Cincin Kedua

Cincin Kedua
Bab 61


__ADS_3

Vino melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Dalam pikirannya harus segera sampai dan menemui Raisya yang sedang ada masalah.


Sesampainya di tempat tujuan, Vino segera turun dari mobil dan berlari masuk ke ruang rawat inap di mana Raisya dirawat. Ia begitu khawatir kejadian beberapa waktu yang lalu justru terjadi lagi. Ternyata dugaannya benar.


"Kak, aku takut banget." Raisya langsung memeluk Vino begitu lelaki itu berdiri di ranjang pasien. Ia pun menumpahkan tangis di sana, di dada bidang lelaki itu. Seketika perasaan tenang dan merasa dilindungi ia terima ketika kedua tangan besar lelaki itu melingkupi tubuhnya.


"Kamu enggak apa-apa, Kan?" Vino mengurai pelukan kemudian menangkup kedua pipi Raisya. Matanya menyiratkan kekhawatiran. "Kejadian ini harus dilaporkan ke polisi," katanya lirih.


Raisya mengangguk. Lagi, air matanya mengalir tidak bisa dibendung. Vino kembali mendekap tubuh itu menyalurkan kehangatan dan seolah mengatakan bahwa Raisya akan baik baik saja.


Setelah dirasa tenang dan tangisan Raisya sudah mereda. Vino menguraikan pelukan. Ia duduk di pinggir ranjang dengan tangan yang tetap mendekap bahu wanita itu. Sesekali, tangannya akan naik turun mengelus memberikan kenyamanan dan memberi tahu bahwa dirinya akan tetap di sini menemani.


"Itu orangnya sama, kan?" tanya Vino hati-hati.


Kejadian kecelakaan yang pernah terjadi pada Raisya waktu itu pun karena pelaku yang sama.


"Iya. Dia terus kejerin aku, Kak. Enggak mau putus gitu. Aku menyesal karena pernah mau pacaran sama dia. Padahal cuma iseng aja." Raisya mengeluh. Ia meletakkan kepala bersandar pada bahu kokoh di sampingnya itu. Rasanya sangat nyaman sekali. Seakan dirinya ingin agar waktu berhenti, sehingga kenyamanan dan kebersamaan ini hanya milik mereka saja.


"Setelah ini kita buat laporan ya ke polisi, dengan kasus berbeda dong. Ini sudah mengganggu ketenangan hidup, kamu diteror." Vino berkata lembut, menjelaskan kepada Raisya agar wanita itu tidak tersinggung.


"Tapi, Kak ...." Raisya ragu, takut jika masalah ini semakin melebar ke mana-mana.


"Kalau dari kita enggak tegas, dia akan semakin seenaknya sendiri nanti." Vino kembali membalas dengan penuh pengertian.

__ADS_1


"Iya deh. Tapi temenin aku yaa. Aku takut sendirian. Enggak mau juga kalau sampai mama dan papa tahu, aku enggak mau buat mereka khawatir." Kepala Raisya mendongak menatap seraut wajah tampan di hadapan. Vino semakin hari semakin terlihat menawan saja. Dan lagi lagi, keberanian itu seakan memberikan kekuatan kepadanya.


Raisya memajukan wajah, sikap diam Vino semakin membuatnya mendekat. Kemudian, satu kecupan mendarat di bibir lelaki itu. Ia tahu jika Vino tersentak kaget, tubuh lelaki itu memegang dengan mata mendelik. Ia pun segera berpaling, menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu. Jantungnya berdegup kencang, merutuk diri akan perbuatan nekat yang ia lakukan, tatapi di dalam hatinya merasa terpuaskan atas dahaga yang selama ini ia rasakan. Padahal, ia hanya melakukannya sekejap saja, tetapi berhasil membuat jantungnya bergemuruh hebat.


"Aku ... udah boleh pulang, kok. Pulang ke kontrakan aja, enggak usah ke rumah. Mama dan Papa enggak tahu kalau aku dirawat. Nanti khawatirnya mereka ke kontrakan pas aku enggak ada. Kita pulang sekarang yaa, Kak." Raisya gugup, tetapi sekuat tenaga menguasai diri agar tidak terlalu kentara.


Ia menatap apa saja asal tidak kepada Vino yang terus menatap lekat padanya. Raisya salah tingkah. Saat ia hendak turun dari ranjang, betapa terkejutnya ketika lengan kekar itu meraih pinggangnya. Dan, apa yang ia harapkan. Ia impikan. Ia angankan selama ini pun terjadi.


Betapa bahagianya Raisya karena bukan dirinya yang mengawali, tetapi lelaki itu. Ia sangat menikmati apa yang dilakukan lelaki itu, walaupun pada akhirnya .... seolah tersadar dari tidur panjang, Vino tersentak dan mengumandangkan maaf yang membuat hatinya seakan diiris sembilu.


"Kakak .... Kakak benar benar enggak sadar. Maaf ... maaf." Suara itu sarat akan penyesalan. Wajah itu juga memancarkan kesedihan yang mendalam.


Raisya memasang senyum dengan hati yang getir. Ia memberanikan diri untuk memeluk Vino yang kini menunduk dalam.


Usai mengurus administrasi, Raisya pun pulang dari rumah sakit itu. Keduanya memutuskan untuk pulang ke kontrakan sebelum meluncur ke kantor polisi. Hari ini, Vino memberi tahu karyawannya jika mungkin akan datang terlambat atau justru tidak akan datang sama sekali.


Rupanya, mengajukan laporan pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tubuh keduanya lelah, tetapi merasakan kelegaan karena laporannya akan segara diproses. Tinggal menunggu waktu saja kapan si peneror akan ditemukan di masukkan ke penjara. Itulah yang mereka harapkan.


Sesampainya di kontrakan, suara ponsel Raisya berdering. Benar dugaannya, sang mama menghubungi dan mengatakan akan berkunjung. Namun, dengan banyak alasan yang diutarakan sang mama bisa memundurkan waktu kunjungan.


Raisya merasa bahwa tubuh dan pikirannya amat sangat lelah. Ia pun memutuskan untuk tidur. Ternyata, Vino pun merasakan hal yang sama. Pada akhirnya keduanya pun terlelap. Vino di ruang tamu dan Raisya di kamar.


Sore menjelang, Vino terbangun dan memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, kedua mertuanya terlihat sangat gusar.

__ADS_1


"Ada apa, Pak ... Bu?" tanya Vino bingung.


"Olivia enggak bisa dihubungi. Tadi katanya cuma mau ke mini market dekat rumah, mau beli es krim tapi sampai sekarang belum pulang. Ditelepon enggak diangkat-angkat, Bapak sangat khawatir." Amri yang memutuskan untuk menjelaskan. Sementara tangannya mencengkeram erat lengan sang istri agar tidak bertindak gegabah.


"Kalau gitu ... saya cari dulu ya." Vino segara berbalik, ia berlalu.


Ibu mertuanya ingin ikut mencari, tetapi dilarang oleh sang suami. "Kita di rumah aja."


Tanpa menoleh lagi, Vino pun langsung masuk ke mobil, menyalakan mesin kendaraan dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Berulang kali ia mengklason pengendara lain.


Sesampainya di mini market, ia langsung mencari ke beradaan Olivia tetapi nihil. Ia pun menghubungi nomor telepon sang istri. Perasaannya mulai berkecamuk khawatir.


Berulang kali ia menghubungi tetap tidak mendapatkan jawaban. Sampai suara seorang wanita menjawab panggilannya, itu bukan suara istrinya.


"Saya akan segara menyusul. Tolong! Berikan alamatnya sekarang."


Hampir dua jam, mobilnya baru sampai ke tempat yang dituju. Dan begitu turun, Vino sangat terkejut melihat kondisi Olivia yang terlihat kacau.


"Kakak," panggil Olivia pelan. Ia melangkah menghampiri Vino yang juga berjalan ke arahnya. "Kakak ke sini mau mayungin Alvin juga ya. Kasian dia kepanasan. Tapi sekarang sudah sore, dia enggak kepanasan lagi." Air mata Olivia jatuh berderai.


Vino tidak kuat melihat keadaan sang istri. Ia pun menitikkan air mata.


"Tapi, nanti malam dia kedinginan, Kak. Alvin sendirian. Kasian dia. Aku mau temenin dia ya."

__ADS_1


Vino segera memeluk tubuh kuyu. Olivia seperti mayat yang kehilangan tuh pada tubuhnya.


__ADS_2