
James dan temannya keluar dari reatoran. Teman James meminta James untuk tenang. Ia tidak tahu, apa alasan James bersikap tidak sopan pada mantan istrinya dan calon suami mantan istrinya.
"Kamu sudah gila, ya? bisa-bisanya kamu seperti itu tadi," kata teman James menatap James.
"Memangnya aku salah ingin bicara berdua dengan Adelle?" tanya balik James mengerutkan dahinya.
Teman James menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas. Ia menggelengkan kepala, tidak tahu harus apa.
"Aku tidak mengerti isi dalam kepalamu, James. Dia mantan istrimu, mantan! bukan siapa-siapamu lagi. Kalian tidak memiliki hubungan apa-apa lagi setelah bercerai. Tapi tadi, kamu dengan tidak tahu malu mengajak mantan istrimu itu bicara berdua. Itu tindakan yang tidak sopan. Kamu tidak lihat, mantan istrimu sudah memiliki calon suami? kamu tidak malu?" kata teman James memarahi James.
James tetap saja membela dirinya dan membenarkan tindakannya yang tisak tahu malu. Temanya sangat kesal sampai akhirnya menampar James agar sadar diri. Ia tahu James memang orang yang keras kepala dan egois, tapi ia tidak mau melihat James terus menerus bertindak sesuka hati.
"Sadarlah, James! mau sampai kapan kamu seperti ini, hah? aku bisa gila punya teman sepertimu. Dasar sialan!" kata Teman James kesal.
James terdiam. Ia menundukkan kepala tanpa menyanggah ataupun menjawab apapun. Ia sendiri tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkannya, sampai ia dengan berani meminta bicara berdua saja dengan Adelle.
Teman James mengajak James untuk pulang. Ia mengatakan akan mengantar James sampai rumah, karene kebetulan rumah keduanya searah.
***
Sementara itu di dalam restoran. Adelle dan Kenzo sedang menikmati makan malam bersama dengan tenang tanpa gangguan. Mereka membicarakan rumah, dan segala hal yang diperlukan.
Saat ditanya Kenzo, apakah Adelle suka dengan kejutan yang ia berikan? Adelle menjawab, ia sangat suka.
"Terima kasih, Ken." ucap Adelle tersenyum cantik.
"Sama-sama. Aku senang kamu menyukainya. Rumah itu kan aku bangun dengan memilih design yang asal saja. Maksudku aku tidak meminta detail yang seperti ini itu pada arsitek. Aku hanya minta dibuatkan ruang tengah dan halaman belakang yang luas saja saat itu. Sisanya aku serahkan pada yang membuat gambar designnya." jelas Kenzo.
Adelle tersenyum, "Kamu lucu sekali saat menjelaskan, Ken. Apa kamu sebegitunya takut aku tidak suka? apa yang kamu khawatirkan? Saat kamu akan memberiku sesuatu, pikirkan saja kalau aku pasti akan menyukainya. Jangan memikirkan hal selain itu, ok." kata Adelle.
Adelle meminta Kenzo tidak terlalu sungkan dan takut padanya. Ia juga meminta Kenzo untuk mengingatkannya kalau-kalau Adelle salah akan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu boleh lebih berani, Ken. Jangan hanya mengalah padaku. Seperti kamu yang mau memberiku semua cinta, aku juga ingin begitu. Aku juga mau memberi, tidak hanya mau menerima." kata Adelle.
"Kalau begitu, mari.kita saling memberi dan menerima tanpa batasan. Aku seperti itu karena menghargaimu, Adelle. Aku tidak mau menjadi egois, dan mementingkan keinginanku sendiri. Jangan terlalu terbebani dengan sikapku. Lagipula aku seperti itu juga hanya padamu," kata Kenzo.
Adelle mengerutkan dahi mendengar apa yang Kenzo katakan. Ia tidak tahu apa maksud ucapan kekasihhya itu.
Kenzo dan Adelle menyelesaikan makan mereka dengan segera agar tidak pulang terlalu malam.
***
Kenzo mengantar Adelle sampai di parkiran apartemen. Ia tidak ikut pulang karena harus kembali ke Hotel mengurus sesuatu.
Mendengar alasan Kenzo, Adelle lantas memutar akalnya. Ia pun merengek minta diajak saja ke Hotel. Adelle mengatakan, ia tidak mau jauh dari Kenzo.
"Ajak aku," kata Adelle dengan mata berbinar.
"Sayang, kamu tidak lelah?" tanya Kenzo menatap Adelle.
Kenzo tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak bisa menolak keinginan kekasihnya untuk ikut bersamanya.
"Baiklah. Begini saja, sampai Hotel kamu langsung tidur di kamar, ya. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan langsung kembali ke kamar." kata Kenzo tidak mau ada tawar menawar lagi dari Adelle.
Adelle menganggukkan kepala setuju. Ia akan menurut dengan apa yang Kenzo katakan asalkan diajak. Kenzo mengusap wajah Adelle, ia senang kalau kekasihnya itu mau ikut, tapi ia takut kalau sampai Adelle jatuh sakit.
Kenzo mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan parkiran apartemen menuju Hotel.
***
Dalam perjalanan, ponsel Adelle berdering. Adelle mengambil ponselnya di dalam tas. Saat ia melihat layar ponsel, ia pun langsung mengernyitkan dahi.
Melihat Adelle yang hanya diam saja tidak menjawab, Kenzo pun bertanya siapa yang menghubunginya.
__ADS_1
"Siapa, sayang?" tanya Kenzo.
Adelle memberika ponselnya, "Mau menerimanya dan katakan sesuatu?" tanya Adelle masih dengan wajah murung.
Kenzo menepi, lalu menghentikan laju mobilnya. Ia menerima ponsel Adelle dan melihat layar ponsel. Hanya tertera nomor tanpa nama.
"Apa ini dia?" tanya Kenzo.
Adelle menganggukkan kapala, "Aku tidak mau menerimanya, tapi kalau aku abaikan dia akan terus menelepon sampai aku angkat. Kalau kamu tidak keberatan, bisakah kamu menggantikanku menerimanya? katakan saja aku sudah tidur atau apapun itu. Dan minta dia untuk tidak menghubungiku lagi." kata Adelle.
Ponsel Adelle kembali berdering, Kenzo langsung menggeser panel hijau di layar ponsel untuk menerima panggilan dan mengaktifkan pengeras suara. Ia mau Adelle juga dengar apa tujuan James menelepon.
"Hallo, Adelle ... " panggil James.
"Adelle, kamu dengar aku, Hallo?" sambung James.
"Ada apa? Adelle sudah tidur," jawab Kenzo.
James terkejut dan langsung bertanya, apakah Adelle dan Kenzo sudah tinggal bersama? Kenzo tanpa ragu menjawab "Ya".
James diam, begitu juga Kenzo. Kenzo menatap Adelle, kedua bahu Adelle terangkat seolah menjawab tatapan mata Kenzo yang sedang bertanya.
Tidak lama James kembali bersuara. Ia mengatakan, apakah tidak sebaiknya menikah dulu, baru tinggal bersama? James berbicara dengan nada tak biasa seolah sedang kesal.
"Apa kamu sedang mabuk? Ucapanmu membuatku kesal. Bukankah seharusnya kamu tidak ikut campur apapun yang aku dan Adelle lakukan? mau kami begini atau begitu, itu bukan urusanmu. Urus saja masalahmu sendiri, urus juga hidupmu sendiri. Mengerti?" kata Kenzo dengam nada suara dingin.
"Sialan! kamu menganggapku penganggu begitu?" kesal James.
"Lalu apa kalau bukan penganggu? Kamu berpikir atau tidak sebelum menelepon, hah? ini jam berapa, dan siapa yang kamu telepon. Ini peringatan terakhir, jangan hubungi wanitaku lagi. Paham!" Kata Kenzo memperingatkan.
"Hahaha ... kamu pria yang kasar, ya. Apa Adelle tahu sisimu yang seperti ini?" tanya James kembali memancing emosi.
__ADS_1
"Adelle tahu semuanya. Kenapa? apa kamu mau memberitahu Adelle, jika dia belum tahu? Kamu ingin mengusik hubungan kami? Aku jadi penasaran, apa tujuanmu menghubungi Adelle dan terus memancing emosiku. Apa kamu merasa tidak nyaman saat mantan istrimu menemukam calon suami baru? Lalu bagaimana dengammu? Kamu tidak berpikir dulu sebelum berselingkuh. Dasar pria sampah!" umpat Kenzo kesal yang langsung mengakhiri panggilan James.