran Vino yang kusut. Beberapa saat lelaki itu mengabaikan panggilan tersebut. Mungkin itu dari karyawannya atau dari mama. Ia tidak lagi sesemangat biasanya saat mendengar suara nada panggilan. Sebab, rasa kecewanya telah menumpuk. Tidak mungkin pula Olivia akan memghubungi, sebab wanita itu telah menilih pergi dari hidupnya.


Vino memilih barinh di lantai kamar yang dingin. Kaus yang dikenakannya beberapa hari lalu belumlah ia ganti. Mana dirinya peduli dengan bau masam juga gatal gatal yang mungkin saja akan ditimbulkan. Suara kriuk dari perutnya saja tidak juga ia hiraukan. Tampaknya, Vino memang lebih memilih berdiam diri dalam kesakitan daripada berusaha mencari jalan keluar untuk masalah uanh dihadapinya.


Lagi, suara dering ponselnya berbunyi. Berulang kali. Sepertinya, orang di seberang sana pun tidak kalah keras kepalanya dari Vino.


Ketika Vino bersikeras tidak ingin menjawab panggilan itu. Orang di seberang sana pun bersikeras terus menghubungi dirinya.


Oh, pukul saja kepala Vino karena membiarkan benda pipih itu terus terhubung dengan pengisi daya. Jika begini, sampai esok hari pun ponsel itu tidak akan mati dengan sendirinya.


Vino menggeram kesal. Ia bangikt dengan tubuh sempoyongan. Ia tidak mengisi perutnya juga membiarkan tubuhnya kedinginan.


"Ada apa sih?" ketus Vino tanpa melihat si penelepon terlebih dahulu.


"Pulang saja sana!" ketus Vino mengusir.


"Aku enggak akan pulang sampai Kak Vino bukain pintu untuk aku." Suara itu tidak kalah ketus juga terdengar tegas.


Vino berdecak kesal. Ia menarik secara kasar benda pipih itu dari kabel penghubung isi daya, kemudian menonaktifkan ponsel tersebut. Setelah layar menggelap, ia pun melemparkan secara asal ponsel tersebut ke atas ranjang. Kalau saja ia melemparkan benda pipih itu ke lantai atau dinding kamar, sudah tentulah tidak akan ada yang menghubungi nomornya lagi. Namun, tanpaknya Vino masih merasa sayang.


Vino bergegas melangkah lebar keluar dari kamar. Ia berlari kecil menuruni anak tangga menuju pintu utama.


Vino membuka secara kasar pintu rumahnya itu. Lantas, berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan menutup jalan.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanya Vino dengan raut tidak bersahabat. Ia memang sengaja menampilkan ekspresi kesal agar wanita di hadapannya ini segera enyah dari sini.


"Aku bawa makanan. Sebaiknya kita makan dulu." Wanita itu tetap bersikeras, tidak menanggapi ekspresi Vino. Anggap saja lelaki itu tengah tersenyum lebar menyambut kedatangannya. Ia menunjukkan paper bag yang dibawanya. "Aku masak sendiri. Kakak Vino pasti belum makan. Mana baunya asem lagi."


"Pulang sana!" Tampaknya Vino tidak terpengaruh kali ini. Namun, sayang sekali cacing di perutnya sepertinya sudah sangat kelaparan sekarang.


"Tuh, kan, Kakak Vino lapar. Ayo makan!" Wanita itu menggandeng lengan Vino dan menarik lelaki itu agar mengikuti dirinya masuk ke rumah.


Sesampainya di dapur, Wanita itu segera mendekati meja makan, meletakkan paper bag ke atas meja.


"Kakak mandi dulu, gih. Terus kita makan. Aku juga lapar." Ia berujar pelan dengan tangan menepuk perut berulang kali.


"Kamu ngapain sih?" keluh Vino, tetaoi wajahnya tidak segarang tadi.


Cacing sialan.


"Aku juga lapar banget ini. Dari pagi belum makan. Sengaja ke sini mau mau kan sama Kakak Vino yang paling ganteng dan juga baik ini." Ia mendorong punggung lelaki itu. "Yang badannya udah sangat bauk banget. Tikus aja bakalan lari kalau mencium bauk Kakak ini."


"Kamu itu ibunya tikus. Enggak lari mencium bauk badanku," gerutu Vino.


"Ya gimana? Aku sudah terbiasa dengan bau badan kamu itu, Kak."


"Halah."


"Dah sana cepetan mandi. Aku udah lapar banget. Enggak pakai lama alias ge pe el." Ia mendorong tubuh Vino dengan keras, sampai lelaki itu sendiri yang berjalan menuju lantai atas.

__ADS_1


Dirinya memang sangat paham dengan tabiat lelaki itu. Seorang Kakak yang selalu dimanja di rumah, tentu Vino akan memunculkan sifat kekanakan seperti sekarang. Hanya butuh sedikit kelembutan saja, Vino pasti akan menurut. Ia sudah hafal dengan itu dan bukanlah masalah besar.


__ADS_2