
Sudah sepuluh menit Olivia duduk di ruang tunggu. Tangannya masih digenggam erat oleh Vino, seakan lelaki itu enggan untuk melepaskan.
Oh, ayolah Olivia! Jangan bersedih!
Hati Olivia seakan menjerit sakit melihat wajah kusut Masai sang suami. Lelaki itu seperti seorang suami yang teramat sangat mencintai istri dan tidak mau ditinggal pergi.
Please! Jangan lemah, Olivia!
Olivia beranjak dari duduknya. Ia menatap ke arah lain demi menghindari tatapan aneh sang suami.
"Aku harus masuk, Kak," kata Olivia sembari menarik tangan dari genggaman Vino yang enggan melepaskan.
"Tapi ...." Suara Vino seakan tercekat di tenggorokan. Ia kehabisan kata. Rasanya ... berat sekali untuk melepaskan kepergian istrinya itu.
Tenanglah, Vino. Hanya seminggu saja kalian berpisah.
Pasalnya, selama mereka menikah, Olivia tidak pernah sedikit pun meninggalkan dirinya sendirian. Kecuali, dirinya lah yang meninggalkan Olivia sendirian di rumah.
Oh, sial sekali.
"Aku harus pergi. Nanti aku kabari kalau sudah sampai. Oke." Olivia memasang senyum selebar mungkin. Ia juga mencium pipi sang suami lebih dulu. Lupakan rasa malunya di tempat umum begini.
"Baiklah. Jangan lupa kabari aku ya." Vino meminta sungguh -sungguh. Ia menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan. Vino memeluk erat, seakan itu adalah pelukan terakhirnya.
"Hei! Aku hanya liburan. Tidak sukakah kamu jika aku bahagia?"
"Suka. Tentu aku adalah orang yang pertama kali akan merasakan kebahagiaan saat kamu bahagia, Olivia." Vino berkata yakin.
Akhirnya, perpisahan itu pun terjadi. Vino melepaskan pelukannya dan melepaskan tangan Olivia di genggaman. Ia melambaikan tangan sebagai perpisahan. Namun, saat tubuh Olivia telah sampai di pintu masuk, Vino mengejar dan memeluk tubuh itu dengan erat dari belakang.
"Aku mencintaimu, Olivia. Aku sangat mencintaimu," bisiknya dengan kesungguhan.
Olivia tidak membalas. Ia juga tidak berbalik untuk membalas pelukan itu. Saat Vino melepaskan pelukannya, ia pun segera melangkah cepat tanpa berbalik. Olivia tidak tahu jika Vino tahu bahwa dirinya sedang menangis sekarang.
__ADS_1
***
Olivia sampai di rumah Bunda Kania -mamanya Nadia. Benar kata Bunda jika Nadia sangat antusias menunggunya sampai. Bahkan, anak gadis itu sampai rela tidak masuk kuliah hari ini demi menjemputnya datang.
"Aku senang sekali Kakak sampai di sini sekarang," kata gadis itu dengan riang. Wajahnya tampak sekali menunjukkan rasa bahagia.
"Aku juga senang, Nadia. Ini pertama kalinya aku aku ibu kota. Wah, sangat ramai sekali. Berbeda sekali dengan kota kita." Olivia berkata jujur. Di tempatnya tinggal, tidak ada gedung -gedung yang menjulang tinggi seperti di sini.
Jika dulu dirinya hanya melihat di layar televisi, kini ia bisa melihat dengan jelas. Mulutnya sampai terus terbuka lebar karena saking takjubnya.
"Kapan-kapan aku ajak ke kampusku. Atau Kakak mau lanjut sekolah lagi?" Nadia masih dengan penuh semangat.
Sekarang keduanya tengah mengobrol di kamar tamu.
Tadi, Bunda meminta Olivia istirahat dan Nadia yang mengantarkannya ke kamar. Namun, gadis itu justru tidak mengizinkan dirinya untuk beristirahat barang sejenak.
Untung saja perjalanan yang ditempuh tidak menekan waktu sampai satu hari, sehingga tubuhnya tidak terlalu pegal. Hanya, sedikit mengalami jetlag karena ini adalah pertama kali untuk Olivia naik pesawat. Pengalaman pertama yang tidak akan pernah terlupakan.
"Kalau itu gampang. Bunda bisa mengajarimu. Dia jago sekali." Nadia mengacungkan ibu jarinya.
Seketika, wajah Olivia cerah berkali kali lipat. Ia seperti mendapatkan harta karun yang telah lama dicarinya. Ah, beruntung sekali dirinya memutuskan liburan ke sini. Bunda bisa semuanya.
Pintu kamar diketuk lalu dibuka lebar. Bunda Kania menatap kedua orang itu dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"Bukankah Bunda menyuruh kamu mengantarkan Olivia, Nadia? Bukan untuk diajak mengobrol," tanya Bunda dengan mata menyipit.
Nadia sudah membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang bunda saat Olivia yang berbicara lebih dulu.
"Oh, maafkan saya, Bunda. Keasyikan mengobrol dengan Nadia sampai lupa kalau mau istirahat. Lagi pula, saya enggak lelah, kok, ini."
"Baru sebentar di Jakarta, bahasa kamu udah formal begitu, Olivia," sindir Bunda dengan kekehan pelan.
"Oh, ya ampun!" Olivia memekik tertahan. Tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia menutup mulut dengan kedua tangan. Olivia sangat malu.
__ADS_1
"Bund, Kak Oliv mau belajar menyulam. Bunda kan jago, bisalah langsung ajarin nyulam," celetuk Nadia.
Tentu saja perkataan itu membuat Bunda mendelik kaget. "Apa itu artinya kamu akan lama di sini?" tanyanya langsung.
"Aku ingin cari kontrakan sih, Bund." Olivia tidak lagi menutupi. "Karena Kak Vino kan tahu dengan nomor Bunda. Enggak mungkin juga kalau kalian berdua lost kontak kan." Ia mengedikkan bahu.
"Rumah tangga Kak Oliv lagi kacau ya?" Pertanyaan polos itu menyadarkan dua orang dewasa yang tengah berbicara serius. Tidak seharusnya mereka membicarakan masalah rumah tangga saat ada Nadia di tengah tengah mereka.
"Oh, enggak gitu juga, Nadia. Hanya ada sedikit masalah." Olivia meringis tidak enak hati.
"Ya sudah, Sayang. Ayo keluar! biarkan kak Olivia mandi dan kita tunggu saja di meja makan," ajak Bunda kemudian yang disetujui Nadia.
Gadis itu segera beranjak dari ranjang, mendekati sang Bunda. "Dah, Kak Oliv. Sampai ketemu di meja makan ya," ujarnya.
Belum sempat kedua ibu dan anak itu keluar dari kamar tamu. Terdengar nada protes sang putri. "Bunda, aku kan udah dewasa. Sudah tahu dong masalah rumah tangga apalagi kalau cuma pertengkaran begitu. Bunda dan ayah juga sering bertengkar."
"Hahahah. Bunda tertawa lebar. Iya, pertengkaran biasa kan?"
"Iya, sampai Ayah tidur di depan tv," sahut Nadia ketus.
Olivia yang mendengar percakapan itu kontan tersenyum tipis. Apa memang sikapnya sekarang sudah keterlaluan. Bukankah hal yang biasa jika sepasang suami istri itu bertengkar?
Entahlah. Yang jelas, dirinya ingin menenangkan diri sekarang.
Saat Olivia beranjak dari ranjang hendak ke kamar mandi. Tiba-tiba saja perut bagian bawahnya sakit. Oh, jangan sampai terjadi apa-apa dengan perutnya.
"Kamu kuat, Nak. Walaupun tidak ada Papa di antara kita sekarang."
Olivia memilih berbaring, urung untuk mandi. Ia merogoh sesuatu dari dalam tas. Sebuah alat tes kehamilan yang ia pakai beberapa hari lalu, ada dua garis yang tergambar di sana. Dan, karena itu pula dirinya memilih kabur ke sini.
Olivia ingin ketenangan. Cukup keguguran yang dialaminya beberapa kali lalu, juga kematian Alvin yang mengguncang jiwanya. Ia ingin, untuk kehamilan kali ini dirinya merasa nyaman dan tenang. Walaupun harus menjauh dari semua orang.
Kelopak mata Olivia terasa berat. Ia pun tertidur, tidak terdengar suara dering ponsel yang meraung-raung memanggil dirinya.
__ADS_1