
Pretty sedang santai duduk di sofa panjang dalam ruangannya, gadis itu sambil bermain ponselnya.
Brakk
Suara pintu yang terbuka dengan keras mengejutkan Pretty yang sedang santai.
"Oh my god" Ucap Pretty sembari berdiri
Dan tak sengaja Pretty menjatuhkan ponsel yang dia pegang ke lantai begitu saja, sehingga ponselnya mengalami kerusakan layar retak.
Edric muncul dari pintu dengan wajah yang sangat ketat dan tidak bersahabat.
"Rich, kau" Pretty kaget
Tidak habis pikir Edric akan datang dengan cara seperti ini.
"Kenapa kau masuk seperti itu Rich?" Tanya Pretty
Namun tidak menjawab, Edric mala langsung duduk di sofa dan bersandar memejamkan matanya membuat Pretty makin bingung.
"Apa kau sedang ada masalah Rich?" Tanya Pretty hati-hati
"Kepala ku sakit" Balas Edric masih terpejam
"Kepala mu sakit?" Pretty heran
"Humm" Masih dengan mata terpejam
Pretty memperhatikan Edric dengan seksama, mencoba mencari jawaban atas kekesalan yang terpancar dari wajahnya.
Apa yang terjadi? Apa kau memiliki masalah yang begitu berat Rich? Kenapa kau sampai sakit kepala?. Pretty Masih belum paham
Tak lama Pretty dengan pelan mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.
"Apa kau rusak? Ya, sepertinya kau tidak mau hidup lagi" Gumam Pretty dengan wajah murung
"Pretty" Lirih Edric
"Hah, Ya?" Pretty menoleh dengan tersenyum
"Apa itu rusak karena kau terkejut dengan kedatanganku?" Tanya Edric menatap ponsel yang retak di tangan pretty
"Oh, Tidak" Pretty geleng kepala
"Sebelum kau datang, ini memang sudah terjatuh" Pretty tersenyum kecut
"Kau yakin?" Edric tidak percaya
"Ya, tidak masalah,, aku akan suruh Bella untuk beli ponsel baru" Pretty tersenyum manis
"Itu tidak perlu" Balas Edric
"Maksud mu?" Pretty bingung
"Biar dia saja yang beli" Edric menatap David yang baru masuk
"Siapa?" Tanya Pretty heran
"Tuan muda, anda memanggil saya?" David menghampiri Edric
Mendengar suara David sontak membuat Pretty berbalik dan benar saja, pandangan keduanya pun bertemu.
"Nona Pretty" David menatap Pretty segan
"David" Gumam Pretty tercengang
Namun dalam sekejap keduanya saling mengalihkan pandangan merasa kikuk.
"Hah, David" Suara Edric memecahkan suasana
"Iya tuan muda" David mendekat
"Kau belikan ponsel baru untuk Pretty" Titah Edric
"Ponsel untuk nona Pretty?" David sedikit heran
"Kau lihat saja sendiri" Ucap Edric ketus
David langsung menatap ponsel yang ada di tangan Pretty, dan benar ponsel itu sudah retak dan tidak dapat menyala.
"Baik tuan, Secepatnya saya akan kembali" David undur diri
"Pergilah" Edric mengangguk
Setelah David pergi suasana kembali menjadi hening, dan karena merasa lapar cacing di dalam perut Pretty pun bernyanyi.
Kruukk Kruukk
__ADS_1
"Apa itu tadi?" Edric kaget
"Maaf" Pretty menggigit bibir bawahnya malu
Gadis itu memegang perutnya karena terasa perih,, Tapi karena tidak tahan Pretty terduduk di sofa.
Melihat wajah Pretty yang sedikit pucat membuat Edric cemas.
"Pretty? Kau baik-baik saja?" Edric mendekat untuk memeriksa
"Aku baik-baik saja Rich" Pretty menahan sakit di perut
"Kau pasti berbohong" Edric memegang dahi Pretty
Dan lagi perut Pretty berbunyi dengan keras, seketika Pretty merasa lemas.
"Kau lapar?" Edric mengerutkan dahinya
"Humm" Pretty mengangguk
"Dasar bodoh, kau tau lambung mu bermasalah tapi masih saja menyiksa diri sendiri" Ucap Edric marah
"Ayo, sebaiknya kau makan saja" Ajak Edric
"Apa kau bisa berjalan?" Edric melihat Pretty yang sudah lemas
"Sepertinya bisa" Pretty berdiri namun perutnya terasa perih
"Ahh" Pretty meringis
"Sudah, jangan di paksa" Edric membantu Pretty berjalan
Edric menggandeng Pretty pelan-pelan dan hati-hati berjalan keluar ruangan,, dan seorang gadis memperhatikan Edric dari belakang.
Namun dengan cepat gadis itu berjalan mendekati Edric dan Pretty.
"Miss"
"Bella" Pretty menatap gadis itu
"Maaf miss, Tadi saya harus menunggu antrian" Bella merasa bersalah karena terlalu lama
"Tidak masalah" Pretty tersenyum
"Tapi miss kenapa? Miss sakit?" Bella tampak khawatir melihat Pretty dengan wajah pucat
Edric pun membantu Pretty duduk, lalu Edric duduk di sebelah Pretty.
"Ini miss, di makan" Bella memberikan makanan untuk Pretty
Pretty ingin memakan tapi Edric mencegahnya.
"Tunggu"
"Kenapa Rich?" Pretty heran
"Siapa dia? Kenapa kau percaya begitu saja dengannya? Bagaimana kalau ada racun di makanan ini?" Edric berburuk sangka
"Dia, Bella, sekertaris yang pernah aku katakan padamu Rich" Jelas Pretty
"Kau tenang saja,, Bella tidak seperti itu, dan aku percaya" Pretty tersenyum
Bella yang melihat respon Edric sedikit heran.
Siapa tuan ini? Kenapa dia sangat perhatian pada miss? Dia bahkan takut miss terluka,, Apa dia kekasihnya miss. Batin Bella
"Iya tuan, saya bersumpah tidak mencampur apapun di dalam makanan itu" Ucap Bella yakin
"Kalau begitu kau makan itu lebih dulu" Titah Edric menatap tajam
"Baik tuan" Bella langsung mencuil sepotong burger dan menelannya
"Rich" Pretty geleng kepala
"Yaya, sudah boleh makan" Jawab Edric cetus
"Dasar" Pretty menghela nafas
Pretty yang sudah sangat lapar langsung makan dengan lahap,, Edric hanya tersenyum kecil melihat sepupunya itu.
"Kau tidak mau?" Pretty menawarkan
"Tidak, Kau habiskan saja semua" Balas Edric acuh
"Ya sudah" Pretty lanjut makan
"Bella, makan lah bersama ku" Pinta Pretty
__ADS_1
"Tapi miss" Bella segan
"Ayo Bella, buka mulut" Pretty memaksa
Bella pun hanya menuruti keinginan bosnya itu.
Disaat mereka sedang asik makan, Edric mala sedang fokus dengan ponselnya,, setelah selesai makan Pretty menatap Edric yang sejak tadi berkutak dengan ponselnya.
"Rich" Panggil Pretty
"Kau sudah selesai?" Edric menoleh
"Sebenarnya apa yang membuatmu datang Rich?" Tanya Pretty
"Ada sesuatu yang harus kau lihat" Balas Edric tersenyum
"Apa itu?" Pretty bingung
Edric tepuk tangan, lalu tak lama beberapa pelayan datang membawa sebuah majalah desainer ternama.
"Lihatlah" Edric memberikan majalah itu pada Pretty
"Gaun? Kau ingin beli gaun?" Tanya Pretty
"Yes, that's right" Edric tersenyum
"Kau pilih saja yang terbaik" Edric tersenyum manis
"Aku?" Pretty menunjuk dirinya sendiri
"Ya" Edric mengangguk
Lain halnya dengan Bella yang merasa yakin jika Pretty dan Edric sepasang kekasih,, Pretty sedikit tidak percaya dengan apa yang di katakan Edric.
Dia menyuruhku memilih gaun terbaik? Aku tau, ini pasti bukan untukku,, sudah jelas ini untuk samara. Batin Pretty
"Okay" Pretty tersenyum manis
Pretty sedang memilih gaun melihat majalah itu,, Tiba-tiba datang seorang gadis membawa jas Edric.
"Excuse me" Ucap gadis itu
"Maaf mengganggu, tapi aku hanya ingin mengembalikan jas ini kepada pemiliknya" Ucap gadis itu
"Nona Alesya" Panggil Pretty
"Ya" Alesya tersenyum
Edric yang mendengar nama gadis itu di sebut langsung menatap Pretty.
"Tapi siapa yang anda maksud? Nona Alesya?" Tanya Pretty
"Tuan yang ada di sebelah anda, jas ini adalah miliknya" Alesya tersenyum
Pretty menatap Edric dengan penuh tanda tanya, sementara Alesya langsung berjalan ke arah Edric.
"Ini milikmu, sudah ku kembalikan" Alesya tersenyum
"Aku tidak butuh barang yang sudah di sentuh orang lain" Edric menatap tidak suka
Alesya hanya mengerutkan dahi bingung,, Dan Edric langsung membuang jas itu ke tempat sampah.
"Rich" Pretty terkejut
"Apa yang kau ...." Pretty belum siap bicara
"Itu tidak penting, honey" Edric tersenyum ke Pretty
"Apa?" Pretty makin bingung
"Honey" Edric menggenggam tangan Pretty
"Kita akan terlambat, sebaiknya kita pergi dari sini" Edric tersenyum
Pretty heran saat Edric memperlakukan dia seperti ratu di hadapan semua orang.
"Maaf nona Alesya.." Lagi-lagi Edric memotong saat Pretty bicara
"Maaf, kami tidak punya waktu untuk bicara dengan mu" Ucap Edric menatap Alesya
"Ayo honey"
Edric menarik tangan Pretty agar ikut pergi dengannya,, Dan Alesya terdiam menatap tangan Edric yang menggenggam erat tangan Pretty.
Siapa wanita itu? Apa dia sangat spesial di hatinya tuan Edric? . Pikir Alesya
Bersambung...
__ADS_1
Minal aidin walfaidzin ππ» Mohon maaf lahir batin ya ππ» Maaf author baru bisa update sekarang ya ππ»