
Raisya duduk dengan gelisah, menunggu sepasang suami istri di dalam kamar itu yang sedang mengobrol.
Sebenarnya, ia penasaran apa yang dibicarakan Kakak angkatnya itu beserta sang istri. Setelah kejadian tragis yang menimpa Alvin, anak mereka, sejujurnya ada rasa takut juga rasa bersalah yang mengukung jiwanya.
Raisya sadar, kemarin dirinya terlalu dramatis dalam menyikapi sikap sang mama yang memaksa dirinya untuk menikah dengan Vino.
Sementara itu, Raisya sangat sadar jika pernikahan yang dipaksakan akan membuahkan mala petaka untuk dirinya sendiri. Namun, sang mama tetap bersikukuh dengan alasan bahwa hanya dirinya yang mampu membahagiakan Vino.
Entah kebahagiaan seperti apa yang ada di bayangan sang mama. Pasalnya, Vino terlihat telah bahagia bersama sang istri.
Ya, bahkan Raisya pun sudah mencoba pergi jauh dengan mengambil kuliah di luar kota yang jauh dari rumah. Saat itu, Vino juga dijodohkan dengan wanita lain. Namun, lelaki itu tetap bersikeras untuk bisa hidup bersama Olivia. Keduanya menikah tanpa restu sang mama.
Rumit. Tentu saja sangat rumit. Ketika seorang anak harus memilih kebahagiaan sendiri, tetapi melukai hati seorang ibu atau memilih kebahagiaan ibunya, tetapi menghancurkan kebahagiaan sendiri.
Raisya mengembuskan napas dengan kasar. Kepalanya mendadak pening memikirkan semua masalah ini. Kalau saja tidak melibatkan dirinya, sudah tentulah ia tidak akan ikut berpikir. Toh, Vino juga sudah dewasa, sudah bisa mengambil sikap.
Akan tetapi, sebab terutang budilah Raisya merasa menjadi serba salah seperti sekarang.
Benar kata orang bahwa utang budi itu akan dibawa sampai mati. Itulah yang dirasakan Raisya.
Cinta tidak ia dapatkan dari lelaki yang dicintai, justru petaka yang kini menimpa lelaki itu. Sungguh tragis hidup mereka sekarang.
Suara derap langkah memecahkan segala pikiran di kepala Raisya. Ia mendongak dan mendapati kedua orang tua angkatnya itu berjalan tergesa-gesa. Raut mereka tampak khawatir. Dan, sang mama terlihat mengomel entah apa.
__ADS_1
"Apa Mama bilang? Olivia itu membawa petaka bagi kehidupan keluarga kita, Pa. Vino yang kabur dan nikah tanpa restu, lalu punya anak yang enggak bisa jalan dan bicara. Eh, sekarang apa? Anak Vino malah celaka."
Omelan itu sampai ke telinga Raisya. Ia pun segera berdiri, menyambut kedatangan sepasang suami istri itu. Senyumnya terukir untuk memberitahu mereka bahwa dirinya baik-baik saja.
"Syukurlah kamu enggak kenapa-kenapa, Raisya?" Sang mama mendekat dan langsung memeluk Raisya dalam dekap.
Raisya membalas pelukan itu, mengelus punggung sang mama naik turun. "Raisya enggak apa-apa, Ma. Baik-baik aja," katanya menjelaskan.
"Ayo kita masuk. Lihat kondisi Olivia dan Vino." Sang papa menyentuh punggung sang mama dan mendorong pelan agar segera masuk ke ruang rawat sang menantu.
Pintu terbuka. Raisya segera memalingkan wajah mendapati Vino dan Olivia yang saling berpelukan erat dalam diam. Lidahnya terasa kelu, suaranya terasa tercekat di tenggorokan, kakinya pun seolah terpaku di lantai rumah sakit.
Bohon sekali jika dirinya mengatakan kalau tidak cemburu. Sementara, di dalam dadanya seakan ada kobaran api yang siap melahap siapa saja yang ada di sekitarnya. Namun, Raisya sadar diri bahwa dirinya bukanlah siapa siapa bagi mereka. Raisya hanya seorang anak angkat yang sangat beruntung karena keluarga Vino mau mengadopsinya dari jalanan. Di saat, orang tuanya sendiri membuangnya begitu saja di tengah malam gulita.
"Gimana keadaan kamu, Vino?" tanya sang mama. Bukan. Bukan Olivia yang jelas-jelas terbaring di ranjang rumah sakit yang ia tanyakan. Melainkan keadaan sang anak yang ia perhatikan.
Entah ke mana perginya hati nurani. Padahal dirinya sanggup mengangkat seorang anak yang notabene asing dan tanpa memiliki asal usul yang jelas, tetapi untuk menerima keberadaan sang menantu begitu sulit.
"Aku baik, Ma. Olivia yang sempat tidak sadarkan diri." Keduanya mengurai pelukan. Vino pun berjalan mendekati sang mama, mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan takzim, lalu memeluk dengan erat. Lantas gantian melakukan hal yang sama kepada sang papa.
"Kamu gimana kabarnya, Nak?" Itu suara sang kepala keluarga yang menanyakan keadaan menantu perempuannya.
"Aku baik, Pa. Terima kasih." Olivia hendak turun dari ranjang berniat meminta salim kepada sang papa pertua, tetapi dicegah oleh Vino.
__ADS_1
"Kamu di ranjang saja, Sayang. Masih lemah, kan?" Vino segera menghampiri dan menggenggam erat tangan sang istri.
Sang papa lah yang datang mendekat, mengulurkan tangan kepada menantunya lalu menepuk bahu Olivia.
"Dasar cari perhatian," desis sang mama tajam dengan tatapan sinis. Rasa bencinya kepada Olivia semakin membumbung tinggi. Ia merasa bahwa Olivia hanya mencari perhatian, tidak ada ketulusan yang dipancarkan dari raut wajah itu.
"Jangan dipikirkan lagi ya, Alvin sudah tenang di sana. Kamu harus ikhlas dan sabar." Sang papa mertua memberi nasihat yang hanya mendapatkan anggukan Olivia.
Air mata Olivia kembali mengalir. Rasanya, ia tidak memiliki daya upaya untuk menahan air matanya itu agar tidak mengalir. Seolah, tanggul pertahanan dirinya telah jebol termakan kesedihan.
"Ini karena dia yang enggak becus jadi Ibu. Tapi baguslah, Alvin jadi enggak tersiksa lagi. Di usianya yang setahun belum bisa bicara dan berjalan. Padahal anak lain sudah lancar," ketus sang mama. Matanya menatap sinis wajah pucat itu. Ia tidak peduli. Ia hanya berpikir untuk menumpahkan kekesalan. Bisa-bisanya seorang Ibu lalai menjaga anaknya.
Jika demikian, belum layaklah wanita itu disebut sebagai ibu. Apa dia pikir ibu itu hanya melahirkan saja tanpa menjaga dan merawat?
"Ma, jaga bicara kamu," kata sang papa mengingatkan.
"Papa terus saja belain dia." Sang mama berkata dengan mata berkaca-kaca. Runtuh sudah harga dirinya di depan anak dan menantu tidak tahu diri itu. Suaminya mengingatkan tidak tahu tempat.
"Ma ...." Raisya mendekat, meraih tangan sang mama untuk menenangkan. "Semuanya sudah takdir, Ma, enggak bisa menyalahkan siapa pun. Maafkan Raisya ya, Ma, karena enggak bisa menjaga keponakan Raisya." Raisya berucap dengan bibir bergetar. Sungguh ia sangat menyesali semua hal yang terjadi pada Alvin.
Andai waktu bisa diulang, pastilah dirinya tidak akan mengajak Vino berbicara apalagi berdebat sampai lelaki itu membiarkan Alvin sendirian. Padahal semua orang tahu, betapa aktifnya Alvin walaupun belum bisa berjalan.
Alvin ke mana pun dengan merangkak. Bocah itu juga bisa memanjat apa pun yang ingin dipanjat, sampai tragedi mengenaskan itu terjadi. Siapa yang bisa menghalangi takdir? Tidak ada. Yang bisa dilakukan adalah, mencegah sebuah kejadian buruk. Namun, jika telah terjadi tiada satu orang pun yang bisa menghalau . Yang ada hanyalah penyesalan tidak berujung.
__ADS_1
Sebelum semakin runyam, Raisya mengajak sang mama pergi keluar. Mereka meninggalkan sang papa yang masih bertahan menghibur Olivia yang masih sangat terpukul.