
Fiona segera keluar dari dapur, wanita itu menunggu momen yang pas.
Office girl itu mengantarkan minuman ke ruang presdir,,
Cek..lek
Pintu terbuka, dan office girl itu masuk kedalam ruangan.
"Tuan edric tidak ada" gumam office girl itu
"Ahh, taruh saja disini ,, nanti juga dia kembali" ucap office girl itu
Dengan cepat office girl itu keluar dari ruangan presdirnya,,, fiona dapat melihat semua dari kejauhan.
*bagus, tinggal selangkah lagi* fiona tersenyum puas.
Dan tak lama terlihat edric keluar dari ruang meeting,, edric berjalan ke ruangannya.
Sekretaris membawakan berkas mengikuti di belakangnya,, fiona dapat melihat edric sudah masuk ke dalam ruangan, wanita itu terlihat senang.
*sudah waktunya kau menjadi milikku ed* dengan bangganya dia tersenyum.
Sementara edric di dalam duduk bersandar di sofa,, dia merasa lelah karena meeting yang panjang.
Edric menatap gelas yang ada di mejanya,,
"Siapa yang meletakkan gelas itu diruanganku?" gumam edric
Edric beranjak mengambil gelas tersebut,,
"Mungkin stella yang menyuruh orang untuk membuat minum untukku" pikir edric
Edric hendak meneguk minuman tersebut,, namun tidak jadi.
"Ini bukan yang biasa ku minum, baunya tidak enak" edric menutup hidungnya, menjauhkan gelas itu
Berhubung office girl itu masih baru bekerja,, jadi dia tidak tau minuman yang biasa dibuat untuk presdir.
"Permisi tuan" sekretaris menyusul edric ke ruangan
"Stella" bentak edric
"Ya tuan" stella terkejut edric membentaknya
"Kau tau apa yang biasa ku minum?" tanya edric menatap tajam
"Iya tuan,, saya tau" ucap stella sedikit bingung
"Kalau kau tau,, kenapa kau menyuruh mereka membuat minuman seperti ini" bentak edric
"Minuman?" stella semakin bingung
"Ya, kau yang menyuruh mereka menaruh gelas ini diruanganku" ucap edric
"Tidak tuan, saya belum memesan minuman untuk anda tuan,, karena saya menemani anda saat meeting tuan" jelas stella
"Jika bukan kau? lalu siapa?" edric mulai curiga
"Saya tidak tau tuan" stella menggelengkan kepalanya
"Kau minum ini" edric menyerahkan gelas itu
"Saya yang minum ini tuan" stella kaget
"Ya cepat kau minum ini, habiskan" bentak edric
"Baik tuan" stella terpaksa meneguk gelas tersebut sampai habis
*siapa yang lancang ingin bermain denganku disini* batin edric
Setelah meminum itu stella memberikan beberapa berkas kepada edric.
"Tuan ini ada beberapa berkas yang harus anda tangani tuan" ucap stella
"Tunggu, biar ku lihat dulu" edric mengambil berkas tersebut
"Apa setelah ini ada meeting lagi?" tanya edric sambil membaca berkas
"Tidak ada tuan" ucap stella
Selama david dirumah sakit,, semua jadwal kegiatan edric di atur oleh stella.
"Tu..tuan" stella terbata bata
*ada apa ini? kenapa sangat panas, rasanya ini aneh* stella mulai gelisah
Stella merasa ada yang berbeda dari tubuhnya,, dan itu sangat aneh.
Nafasnya mulai terengah,, tubuhnya bergejolak seperti menginginkan sesuatu.
"Ahhh" stella meringis menahan sesuatu didalam dirinya
"Kau kenapa stella" edric menoleh karena merasa aneh melihat stella
"Tu..tuan saya tidak tau tuan" stella menggenggam roknya
"Rasanya panas sekali tuan" stella tidak dapat menahannya
"Ahhh" kakinya merapat seperti menahan sesak
Stella terus berteriak menahan gairah nafsu yang mulai memuncak.
Gadis itu terduduk dilantai karena merasa lemas,,
"Stella" edric merasa khawatir dengan sekretaris nya itu
"Apa yang terjadi, stella" edric ingin mendekat, namun stella menyuruhnya tetap di tempatnya
"Tidak tuan,, jangan dekati saya, saya tidak ingin melakukan hal yang tidak baik pada anda tuan" ucap stella menundukkan wajah
*ya tuhan, kenapa jadi begini? apa yang sebenarnya terjadi? kepala ku juga pusing* batin stella
"Stella bangun" bentak edric
"Cepat bangun, kenapa kau seperti ini" edric heran
Edric pun menarik tangan stella agar bangkit,, sentuhan itu membuat stella tidak dapat mengendalikan diri.
"Tuan" suara stella mulai menggoda
Edric menatap stella yang mendadak berubah drastis,, gadis itu tidak melepaskan tangan edric.
"Stella lepaskan tanganku" edric berusaha menarik tangannya
"Tuan, kenapa kau sangat tampan" stella menjadi sangat manja, mendekap di dada edric
"Hey, apa kau tidak waras" edric mendorong stella agar menjauh darinya
"Tuan, aku menginginkan mu tuan" stella kembali memeluk edric
"Lakukan apapun yang kau inginkan tuan" stella membuka kemejanya
"Ahh sial, kenapa kau menjadi liar begini stella" edric merasa sesuatu mengeras dibalik celananya
Gadis itu melemparkan kemejanya ke lantai,, hanya tersisa bra saja yang melekat di tubuhnya.
"Hey, ada apa denganmu? hey, hey, tutupi tubuh mu itu stella" edric menutup matanya tidak ingin melihat
"Tuan, apa kau tidak ingin menikmatinya,, buka matamu tuan" stella menepuk nepuk pipih edric dengan gemas, gadis itu sudah tidak sadar akan perbuatannya
Mendengar suara stella yang menggoda, membuat pertahanan edric runtuh,, edric membuka matanya.
Cup
Stella mencium bibir edric yang terlihat seksi, itu sukses membuat edric terbelalak.
"Stella, hentikan atau kau akan menyesalinya" bentak edric
Namun gadis itu tidak berhenti merayunya,, itu membuat junior edric semakin menegang.
"Baiklah, jika ini yang kau inginkan" ucap edric dengan nafas memburu
Edric pun membalas ciuman stella, karena di kuasai nafsu keduanya saling mel*mat.
Stella yang sudah tidak tahan meletakkan tangan edric tepat di atas dadanya,, edric juga tidak dapat menolak keinginan stella, karena gadis itu terus memaksanya.
Edric menuntun stella, berjalan ke kamar tempat dimana edric beristirahat,, edric mendorong tubuh stella ke atas ranjang.
Edric menatap stella dengan teliti, nafasnya terengah,, gadis itu terus menggeliat meminta hal yang lebih.
"Tuan" stella menarik tangan edric
Edric terjatuh di atas stella,, gadis itu membelai wajah tampan edric, dan sesekali mencubit gemas pipih edric.
Edric masih diam saja menatap sekretarisnya itu,,
*kenapa kau mendadak liar stella,, aku tau kau bukan gadis seperti ini, kau masih sangat murni stella,, aku tidak mungkin merusak mu* batin edric
Stella mendorong tubuh edric, gadis itu membuka roknya di hadapan edric,, hanya tersisa ****** ***** berenda miliknya.
Edric memalingkan wajahnya,,
*tidak, jika terus begini aku bisa lepas kendali* gerutu edric
__ADS_1
"Ayo tuan,, aku siap melakukannya" pinta stella merayu edric
Gadis itu terus meraba tubuh edric yang masih tertutup jas,, perlahan stella membuka jas edric, terus membuka kancing kemeja satu persatu.
Dada bidang edric mulai terlihat, stella mengelus dada itu.
"Ahh, kau sangat nakal stella" edric menarik tangan stella
Edric mel*mat bibir ranum stella,, stella membalas ciuman itu, sambil menjambak rambut edric.
Edric menciumi jenjang leher stella,, wangi farfum gadis itu masih sangat harum.
Disisi lain, fiona yang merasa waktunya sudah tepat berjalan menuju ruangan edric.
"Ed" panggil fiona saat masuk ke ruangan
"Dimana dia" fiona tidak melihat edric di dalam ruangan
"Bukankah seharusnya dia ada disini" pikir fiona
"Ahhhhh" suara rintihan terdengar dari balik dinding
Fiona yang kaget mendengar itu langsung mendatangi sumber suara,,
"Apa mungkin edric ada dikamar peristirahatan nya" gumam fiona
Fiona perlahan membuka pintu kamar itu,, dan ternyata tidak terkunci.
"Ed.." fiona terbelalak melihat sesuatu yang ada di depannya
Terlihat edric sedang menindih seorang gadis dibalik selimut,, dan gadis itu hanya mengenakan bra saja, gadis itu juga memeluk edric dengan erat.
*sialan, siapa gadis itu? seharusnya aku yang sedang bercumbu dengannya,, ahh, kenapa semuanya jadi berantakan* fiona mengepalkan tangan geram
Fiona tidak tau jika bukan edric tapi stella yang meminum, minuman yang telah di campur obat perangsang olehnya,,
Karena kesal melihat adegan mantap tersebut, fiona pergi meninggalkan kantor dengan emosi.
Dan edric didalam tidak mengetahui kedatangan fiona, dia terus mencoba melepaskan diri dari pelukan stella.
"Stella, come on be aware" teriak edric
"Aku tidak ingin berdosa karena sudah merusak mu,, lepaskan aku stella" edric berusaha bangkit
Namun stella menahan tubuh edric dengan kakinya,, stella mulai merab* r*ba junior edric, dari balik celana.
"Ahh, sial,, berhentilah bersikap nakal stella" edric berusaha mengontrol dirinya
"Kenapa tenaga mu sangat kuat,, ketika sedang bercinta stella" edric menekan suaranya
Akhirnya dia bisa melepaskan diri dari cengkraman stella,, edric langsung bangkit, sedikit lemas karena bergulat sebentar.
"Samara tidak pernah seagresif ini,, hah, gadis ini sangat hebat" edric sedikit tertawa melihat stella yang terus menggeliat
"Tuan, kembalilah,, kita bahkan belum melakukannya" pinta stella yang masih belum sadar
Edric hanya menghela nafas dan keluar dari kamar itu,, edric menutup pintu itu dengan rapat.
Lalu dia duduk bersandar di sofa,, edric memejamkan matanya sejenak melepas penat.
Terlihat ada beberapa bekas lipstik di lehernya,, sepertinya stella memang sedikit liar, dan edric masih berfikir apa yang membuat sekretarisnya itu mendadak berubah.
"Ya setelah minum ini, stella langsung berubah" edric memandang gelas tersebut
"Minuman apa sebenarnya itu" gumam edric
"Tuan, buka pintunya tuan" suara rengekan stella mengejutkannya
"Apa dia sudah sadar? tidak, jika ku buka sekarang bisa saja dia menggila" edric masih tidak ingin membuka pintu kamar
Edric mengecek ponselnya, ternyata sudah lewat waktu makan siang,, karena meledani stella, dia sampai lupa makan siang.
"Ahh, pantas saja aku lapar" edric mendengus kesal
Cek..Lek...
Pintu ruangannya terbuka, edric langsung menoleh.
"Hai, ed" ternyata alvaro yang datang
"Al, kenapa kau tidak menghubungiku dahulu" tanya edric
"Apakah harus? aku ingin mengejutkan mu karena itu aku diam diam datang" ucap alvaro
Alvaro ikut duduk di sofa,, pria itu memperhatikan edric dengan seksama.
"Kau terlihat berantakan ed,, kemejamu juga kusut, kancingmu sedikit terbuka" dengan detail, alvaro menatap edric heran
"Benarkah? tapi aku tidak merasa panas disini" alvaro curiga, terus menatap edric dengan tajam
"Kenapa menatap ku seperti itu?" edric sedikit panik
Edric menutupi lehernya dengan kerah bajunya,, itu semakin membuat alvaro curiga.
"Kau tidak pernah memakai kemeja seperti itu ed,, turunkan kerah mu, kau bilang disini sangat panas jika seperti itu kau akan lebih kepanasan" alvaro menekan suaranya
"Ini kantorku terserah ku mau bagaimana" balas edric acuh
"Baiklah, karena ini kantor mu jadi aku ingin istirahat sejenak,, ed, bukankah kau punya kamar untuk istirahat" alvaro beranjak dari sofa
"Biarkan aku istirahat sejenak,, aku sedikit lelah ed" alvaro ingin membuka pintu kamar itu
"Jangan buka pintu ini" edric menghalangi
"Ada apa ed? apa ada sesuatu didalam" alvaro heran
"Tidak ada,, hanya saja kamarnya berantakan, kau tidak akan mau melihatnya,, lebih tidur di sofa saja" edric beri alasan
"Kamarnya berantakan? memangnya apa saja yang kau lakukan? sampai itu bisa berantakan" alvaro sedikit curiga
"Aku...aku tadi ketiduran, jadi itu masih berantakan" ucap edric tersenyum kikuk
"Benarkah?" alvaro masih kurang yakin
"Tentu saja itu benar,, ayo duduk saja disofa" edric menarik tangan alvaro
Namun tiba tiba suara rengekan manja stella terdengar...
"Tuan, sampai kapan kau menghindariku tuan,, cepat kembali tuan" teriak stella menggedor pintu
"Sial" gerutu edric pelan
"Edric" bentak alvaro
"Apa itu yang membuat kamarnya berantakan?" alvaro menatap tajam
"Tidak al, kau jangan salah paham dulu" edric mencoba jelaskan
Alvaro langsung menarik kerah baju edric,, terdapat banyak bekas lipstik dileher edric, dan alvaro melihat itu.
"Kau sungguh melakukannya? apa kau sedang selingkuh?" bentak alvaro
"Kau sudah mengkhianati samara? jawab aku edric" suara alvaro semakin meninggi
Kemarahan alvaro sukses membuat edric terdiam dan sedikit menciut,,
"Tidak, aku tidak pernah selingkuh" ucap edric yang juga membentak
"Lalu apa semua ini? kenapa ada gadis di kantormu? ada bekas lipstik di lehermu? kau masih ingin mengelak" alvaro emosi
Alvaro tipe pria yang setia dan tidak pernah mengkhianati seorang wanita,, karena itu dia marah besar, saat melihat edric seperti ini.
"Aku juga tidak tau, apa yang terjadi" bentak edric
"Suruh gadis itu keluar sekarang, atau aku saja yang menyeretnya keluar" alvaro membuka pintu kamar
"Saat ini kondisinya tidak pantas untuk keluar" ucap edric
Alvaro terdiam saat masuk kamar,, terlihat stella tertidur pulas di atas ranjang, hanya mengenakan pakaian dalam saja.
"Akan lebih baik jika kau tidak mengganggunya,, dia akan menggila jika melihatmu" lanjut edric
Alvaro kembali menutup kamar itu,,
"Apa yang sebenarnya terjadi? jika kau tidak memiliki hubungan dengannya" tanya alvaro
"Stella, dia sekretarisku yang mengatur semua jadwal di kantorku,, aku tidak tau, kenapa dia berubah,, dia bukan gadis sembarangan, dia tidak pernah seperti ini" edric menghela nafas
"Setelah meminum itu, sikapnya mendadak liar,, dan terus merayuku" lanjut edric menceritakan yang terjadi
"Minum? apa dia meminum sesuatu?" alvaro menatap heran
"Ya, dia minum, minuman yang ada di gelas ini,, dia meneguknya sampai habis" edric menaruh gelas itu didepan alvaro
Alvaro mengambil gelas itu, mencium bekas minuman tersebut.
"Ed, ini bukan minuman biasa" alvaro menjauhkan hidungnya
"Ini sudah dicampur obat perangsang,, aku tau betul bau obat itu" jelas alvaro
"Obat perangsang?" edric tidak mengerti
"Ya, obat ini akan membuat orang kehilangan kesadaran jika meminumnya,, obat ini sangat mempengaruhi nafsu dan gairah seseorang, mungkin ini yang membuat sekretarismu menjadi sangat liar" alvaro menjelaskan
__ADS_1
"Minuman awalnya dibuatkan untukku,, tapi aku menyuruh stella untuk meminumnya" gumam edric
"Itu berarti ada yang ingin menjebakmu ed,, tapi kau lolos karena bukan kau yang meminumnya" balas alvaro
"Sial, siapa yang sudah berani mengincarku" edric emosi
Edric keluar dari ruangannya menuju pentry,, diikuti oleh alvaro, edric mengumpulkan semua office boy dan office girl.
"Katakan siapa yang masuk keruanganku? dan menaruh gelas ini di mejaku" teriak edric di depan para office
"Jawab atau kalian semua ku pecat" bentak edric murka
"Saya tuan, saya yang membawakan gelas itu keruangan tuan" salah satu office girl menjawab
Semua orang menatapnya termasuk edric,,
"Apa kau yang membuat minuman itu?" edric menatap tajam
"Ya tuan, saya yang membuatnya" office girl itu ketakutan
"Jadi kau yang mencampur sesuatu didalam minuman itu" bentak edric
"Kau dipecat, keluar dari sini" edric dengan murka tanpa toleransi
"Maafkan saya tuan,, saya tidak mencampurkan apapun di minuman itu tuan, sumpah saya tidak berbohong" ucap gadis itu
"Saya tidak tau apa apa tuan,, saya hanya disuruh membuat minuman untuk anda tuan" lanjut gadis itu menangis
"Ed, dia berkata jujur,, ini bukan salahnya, pasti ada orang yang menggunakan dirinya untuk menjebakmu" ucap alvaro menatap office girl itu
"Tapi tetap saja dia itu tidak berguna" edric masih marah
"Tapi kau tidak bisa memecatnya ed,, karena dia tidak sepenuhnya bersalah, kau hanya bisa menghukumnya karena dia ceroboh" alvaro memberi saran
"Baiklah,, kau di skors selama satu minggu" ucap edric
"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu?" tanya edric
"Saya tidak tau tuan,, dia seorang wanita cantik, hanya itu yang saya tau" jawab office girl itu
"Wanita cantik?" alvaro sedikit berfikir
"Kalian boleh pergi" alvaro menyuruh semua orang kembali bekerja
Mereka kembali keruangan edric,, berfikir siapa yang ingin menjebak edric
"Menurutmu siapa wanita cantik itu?" tanya edric
"Seorang wanita berani bermain api denganku,, apa dia sudah bosan hidup" pikir edric emosi
"Aku juga masih mencari tau" balas alvaro
"Tuan" stella keluar dari kamar, dengan pakaian yang sudah lengkap
Gadis itu menundukkan wajahnya merasa malu,, bahkan dia hampir menangis.
"Stella" edric menoleh
"Maafkan saya tuan,, sepertinya saya sudah berbuat lancang pada anda tuan" mengingat keadaannya saat terbangun, itu membuat stella sangat malu
"Saya tidak tau apa yang terjadi tuan,, saya juga tidak bisa mengingatnya, tapi saya pasti telah melakukan hal yang buruk tuan" gadis itu mulai menangis
Edric juga tidak tau harus berkata apa,, karena dia sendiri sadar, jika stella hanya korban dari penjebakan itu.
Edric pun berfikir, jika saat itu dia yang meminum gelas itu,, pasti dia juga telah melakukan hal yang tidak baik kepada stella, bahkan mungkin hal yang tidak dapat dihindari.
"Stella, aku sudah memaafkan mu,, jadi lebih baik kau pulanglah" edric sedikit canggung
Karena sejujurnya dia juga masih belum melupakan apa yang terjadi, dan dia juga merasa bersalah karena sudah mencuri first kiss gadis itu.
"Terimakasih tuan"stella juga merasa canggung dan malu,
Gadis itu masih menangis, jika mengingat saat dia terbangun di kamar peristirahatan edric,, gadis itu berfikir pasti bos nya itu sudah melihat seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
*hiks hiks, itu memalukan, itu sangat memalukan* stella menggeleng kepala
"Saya permisi tuan" stella pamit, namun tidak berani menatap edric
Rasa malu begitu besar didalam hatinya,, gadis itu dengan cepat melangkah menuju pintu keluar
"Stella" panggil edric
Stella terpaksa berhenti, karena edric memanggilnya,,,
"Ada apa tuan" stella tetap menunduk
"Ayo, biar aku mengantar mu pulang" edric menawarkan
Sebagai tanda permintaan maaf, edric hendak mengantar sekretaris nya itu pulang kerumahnya.
"Jangan tuan" tolak stella, selangkah menjauh
Gadis itu telihat syok,,
*tidak, aku tidak bisa pulang bersama tuan edric,, bisa bisa pikiran ku kacau, itu benar benar memalukan* pikir stella
"Stella, apa kau takut padaku?" edric mencoba menghampiri
"Tidak tuan, bukan begitu" stella berjalan semakin mundur
"Lalu kenapa kau menolak tawaran ku? jangan takut stella, aku hanya akan mengantar mu pulang" ucap edric
"Tuan, saya bisa pulang sendiri,, jadi anda tenang saja" stella masih menolak
"Tuan tidak perlu repot repot,, saya permisi tuan" ucap stella
Itu sangat disayangkan oleh edric,, niat baiknya di tolak oleh stella, edric menghela nafas.
"Baiklah, kau hati hatilah" edric tersenyum
Stella sekilas dapat melihat senyuman itu,,
*anda benar benar tampan saat sedang tersenyum tuan,, nona samara pasti bahagia bersama anda* stella juga tersenyum
Stella berbalik badan ingin melangkah pergi,, namun suara alvaro membuat gadis itu kembali berhenti.
"Apa kau yakin tidak ingin di antar?" tanya alvaro
"Aku dengar di tempat tinggal mu berada,, banyak preman yang berkeliaran, meskipun di siang hari" ucap alvaro, setelah melacak lokasi rumah stella
Edric ikut menoleh ke arah alvaro,, tatapan edric menyelidik.
*apa maksud ucapannya itu* pikir edric
"Dan jalanan menuju rumahmu juga sepih,, tidak banyak orang yang melewatinya, bukankah itu benar?" lanjut alvaro menatap stella
"Dengar, aku bukan ingin memaksa mu,, tapi, preman bisa saja mengikutimu saat kau sendirian,, jadi akan lebih baik jika kau pulang bersama kami" ucap alvaro meyakinkan stella
Stella pun merasa takut mendengar ucapan alvaro,, karena jika dipikir yang dikatakan alvaro memang benar adanya.
Stella mengangguk, tanda setuju dengan alvaro.
"Ed, ayo antar sekretaris mu sampai rumah,, jangan sampai dia kehilangan kemurniannya" alvaro tersenyum
"Aku tau kau hanya ingin memastikan gadis ini pulang kerumahnya kan" bisik alvaro di telinga edric
Edric hanya tertawa kecil menatap alvaro,, mereka keluar dari kantor, dan mengantar gadis itu sampai rumahnya.
Setelah sampai di depan rumah,, stella langsung pamit masuk kerumahnya.
"Terimakasih tuan, sudah mengantar saya" ucap stella sebelum masuk rumah
"Tidak masalah,, jika kau mau? mulai besok aku bisa menyuruh supir untuk menjemputmu bekerja" ucap edric tersenyum
"Tidak tuan, saya sudah terbiasa sendiri" balas stella
"Tante, tante uda pulang" seorang anak kecil menghambur memeluk stella
"Ehh, sayang kamu ngapain?" stella menyambut keponakannya dengan hangat
"Tante kok pulang cepat? biasanya lama" tanya anak kecil itu
"Iya, hari ini tante akan temani kamu main dirumah sayang" stella tersenyum mencium pipih anak kecil itu
"Asik, di temani main sama tante" anak kecil itu terlihat kesenangan
"Tuan, saya masuk duluan ya,, sekali lagi terimakasih tuan" ucap stella tersenyum
Lalu stella masuk kedalam rumah, menggendong keponakannya itu.
Edric dan alvaro hanya tersenyum, melihat kedekatan stella dan anak kecil itu.
"Anak itu memanggilnya tante? berarti itu keponakannya" ucap alvaro
"Ya kau benar,, melihatnya, aku jadi ingin punya anak" edric tertawa kecil
"Ayo kita pergi" lanjut edric
Edric melajukan mobilnya, menuju jalanan kota.
Bersambung....
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻
__ADS_1