
Enam bulan kemudian ....
Adelle dan Kenzo pergi bersama meninjau Hotel cabang yang baru. Mereka memeriksa memeriksa ulang seluruh bagian, mulai dari gedung, keamanan, staf dan lain-lain. Kenzo ingin pembukaan Hotel cabangnya benar-benar sempurna tanpa cela.
"Bagaimana rasanya punya banyak gedung setinggi ini, Ken?" tanya Adelle. Yang sedang menatap gedung Hotel. Ia dan Kenzo baru saja dari Caffe untuk minum kopi bersama.
"Rasanya biasa saja. Hm, tapi lumayan juga. Ya, maksudku ... kalau aku bosan tidur di Hotel pusat, aku bisa ke cabang pertama, atau ke cabang ke dua atau ke sini." jawab Kenzo yang juga menatap gedung Hotelnya.
"Enak sekali. Kamu bisa pindah ke mana saja. Dan lagi menikmati fasilitas gratis." kata Adelle.
"Kamu juga bisa sepertiku, kalau kamu mau." sahut Kenzo.
Adelle tersenyum, "Mana bisa. Aku kan tidak punya gedung Hotel. Yang aku punya apartemen." jawab Adelle.
"Bukankah ada aku. Aku bisa memberikanmu semua milikku tanpa terkecuali." kata Kenzo.
Adelle menatap Kenzo, "Kamu demam? bicaramu aneh," kata Adelle menggelengkan kepala.
"Dia bicara apa? Memberikan semua miliknya, katanya? Memangnya aku ini siapanya? kami hanya teman sekaligus rekan kerja. Ya, kami memang dekat lebih dari teman pada umumnya. Tapi kan ... kata-katanya bisa saja membuatku salah paham mengira dia punya rasa padaku. Ahh ... apa yang kupikirkan? aku tidak akan berharap apa-apa, karena tidak mau tersakiti lagi. Sekelas Kenzo, pasti banyak wanita diluaran sana yang mengantri hanya untuk bisa sekadar berkenalan, kan. Lagipula, aku sudah pernah bercerai. Mana mungkin Kenzo mau denga wanita bekas pria lain." batin Adelle. Yang berpikir, Kenzo salah bicara dan tidak ingin salah paham dengan ucapan Kenzo.
Sedangkan Kenzo mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Ia serius akan memberikan apa saja yang Adelle inginkan, sekalipun itu nyawanya.
"Apa yang salah? aku kan memang akan memberikan semua milikku padanya. Kalau dia mau menjadi istriku, ah ... tidak, mungkin kita mulai dengan kencan terlebih dulu. Setelah kencan kita berpacaran, lalu menikah. Begitu kan urutannya seperti yanga ada di film-film?" batin Kenzo.
Sejauh Kenzo mengenal Adelle. Sedalam itu pula perasaan Kenzo pada Adelle. Perlahan perasaan kagum dan sukanya berkembang menjadi sayang, sampai tidak ingin kehilangan dan selalu merindu, meski setiap hari bertemu.
__ADS_1
Ini pertama kalinya bagi Kenzo, ia merasakan jantungnya berdebar dan bahagia hanya karena Adelle sering memuji masakannya dan selalu menghabiskan makanan yang dibuat kenzo. Ia senang, Adelle yang dulu membuat jarak dan membangun tembok pembatas, kini mulai dekat dengannya.
"Apa aku beritahu dia saja, perasaanku, ya?" batin Kenzo.
Adelle hendak melangkah, tapi Kenzo memegang tangan Adelle dan memanggil Adelle.
"Adelle ... " panggil Kenzo.
Adelle berbalik menatap Kenzo, "Ya?" tanya Adelle.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Kenzo.
"Katakan saja, apa itu?" tanya Adelle.
"Hmm ... ini mungkin terdengar aneh. Kita juga baru mengenal beberapa bulan. Tapi percayalah, kalau aku memiliki perasaan tulus padamu. Aku tidak pandai bicara tentang cinta atau melakukan hal-hal romantis seperti pria lain. Tapi aku bisa menjamin semua yang aku miliki akan menjadi miliku. Mau itu uang, gedung hotel, apartemen, semua kekayaanku. Bahkan hati dan tubuhku, juga nyawaku sekalipun. Semuanya akan kuberikan padamu tanpa terkecuali. Jadi ... bisakah kamu mempertimbangkan perasaanku? aku ingin mengenalmu lebih, lebih dan lebih dalam lagi. Aku ingin membuatmu tersenyum. Ingin melakukan semuanya denganmu juga. Juga, ingin menyembuhkan luka dalam hatimu." kata Kenzo sambil menundukkan kepala. Ia malu bercampur takut untuk menatap Adelle yang berdiri dihadapannya.
Adelle terkejut. Ia tidak percaya Kenzo yang selama ini ia kenal dan dekat dengannya sedang menyatakan perasaan cinta padanya. Adelle tidak habis pikir, kenapa harus dia? kenapa bukan wanita lain?
"Apa aku sedang bermimpi? ini tidak mungkin, kan?" batin Adelle.
"Ken ..." panggil Adelle.
"Ya?" jawab Kenzo masih dengan menunduk.
"Lihat aku, Ken ..." kata Adelle mengusap wajah Kenzo.
__ADS_1
Kenzo ragu-ragu mengangkat wajah dan menatap Adelle. Wajah Kenzo tegang, bahkan dahi Kenzo sampai berkeringat.
"Ada yang mau aku katakan juga. Kamu kan tahu, aku sudah pernah menikah, lalu bercerai. Dan aku hanya wanita biasa-biasa saja yang punya perusahaan kecil yang bahkan gedungnya hanya lima lantai. Sebagai seorang pembisnis sukses yang bisa mendapatkan segalanya hanya dengam jentikan jari, apakah kamu bisa menerima semua itu? aku yang seperti ini, baik itu sifat, sikap karakter bahkan keadaanku?" tanya Adelle menatap Kenzo.
Kenzo menganggukkan kepala, "Aku tidak masalah, meski kamu pernah menikah. Aku juga tidak apa-apa meski kamu hanya wanita biasa-biasa saja. Setelah menikah denganku, bukankah kamu akan jadi wanita luar biasa? Kamu akan menjadi Nyonya Adelle Jonathan. Jangan berpikir selama kita kenal dan bersama aku tidak tahu sifat, sikap dan karaktermu. Aku tahu semuanya dan aku menyukainya. Sungguh, ini bukan kebohongan." jawab Kenzo sungguh-sungguh.
"Apa kamu bisa aku percaya, Ken? Jujur saja, setelah berpisah dari James. Sulit bagiku, untuk menerima pria lain. Aku takut akan dikhinati lagi. Aku tidak bisa menerima pengkhianatan, Ken. Tidak bisa." kata Adelle menangis.
"Jangan menangis! aku berjanji. Ah, tidak. Aku tidak mau janji, tapi aku aka buktikan kalau aku lebih baik dari pria manampun. Aku juga membenci pengkhianat, makadari itu aku tidak akan mungkin menjadi pelakunya. Kamu bisa pegang kata-kataku ini. Kalau aku berbohong, aku bersedia mati ditangammu. Ya, bunuh saja aku. Lakukan apapun yang kamu ingin lakukan padaku. Aku akan menerimanya dengan senang hati." jawab Kenzo menyakinkan Adelle.
Kenzo menyeka air mata Adelle. Ia menatap Adelle dengan penuh rasa cinta. Adelle memeluk Kenzo dengan erat. Ia membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Kenzo. Kepala Adelle diusap lembut oleh Kenzo. Punggung Adelle juga ditepuk-tepuk perlahan.
Setelah puas menangis, Adelle melepas pelukan dan menatap Kenzo. Lagi-lagi Kenzo menyeka air mata Adelle.
"Apa arti tatapanmu ini? apa artinya aku diberi kesempatan?" tanya Kenzo menatap Adelle.
Adelle menganggukkan kepala, "Ya, ayo kita coba. Bukankah kamu bilang kamu mau membuatku bahagia dan terus tersenyum, juga akan memberikan semua milikmu? awas saja kalau kamu berbohong. Aku tidak akan pernah memaafkanmu meski kamu menangis darah," kata Adelle, setengah serius. Ia hanya sekadar menakuti Kenzo.
"Apa yang kamu inginkan sekarang? apapun akan aku berikan," tanya Kenzo.
Adelle tersenyum, "Berikn aku makan malam yang enak nanti, ok?" kata Adelle.
"Hanya makan malam? kalau makan akan aku buatkan sampai kamu bosan. Apa tidak ada hal lain?" tanya Kenzo.
Adelle tsrsenyum, ia berbalik dan pergi meninggalkan Kenzo begitu saja. Sedangkan Kenzo yang tidak mengerti hanya diam mematung.
__ADS_1