
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa tepat satu bulan david terbaring coma dirumah sakit,, setiap harinya edric selalu menekan dan mengancam dokter darren agar cepat menyembuhkan david, dan pretty juga sesekali datang menjenguk david.
Sementara alishka setiap paginya diruangan david selalu mengganti bunga yang lama dengan yang baru, tak pernah lupa sebelum berangkat ke kantor gadis itu selalu berkunjung kerumah sakit,, yah begitulah mereka menjalani hari hari tanpa kehadiran david.
"Kenapa dia masih belum sadar?" edric menatap dokter darren
"Maaf ed,, aku sudah berusaha semampuku, jika kau ingin memindahkan ku silahkan saja" dokter darren pasrah
"Setiap hari kau hanya bisa mengatakan itu,, aku bahkan sudah muak mendengarnya, apa kalian para dokter tidak bisa bekerja dengan benar?" bentak edric dengan emosi
Dokter darren hanya diam menundukkan kepalanya.
"Ahhhh" edric memukul dinding rumah sakit
"Ed hentikan" samara datang menghampiri
"Jangan seperti ini,, kau bisa melukai tangan mu sendiri" samara memegang tangan edric
"Sampai kapan aku harus menunggunya beby? sampai kapan?" edric merasa frustasi
"Tenanglah ed,, semua akan kembali normal, percaya padaku david pasti sembuh" bujuk samara membelai pipih suaminya
"Aku bersalah beby,, dia mengorbankan segalanya untuk keluargaku, dan aku tidak bisa melihatnya menderita lebih lama lagi" edric meneteskan air mata di pelukan samara
"Aku tau,, tapi ini bukanlah kesalahan mu ed, semua ini adalah musibah yang tidak pernah terduga" samara mengelus kepala edric menenangkan
"Thank you beby" edric memeluk samara dengan erat
Lalu edric menatap david dari kaca
*sampai kapan kau tertidur seperti itu? cepatlah bangun, aku membutuhkan mu david* batin edric
"Beby, ayo kita pulang" ajak edric
Karena hari sudah mulai gelap mereka kembali kerumah.
......................
Di kediaman keluarga Michael, malam itu alvaro sedang berkunjung.
Terlihat di ruang tv, pretty sedang asik menonton film action Fast And Furious 7,, sementara alishka hanya tiduran di sofa sambil bermain ponselnya.
"Apa yang kau tonton sampai begitu serius?" tanya alvaro ikut bergabung
"Kau lihat saja sendiri" balas pretty fokus menatap layar televisi
"Toretto? aku juga suka dia" seru alvaro
"Ya, kau lihat itu? dia keren sekali kan" pretty antusias menunjukkan adegan fight
"Yaya,, apa tidak ada film lain" alvaro menukar channel
"Ahh, kau menggangu saja" pretty marah
"Sini" pretty merampas remote
"Sana pergi" pretty mendorong tubuh alvaro menjauh
Alishka yang melihat tingkah mereka berdua sampai geleng kepala...
*sudah tua masih saja rebutan remote, dasar* alishka tertawa tanpa suara
"Kau ini wanita tapi menonton film laga" ucap alvaro
"Hey, apa kau fikir wanita hanya menonton film sedih? tidak semua wanita begitu" pretty memalingkan wajahnya
"Yaya terserah,, jadi kau sudah satu bulan menginap disini"
"Ya begitulah, kenapa?"
"Apa daddy mu masih diluar kota?"
"Ya, sebentar lagi dia kembali"
"Wah kau memang merepotkan ya,, aku yakin alishka tidak bisa tidur karena kau"
"Kenapa dia tidak bisa tidur karena aku" pretty tidak terima
"Kau kan mendengkur, haha" alvaro tertawa meledek
"Ihh, varo" pretty melempari bantal yang ada di sofa ke wajah alvaro
"Dasar kau, sialan" teriak pretty melempar bantal
Namun alvaro menghindar dan.....
Bug
Bantal tersebut melayang mengenai wajah edric yang baru datang,, samara ikut terkejut melihat bantal yang tiba tiba terlempar ke wajah edric
"Hih" alishka menutup mulutnya kaget
Pretty juga ikut terdiam di tempatnya, tangannya mulai gemetar.
Alvaro yang melihat pretty diam saja ikut menoleh ke belakang sontak dia langsung tertawa
"Habislah kau, singa jantan akan mengamuk" alvaro tertawa pelan
Pretty melotot menatap alvaro seperti mengatakan "Sialan, awas kau ya"
Alvaro beranjak duduk di sofa dekat alishka.
"Tamatlah riwayat ku" pretty menelan salivanya menatap edric merinding.
Edric mengepalkan tangannya emosi, lalu mengambil bantal yang tadi mengenai wajahnya.
"Ed, kau baik baik saja?" tanya samara
Namun edric tidak menjawab, justru berjalan ke arah pretty,, edric menatap pretty dengan emosi yang kesal
"Ma..maaf rich" pretty terbata bata
Pretty tidak berani menatap edric, wanita itu menundukkan kepalanya.
"Apa kau yang melempar bantal ini?" edric menunjukkan bantal yang dia pegang
"Jawab" bentak edric
"I..iya"
"Ta..tapi aku tidak sengaja, itu gara gara dia" pretty menunjuk alvaro
Namun alvaro geleng kepala tidak mengaku.
"Rich maafkan aku" pretty takut melihat edric yang semakin emosi
"Kau mengatakan maaf kan? itu berarti memang kau sengaja melakukan ini kan" edric setengah berteriak
"Tidak begitu" pretty geleng kepala
"Diam ditempat mu" titah edric
"Apa yang ingin kau lakukan rich" pretty ketakutan
Lalu edric berjalan mundur dan memegang bantal tersebut bersiap untuk melempar...
"One two Three" edric langsung melemparkan bantal tepat ke wajah pretty
Bug
"Ahh rich" pretty mulai pening karena lemparan edric lumayan kuat
"Kau jahat sekali, kau bahkan tidak sampai merasa sakit seperti ini"
"Aduh" pretty memegang kepalanya yang masih berputar
"Hahaha" alvaro tertawa tanpa beban
Edric yang mendengar tawa alvaro menjadi jengkel.. Edric juga melempar bantal ke wajah alvaro
__ADS_1
Bug
Alvaro langsung terdiam tidak bersuara,,
"Lebih bagus kalau kau tetap diam" ucap edric
"Ed, kau menyebalkan" balas alvaro
Melihat itu alishka tertawa kecil, dia tidak ingin dilempar seperti pretty dan alvaro,, samara juga tertawa melihat tingkah ketiga orang itu.
"Wah, sepertinya kalian bersenang senang ya" mamah rosa turun dari tangga
"Varo, kamu kapan sampai?" tanya mamah rosa
"Sekitar setengah jam yang lalu aunty" jawab alvaro
"Pretty, kamu kenapa? sakit?" mamah rosa melihat pretty terus memegang kepalanya
"Tidak aunty,, aku baik baik saja, just a little dizzy" pretty tersenyum getir
Mamah rosa manggut manggut, dan melihat ke edric dan samara
"Kalian sudah kembali"
"Ed, bagaimana perkembangan david" lanjut mamah rosa
Edric hanya geleng kepala menjawab pertanyaan mamah rosa,, mamah rosa menatap alishka, dapat terlihat wajah alishka berubah murung.
"Ya sudah, dokter pasti akan melakukan yang terbaik" mamah rosa menepuk bahu putranya
"Oh ya varo, papah kamu sudah kembali dari dinas kan? kapan aunty bisa bertemu papah kamu?"
Deg
Jantung alvaro langsung berdetak kencang begitu juga dengan alishka.
"Sudah aunty,, maaf aku belum bisa pastikan aunty, nanti aku coba bicara dengan papah" alvaro memberi alasan
"Baiklah, kalau begitu aunty tunggu kabarnya ya,, sebentar lagi pergantian tahun, akan lebih baik jika membicarakan tanggal pertunangan kalian" ucap mamah rosa
"Baik aunty"
Alvaro menganggukkan kepala mengerti,, alishka langsung berdiri tidak percaya dengan alvaro yang setuju untuk bertunangan.
Alishka merasa kecewa dengan keputusan alvaro,, dia langsung masuk kedalam kamarnya.
Pretty ikut terkejut mendengar perihal pertunangan alvaro dan alishka,,
*mereka akan bertunangan? tapi kenapa alishka sepertinya tidak senang* pikir pretty
Alvaro yang juga merasa serba salah akhirnya pamit untuk pulang,, setelah alvaro meninggalkan rumah, pretty ikut menyusul alishka ke kamar.
"Kenapa harus terburu buru mah? bukankah ini terlalu cepat?" tanya edric
"Mamah rasa ini sudah waktunya,, kau jangan khawatir, mamah akan mengatur semuanya" jawab mamah rosa tersenyum
"Sudahlah, sebaiknya kau ajak istrimu istirahat" lanjut mamah rosa
"Baiklah mah" edric tidak membantah
Edric dan samara pergi ke kamarnya meninggalkan mamah rosa sendiri, sementara mamah rosa hanya tersenyum.
......................
Di tempat lain tepatnya di mansion dominique.
"Apa masih tidak ada kabar tentangnya?"
"Not dom" thalia mulai frustasi
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan itu hanya akan membuat mu cemas" dominique menenangkan thalia
"Tapi ini sudah satu bulan, bukankah itu tidak wajar? seharusnya dia mengirim pesan padaku dom" thalia memejamkan matanya
Gadis itu sangat mencemaskan kakaknya yang tak kunjung memberi kabar.
"Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya? atau terakhir dia menelfon?" tanya dominique
"Hmmm it's hard,, aku tidak pernah melihat wajah kakakmu,, apa dia tampan?" tanya dominique antusias
Dominique berbaring diranjangnya, thalia juga ikut rebahan,, sudah satu bulan thalia tinggal dimansion dominique, dikarenakan orang tua dominique sedang dinas,, dominique meminta thalia tinggal bersamanya.
"Dia memang tampan,, apa kau tau Chen Ruoxuan? aktor mandarin china? dia sangat mirip dengannya" thalia tersenyum teringat kakaknya
"Really? wah, apa kau bisa kenalkan aku padanya?" dominique tersenyum
"Hah? get to know? sungguh?" thalia terkejut melihat respon dominique
"Ya thalia, kenalkan aku padanya ya?" dominique memasang wajah imut
"Tidak, aku tidak akan mengenalkan mu padanya" thalia mengalihkan pandangan
"Really? tapi kenapa? aku ingin berkenalan dengannya lia" pinta dominique
"Will not,, kau harus ingat kau sudah berpacaran, dan aku takut kau bisa jatuh cinta jika melihatnya" thalia tersenyum lebar
"Kakakku itu pria yang baik dan juga perhatian,, hatinya sangat lembut, dia juga mudah tersenyum" lanjut thalia
"OK, kenalkan aku padanya please" dominique memelas
"Aku hanya ingin berteman itu saja sudah cukup" seru dominique
"Baiklah, aku setuju" thalia tertawa
"Yes" dominique tertawa senang
Bunyi bel pintu mengejutkan mereka,
"Siapa itu domi?" tanya thalia
"Aku juga tidak tau, sebentar ku lihat dulu" dominique keluar dari kamar
Dominique setengah berlari menuju pintu utama,, para pelayan mungkin sudah berada dikamarnya masing masing.
Dominique membuka pintu melihat siapa yang datang larut malam.
"Kenapa lama sekali membukanya honey? kau sedang apa?" alvaro merasa kesal karena menunggu lama
"Iya, maaf aku tidak dengar" dominique menundukkan kepalanya
"Ya sudah, ayo masuk diluar hujan" ajak alvaro menggandeng tangan dominique
"Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" dominique sedikit terkejut dengan kedatangan alvaro yang tiba tiba
"Sudah dua minggu tidak bertemu, aku merindukanmu honey" alvaro tersenyum
"Aku juga merindukan mu" dominique tersenyum manis
"Aku lelah honey, ayo kita istirahat" alvaro berjalan menuju kamar dominique
"Malam ini aku menginap" lanjut alvaro
"Hah? menginap?" tanya dominique terkejut
"Aku lagi malas pulang"
Alvaro menarik dominique ke dalam dekapannya
"Lagi pula aku ingin bersamamu honey" alvaro memeluk dominique dengan erat
*gawat, thalia ada didalam,, bagaimana ini? kenapa tiba tiba al sedekat ini? biasanya dia tidak mau menginap* batin dominique
"Honey" alvaro memegang wajah dominique
"Aku mencintaimu honey" alvaro memegang bibir dominique
"Aku juga mencintamu al" balas dominique tersenyum sekaligus bingung
"Ayo honey" alvaro menarik tangan dominique seperti tidak sabar akan sesuatu
__ADS_1
"Tunggu ada.." dominique tidak sempat bicara, alvaro sudah membuka pintu kamar
Thalia yang mendengar pintu kamar terbuka langsung menoleh.
"Dom, siapa yang dat..." thalia tidak melanjutkan kata katanya
"Alvaro" thalia terkejut
"Thalia? kau disini?" alvaro juga sedikit heran
Alvaro menatap dominique,
"Thalia menemaniku tinggal disini, karena papah dan mamah dinas keluar kota" dominique tersenyum kecut
Alvaro menghela nafas seperti merasa gagal akan sesuatu yang terlintas dibenaknya,,
"Honey, apa tidak ada kamar lain"
"Hah? kamar?" dominique terheran
"Ya kamar tidur? yang bisa dipakai untuk tidur" ucap alvaro tanpa beban
Thalia yang memahami perkataan alvaro langsung sadar, jika dirinya saat ini menjadi pengganggu.
"Hmm, sebenarnya" dominique masih bingung, segan melihat thalia
"Kalau kalian mau, aku bisa tidur disofa ruang tamu" ucap thalia yang merasa kikuk
*ya ampun, gini amat jadi jomblo* pikir thalia lesu
"Ada kamar untuk tamu" jawab dominique sedikit ragu
"Thalia nikmatilah tidur mu dengan nyenyak" alvaro tersenyum
"Honey, ikut aku" alvaro menarik tangan dominique
Alvaro menggandeng dominique masuk kedalam kamar tamu, lalu mengunci rapat pintu kamar tersebut.
"Al, kenapa kau mengunci pintunya" dominique menatap heran
"Cukup thalia saja, aku tidak ingin ada yang mengganggu kita" alvaro memegang bahu dominique
Alvaro mendekatkan wajahnya, namun dominique mundur selangkah demi selangkah sampai terduduk di tepi ranjang.
"Honey, apa boleh?" alvaro menatap bibir dominique
Alvaro mendorong tubuh dominique ke ranjang, lalu menindihnya,, wajah mereka semakin dekat.
"Al, lakukanlah yang ingin kau lakukan" dominique tersenyum
Alvaro langsung mencium bibir ranum wanita itu, dominique sedikit kaget namun langsung membalas ciuman alvaro.
Pria itu terus mel*mat bibir wanitanya menjelajahi lidahnya semakin dalam,, mata mereka juga ikut terpejam menikmati ciuman yang cukup lama.
Dominique mulai terengah,, alvaro melepaskan ciuman mereka.
*aku ingin sekali melikimu domi, tapi bagaimana menghentikan pertunangan itu* alvaro sedikit stress
"Kenapa berhenti?" dominique membelai wajah alvaro
Wanita itu sepertinya menginginkan hal yang lebih,, dominique menarik leher alvaro, pria itu langsung melanjutkan ciuman mereka lagi.
Kali ini alvaro semakin ganas,, dominique sampai kewalahan mengimbanginya, semakin dalam ciuman mereka semakin liar pula tangan mereka.
Dengan dikuasai nafsu tangan alvaro melepaskan piyama yang melekat ditubuh dominique,, wanita itu juga melepaskan kemeja dari tubuh alvaro.
Sekarang alvaro bertelanjang dada, sementara dominique hanya mengenakan bra and panties.
Alvaro menyudahi ciuman mereka, dan menatap tubuh seksi milik dominique,, dominique membelai dada bidang alvaro.
"Come on, dear" rayu dominique
Sepertinya gawang pertahanan alvaro mulai goyah,, dengan cepat alvaro menciumi leher dominique memberikan kissmark di setiap jenjang leher wanita itu.
"Ahhh" dominique tersenyum senang
Tangan alvaro mulai meraba pay*dara milik dominique, mer*m*s keduanya,, Dominique menggeliat menikmati setiap sentuhan alvaro.
"Oh go on dear" pinta dominique yang mulai tidak tahan
suara ******* dominique membuat alvaro semakin hilang akal,, pria itu melepaskan kaitan bra yang masih melekat dibalik pay*dara.
Melempar bra tersebut ke lantai,, dan memperlihatkan sepasang pay*dara yang padat dan kenyal.. dominique menarik wajah alvaro tepat ke depan pay*daranya.
"Honey, mereka milikmu" pasrah dominique
Alvaro menatap wajah dominique yang sudah bergairah,, alvaro mulai memainkan lidahnya di area p*t*ng, dan sesekali mer*m*s dengan tangan satunya.
Cukup lama alvaro melakukannya secara bergantian,, membuat dominique memejamkan matanya.
Namun.....
"Maafkan aku domi, aku tidak bisa melanjutkan ini" alvaro bangkit terduduk
"Apa maksudmu? tidak bisa melanjutkan?" dominique terkejut alvaro tiba tiba berhenti
"Aku benar benar tidak bisa, maafkan aku honey" alvaro menundukkan wajahnya
"Setelah berbuat jauh, kau mengatakan kalau kau tidak bisa" dominique menatap kecewa
"Hiks hiks" dominique menangis merasa di permainkan
"Kau keterlaluan al"
Setelah merapikan dirinya dominique langsung pergi meninggalkan alvaro, penolakan yang tiba tiba sangat menyakiti hatinya.
Alvaro hanya menatap kepergian dominique,,
*maafkan aku honey, aku hanya belum siap untuk itu,, aku harus mencari cara untuk menggagalkan pertunangan ku dengan alishka* pikir alvaro
......................
Pagi hari telah tiba,, matahari mulai menyinari bumi.
Di gedung rumah sakit, dokter darren ingin mengecek kondisi david dibantu oleh seorang perawat.
Dokter darren mengganti kantong infus dengan yang baru,,
"Dokter jari pasien bergerak" ucap sang perawat
Dokter darren langsung melihat david,, memeriksa denyut nadinya
"Ini sudah normal" dokter darren tersenyum senang
Dan tak lama perlahan david mulai membuka matanya,,
"Akhirnya" ucap dokter darren legah
"Saya dimana?" tanya david yang baru sadar
"Kamu dirumah sakit, kamu telah berhasil melewati masa kritismu,, kamu sudah coma selama satu bulan lebih" jelas dokter darren
"Saya coma selama satu bulan" ucap david
"Ya benar" dokter darren menganggukkan kepala
"Dimana alishka? apa dia terluka?" david langsung membuka selang oksigen ingin turun mencari alishka
"Tenang dulu, lukamu belum sepenuhnya pulih,, untuk sementara kau tidak boleh banyak bergerak" dokter darren memaksa david untuk tetap istirahat
"Alishka" ucap david cemas
"Kekasihmu baik baik saja, setiap hari dia datang untuk membawakan bunga"
"Jadi kau jangan khawatir,, mungkin sebentar lagi dia datang, tapi kami harus memindahkan mu keruang rawat dahulu" lanjut dokter darren
"Baiklah" david kembali berbaring....
Bersambung....
__ADS_1
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻