
Waktu- waktu pun berlalu. Olivia sangat bersyukur karena pada kehamilan ini tidak mengalami muntah yang berlebihan. Hanya di waktu pagi saja, saat dirinya bangun tidur dan belum sarapan ia akan memuntahkan semua isi perutnya.
Akan tetapi, setelah perutnya terisi dengan segelas susu hamil lalu ditambah buah dan makan berat, perutnya itu akan baik -baik saja. Tidak ada ngidam yang berarti dan juga tidak ada rasa sakit yang pernah dialami seperti awal -awal kehamilan.
Beberapa kali Vino telah meminta dirinya untuk beristirahat secara penuh di rumah saja. Tidak usah memikirkan pekerjaan, tidak usah pula mengurus secara langsung cabang usaha mereka. Namun, Olivia merasa bahwa dirinya baik -baik saja, tidak ada keluhan apa pun. Kata dokter tempat mereka memeriksakan kandungan pun menyatakan sehat.
Padahal, Olivia pernah mengalami keguguran. Namun, keajaiban itu selalu ada pada setiap lini kehidupan. Tanpa bisa diterka apa lagi dibayangkan sebelumnya.
Untuk itu, Olivia selalu menolak segala hal larangan yang Vino utarakan. Ia merasa baik -baik saja dan bisa melakukan apa saja. Justru jika berdiam diri saja, tubuhnya akan terasa pegal dan tak nyaman.
Rupanya, usaha Vino tak main -main. Lelaki itu meminta kepada karyawan Olivia untuk menjaga dan melaporkan segala hal tentang keadaan dirinya. Kali ini, Olivia tak bisa memperotes apa lagi membantah. Akhirnya ia hanya bisa menurut saja dengan kepasrahan tinggi.
"Bu, jangan makan pedes. Nanti dedek bayinya kepedesan, lho."
__ADS_1
Itu suara Santi yang menegur. Olivia hendak menyuap sambal cumi ijo ke mulutnya, tetapi diurungkan karena mendengar suara teguran itu. Ia berdecak kesal lalu melotot dengan ekspresi garang ke arah Santi yang menatapnya dengan serius.
"Beneran lho, Bu. Nanti dedek bayinya kepedesan kasihan lho," ujar Santi lagi. Kini dengan tatapan memelas.
"Mana ada begitu. Aku cuma makan sedikit kok, enggak akan kepedesan," bantah Olivia. Lantas, ia pun melanjutkan suapannya ke mulut. Matanya sampai terpejam rapat menikmati sensasi nikmat di dalam mulutnya itu. Lidahnya seakan dimanjakan oleh makanan tersebut.
"Ibu ngidam ya?" tanya Santi pada akhirnya. Ia duduk mendekati Olivia yang masih menikmati makanan.
"Enggak juga sih, cuma lagi pingin aja." Olivia berkata santai. Kemudian saat dirasa perutnya telah kenyang, ia pun menghentikan suapannya. "Aku udah kenyang. Dedek bayinya makannya dikit -dikit tapi macem -macem." Olivia meringis yang dibalas kekehan pelan oleh karyawannya itu.
"Kamu disuruh Kak Vino ya kayak gini," tebak Olivia yakin.
"Kayak gini gimana maksudnya, Bu?" tanya Santi. Ia menelan ludah susah payah. Sebenarnya dirinya sudah yakin betul jika atasannya itu tentu saja tahu. Tapi tetap saja merasa khawatir jika akan kena marah.
__ADS_1
"Ya gini, merhatiin aku secara berlebihan ...."
"Bu ... bukan berlebihan, Bu. Ini hanya bentuk rasa kasih sayang. Kami semua kan sayang sama Ibu. Mau ibu sehat sampai lahiran."
"Iya ... iya. Makasih," sahut Olivia kemudian. Ia memilih untuk tak memperpanjang masalah dengan karyawannya. Sebab baginya, Vino lah yang harus diberi pengertian. Toh, dirinya merasa tidak ada apa apa dalam tubuhnya, sehat wal Afiat.
Nada dering ponsel berbunyi, berhasil mengalihkan perhatiannya pada apa yang tengah ia pikirkan.
"Sayang, Raisya kecelakaan. Sekarang masuk rumah sakit. Aku ke rumah sakit dulu ya, nanti sore baru aku jemput. Atau kamu mau ikut ke rumah sakit bareng aku?" Suara Vino terdengar sangat khawatir.
"Senyamananya kamu aja, Kak. Gimana ...."
"Kalau gitu aku jemput kamu sekarang ya. Aku mau ditemani sama kamu ke rumah sakitnya."
__ADS_1
Olivia pun mengiyakan dengan jantung berdebar kencang. Rasanya sangat berdebar sekaligus aneh jika harus bertemu dengan keluarga Vino sekarang ini.