
Samara berjalan dengan cepat hampir sedikit berlari,, dia sudah masuk ke dalam mobil, Alishka yang melihatnya terheran.
"Hey, kau kenapa? seperti di kejar hantu" Alishka menatap Samara mencoba meneliti
"Ini sih lebih parah dari hantu" Samara setengah berbisik mengatakannya karena itu Alishka tidak mendengarnya
"Ah, tidak,, aku hanya takut kau menunggu lama karena itu aku berlari" Samara tertawa sedikit
"Hmmm I'm hungry,, kau bisa menyetir kan? kita tukar tempat ya" Alishka ingin duduk sambil makan
"Okay,, dulu waktu dirumahku aku sering membawa mobil daddy"
Samara memang bisa mengendarai mobil karena sudah di ajari daddynya,, Samara pun melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga michael.
...----------------...
Di tempat lain,, tepat di sebuah restaurant terlihat seorang wanita sedang menemui pria.
"Kenapa model yang sedang naik daun ingin bertemu dengan ku"
Ray sudah mengenal Fiona karena dia juga pernah memotret Fiona untuk sebuah sampul majalah.
"Aku ingin menawarkan kerja sama dengan mu" Fiona pun ikut duduk di hadapan Ray
"Kerja sama apa itu?" Ray masih menunggu untuk jawaban
"Samara Caroline? bukankah dia itu mantan kekasih mu" Fiona tersenyum
"Ya, dia memang mantan kekasih ku.. lalu apa hubungannya dengan mu" Ray menatap Fiona dengan heran ingin menebak isi pikiran Fiona
"Bantu aku untuk menyingkirkan wanita itu dari kehidupan Edric" Fiona tersenyum penuh kelicikan
"Apa untungnya bagiku? dan kau sudah gila ya, ingin berurusan dengan CEO kejam itu" Ray sudah mengetahui suami Samara
"Jika kau membantu ku menyingkirkan dia,, maka kau bisa mendapatkannya kembali, bukan kah kau masih ingin memilikinya" Fiona berusaha merayu Ray untuk melanjankan rencananya
"Tidak, aku tidak menginginkannya lagi,, lagi pula kau sudah membuang waktuku"
Ray masih ragu karena dia teringat ucapan David tempo hari,, Ray hendak pergi namun Fiona mencegahnya.
"Tunggu, baiklah tidak masalah kau tidak menginginkannya,, tapi kau harus membantu ku, aku akan membayar mu,, apa kau setuju?"
Tadinya Ray tidak ingin membantu,, namun dia tergiur dengan uang.
"Baiklah,, katakan apa yang harus ku lakukan"
Fiona berbisik di telinga Ray.
"Apa kau yakin?"
Ray sedikit ragu,, namun dia tetap mengikuti perintah Fiona, Ray pergi meninggalkan Fiona,, Fiona tertawa seperti orang gila.
"Hahaha,, hari ini kau bisa menggantikan tempatku, tapi aku akan menggantikan posisi mu menjadi nyonya Michael"
Fiona tertawa seakan akan rencananya sudah berhasil.
__ADS_1
...----------------...
Pikiran Edric tidak karuan, dia berusaha menepis semua perasaannya,, walaupun sebenarnya dia sudah jatuh cinta dengan Samara.
*sadarlah Edric, kau tidak boleh jatuh cinta, cinta itu hanya omong kosong dan dia, dia tidak benar-benar mencintai mu,, jika kau kalah dia pasti akan mengkhianatimu juga*
Edric berusaha menepis ingatannya tentang kebaikan Samara,,namun dia lagi-lagi teringat.
*jika bukan karena Samara aku bisa mengalami kerugian hari ini,, setidaknya aku harus berterima kasih kepadanya, tapi tidak aku tidak bisa,, aku justru terus menyakitinya, ya tuhan apa yang harus ku lakukan*
Edric memejamkan matanya di ruangan kerjanya,,
David menghampiri tuan mudanya.
"Tuan, nona Samara dan nona Alishka sudah kembali kerumah tuan"
Mendengar Samara sudah kembali Edric langsung bangun.
"Bagus,, David kau pulang lah,, aku ingin istirahat"
Edric langsung menuju kamarnya,, sementara David belum meninggalkan rumah.
David yang melihat Samara langsung menundukkan kepalanya dengan hormat.
*semoga nona baik baik saja,, saya berharap nona bisa memenangkan hati tuan muda*
Samara pun tersenyum lalu menuju kamarnya,, namun Alishka tidak langsung naik ke atas,, dia justru pergi ke arah taman belakang rumah,, David yang melihatnya pun pergi ke taman juga.
Alishka duduk menikmati angin yang behembus, sambil memakan cheese donuts,, ya Alishka memang suka makan,, David yang memandanginya tersenyum tanpa setau Alishka.
Setelah melihat Alishka, David berlalu pergi dan pulang ke apartmentnya.
Di kamar utama,, Samara masuk ke kamar dengan hati-hati takut tuan muda terbangun,, karena di lihatnya Edric sedang tidur, lalu dia menuju kamar mandi dengan hati-hati melangkah.
Diam-diam Edric ternyata tidak tidur dan melihat pergerakan Samara.
*ada apa dengannya, kenapa jalannya mengendap-ngendap begitu sudah kayak mau maling saja,, apa dia jadi takut padaku ya* Batin Edric
Samara sudah selesai mandi namun belum memakai pakaian,, Samara mengambil piyama dari lemari,, Samara hendak membuka jubah handuknya namun Samara melihat lagi ke arah Edric untuk memastikan pria itu benar-benar tidur.
Edric memang masih berpura-pura tidur pulas, jadi Samara mengira Edric memang sudah tidur nyenyak.
Samara membuka jubah handuknya lalu memakai piyama tidurnya,, tanpa dia tau kalau Edric sedang melihatnya.
Dalam diam Edric dapat melihat seluruh lekuk tubuh Samara yang tidak tertutup sehelai benang pun,, Edric menatap sepasang payudara milik Samara, Edric pun menelan salivanya sendiri,, sontak junior yang di bawa pun ikut meronta-ronta.
*aku tidak pernah melihat secara langsung seperti ini,, biasanya aku hanya melihat nya di film dewasa*
Edric memang tidak pernah melakukan apapun jika sedang bersama seorang wanita,, bahkan Edric saja tidak pernah menyentuh Fiona sedikitpun meski mereka telah berpacaran selama 2 tahun,, Edric sangat menjaga wanitanya itu,, dia lebih memilih senam jari untuk menuntaskan hasratnya itu dengan menonton film dewasa,, dia ingin melakukan semuanya setelah dia menikah.
Tak sengaja Samara berbalik lalu terkejut melihat Edric sedang menatapnya.
"Tuan, bukankah anda sudah tidur"
Samara heran kenapa Edric bisa bangun dan berfikir sejak kapan pria itu bangun,, Samara pun tidak ingin menyebut kata sayang lagi kepada Edric, dia sedang sakit hati.
__ADS_1
"Aku baru saja terbangun,, sedang apa kau berdiri di situ" Jawab Edric berbohong,, tapi masih menatap tubuh Samara meskipun telah tertutup piyama
"Maaf tuan, saya baru kembali dari pameran"
Samara hendak tidur di sofa,, namun Edric menariknya ke tempat tidur dan menindih tubuhnya
"Tuan apa yang anda ingin lakukan" Samara terkejut dengan sikap Edric
"Kita kan belum melakukan malam pertama kita"
Edric tersenyum nakal dan ingin menarik tali yang mengikat piyama Samara.
"Kita bisa memulainya sekarang"
Edric tidak sadar dan menjadi gila,, dia sudah melepaskan ikatan tali baju Samara hanya tinggal menariknya saja piyama itu bisa terlepas.
*Oh no,, ini tidak boleh terjadi,, aku memang ingin melakukannya,, tapi tidak sekarang, aku ingin di saat Edric sudah mencintai ku,, ya tuhan tolong aku, tolong aku*
Samara berusaha melawan Edric namun usahanya gagal karena tenaga Edric lebih kuat darinya.
"Tuan sadarlah,, bukankah anda tidak tertarik dengan saya"
Samara berusaha mendorong tubuh Edric agar menjauh,, namun Edric justru memeluknya dan menyembunyikan wajahnya ke leher Samara, Samara merasa geli dan tidak tahan lagi.
Seketika Edric sadar dan membuka matanya, melihat dirinya sedang menindih Samara,, Edric pun langsung bangkit,,, Edric melihat Samara yang rambutnya sudah berantakan dan piyama yang hampir terlepas sedikit lagi itu karena ulahnya.
Edric yang menyadari kesalahannya pun jadi malu.
"Maafkan aku"
Hanya itu yang terucap dari bibirnya, lalu Edric langsung masuk ke kamar mandi.
Samara yang legah pun kembali merapikan dirinya,, namun tidak bangkit Samara masih di tempat tidur dia termenung.
Di dalam kamar mandi Edric frustasi dia membasahi wajahnya dengan air.
*apa yang sudah ku lakukan,, aku hampir saja memperkosanya, Edric sadarlah*
Edric menepuk nepuk wajahnya, lalu Edric ingin kembali ke tempat tidur.
*kau harus bisa mengontrol diri Edric*
Edric pun keluar dari kamar mandi dan melihat Samara masih terduduk di tempat tidur,, namun tubuhnya di tutupi selimut, Samara seperti sedang ketakutan.
Demi menjaga jarak aman,, Edric membiarkan Samara di tempat tidur dan dia tidur di sofa.
"Hmm, you sleep there,, biar aku tidur di sofa"
Edric pun menuju sofa lalu membaringkan tubuhnya dan tidur
Malam ini mereka tidur di tempat yang berbeda,, sampai pagi datang,, mereka sama-sama diam karena malu.
Bersambung...
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻
__ADS_1