
Semua orang tengah panik melihat keadaan Samara yang tidak sadarkan diri, wajah cantik yang selalu di hiasi dengan senyuman itu kini terlihat sangat pucat.
Darren perlahan memeriksa pergelangan tangan Samara dengan seksama dahi pria itu sedikit berkerut seperti mencari jawaban dan menatap dalam wajah Samara.
"Lia" Panggilnya
"Ya" Thalia mendekat
"Ambil peralatan medis ku di mobil dan yang lainnya tolong tunggu di luar sekarang!" Ucap Darren dengan tegas
"Baik" Thalia langsung berlari keluar
Semua orang pun menuruti perkataan Darren untuk menunggu di luar kamar, kecuali Edric yang masih berdiri mematung tidak ingin meninggalkan sang istri sendirian.
"Kenapa kau masih di sini?" Darren menatap bingung
"Kenapa? Kau mau mengusir ku juga?" Edric menatap tajam
"Humm" Darren menghela nafas
"Aku tidak mengusir mu, aku hanya meminta mu untuk menunggu di luar" Pinta Darren
"Tidak mau, aku ingin bersama istriku" Edric yang kekeh tidak ingin keluar
"Aku suaminya, kenapa aku harus di luar" Ucap Edric di sertai wajah kesal
"Dasar keras kepala" Gumam Darren geleng kepala
"Permisi, ini!" Thalia datang menyerahkan kotak medis milik Darren
"Terimakasih, tunggulah di luar dulu" Ucap Darren
"Baik" Thalia mengangguk dan langsung keluar
Darren membuka kotak medisnya dan mulai mengeluarkan alat-alat untuk memeriksa Samara.
"Sebaiknya kau juga keluar, Ed! Ini terakhir aku menyuruh mu dengan baik" Tegas Darren
Edric masih kokoh berdiri di tempatnya menatap Darren semakin kesal.
"Aku hanya butuh waktu konsentrasi untuk memastikan keadaannya! Kau tenang saja" Darren menepuk pundak Edric
"Jangan pernah menyentuhnya" Edric menekan kalimatnya memperingati
"Relax Ed, kau tidak perlu cemas, aku juga masih ingin hidup" Darren tersenyum
"Sekarang biarkan aku melakukan peran ku sebagai dokter" Ucap Darren
"Baiklah,, lakukan saja tugas mu jangan macam-macam" Edric mulai melunak dan keluar dari kamar
Di luar terlihat semua orang berkumpul dengan wajah yang masih panik dan tidak sabar ingin mendengar keadaan Samara saat ini.
"Edric, apa yang terjadi? Bagaimana dengan Samara?" Jane langsung menarik jas Edric begitu melihatnya keluar kamar
Edric yang melihat ibu mertuanya begitu cemas sedikit menarik nafas dalam.
"Jawab Edric!" Jane yang cemas menarik kuat jas Edric
"Sayang tenanglah, Edric itu suaminya Sam, dia pasti sama khawatirnya dengan kita" Aldebaron menenangkan istrinya
"Tapi Sam" Jane menangis mencemaskan keadaan putrinya
"Lepaskan Edric, Jane!" Aldebaron mencoba menarik Jane kedalam pelukannya
Jane pun akhirnya luluh dan melepaskan cengkramannya pada jas Edric.
"Keadaannya belum bisa di pastikan dan dokter masih memeriksanya" Jawab Edric dengan suara yang bergetar
"Maafkan aku Mom, aku gagal menjaganya dengan baik" Edric terduduk lemas di lantai
"Tuan Muda" David menghampiri
"Jangan seperti ini Tuan Muda, anda harus kuat" David mencoba membantu tuan mudanya berdiri
"Lepaskan aku" Edric mendorong David
"Tuan, saya mengerti yang anda rasakan saat ini tapi anda adalah presdir Alliance Michael memperlihatkan kelemahan anda sangat tidak tepat untuk sekarang" Ucap David
"Ayo bangun Tuan" Pinta David
Mendengar perkataan David dan mengingat orang-orang yang hadir di pesta ini membuat Edric mulai bangkit kembali.
"Terimakasih sudah mengingatkan ku" Edric menatap David
Jangan sampai orang lain mengetahui kelemahan anda tuan, jika sampai itu terjadi kedepannya akan lebih membahayakan hidup Nona Muda, karena kelemahan anda adalah Nona Muda. Ucap David dalam hati
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lantai bawah orang-orang pada bertanya-tanya apa yang terjadi dengan istri seorang Edric? Apakah Samara ada riwayat sakit? Berbagai pertanyaan pun muncul.
Alvaro bersama yang lainnya juga menunggu di bawah dan samar-samar terdengar beberapa orang membicarakan tentang keadaan Samara, membuatnya tidak bisa menahan suara.
"Para hadirin semua orang" Panggil Alvaro dengan lantang
"Al, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Pretty
"Kau diam saja dulu" Alvaro berjalan ke tengah para tamu
"Hari ini adalah awal tahun baru dan saat ini adalah saat yang tepat untuk merayakannya" Seru Alvaro
"Untuk melanjutkan perayaan yang sempat tertunda ini, aku Alvaro Rayburn akan menyediakan The Ritz London dan meneraktir kalian semua disana" Ucap Alvaro tersenyum
"Bagaimana apa kalian ingin?" Alvaro menatap semua orang yang ada
"Al apa kau yakin?" Pretty terlihat kaget
"Tentu saja, apa kau meragukan ku?" Jawab Alvaro santai
__ADS_1
"Ahh, baiklah terserah" Pretty tersenyum kecut
"Honey, ayo ikut bersama ku" Alvaro melirik Dominique
"Oke" Dominique hanya mengangguk dan mengikuti kemauan kekasihnya itu
"Eh mau kemana?" Thalia heran orang-orang pada beranjak pergi
"Alvaro mengajak semua orang pergi ke The Ritz London dan merayakan tahun baru disana" Pekik dominique
"Ahh aku juga ingin ikut kesana" Thalia menggigit bibir bawanya
"Humm boleh saja, tapi Darren..." Dominique tidak meneruskan
"Lia, tunggulah disini dan kabarkan terus pada ku keadaan disini" Pinta alvaro
"Ummm baiklah" Thalia pun mengangguk
"Menyusul saja jika Samara sudah pulih" Seru Alvaro, Thalia pun mengangguk lalu kembali ke atas.
"Ya sudah, ayo kita pergi" Ajak alvaro menggandeng tangan Dominique
"Kau tidak ikut?" Alvaro menatap Pretty yang masih berdiri di tempatnya
"Tidak, aku disini saja" Jawab Pretty acuh
"Kau yakin?" Alvaro mengerutkan dahi
"Apa maksudmu? Memangnya kenapa?" Pretty heran
"Apa kau yakin tahan melihat kemesraaan David dan Alishka" Bisik Alvaro
Pretty mengepalkan tangan mendengar bisikan Alvaro di telinganya.
"Dasar kau" Pretty meninju bahu Alvaro kuat
"Aww, sialan sakit sekali" Alvaro meringis
"Rasain" Pretty cemberut
"Hahaha, lihat sudah jelas kau masih cemburu" Alvaro tertawa
"Sudah lupakan saja, carilah pengganti yang baru" Lanjutnya
"Diam" Pretty teriak kesal dan pergi meninggalkan Alvaro bersama Dominique
"Dasar wanita aneh" Alvaro geleng kepala
"Beby, kau ini kerjanya menganggu saja" Dominique heran
"Biarkan saja honey, biar dia sadar cinta itu tidak harus memiliki" Seru Alvaro tersenyum
"Jadi kalau aku pergi, apa kau tidak akan mengejarku? Apa kau diam saja?" Tanya Dominique
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi, karena aku tidak akan melepaskan mu" Alvaro mencubit hidung Dominique gemas
"Sudah, ayo kita pergi jangan sampai semua orang menunggu lama" Pekik Alvaro
Keduanya pun pergi meninggalkan rumah megah kediaman keluarga Edric.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar utama Darren tengah memeriksa denyut nadi dan jantung Samara di bantu dengan alat stetoskop.
"Semuanya masih normal" Seru Darren
Darren mulai memeriksa di bagian seluruh perut dan sampai di bawah pusat, tangannya sedikit menepuk dan menekan perut bawah Samara.
"Sedikit keras apa itu artinya" Darren sedang berpikir sambil menekan kembali perut Samara
"Aww sakit-sakit" Sontak Samara terbangun kesakitan
"Sakit? Apa sakit disini?" Darren menatap Samara memastikan
"Ya, tolong jangan tekan lagi" Samara geleng kepala
"Baiklah, kalau begitu ada yang ingin ku tanyakan sebentar" Seru Darren
"Apa maksud mu? Apa yang terjadi? Dimana yang lainnya?" Samara bingung
"Jawab saja pertanyaan ku!" Tegas Darren
"Apa yang kau rasakan beberapa hari ini?" Lanjut Darren
"Beberapa hari belakangan ini aku sering sedikit merasa pusing dan lelah, tapi kenapa kau menanyakan itu?" Samara masih bingung
"Apa kau ingat kapan terakhir kali mendapat menstruasi?" Tanya Darren dan itu sukses membuat Samara terkejut
"Hah? Menstruasi?" Samara termenung
Ada apa dengannya? Seorang pria tapi menanyakan menstruasi ini sangat tidak pantas. Batin Samara
"Jangan takut katakan saja, saat ini yang ada di hadapan mu bukan teman dari suamimu, melainkan dokter pribadi keluarga suamimu jadi kau tidak perlu cemas" Seru Darren meyakinkan
"Aku tau kau memang seorang dokter" Balas Samara
"Kalau begitu jawab pertanyaan ku agar aku bisa memastikannya, karena suamimu sudah menunggu dengan sangat cemas saat melihatmu pingsan di acara tadi" Jelas Darren
"Apa? Aku pingsan" Samara terkejut
Edric pasti sedang mengkhawatirkan ku saat ini. Samara terlihat resa
"Ya, dia terlihat sangat panik tapi kepanikan itu akan hilang ketika mengetahui keadaan mu saat ini" Darren tersenyum
"Apa maksud mu?" Samara tidak memahami perkataan Darren
"Perubahan hormon yang terjadi didalam tubuh mu itu mengakibatkan pusing dan mudah kelelahan, dan itu biasa terjadi pada wanita yang sedang mengandung" Jelas Darren
__ADS_1
"Benarkah?" Samara sedikit mencerna ucapan Darren
"Lakukanlah tes urin untuk hasil yang lebih maksimal, apa kau sudah pernah melakukannya?" Tanya Darren
"Belum, tapi aku memang sudah terlambat menstruasi" Seru Samara
"Itu artinya ada kemungkinan saat ini kau sedang mengandung Samara" Tegas Darren
"Karena itu akan lebih baik jika kau menjaga tubuh mu dengan baik,, aku hanya akan memberikan resep obat pereda rasa pusing" Jelas Darren
"Dan jika terjadi hal lainnya segera datang ke RS tempat ku bekerja" Lanjut Darren
"Baiklah, terimakasih" Samara mengangguk
"Humm apa aku harus beritahukan hal ini pada suamimu?" Tanya Darren sebelum beranjak pergi
"Tunggu, ku mohon jangan beritahu dia,, setelah memastikan lagi biar aku sendiri yang akan mengatakannya" Pinta Samara
"Baiklah" Darren mengangguk
"Dan tolong jangan katakan pada siapapun juga" Samara memohon
"Apa kau ingin aku berjanji untuk merahasiakan kehamilan mu?" Darren menatap Samara
"Humm" Samara mengangguk
Apa yang kau inginkan Samara? Kenapa menyembunyikan kabar sebesar ini? Aku harap kau tidak menunda lebih lama lagi. Pikir Darren
"Baik, aku tidak akan mengatakan kepada siapapun" Darren mengangguk setelah itu meninggalkan Samara sendiri
Sementara di luar Edric tengah panik menunggu kabar keadaan sang istri,, begitu Darren keluar kamar Edric langsung menghampiri.
"Bagaimana keadaan istriku? Jawab?" Edric menatap tajam
"Tenang, istrimu baik-baik saja" Jawab Darren tersenyum
"Apa maksud mu? Jelas-jelas dia tidak sadarkan diri? Kau bilang dia baik-baik saja? Kau jangan bercanda dengan ku" Edric menarik kerah baju Darren
"Aku tidak bercanda, istrimu hanya kelelahan karena itu dia pingsan" Ucap Darren
"Dan ya sekarang dia sudah sadar, kau bisa melihatnya sendiri" Lanjut Darren melepaskan cengkraman tangan Edric dari bajunya
Edric menatap Darren dengan ragu dan langsung masuk ke dalam kamar memastikan sang istri yang telah sadar.
"Beby" Panggil Edric mendekat ke kasur
"Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" Tanya Edric cemas
"Aku baik-baik saja, cuma tidak enak badan" Samara tersenyum
"Kalau begitu kau harus istirahat, maafkan aku tidak memperhatikan mu beby" Edric menggenggam jemari Samara
"Aku sangat takut kehilangan mu sayang" Edric mencium tangan Samara
"Aku tau" Samara tersenyum senang
Maafkan aku Ed, aku belum bisa memberitahu yang sebenarnya, setelah waktu yang tepat aku pasti akan mengatakannya. Bisik Samara dalam hati
David dan yang lain juga ikut tenang melihat Samara baik-baik saja.
"Ehem" Darren berdehem dan semua mata melihatnya termasuk Samara
"Aku sudah menyiapkan resep obat dan kau bisa menebusnya" Seru Darren
"David tebus semuanya" Titah Edric
"Ini tugasmu kakak ipar" Darren memberikan resep obat pada David
"Baik" David menarik kertas itu dengan kasar dan langsung pergi
"Kalau begitu aku permisi Ed" Darren pamit
"Humm" Hanya itu yang di katakan Edric
Darren pun keluar dari kamar dan menghampiri Thalia, terlihat Jane dan Aldebaron beserta Mama Rosa, Alishka dan yang lain juga ada.
"Darren apa kami sudah bisa melihat Samara?" Tanya Mama Rosa
"Tentu saja, silahkan Aunty" Darren mengangguk
"Terimakasih, ayo" Mama Rosa mengajak yang lainnya masuk
Tinggal Darren dan Thalia bersama Pretty.
"Kau tidak masuk kedalam?" Darren menatap ke Pretty
"Tidak, didalam terlalu ramai" Balas Pretty
"Ya sudah kalau begitu disini saja" Acuh Darren
"Sayang, apa kau masih ingin disini?" Darren menggenggam tangan Thalia
"Kita susul orang Domi saja yuk" Pinta Thalia
"Mereka kemana?"
"Alvaro meneraktir semua orang di The Rizt,, ayo kita kesana juga" Rengek Thalia
"Yaya baiklah, kita kesana" Darren tersenyum
"Asik" Thalia terlihat senang
"Bye Pretty" Sebelum pergi keduanya melambaikan tangan
"Kenapa kalian semua terlihat menyebalkan" Gumam Pretty melihat kepergian sepasang kekasih itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung....