
Entah berapa lama Olivia tertidur dalam lelap. Rasanya, sudah lama sekali dirinya tidak tidur nyenyak seperti saat ini.
Berapa waktu lama ini, Olivia selalu gelisah dalam kesedihan yang terus menggerogoti jiwanya. Bahkan, ia kekurangan waktu istirahatnya.
Olivia menggeliat, matanya mengerjap pelan sebelum terbuka lebar. Sesaat, ia bergeming di tempat. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengingat di mana dirinya sedang berada sekarang. Ketika ingatannya telah kembali dan kesadarannya telah terkumpul sempurna, Olivia segera turun dari ranjang.
Gerakannya yang tergesa -gesa membuat perut bagian bawahnya terasa keram. Olivia meringis, menunduk dengan tangan meremas perut. Ia melangkah mundur kemudian duduk di pinggir ranjang. Dengan mengatur napasnya secara perlahan, Olivia menenangkan diri.
Terdengar bunyi nada dering dari ponselnya. Kepalanya menoleh, melihat benda pipih yang diletakkannya di atas bantal berpendar menyala.
Olivia bergerak perlahan, mengambil ponselnya. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Oh, astaga, Olivia! Kamu di mana saja, Sayang. aku teleponin dari tadi enggak diangkat angkat. Apa kamu sudah sampai?"
Suara panik Vino langsung menyapa gendang telinga ketika dirinya menempalkan benda pipih itu ke telinga. Olivia sampai menjauhkan ponsel dari telinganya demi menyelamatkan indera pendengarannya.
"Maafkan aku. Tadi sampai langsung tidur dan baru bangun sekarang," sahut Olivia apa adanya.
"Coba lihat ada berapa panggilan di ponselmu itu? Ada pesan beruntun juga dariku yang tidak kamu baca. Aku khawatir, Olivia. Jangan seperti ini lagi. Kamu mengerti?" Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang sana.
Olivia bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah suaminya itu jika tengah mengkhawatirkan sesuatu.
"Maafkan aku," kata Olivia lagi.
Vino mengembuskan napas dengan kasar. Tampaknya, lelaki itu sedang meredam emosinya. "Kamu sudah makan?" tanyanya kemudian dengan suara yang lebih lembut. Tidak seperti tadi yang penuh dengan kekhawatiran dan emosi.
"Belum. Aku baru bangun, dan mau mandi dulu sekarang," jawab Olivia. Ia mengelus permukaan kasur, merasakan halusnya seprai yang membungkus alas tidurnya.
"Kamu belum mengirimkan hotel tempat menginap--"
"Oh iya. Aku memang--"
"Kak, masih teleponan ya?" Suara itu menjeda pembicaraan keduanya.
Olivia menajamkan telinga. Entahlah, ia benci sekali dengan perasaan ini. Padahal dirinya sudah mengerti jika Vino ada urusan dengan pemilik suara itu, tetapi tetap saja.
__ADS_1
"Ya." Suara Vino terdengar singkat.
"Kalau gitu aku mau mandi dulu." Olivia bangkit dari duduknya.
"Sayang ... tunggu! Aku belum selesai ngom--"
Kalimat itu tidak selesai, sebab Olivia telah memutuskan panggilan. Tidak hanya itu, ia juga menekan tombol power dengan lama sampai ponsel itu mati secara total.
Niat Olivia datang ke sini adalah untuk menenangkan diri. Maka, ia pun akan melakukan apa yang sudah diniatkan tersebut.
Mengambil handuk dari dalam koper, Olivia bergegas masuk ke kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama untuk dirinya berada di dalam bilik itu, sepuluh menit kemudian Olivia telah keluar dan mencari pakaian ganti.
Suara ketukan di pintu menginterupsi kegiatannya mencari pakaian.
"Kak, apakah sudah bangun?"
Itu suara Nadia.
"Iya, sebentar lagi keluar!" seru Olivia menjawab pertanyaan anak pemilik rumah tersebut.
"Ya! Makasih "
Lantas, suara derap langkah pun terdengar menjauh dari pintu kamar yang ditempati Olivia.
Tidak ingin jika si tuan rumah menunggunya terlalu lama, Olivia pun segara berganti pakaian, menyisir rambut dan mengenakan jilbab instan. Ia pun bergegas keluar dari kamar menuju area dapur.
Di ruang makan, Bunda Kania dan Nadia telah menunggu di meja makan.
"Gimana? Udah enakan?" tanya Bunda Kania begitu melihat Olivia datang.
"Alhamdulillah, sudah baikan, Bunda. Seger." Olivia tersenyum lebar kemudian menarik kursi dan duduk bersama mereka.
"Tadi suami kamu telepon. Katanya nomor kamu, kok, enggak aktif?" Bunda Kania menatap penuh selidik, ia sudah curiga jika sudah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga Olivia.
"Oh iya. Nanti aku telepon balik," sahut Olivia santai. Ia sedang tidak ingin membahas masalah apa pun yang berhubungan dengan masalah rumah tangganya, terutama sumber dari masalah itu.
__ADS_1
Tidak ingin bertanya lebih lanjut, Bunda Kania pun mengajak Olivia makan. Begitu pula dengan Nadia.
Tidak banyak percakapan yang terjadi di meja makan itu. Terlebih, Olivia yang tampak sekali jika sedang tidak ingin berbicara. Hingga makanan di piringnya habis, ia terus saja menunduk meneliti piring yang sudah kosong.
"Mau tambah lagi?" tanya Bunda Kania.
Satu pertanyaan tidak dijawab oleh Olivia. Lantas, Bunda Kania pun kembali bertanya. Nadia pun ikut memanggil Olivia.
"Kamu melamun? Tenang saja, Bunda tidak bilang kalau kamu ada di rumah ini, kok. Tadi Vino cuma tanya gitu apakah Bunda tahu kalau kamu ke Jakarta. Terus Bunda balik tanya ada apa, dia bilang kalau nomor kamu tidak aktif."
Tampak sekali jika wajah Olivia menyiratkan kelegaan. "Terima kasih, Bunda," katanya lirih. Lantas, Olivia mengambil minum yang telah disediakan. Menandaskannya dalam berapa kali tegukan.
"Kak Oliv ada masalah ya sama suaminya?" Nadia penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Hush, anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa," tegur sang bunda yang tentu saja langsung membuat Nadia cemberut.
"Padahal aku juga udah besar lho, Bunda," protes Nadia tidak terima.
"Iya udah besar, tapi belum boleh menikah kan. Harus menyelesaikan kuliahnya dulu." Bunda Kania tidak mau kalah menjawab aksi protes sang putri.
Sementara itu, di tempat berbeda Vino tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dikerjakan. Semuanya menjadi serba salah baginya. Rupanya, baru sehari saja dirinya ditinggalkan oleh Olivia bagai seratus tahun saja.
Raisya datang ke kantor, meminta bantuan lagi. Namun, Vino sedang tidak bisa berkonsentrasi. Terlebih, saat ini nomor ponsel sang istri justru tidak aktif. Apakah Olivia tidak tahu jika ia merindukannya setengah mati? Istrinya itu seperti sengaja mengabaikan panggilannya saja.
"Sudahlah Raisya, kamu bersembunyi saja di dalam rumah. Biar enggak diganggu orang. Kan, sudah Kakak bilang .... enggak baik pacaran itu. Tapi kamu Gonta ganti terus sama banyak lelaki. Akhirnya begini kan? Lagi pula, mantan pacar kamu itu sudah dijebloskan ke penjara. Mau apa lagi, sih? kakak lagi pusing sekarang." Vino mengomel dan terus saja mengomel.
"Mama membujukku agar mau menikah dengan Kakak."
Perkataan Raisya seperti petir di siang bolong yang menyambar Vino. Ia mendongak, menegakkan punggung dan menatap tajam ke arah Raisya yang sedang tertunduk.
"Mama terlalu ikut campur masalah anaknya. Kita adik kakak dan selamanya akan seperti itu." Vino berkata tegas.
"Mana ada adik kakak yang berciuman, Kak? Lagi pula, perhatian Kakak ke aku melebihi perhatian Kakak ke istri Kakak sendiri kan? Wajar kalau Mama berpikir begitu lagi."
Langit Vino seakan runtuh. Ia tidak bisa berkata apa pun untuk membalas ucapan Raisya.
__ADS_1