Cincin Kedua

Cincin Kedua
CK (20)


__ADS_3

Saat Adelle sedang sibuk bekerja. Pintu ruangannya diketuk, dan Sekretarisnya buru-buru masuk ke dalam ruanga hendak menyampaikan sesuatu hal yang penting.


"Bu Direktur ... " panggil Jessica, Sekretaris Adelle.


Adelle memalingkan pandangan kepada Jessica, "Ada apa? kamu berlarian di kantor? napasmu sampai terengah-enggah begitu." tanya Adelle.


"Bu, Tuan dan Nyonya besar datang dan menunggu Anda di ruang tunggu." jawab Jessica memberitahu.


Adelle menepuk dahinya, "Ahh ... aku lupa memberitahumu. Mereka memang akan datang. Maaf, ya. Kamu tidak perlu khawatir, mereka sudah tahu lama soal perceraianku dan James. Mereka datang karena ingin membicarakan bisnis. Kamu bisa kembali bekerja, Jessica." kata Adelle menjelaska, lalu meminta Jessica melanjutkan pekerjaannya.


"Oh, begitu. Saya mengira Anda akan kena marah. Baik, Bu. Saya akan lanjutkan pekerjaan saya. Selamat berbincang bersama orang tua Anda. Permisi," kata Jessica berpamitan, dan langsung pergi meninggalkan Adelle.


Karena Papa dan Mamanya sudah datang, Adelle mau tidak mau harus menunda pekerjaannya dan menemui orang tuanya.


***


Sementara itu di ruang tunggu. Ferdinan dan Arianna duduk tenang menunggu datangnya putri kesayangan mereka.


Arianna menatap sang suami, bertanya apakah sudah menghubungi Adelle dan memberitahu sebelumnya, jika ingin datang ke kantor?


Ferdinan menganggukkan kepala. Tidak mungkin bagi Ferdinan datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Adelle lah yang meminta pada Ferdinan untuk datang ke kantor, karena rumah lama Adelle sudah terjual, dan ia sudah pindah ke apartemen.


Saat Ferdinan dan Arianna sedang berbincang. Pintu ruang tunggu diketuk perlahan. Tidak lama pintu terbuka dan Adelle pun masuk ke dalam ruang tunggu.


"Pa, Ma, maaf menunggu lama. Aku sedikit sibuk," kata Adelle. Berjalan mendekati Papa dan Mamanya.


Arianna berdiri menyambut Adelle dan langsung memeluk erat Adelle. Arianna menangis, sudah lama ia merindukan putrinya itu.


"Mama merindukamu, Adelle." kata Arianna.


"Adelle juga merindukan Mama. Apa Mama sehat?" tanya Adelle.

__ADS_1


Arianna melepaskan pelukan, ia menatap Adelle dan menganggukkan kepala menjawab, jika ia baik-baik saja. Arianna mengusap wajah Adelle, bertanya apakah putrinya itu baik-baik saja?


Adelle tersenyum, "Aku baik-baik saja, Mama. Jangan khawatir," kata Adelle.


"Syukurlah, Mama sangat khawatir sejak hari itu. Maaf, kami baru bisa datang sekarang. Papamu tidak bisa bepergian jauh karena kesehatannya menurun." jelas Arianna.


Adelle menatap Ferdinan, "Papa ... " panggil Adelle.


Adelle langsung memeluk Papanya dengan erat dan menangis tersedu-sedu. Ia merasa bersalah, juga sedih karena Papanya sempat sakit.


"Maaf, Pa. Maafkan Adelle." kata Adelle sesenggukkan.


Ferdinan menepuk pelan punggung putri kesayangannya dan mengusap kepala putrinya itu. Ia juga sedih, saat tahu putrinya bercerai dan apa alasan perceraian itu terjadi.


"Papalah yang harusnya minta maaf, sayang. Saat kamu sendirian, sedih dan butuh penghiburan, Papa dan Mama jauh darimu." kata Ferdinan.


Adelle menatap Papanya dan menggelengkan kepala. Ia mengatakan, jika ia lah yang bersalah karena tidak berani langsung datang menemui Papa dan Mamanya untuk bicara dan hanya memberitahu lewat pesan.


"Kita bisa cari orang dan mempekerjakannya menggantikan posisimu," kata Ferdinan menyeka air mata Adelle.


"Adelle baik-baik saja, Pa. Aku manangis karena merasa bersalah, saat ingat hari itu. Bahkan aku tidak pernah menerima panggilan Papa ataupun Mama karena tidak ingin mendengar Papa dan Mama bertanya ini dan itu. Jujur saja, aku malas menjelaskan berulang-ulang alasan kenapa perceraianku dan James bisa teejadi. Terlebih saat tahu Papa sakit, aku semakin takut bicara pada Papa." jelas Adelle.


Adelle mengatakan dengan tegas, jika saat ini Papa dan Mamanya tisak perlu lagi khawatir. Adelle sudah tidak sedih karena perceraian ataupun terpuruk. Karena Adelle sudah bertemu seseorang yang bisa membahagiakannya.


Saat ditanya siapa orang itu oleh Mamanya, Adelle berniat mempertemukan orang tuanya dengan Kenzo dan makan malam bersama. Arianna setuju, begitu juga Ferdinan. Mereka penasaran, juga ingin tahu siapa pria yang bisa membuat putri mereka berseri-seri.


Adelle pun menceritakan semuanya pada Papa dan Mamanya tentang awal mula perceraian terjadi. Tentang bagaimana ia memergoki James yang sedang ada berduaan dengan wanita lain.  Bahkan saat Adelle bertemu Mama James pun, diceritakan. Ferdinan dan Arianna seksama mendengar cerita putri mereka. Bagi keduaya, Adelle adalah harta satu-satunya milik mereka yang tidak akan pernah tergantikan.


***


Adelle datang dengan Papa dan Mamanya. Mereka munggu Kenzo yang masih dalam perjalanan dan hampir sampai. Sembil menunggu, Adelle memesan minum untuknya, Papa dan juga Mamanya. Sekalian ia memesan hidangan makan malam. Dan meminta pelayan menyajikan hidangan setelah seseorang yang ditunggu datang.

__ADS_1


Tidak lama Kenzo datang. Adelle terkejut, karena ternyata Kenzo tidak datang sendirian. Melainkan bersama sang Kakek.


"Maaf, kami terlambat." kata Kenzo.


"Oh, tidak apa-apa. Kamu tidak bilang datang bersama ... " kata-kata Adelle terhenti. Karena belum mengenal siapa orang yang dibawa Kenzo.


"Ini Kakekku, Adelle. Kakek, Ini Adelle, wanita yang aku ceritakan. Dan ini orang tua Adelle," kata Kenzo memperkenalkan Kakeknya pada Adelle, juga pada Papa dan Mama Adelle.


"Hallo, aku Eric Jonathan. Senang bertemu kalian. Terutama kamu, cucu menantuku." kata Eric, Kakek Kenzo.


"Hallo, Tuan." sapa Papa Adelle.


"Senang bertemu Anda," kata Mama Adelle.


"Ha-hallo, Kakek. Senang bertemu Kakek. Oh, ya, Ken. Ini Papaku, ini Mamaku. Pa, Ma, ini Kenzo." kata Adelle mengenalkan Papa dan Mamanya pada Kenzo.


"Hallo, Paman, Bibi. Saya Kenzo Jonathan. Senang bertemu Anda berdua, dan mohon maaf karena saya datang membawa Kakek tanpa pemberitahuan lebih dulu." kata Kenzo.


"Oh, Hallo, Nak. Kamu sangat tampan," puji Mama Adelle.


"Tidak apa-apa. Justru aku senang kamu menganjak Kakekmu, Ken." kata Papa Adelle memuji.


Kenzo tersenyum menatap Adelle, Adelle juga tersenyum cantik menatap Kenzo. Wajah keduanya memerah.


Eric berbincang dengan Papa dan Mama Adelle. Membicarakan tentang bisnis masing-masing.


Adelle mendekatkan wajahnya ke wajah Kenzo, "Kamu mengejutkanku. Aku mengira kamu datang terlambat karena macet di jalan. Ternyata menjemput Kakek, ya?" tanya Adelle.


"Maaf, ya. Apa kamu terkejut? karena kamu bilang mau mengenalkanku pada Papa dan Mamamu. Aku pun berpikir mengenalkanmu pada Kakekku. Aku kan tidak punya orang tua lagi. Keluarga yang aku miliki hanya Kakekku," bisik Kenzo.


Adelle terlihat sedih. Ia bukanya ingin mengejek Kenzo saat mau memperkenalkan orang tuanya. Ia hanya mau orang tuanya tahu, siapa pria yang bisa membuat putrinya kembali tersenyum bahagia. Adelle meminta maaf, ia merasa bersalah.

__ADS_1


Kenzo memegang tangan Adelle dibawah meja. Meminta Adelle tidak berpikir yang macam-macam. Kenzo juga ingin Kakeknya tahu, jika Adelle lah satu-satunya wanita yang bisa membuat hati cucunya berdebar sampai rasanya ingin meledak.


__ADS_2