
Mentari telah bersinar di pagi hari,, cahayanya menyusup melalui celah jendela.
Seorang wanita mengerjapkan matanya silau karena sinar matahari,, samara akhirnya bangun dari tidurnya.
"Hoammm" wanita itu duduk dan menguap, merentangkan kedua tangannya
Kemudian samara meraih piyama untuk menutupi tubuh polosnya,, setelah itu dia langsung membersihkan diri di bathroom.
Cukup lama dia berendam di dalam bak,, lalu samara berdiri dan mengguyur tubuhnya di bawah shower,, itu sangat segar.
Selesai mandi, samara keluar hendak mengambil baju di lemari,, dan ternyata edric juga sudah bangun.
"Beby, kau sudah mandi?" edric menatap istrinya
"Sudah,, mandi sana" balas samara
"Hari ini ke kantor kan,, Nanti terlambat ed" lanjut samara
"Ya beby" edric menurut, dan langsung menuju bathroom
Samara menyiapkan stelan jas untuk edric, setelah itu dia merapikan penampilannya dan berdandan.
Tak lama edric sudah selesai,, pria itu memakai baju di hadapan istrinya, sudah tidak ada malu di antara mereka,, tidak seperti pertama menikah.
"Apa kau sudah selesai?" tanya edric, yang sudah terlihat sangat tampan
"Sebentar lagi sayang" ucap samara, sambil mengoles lipstik
"Hemm" hanya itu yang keluar dari mulutnya
"Sudah, ayo" samara tersenyum
"Ayo" edric menggandeng tangan samara menuruni anak tangga
"Good morning ed, sam" sapa mamah rosa yang sudah ada di ruang makan
"Morning mom" edric mencium pipih mamah nya
"Mamah kapan kembali?" tanya edric
"Mamah tiba tadi malam,, karena kalian sudah tidur, mamah tidak mau ganggu" balas mamah rosa
"Ayo kita sarapan" ajak mamah rosa
Mereka pun duduk di meja makan,, pelayan mulai menyiapkan makanan di atas meja.
"Alishka? pretty? mana mereka? belum bangun ya" tanya mamah rosa
"Uhuk-uhuk" tak sengaja edric terbatuk
"Sayang" samara merasa cemas, langsung memberikan air putih
"Kamu kenapa edric? sakit?" tanya mamah rosa yang juga cemas
"Tidak mah, cuma tersedak" ucap edric
"Pak hendy, tolong panggilkan alishka dan pretty,, cepat suruh mereka turun" titah mamah rosa
"Anak gadis jam segini kok belum bangun" gerutu mamah rosa
"Oh iya, samara" mamah rosa menatap samara
"Iya mah, ada apa?" tanya samara
"Kamu belum hamil? kalian kan sudah cukup lama menikah" mamah rosa to the point
Itu membuat samara bingung dan keringat dingin,,
"Belum mah" samara takut takut menjawab
"Sabar mah,, nanti juga pasti hamil" edric membantu istrinya menjawab
"Kamu juga ed,, mamah kan suruh kalian honeymoon, tapi kalian belum pergi juga" ucap mamah rosa
"Menikah itu kan yang di cari keturunan" lanjut mamah rosa
Edric dan samara hanya mengangguk saja menjawab perkataan mamah rosa.
"Mamah sudah ingin menimang cucu dari kamu ed" ucap mamah rosa
"Iya mah" edric hanya manggut manggut
Tak lama pretty ikut bergabung di meja makan,, dan selalu mengambil tempat di samping samara.
"Good morning aunty,, aunty makin cantik deh" puji pretty tersenyum
"Pretty, kamu lebih cantik sayang" mamah rosa membalas pujian pretty
"Aunty habis liburan?" tanya pretty sambil mengunyah makanan
"Tidak, aunty cuma berkunjung ke rumah teman" balas mamah rosa
"Hmm pretty, tadi jack telfon,, katanya dia sudah kembali dari dinas" lanjut mamah rosa
"Daddy sudah kembali? tapi kenapa daddy tidak menghubungiku" pretty heran
"Katanya nanti jack kemari jemput kamu"
"OK, aunty" pretty manggut manggut mengerti
"Umm, edric" mamah rosa menatap putranya
"Hemm" seperti biasa jawaban edric
"David bagaimana? sudah sembuh?" tanya mamah rosa
Seketika semua mata tertuju pada mamah rosa, yang tidak biasanya menanyakan keadaan david.
"Sudah lebih baik mah, tapi belum bisa pulang" jawab edric
"Mamah cuma ingin tau" ucap mamah rosa datar
*aunty rosa bukan tipe orang yang terlalu perduli dengan orang lain,, aunty seperti menyembunyikan sesuatu* pikir pretty
"Mamah" panggil alishka, menghampiri
"Alishka" mamah rosa menoleh
"Aku rindu mamah" alishka memeluk mamahnya
"Mamah juga rindu kamu,, sekarang kamu sarapan ya" ucap mamah rosa tersenyum
Edric juga ikut tersenyum melihat mamah dan adiknya akur,, samara juga dapat melihat senyum edric yang mengembang.
Mereka semua sarapan dengan tenang tanpa gangguan,,
"Aunty, aku berangkat ya,, aku sudah selesai" pretty mencium pipih mamah rosa, lalu melangkah pergi
"Ehh, tidak bareng alishka perginya" mamah rosa menarik jas pretty
Pretty bingung ingin menjawab,, karena sebenarnya dia masih malas kalau harus bareng alishka.
"Aku.." pretty ingin jawab
"Aku pakai mobil sendiri mah" alishka sudah jawab duluan
"Oh,kalian berangkat sendirian" mamah rosa menatap pretty dan alishka
"Iyah aunty" pretty tersenyum kecut
"Ya sudah, hati hati ya" ucap mamah rosa
Tak lama pretty pergi, alishka juga pamit..
"Mah, aku berangkat kerja dulu ya" alishka menyalimi mamahnya
"Iya, hati hati ya sayang" mamah rosa mencium pipih alishka
"Bye mamah" alishka tersenyum
*tidak tau kenapa? pagi ini mamah terlihat berbeda* pikir alishka, sambil berjalan menuju mobilnya
Edric dan samara juga pamit ingin berangkat,,
"Mah, aku pergi ya" ucap edric
"Iya hati hati" balas mamah rosa
"Ayo beby, hari ini aku mengantar mu" edric menggandeng tangan samara
"Ehh, kalian tunggu" teriak mamah rosa
Alishka yang sudah ingin melajukan mobilnya berhenti, edric dan samara yang ingin masuk ke mobil kembali menoleh.
"Ada apa mah?" serentak ketiganya
Mamah rosa menghampiri ke mobil alishka
"Hari ini kalian pulang lebih awal ya" pinta mamah rosa
"Jangan sampai telat ya" lanjut mamah rosa
"Apa ada yang penting mah?" tanya edric
"Mamah sudah bicara sama tuan hugo, malam ini dia akan datang kerumah kita" balas mamah rosa
"Alishka, mamah pasti akan memberikan yang terbaik untuk kamu sayang,, jadi kamu jangan sampai telat ya" mamah rosa memegang tangan putrinya
Hati alishka sangat perih mendengar hal itu,, hampir gadis itu ingin menangis, namun alishka menahannya.
"Sayang" samara menatap edric cemas
Edric juga berfikir hal yang sama,, edric tau jika alishka pasti merasa sedih.
"Mah, aku rasa ini terlalu cepat" edric keberatan
"Tidak ed, ini sudah waktunya,, karena sebentar lagi malam pergantian tahun, dan tahun depan alishka akan bertunangan" tegas mamah rosa
"Kalian semua harus hadir nanti malam, ingat" lanjut mamah rosa
"Dan kamu alishka, mamah harap kamu tidak mengecewakan mamah" menatap alishka
"Iya mah" alishka hanya mengangguk, lalu pergi dengan mobilnya
Begitu juga edric dan samara, tak lama melajukan mobilnya menuju jalan raya.
"Ed, aku mengkhawatirkan alishka" samara tidak tenang
"Tenanglah, aku sangat mengenal alishka,, dia tidak akan berbuat hal yang akan menyakitinya" balas edric, yang fokus mengemudi
"Semua akan baik baik saja, percayalah" lanjut edric tersenyum, melirik samara
Samara juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya percaya dengan edric.
...----------------...
Sementara alishka di dalam mobil, tidak berhenti menangis,,
"David...hiks...hiks" gadis itu terisak
Terus menangis sampai tiba di gedung perusahaan Alliance Michael,, alishka menangis sebentar di mobilnya, belum ingin keluar.
Dan terlihat sebuah motor sport juga berhenti di parkiran,, setelah memakirkan motornya, arthur berjalan melewati mobil alishka hendak masuk ke kantor.
Namun samar terdengar suara tangisan, arthur berhenti dan menoleh ke sebuah mobil.
"Itu kan mobil alishka" gumamnya pelan
Arthur mendekati mobil tersebut,, dan mengetuk kaca mobilnya.
Tuk...Tuk...Tuk
"Alishka, apa kau di dalam?" teriak arthur yang mengetuk kaca mobil
Alishka yang mendengar suara arthur langsung membuka pintu mobilnya,, dan keluar menghampiri arthur.
"Alishka, kau menangis" arthur memperhatikan raut wajah alishka
"Arthur, hiks..hiks" alishka langsung memeluk arthur, gadis itu menangis dan menyembunyikan wajahnya di dada arthur
"Menangislah, jika itu membuatmu tenang" arthur membiarkan alishka menangis memeluk dirinya
Arthur juga memeluk gadis itu, mengelus rambut alishka pelan mencoba menenangkan gadis itu.
Dan tanpa mereka sadari, stevi melihat semua itu,, gadis itu mengepalkan tangannya merasa cemburu, lalu pergi begitu saja.
Sementara alishka mulai melepaskan pelukannya, begitu juga dengan arthur.
"Apa yang terjadi alishka? kenapa kau menangis" arthur terlihat khawatir akan keadaan gadis yang pernah di cintainya itu
"Arthur, aku sedang tidak ingin ke kantor" ucap gadis itu sambil terisak
"Kau ingin pergi kemana?" tanya arthur
"Aku tidak tau" alishka geleng kepala
"Ya sudah, ikutlah dengan ku,, hari ini aku temani kau libur kerja" arthur tersenyum mengelus rambut alishka
"Terimakasih arthur" alishka kembali memeluk arthur
*sejujurnya aku hanya ingin melihatmu tersenyum alishka, hatiku tidak bisa melihatmu terus menangis* batin arthur, sambil membalas pelukan gadis itu.
"Ayo" ajak arthur, menggandeng tangan alishka.
Arthur menghidupkan motornya, lalu alishka naik ke motor arthur,, dan arthur melajukan motornya keluar dari gerbang Alliance Michael.
Tak lama mereka pergi, terlihat mobil edric sudah sampai di halaman parkir Alliance Michael.
Edric keluar dari mobil dan langsung menuju kantornya,, seperti biasa seluruh karyawan tunduk hormat kepadanya, namun edric hanya menatap lurus ke depan.
Tapi di saat melewati pintu kaca, edric berhenti menatap pintu kaca itu,, edric balik badan, dan menatap tajam ke semua karyawan.
"Panggil semua cleaning service yang bertugas di kantor ini" bentak edric pada karyawan
"Sekarang" bentak edric lagi
"Ba..baik tuan" karyawan itu sampai takut
Pasalnya presdir mereka tidak beda jauh dengan singa jantan, ketika sedang mengamuk.
"Mereka sudah ada disini tuan" ucap karyawan tersebut
Edric menoleh, dan terlihat para cleaning service sudah berbaris di hadapannya.
"Siapa yang membersihkan lantai bawah? siapa?" tanya edric menatap tajam kepada semua cleaning service
Para cleaning service terlihat ketakutan,, dan takut untuk menjawab.
"Sa..saya tuan" seorang gadis, memberanikan diri untuk angkat tangan
"Sini kamu" panggil edric agar gadis itu mendekat
"Cepat sini" bentak edric
Dengan cepat gadis itu langsung mendekat ke hadapan edric,, namun matanya tidak berani menatap presdirnya.
Edric mengeluarkan tisu dari sakunya lalu mengusap tisu itu ke pintu kaca,,
"Kau lihat ini" bentak edric
Gadis itu sedikit mendongak melihat tisu yang kotor,,
"Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar? ini masih berdebu" edric melempar tisu tersebut, ke wajah gadis itu
Gadis itu hanya menunduk dan memejamkan matanya,,
"Ma..maaf tuan" ucap gadis itu takut
__ADS_1
"Cepat kau bersihkan ulang,, kalau tidak, kau akan di pecat" edric menekan suaranya
"Baik tuan, akan saya bersihkan,, tapi tolong jangan pecat saya tuan" gadis itu memohon, memegang tangan edric
"Itu semua tergantung cara kerjamu" ucap edric, menepis kasar tangan gadis itu
Edric langsung berjalan masuk ke lift pribadinya.
...----------------...
Di mansion kediaman keluarga Rayburn, dikamar terlihat alvaro sedang duduk bersandar di sofa.
Beberapa pelayan sibuk mengurusnya, ada yang memijit kepalanya, dan ada yang memijit kaki serta lengannya.
Pria itu memejamkan mata menikmati pijitan di kepalanya,, tak lama seorang pria paruh baya masuk ke kamarnya.
"Sudah cukup,, kalian pergilah" ucap alvaro
Para pelayan keluar dari kamar alvaro,, dan tinggallah alvaro dan pria paruh baya tersebut.
"Varo" panggil tuan hugo
"Yes dad" alvaro menoleh
"Ada apa papah?" tanya alvaro yang sudah menurunkan kakinya dari meja
"Papah harap hari ini kau tidak sibuk" ucap tuan hugo
"Tidak papah, hari ini aku tidak terlalu sibuk,, kenapa?" alvaro masih belum mengerti
"Itu bagus,, nyonya rosa sudah bicara dengan papah, dia mengundang papah kerumahnya,, dan kita akan mengunjunginya nanti malam" tuan hugo to the point
"Hah? papah ingin kerumah aunty rosa?" alvaro sedikit kaget
"Iya benar,, apa ada masalah?" tuan hugo sedikit curiga
"Tidak ada papah" alvaro menunduk
"Varo jangan berusaha menyembunyikan sesuatu dari papah,, kau tau, papah paling tidak suka kau berbohong" tegas tuan hugo
"Iya papah" alvaro menganggukkan kepalanya
"Baguslah jika kau mengerti,, Ingat, jangan sampai kita telat,, karena janji harus di tepati" ucap tuan hugo
Setelah tuan hugo pergi, alvaro langsung memukul meja dengan geram.
"Ahhhh" teriak alvaro menghancurkan semua barang
*kenapa aunty rosa selalu selangkah lebih unggul dariku,, bagaimana jika aunty membicarakan tentang pertunangan itu* pikir alvaro
"Ahh, sial" alvaro terlihat stress, pria itu menjambak rambutnya sendiri
Tak lama ponselnya berdering,, terdapat nama pemanggil disana.
Belovedā¤
Memanggil....
"Apa yang harus ku katakan pada domi" gumam alvaro
"Ya honney" alvaro menjawab telfon
[Beby, apa kau sudah katakan pada papah mu? kapan kau kenalkan aku padanya] dominique terlihat antusias
"Belum honney, kau tenang saja,, aku pasti akan mengabari mu" ucap alvaro bimbang
[Kau tidak ada niat, untuk menundanya lagi kan al] dominique terlihat murung
"Tentu tidak honney,, bersabarlah sedikit" pinta alvaro
[Baiklah,, aku percaya padamu beby, aku akan beri kabar ini pada mami dan papi] dominique tersenyum
"Tentu,, kau harus mengatakannya pada mereka" alvaro tersenyum
[OK, aku tutup ya beby,, bye]
Sambungan pun terputus...
Alvaro menghela nafas berat,,, kepalanya terasa semakin pusing.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan david" alvaro bergumam
...---------------...
Disisi lain, arthur mengajak alishka ke tepi pantai .. mereka duduk di dekat pantai, tepat di atas pasir putih.
"Bagaimana? kau suka?" arthur menghirup udara segar, lalu menoleh ke alishka
"Iya, disini sejuk,, anginnya terasa banget" alishka tersenyum
"Aku sering kesini kalau sedang frustasi" ucap arthur tersenyum
"Benarkah?" alishka tak percaya
"Iya, aku membagi masalah ku dengan cara berteriak" balas arthur menatap alishka
"Berteriak? seperti apa?" alishka tidak paham
"Seperti ini" arthur mencontohkan
"Aku mencintaimu keiza, menikahlah denganku" teriak arthur dengan kuat
"Ahhhh, aku mencintaimu david,, aku ingin menikah denganmu" teriak alishka dengan kuat, seperti yang arthur lakukan
Lalu keduanya saling pandang,
"Hahaha" mereka tertawa bersama
"Kau sudah tenang?" tanya arthur
"Sedikit, terimakasih arthur,, kau selalu bisa menghiburku" alishka tersenyum
"Jadi karena itu? kau menangis" arthur melirik
"Tidak, mamah ingin aku bertunangan dengan kak varo,, dan aku tidak mau" alishka murung
"Jadi karena perjodohan" arthur manggut manggut
"Hemmm" alishka juga mengangukkan kepala
"Kenapa tidak bilang pada mamah mu? kalau kau mencintai david" saran arthur
"Aku tidak punya keberanian sebesar itu,, karena mamah sangat berharap aku menikah dengan kak varo" alishka masih murung
"Akan lebih baik kalau kau mengatakannya, paling tidak kalian berdua" ucap arthur
"Ntahlah, aku juga tidak tau" alishka menghela nafas
"Sebaiknya kau katakan hal ini pada david,, aku yakin dia tidak akan menyerah" arthur tersenyum
Alishka hanya membalas dengan senyuman.
"Tapi, siapa keiza? apa dia gadis yang kau suka?" tanya alishka penasaran
"Ya, dia kekasihku" arthur tersenyum
"Dia sangat manis" lanjut arthur teringat keiza
"Jika ku lihat, kau sangat mencintainya" alishka menyelidik
"Kau benar,, aku memang mencintainya" arthur jujur
"Tapi aku belum berani untuk melamarnya" lanjut arthur menghela nafas
"Katakan saja dia pasti setuju" ucap alishka, sambil berdiri
"Hey, mau kemana?" teriak arthur yang di tinggalkan
"Cari makanan, aku lapar" sahut alishka
"Aku ikut" arthur berlari mengejar alishka
...----------------...
"Kau bawa apa?" tanya david melihat thalia menaruh paper bag di lacinya
"Aku bawakan pakaian dalam dan baju ganti untuk kakak" jawab thalia
"Mulai sekarang biar aku yang mencuci pakaian kakak selama dirumah sakit,, jadi kakak tidak perlu menyuruh perawat" lanjut thalia tersenyum
"Wah, kau memang adik yang berguna" david sedikit tertawa
"Ihh, aku memang baik kakak,, kakak saja yang tidak menyadarinya" thalia cemberut
"Yaya, baiklah,, terimakasih ya lia" ucap david mengusap rambut adiknya
"Tapi bunga ini biasanya sudah terganti setiap hari, kenapa sekarang masih sama" gumam thalia, menatap vas bunga
"Karena hari ini dia belum datang" ucap david tersenyum
"Dia belum datang ya" thalia manggut manggut
"Hah? siapa? pacar kakak?" thalia kembali mencerna kata katanya
"Jadi kau sudah tau ya" david tersenyum
"Bagaimana aku bisa tau? kakak bahkan tidak mengenalkannya padaku" thalia memukul lengan david
"Tapi apa dia cantik?" thalia penasaran
"Tentu saja,, jika dia jelek, aku tidak ingin menikahinya" balas david
"Hah, aku baru tau kalau kakak ini sangat pemilih" cibir thalia
"Kakak serius akan menikah?" tanya thalia
"Ya, aku pasti akan menikah,, kenapa kau tanyakan itu?" david menoleh
"Umm, apa setelah menikah kakak akan melupakan aku" thalia murung
"Lia, ternyata kau sangat bodoh ya" david menimpuk kepala thalia
"Ahh, kakak,, aku tidak bodoh" thalia tidak terima
"Kalau kau tidak bodoh, kau tidak akan berfikir seperti itu" ucap david
"Lia, aku tidak mungkin meninggalkan mu begitu saja,, aku tetap akan menjaga mu, jadi jangan berharap kau bisa macam macam" lanjut david menyentil dahi thalia
"Aww, sakit kak" thalia kesakitan
"Kakak sudah gila ya? siapa juga yang mau macam macam,, aku senang kakak terus menjagaku" thalia tersenyum manis
"Wah, wah, sepertinya aku mengganggu kakak dan adik yang sedang mengobrol" dokter darren masuk ke ruangan
"Ehh, dokter" thalia tersenyum malu
"Ahh, untuk apa dia datang kesini" gumam david, malas melihat dokter darren
"Ada apa david? sepertinya kau tidak menyukai kehadiranku" dokter darren terkekeh
"Ya, aku bahkan ingin muntah sekarang" balas david acuh
"Wah, kau galak sekali ya" dokter darren mencuri pandang ke thalia
"Jauh berbeda dengan adikmu" gumam dokter darren pelan
"Kau bilang apa?" bentak david, yang mendengar ucapan dokter darren
"Mungkin kau salah dengar" dokter darren sedikit takut dengan david
"Emm, kakak aku permisi ke toilet ya" ucap thalia
"Ya, pergilah" david mengizinkan
Setelah thalia pergi, david langsung menarik kerah baju dokter darren.
"Hey, aku tau kau dari tadi melirik adikku kan? hah?" bentak david
"Katakan apa tujuan mu kesini? dari tadi kau terus kesini dengan alasan ingin memeriksa keadaanku" lanjut david dengan menekan nada bicaranya
"Aku tau itu hanya alasan mu saja kan" david semakin kuat menarik kerah baju dokter darren
"Le..lepaskan aku dulu david" pinta dokter darren
David langsung melepaskan dokter dareen,,
"Uhuk-Uhuk" dokter darren hampir kehilangan nafas
"Kau hampir membunuh ku" ucap dokter darren sambil berusaha bernafas
"Aku masih memberi waktu untuk kau hidup" balas david acuh
"Dengar, aku memang menyukai adikmu dan aku kesini karena aku ingin melihatnya" dokter darren jujur
"Tapi aku tidak punya maksud lain,, aku hanya ingin mengenalnya itu saja" lanjut dokter darren menatap david
"Apa kau bersungguh sungguh dengan ucapanmu?" tanya david menatap tajam
"Tentu saja,, aku jatuh cinta padanya setelah pandangan pertama, saat itu aku tidak tau jika dia adikmu" ucap dokter darren
"Dan sekarang kau sudah tau" ucap david masih dengan tatapan tajam
"Iya aku tau" jawab dokter darren kesal
"Tapi tetap saja, hatiku ingin aku mengenalnya lebih dekat" lanjut dokter darren menghela nafas
"Tapi sayang, sepertinya kakaknya tidak akan setuju denganku" melirik david
David menatap dokter darren dengan seksama,,
"Aku memberimu kesempatan, maka lakukanlah dengan baik" balas david
"Ke..kesempatan? kau serius? david?" dokter darren terlihat senang
"Lakukan yang terbaik sebelum aku berubah pikiran" bentak david
"Ahh, baiklah,, terimakasih kakak ipar" dokter darren memeluk david
"Cih, aku bukan kakak iparmu,, sana pergi" david mendorong dokter darren
"Pergilah" david muak melihat dokter darren
"Yaya, baik kakak ipar" dokter darren pergi meninggalkan david sendiri
"Hufff, aku bisa gila jika punya adik ipar sepertinya" david sedikit tertawa
"Kita lihat saja, sampai dimana perjuanganmu darren" gumam david tersenyum
Tak lama alvaro datang dari arah pintu,, david yang hendak istirahat, mendengar langkah kaki membuka kembali matanya.
"David" panggil alvaro, mulai mendekat
"Hemm" hanya itu sahutan darinya
"David" panggil alvaro lagi, bahkan sudah di depannya david
"Kenapa anda kesini lagi tuan? apa tidak bosan terus mengganggu saya" david menoleh
"Ada yang harus ku sampaikan padamu, david" ucap alvaro
"Aunty rosa..." alvaro sedikit menggantung ucapannya
"Ada apa dengan nyonya rosa" david masih menunggu jawaban
"Aunty rosa sudah mengatur pertemuan dengan papah, dan malam ini papah meminta ku untuk menemaninya kerumah aunty rosa" alvaro menatap lurus ke depan
"Mungkin saja aunty akan membicarakan pertunangan ku dengan alishka,, aku tidak tau, kau masih mencintai pretty? atau mencintai alishka,, tapi alishka sangat mencintaimu,, dan kau harus membuat keputusanmu sendiri" lanjut alvaro menepuk bahu david
__ADS_1
"Baiklah, aku permisi" alvaro langsung meninggalkan ruangan david
David menghela nafas berat, lalu memejamkan matanya,,
"Kakak"
Suara manja seorang gadis membangunkan lamunan pria itu.
"Kau sudah kembali" david tersenyum
"Kakak, apa gadis yang kakak sukai itu akan datang?" tanya thalia
"Aku tidak tau,, mungkin dia ada kesibukan hari ini" david menghela nafas
"Umm, baiklah kakak,, aku pergi ya, kakak baik baik disini ya" thalia pamit
"Hemm, hati hati" david tersenyum
Thali mencium tangan kakaknya, di balas usapan rambut di kepala oleh david.
"Hubungi aku jika butuh sesuatu" pesan thalia
"Bye kakak" teriak thalia saat keluar ruangan
David kembali memejamkan matanya, pria itu beristirahat sejenak.
...----------------...
Tak terasa hari sudah berlalu, waktu menunjukkan pukul 5 sore,, dibutik samara sedang fokus merancang gaun pesanan.
Keiza memperhatikan bosnya itu,, sesekali keiza tersenyum melihat samara, entah apa yang ada di pikiran gadis itu.
"Kak sam" panggil keiza
"Ya kei" sahut samara menoleh
"Kakak imut banget kalau lagi fokus" puji keiza tersenyum
"Ahh, kau ini, hari ini muji terus,, ada maunya ya?" ledek samara
"Hehe, tidak kak" keiza tersenyum malu
"Kakak tidak pulang? biasanya jam segini kakak sudah pulang" tanya keiza
"Aku nunggu suamiku kei,, tadi pagi berangkat bareng dia" balas samara
Kaiza manggut manggut mengerti,,
"Kak, gimana sih rasanya menikah sama orang terpandang seperti tuan edric? pasti kakak senang ya" tanya keiza penasaran
*hmm, kau tidak tau saja apa yang ku alami selama menjadi istrinya,, dan kau juga tidak tau, mantannya saja sampai menjebakku* samara menghela nafas
"Ya begitulah kei" samara hanya tersenyum
"Kakak pernah bertengkar sama tuan edric?" keiza masih menatap samara
"Pernah, setiap pasangan suami istri pasti pernah bertengkar,, tapi bukan berarti mereka saling membenci kei" samara tersenyum lagi
"Cobaan dalam setiap rumah tangga itu berbeda kei,, kau juga akan merasakan pahit dan manisnya setelah kau berumah tangga" ucap samara
Mereka asik mengobrol, tak lama suara klekson mobil mengejutkan mereka
Tin..Tin..Tin
"Mungkin itu tuan edric kak" keiza memberitahu
"Aku duluan ya kei" samara pamit
"Iya kak, hati hati ya kak" keiza tersenyum
Keiza mengantar samara sampai depan,, dan samara masuk kedalam mobil.
"Dah" samara melambaikan tangannya
Tak lama mobil menghilang dari pandangan gadis itu,, keiza lalu mengambil ponsel di tasnya, hendak menelfon seseorang.
"Kenapa tidak di angkat" gumamnya
"Coba ku telfon ulang" keiza mencoba menelfon lagi
...----------------...
Disisi lain, arthur masih bersama alishka,, mereka sedang menikmati es krim, duduk di pinggir jalan.
"Alishka"
"Hemm" sahut alishka yang masih memakan es krim
"Kemarilah" pinta arthur
Alishka mendekat ke arthur
"Ada apa?" tanya alishka
"Haha, tertipu" arthur mengoles es krim di wajah alishka
"He, arthur" alishka kesal karena arthur mengerjainya
Mereka saling mengejar seperti layaknya anak kecil yang main lari larian.
"Sudah, aku lelah" arthur terduduk di dekat motornya
"Ayo, ku antar kau pulang" ajak arthur
"Aku malas pulang kerumah" alishka menolak
"Ini sudah mau gelap,, kau harus pulang" arthur menarik tangan alishka, dan gadis itu menurut
Tanpa arthur tau jika terdapat banyak panggilan dari keiza, namun karena ponselnya di silent kan arthur tidak mendengarnya.
...----------------...
Mobil edric sudah tiba di halaman rumah utama, tak lama alishka datang bersama pria naik motor sport,, arthur berhenti di depan gerbang utama.
"Terimakasih ya arthur" alishka tersenyum
"Iya sama sama,, aku pulang ya" arthur pamit
"Hati hati ya" alishka melambaikan tangan
"Arthur" gumam samara pelan,
Samara hendak memanggil adiknya, namun di cegah edric.
"Biarkan saja beby,, ayo kita masuk" edric menarik tangan samara
Mereka masuk ke dalam rumah utama, di susul oleh alishka.
"Kalian sudah kembali" mamah rosa tersenyum
"Cepat mandi dan bersiap ya,, sebentar lagi pukul 7 malam" ucap mamah rosa
"Alishka, dandan yang cantik ya sayang" bisik mamah rosa
Alishka hanya tersenyum kecut membalas bisikan mamahnya,, lalu gadis itu langsung masuk ke kamarnya.
"Pretty kok belum kembali ya? Ini sudah hampir malam" mamah rosa cemas
...----------------...
Di tempat lain, tepatnya di hotel mewah di dalam ruangannya,, pretty masih mengecek laporan kunjungan akhir tahun.
"Miss" bella masuk keruangan
"Ya bella, ada apa" pretty menoleh
"Hari sudah mau gelap miss, sebaiknya miss pulang dan istirahat" bella menyarankan
"Terimakasih bella, sudah perduli denganku" pretty tersenyum
"Tentu saja miss" bella juga tersenyum
"Baiklah,, ayo kita pulang" ajak pretty
Pretty berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman,, sementara bella hendak menunggu bus di halte.
"Bella, masuklah,, hari ini kau bisa pulang bersamaku" pretty memberi tumpangan
"Tidak perlu miss, saya sudah biasa naik bus" tolak bella
"Ahh, baiklah,, kalau begitu hati hati, aku duluan ya" pretty tersenyum
Pretty langsung melajukan mobilnya, meninggalkan bella sendiri.
Saat dalam perjalanan menuju rumah, pretty melihat seorang gadis di ganggu beberapa preman,, dan saat dia memperhatikan gadis itu.
"Dia gadis pemilik sapu tangan ini" pretty menatap sapu tangan yang ada di dashboard mobilnya
Pretty menepi di pinggir jalan,, dan hendak menolong gadis itu.
"Hey, berandal" teriak pretty mendekati
Para preman itu menoleh, begitu juga dengan keiza yang tangannya di genggam oleh preman itu.
"Lepaskan gadis itu" pretty menekan nada bicaranya
"Hey, gadis kecil jangan ikut campur,, jika kau tidak ingin mati" ancam preman tersebut
"Gadis ini milik kami" lanjut preman itu, ingin mendekat ke keiza
"Tidak, tolong lepaskan aku" keiza memohon sambil menangis
"Ku bilang lepaskan gadis itu" bentak pretty mulai marah
"Baiklah, aku rasa kau juga ingin bersenang senang dengan kami" preman itu menatap pretty dari ujung rambut sampai kaki
"Kau seksi juga" preman tersebut ingin memegang tangan pretty
Dengan cepat pretty memutar tangan preman itu sampai kesakitan,,
"Jangan harap kau bisa menyentuh ku, dasar berandal" teriak pretty di telinga preman itu
"Ahhh, sakit,, hey, kalian cepat hentikan gadis ini" preman itu menyuruh anak buahnya
Pretty melepaskan preman itu dan menendangnya sampai jatuh menabrak anak buahnya,, sementara keiza hanya melihat apa yang di lakukan pretty.
"Hah, jadi kau ingin bermain main ya" ucap preman itu
"Kalian, cepat bereskan gadis ini" sang preman memanggil anak buahnya
Salah satu preman itu menyerang pretty, dengan cepat pretty menghindar, lalu pretty menendang dan memukul wajah preman itu.
Bug
Tepat mengenai wajah salah satu preman itu,
"Apa kau juga ingin merasakan pukulan wanita? hah" bentak pretty kepada preman lainnya
"Kemarilah" pretty menoleh
Preman lain, melayangkan tinjuan ke wajah pretty,, namun pretty menahan tangannya, dan memutar tangan itu sampai terpelintir.
Saat preman itu kesakitan, pretty langsung memukul perutnya dengan keras.
"Ahh" teriak preman itu terjatuh
Pretty telah berhasil mengalahkan beberapa preman,, namun karena jumlahnya semakin banyak, pretty kehabisan tenaga untuk melawan mereka.
"Sial, mereka terlalu banyak" gerutu pretty
Pretty menghela nafas berat, menatap para berandal itu,,
"Hey, gadis kecil apa sekarang kau takut" preman itu menggerdik
"Cih, aku tidak takut denganmu" pretty mencibir
Keiza langsung berlari ke belakang pretty,,
"Terimakasih sudah menolongku" bisik keiza
"Sekarang kau harus susah karena aku" keiza menyesal
"Diamlah, kita akan pergi dari sini" balas pretty
"Jadi kau tidak takut ya? bagaimana dengan ini" preman itu mengeluarkan pisau tajam
Pretty langsung terbelalak, bingung harus berbuat apa,, gadis itu perlahan mundur selangkah.
*daddy tidak pernah mengajariku menghindar dari pisau, apa yang harus ku lakukan sekarang* batin pretty
"Kau cepat pergi dari sini" pretty mendorong keiza
"Tapi bagaimana denganmu" keiza enggan untuk lari
"Jangan pikirkan aku, cepat pergi"
Keiza terpaksa melarikan diri sesuai keinginan pretty.
"Hey, cepat kejar dia" ucap sang preman
"Jangan harap bisa mengejarnya" ucap pretty
Langsung menjegal para preman itu,, sampai keiza sudah tidak terlihat.
"Baiklah, mungkin kau bisa menyelamatkan gadis itu,, lalu bagaimana dengan mu gadis kecil, kau bersedia menggantikannya untuk melayaniku" preman tersebut mendekat sambil menodongkan pisau
"Kau takut?" preman itu terus mendekat
Pretty mundur dan mundur, sekarang dirinya lah yang terpojok.
"Tangkap gadis ini" bentak preman itu
"Ahhh" pretty merintih karena tangannya di tarik paksa
"Dasar pengecut, kau tidak berani melawanku sendirian" teriak pretty
"Lepaskan aku berandal" kedua tangan pretty di tahan dua anak buah sang preman
"Ayo kita nikmati tubuhnya" ucap sang preman
Mendengar itu mata pretty langsung membulat,, dia tidak dapat membayangkan hal yang mengerikan itu.
*tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi,, siapapun, tolong aku* batin pretty
Gadis itu terus meronta, sang preman menyeretnya ke tempat sepih.
"Lepaskan aku brengsek" pretty menunjang preman itu
Namun dengan cepat kakinya di tahan preman yang lain,, sehingga dia tidak bisa berbuat apapun.
Pretty memejamkan matanya pasrah,, gadis itu sudah kehilangan tenaga.
Dan seorang pria lewat mengendarai motor sport dengan kencang, namun pria itu berjalan mundur karena melihat seorang gadis yang hendak di perkosa preman.
Pria itu turun dari motornya dan mendekat,,
"Hey, apa kalian tidak bosan terus mencari masalah" pria itu menekan suaranya
"Siapa kau? berani mengganggu urusan ku" ketua preman itu berdiri
"Kau ingin tau siapa aku?" pria itu menunduk
"Sono il capo della banda dello Scorpione" (aku ketua geng Scorpion)
Pretty yang mendengar suara seorang pria membuka matanya, namun dia tidak bisa melihat pria tersebut.
Krena pria itu sedang berkelahi dengan para preman...
__ADS_1
Bersambung...
Maaf lama author gak enak body šš»