
Edric masih fokus mengemudi menatap lurus kedepan,, dan alvaro memejamkan matanya bersandar di kursi mobil, antara tidur dan tidak.
"Al" edric melirik ke alvaro
"Hemm" jawaban singkat padat dan jelas, yang menandakan pria itu tidak tidur
"Aku malas balik ke kantor,, apa kau ingin ikut kerumahku?" tanya edric
"Hemm" masih dengan jawaban yang sama
"Baiklah,, apa kau lapar? bagaimana kalau kita ke cafe dulu" ajak edric
"Hemm" alvaro belum juga membuka mata
Edric mendengus kasar, lalu mengerem mobilnya mendadak dan membanting setir.
Hal itu sukses membuat alvaro terbangun,, dan kepalanya hampir terbentur kaca.
"Edric, apa kau tidak waras? kalau berhenti itu kira kira jangan tiba tiba" bentak alvaro
"Apa kau tidak punya mulut? dari jawaban mu hanya itu dan itu,, telinga ku muak mendengarnya" bentak edric emosi
"Hah, kau juga sering begitu,, tapi kau mala tidak terima" alvaro mencibir
"Hey, aku tidak pernah menjawab pertanyaan mu dengan jawaban ambigu begitu" edric membela diri padahal mereka sama saja
"Cepat, tukar tempat,, kau gantian mengemudi, tangan ku pegal" pinta edric
"Yaya, baiklah"
alvaro keluar dari mobil, dan masuk lagi melalui pintu sebelah,, edric juga melakukan hal yang sama.
Alvaro sudah kembali melajukan mobil ke jalan raya,, dan edric di sampingnya, terlihat santai bersandar.
"Mau kemana tuan muda" ucap alvaro yang menahawan tawa
"Antar aku ke Westfield Stratford City" balas edric dengan lagak tuan mudanya
"Baiklah tuan,, kita akan menuju Westfield Stratford City" ucap alvaro menatap lurus ke depan
Sepertinya kedua pria itu sedang gabut, jadi mereka memainkan peran antara Tuan Muda dan Asisten.
"Al, kau sangat cocok jika menggantikan david untuk sementara" ucap edric terkekeh
"Haha, ternyata kau melunjak ya" alvaro tertawa
"Baiklah tidak masalah,, hari ini aku akan jadi asisten mu tuan" lanjut alvaro, masih fokus menyetir
"Are you sure? pemuda terkaya yang mendapat peringkat nomor 2 di dunia, mau jadi asisten ku?" edric terlihat kaget
"Ya, tapi hanya berlaku satu hari saja,, dan kau sudah sangat beruntung, manfaat kan itu dengan baik selagi aku menjadi asistenmu ed" balas alvaro
"OK, aku akan melakukan apa saja yang ku inginkan,, dan kau harus membantu ku, tanpa pengecualian" ucap edric tersenyum penuh makna
"Baik tuan,, katakan saja apa yang anda inginkan" ucap alvaro
Alvaro memarkirkan mobil di halaman Westfield Stratford City,, mall terbesar di London.
"Silahkan tuan, kita sudah sampai di tempat tujuan" alvaro membukakan pintu untuk edric
Sesuai dengan janjinya, satu hari akan menjadi asisten edric.
Edric masuk ke mall di ikuti oleh alvaro,, alvaro memelankan langkahnya agar berada di belakang edric, persis seperti pengawal.
"Hey, kenapa kau di belakang,, berjalan di sampingku" pinta edric
"Tuan hari ini saya asisten anda bukan teman anda" ucap alvaro datar
"Jika kau asisten, ikuti perintah ku,, cepat, jalan di sampingku sekarang" titah edric
Alvaro pun bergeser ke samping edric,, pria itu sedikit menahan tawa.
"Tuan, bukankah tadi anda lapar? tapi kenapa anda ke mall" bisik alvaro, sambil berjalan mengikuti edric
"Aku ingin membeli sesuatu untuk istriku" balas edric, yang terus melihat lihat setiap toko yang di lewati
Alvaro manggut manggut mengerti,, mereka terus berjalan menyusuri mall,, saat ingin naik lift, edric berhenti.
"Kenapa berhenti tuan" alvaro heran
"Tidak, kita naik eskalator saja" pinta edric
Alvaro menatap heran,,
*sejak kapan kau suka menggunakan eskalator* pikir alvaro
Kedua pria itu menaiki eskalator ke lantai 3,, banyak para gadis yang memandangi mereka dengan kagum,, dan juga beberapa karyawan toko juga melirik mereka.
Sudah sekitar 20 menit mereka berkeliling,, namun edric masih belum berhenti di satu toko pun.
Alvaro yang lelah, mencabut tugasnya sebagai asisten.
"Hey, sejak tadi kita terus berjalan,, tapi kau masih belum membeli apapun" bentak alvaro kesal
"He, asisten,, kau berani bicara keras dengan tuanmu" ucap edric menoleh
"Ku batalkan tugasku sebagai asisten,, sekarang kau bukan tuan ku" balas alvaro
"Yaya, terserah kau saja" edric masih fokus melihat lihat
"Ayo kita cari cafe,, aku sudah lapar" pinta alvaro
"Tunggu, aku sudah menemukannya,, ayo kita kesana"
"Kemana?" tanya alvaro
Edric menarik tangan alvaro ke toko piyama wanita,, edric melirik piyama seksi warna merah.
"Apa yang ingin kau beli disini? ini gaun tidur wanita semua" alvaro heran
"Itu piyama merah itu,, cepat kau ambil itu" edric mendorong alvaro
"Yang benar saja? kau menyuruhku?" alvaro merasa enggan
"Cepat sedikit" edric terus mendorong alvaro
"Hey, samara itu istrimu, kenapa aku yang harus melakukan ini" alvaro tidak mau
Namun disaat petugas toko lewat,, edric langsung mendorong alvaro sampai menabrak petugas itu.
"Kau.." alvaro ingin marah, namun tak jadi
"Maaf, saya tidak sengaja" ucap alvaro
"Tidak masalah tuan,, ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas wanita itu
"Saya ingin membeli gaun tidur untuk istri saya,, apa kau bisa ambilkan gaun yang merah itu" dengan terpaksa alvaro mengatakannya
"Baik tuan, tunggu sebentar ya"
Petugas toko itu pergi mengambil piyama yang di tunjuk oleh alvaro,, lalu segera menghampiri alvaro.
"Ini tuan,, sepertinya selerah anda bagus tuan, piyama ini stok terakhir, hanya sisa satu saja" petugas itu memberikan piyama kepada alvaro
"Terimakasih, tolong kemaskan dengan baik" pinta alvaro
Alvaro geleng kepala melihat piyama yang di pilih edric,, piyama seksi yang bahkan transfaran saat di pakai.
"Petugas itu bilang selerah mu bagus" alvaro menyerahkan paper bag itu
"Tentu saja" edric menerima paper bag dari alvaro
"Cih" alvaro malas melihat edric
"Dasar mesum" ucap alvaro
"Haha, bilang saja kalau iri" balas edric
"Makanya cepat nikah,, biar tau rasanya" ledek edric
__ADS_1
"Hah, kau sangat menyebalkan ed" alvaro memalingkan wajahnya kesal
"Cepat, aku lapar" teriak alvaro, berjalan lebih dulu
Kedua pria itu menghabiskan waktu berdua seharian,, sampai menjelang sore hari.
"Ed, apa kau tidak penasaran dengan wanita cantik yang ingin menjebak mu?" tanya alvaro
Saat ini mereka duduk menikmati coffee milk,, masih berada di dalam mall.
"Masih ku pikirkan belum ku temukan,, apa kau sudah tau siapa dia?" edric bertanya sambil berfikir
"Hmm, jika itu wanita cantik,, maka akan sangat sulit, banyak wanita cantik yang mengejarmu" alvaro menghela nafas
"Tapi aku harus tau siapa dia,, jika dia ingin menjebakku, bisa jadi istriku juga dalam bahaya" edric merasa cemas akan keadaan samara
"Apa samara punya musuh?" tanya alvaro
"Aku tidak tau,, yang ku tau hanya fiona saja yang tidak suka padanya" ucap edric,
Namun mereka kembali mencerna ucapan edric..
"Fiona" serentak keduanya
"Mungkin saja dia yang melakukannya,, dia kan sangat ingin kembali denganmu" alvaro berguman
"Jika dia yang melakukan itu,, lihat saja, aku tidak akan mengampuni nya" edric memancarkan aura kebencian
"Tenang dulu, kita belum ada bukti untuk memberinya pelajaran" ucap alvaro
Sejenak mereka diam, dan sekelibat bayangan yang familiar tak sengaja lewat di seberang mereka.
"Ed, edric" alvaro menepuk bahu edric
"Hemm"
"Fiona, ayo ikuti dia"
Alvaro langsung menarik tangan edric,, mereka membuntuti fiona sampai ke sebuah restaurant.
"Apa yang dia lakukan disini?" tanya edric menatap tidak suka pada wanita itu
"Dasar bodoh, untuk apa mengikutinya? jika aku tau" alvaro memukul kepala edric
"Jadi kenapa mengikutinya?" edric memang sedikit lola
"Ya untuk cari tau,, apa yang dia lakukan disini" jelas alvaro
"Sudah diam saja" lanjut alvaro terus mengawasi fiona dari jauh
Tak lama datang seorang pria menghampiri fiona, dapat terlihat dari kejauhan.
"Ed, sepertinya dia menemui pria lain, apa kau mengenal pria itu?" tanya alvaro
"Bajingan itu, untuk apa dia menemuinya" edric emosi
"Bajingan?" alvaro heran
"Ya bajingan itu, mantan kekasih samara" jawab edric semakin emosi
"Ahh, apa yang mereka inginkan?" edric mengepalkan tangannya
"Ayo kita pesan tempat di dekat mereka,, dengan begitu kita bisa mendengar apa yang mereka bicarakan" usul alvaro
Edric dan alvaro sudah duduk di dekat, fiona... namun mereka memakai topi agar fiona tidak menyadarinya.
"Apa yang kau inginkan? kenapa kau mengajak ku bertemu disini" fiona terlihat marah
"Aku mengajak mu bertemu,, karena aku ingin menagih janjimu fiona" ucap ray dengan santai
"Apa maksudmu?" fiona pura pura bodoh
"Apa kau tidak ingat perjanjian itu? kau akan membayar apapun yang ku mau, dan aku meminta bayaran ku sekarang" ray menatap fiona dengan maksud
"Kau bahkan tidak melakukan tugas mu dengan benar,, dan sekarang kau minta bayaran padaku" fiona tidak terima
"Hey, aku sudah melakukan sesuai dengan yang kau katakan" bentak ray
Sementara fiona bernegosiasi,, disebelah, edric dan alvaro mendengar setiap yang mereka katakan.
"Untuk apa bajingan itu meminta bayaran kepada fiona" gumam edric
"Awas saja jika mereka bekerja sama melawanku" ucap edric yang sudah tersulut amarah
"Sabar dulu, kita perlu mendengar semua nya" alvaro berusaha menenangkan
Dan beralih lagi ke fiona dan ray,,
"Aku tidak butuh uangmu fiona" ray menatap fiona dengan seksama
"Apa maksudmu? jangan main teka teki denganku" bentak fiona
"Aku ingin meminta bayaranku dengan tubuhmu" ray meraih tangan fiona, mengelus tangan itu
"Sepertinya kulit mu sangat halus" ray tersenyum nakal
"Beraninya kau menyentuh ku" fiona menepis tangan ray
"Berikan yang ku inginkan,, atau aku akan mengatakan pada edric, jika waktu itu kau yang menyuruhku untuk menjebak samara" ancam ray
"Baiklah, pilihan ada padamu fiona" ray tersenyum
*sialan, pria ini benar benar licik* batin fiona
Disisi lain, edric yang mendengar hal itu sangat murka.
"Ku kira dia sudah berubah,, tapi ternyata wanita ular ini yang merencanakan semuanya" edric mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Kau akan menyesal karena mencari masalah dengan ku fiona" ucap edric dengan penuh amarah
Edric hendak bangkit, namun alvaro mencegahnya
"Tidak ed, tahan emosi mu,, kau hanya akan merusak reputasimu saja" alvaro menahan
Edric menghela nafas kasar.
Dan fiona yang di sebelah, masih berfikir..
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan,, aku akan bermalam bersama mu" fiona menyetujui
"Bagus, ikutlah dengan ku" bisik ray, sembari mengendus leher fiona
Mereka pun pergi ke hotel untuk menuntaskan negosiasi yang panas tersebut,, sesuai dengan perjanjian mereka.
Sementara edric dan alvaro menatap kepergian mereka,,,
"Dasar wanita murahan" ucap alvaro dengan jijik
"Apa yang kau rencanakan ed?" Tanya alvaro
"Biarkan saja dia bersenang senang dulu,, sebentar lagi aku akan menyingkirkan mereka" ucap edric tersenyum jahat
"Apa kau ingin mengadili keduanya?" tanya alvaro
"Ya, mereka berdua pantas mati" mata edric di penuhi dengan kebencian
"Baiklah, apapun itu aku akan membantumu" alvaro menepuk bahu edric
*ini yang ku takutkan,, apa kau akan menghabisi seseorang ed* alvaro menghela nafas
"Ayo, sebaiknya kita kembali" ajak alvaro
"Hemm" edric juga setuju
Mereka berdua menuju perjalan kerumah edric.
Di tempat lain, tepatnya di butik,, samara terlihat sedang bersiap untuk pulang.
"Kei, sepertinya aku harus kembali" ucap samara
__ADS_1
"Iya kak,, kakak mau pulang?" tanya keiza
"Iya, suamiku sebentar lagi pasti pulang" samara tersenyum
"Cie, yang makin harmonis saja" ledek keiza
"Haha, kau bisa saja" samara terkekeh
"Baiklah, aku pulang ya" samara pamit
"Hati hati ya kak" keiza tersenyum
"Dah" samara melambaikan tangan sebelum pergi
Samara mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan sedang,,, tak lama mobil samara sudah memasuki gerbang utama.
Tiba di halaman rumah utama,, samara langsung masuk ke rumah.
"Selamat sore nona" pak hendy memberi hormat
"Selamat sore pak hendy" samara tersenyum
"Apa edric sudah kembali?" tanya samara
"Belum nona,, tuan muda belum kembali" pak hendy menunduk
"Terimakasih pak,, saya permisi ke atas dulu ya" samara izin pergi
"Silahkan nona" pak hendy hanya menunduk hormat
Samara masuk ke kamarnya,, dia merebahkan diri di sofa, lalu samara menatap sebuah paper bag.
"Ahh, aku lupa memberikan ini pada edric" samara tersenyum, mengambil paper bag itu
"Akan ku berikan setelah dia kembali" ucap samara, yang terlihat senang
Kemudian samara membersihkan tubuhnya di bathroom,,
Tak lama edric dan alvaro tiba di depan rumah utama,, kedua pria itu masuk ke rumah.
"Selamat sore tuan muda"
"Selamat sore tuan alvaro" ucap pak hendy seraya membungkuk
"Sore pak hendy" balas alvaro menepuk bahu pak hendy
"Apa ada makanan di dapur pak?" tanya alvaro
"Ada tuan"
"Hah, bagus ,, tolong ambilkan untukku" pinta alvaro
"Dasar, kerjanya makan saja persis seperti alishka" gumam edric yang tidak di dengar oleh alvaro
"Al, aku ke kamar" teriak edric
"Yaya, pergilah,, aku mau makan" balas alvaro acuh
"Ini tuan silahkan" pak hendy menyiapkan beberapa mangkuk dan piring yang berisi cemilan
"Terimakasih ya pak" balas alvaro
Alvaro lalu duduk bersandar sambil mengunyah, tak lupa menyalakan televisi,, dan tak lama muncul pretty dari pintu utama.
"Hah, pria itu sudah duduk santai disini" pretty geleng kepala melihat alvaro
Pretty yang acuh berjalan melewati alvaro,, namun alvaro melihatnya.
"Hey, pretty,, kau sombong sekali" teriak alvaro
Itu membuat pretty berhenti di tangga
"Ada apa?" tanya pretty cuek
"Kenapa kau sensi begitu? apa kau putus cinta?" tanya alvaro yang membuat pretty semakin kesal
"Ahh, bicara dengan mu tidak berguna" ucap pretty ketus
Pretty berlari menuju kamarnya,,
"Ada apa dengannya?" pikir alvaro
"Ahh, tidak penting juga" alvaro mengangkat bahunya, kembali menonton televisi.
Dan didalam kamar utama, edric sudah berbaring di kasur,, Tak lama samara keluar dari bathroom.
"Ed, kau sudah pulang" samara menghampiri suaminya
Edric yang tidur membuka mata,, menatap istrinya dengan rambut yang basah dan hanya mengenakan jubah handuk, membuat pikirannya beranjak kemana mana.
"Beby, kau cantik sekali" edric tersenyum menatap istrinya
"Apa yang kau bicarakan ed? aku bahkan belum menyisir rambutku" samara heran
Samara mengambil baju, dan hendak kembali ke bathroom untuk ganti pakaian,, namun edric menghalangi.
"Ed, menyingkirlah aku mau ganti pakaian" pinta samara
"Ganti disini saja" ucap edric menatap istrinya
"Apa kau bercanda?" samara kaget
"Tidak, aku serius beby" edric masih menatap lekat istrinya
"Bagaimana aku bisa ganti pakaian disini,, ed, yang benar saja" samara masih merasa malu
"Tentu saja bisa,, aku ini suamimu beby, dan aku sudah hafal seluruh lekuk tubuhmu" ucap edric sambil memeluk samara dari belakang
"Aku juga menyukai aroma tubuhmu beby" edric mencium leher samara
Dan itu sukses membuat samara merinding.
"Ahh, ed" samara terengah
"Sini, biar aku yang pakaikan bajumu" pinta edric
Samara hanya mengikuti kemauan suaminya,, sungguh dia tidak bisa menolak sentuhan dari pria itu.
Dengan perlahan edric melepas tali, dan membuka jubah handuk yang melekat di tubuh samara.
Jubah handuk sudah terlepas,, sekarang tubuh polos wanita itu sudah tidak tertutupi sehelai kain pun.
"Kau wangi sekali beby" edric terus menciumi punggung samara,
Edric mengelus lengan, lalu beralih ke perut wanita itu,, dan sesekali mer*m*s kedua benda kenyal yang menggantung di dada samara.
Samara hanya memejamkan matanya,, menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya.
"Beby, sepertinya aku tidak tahan lagi" bisik edric
Edric membalikan tubuh samara menghadap dirinya,, dengan cepat edric melahap bibir istrinya.
Mereka berpagutan dan saling mengh*sap bibir masing masing,, seiring lum*tan demi lum*tan.
Sambil berciuman edric mengangkat tubuh samara, merebahkan nya di tempat tidur.
Sejenak mereka melepas perpaduan bibir mereka,, kedua insan itu saling pandang.
"Beby, aku ingin kau menjadi ibu dari anakku" ucap edric membelai wajah samara
"Apa kau bersedia melahirkan pewarisku?" tanya edric
"Berapapun yang kau inginkan? aku akan melahirkan semuanya" ucap samara tersenyum, mengecup kening edric
"Aku mencintaimu ed" samara memeluk edric dengan erat
Maka terjadilah yang harus terjadi....
Bersambung...
__ADS_1
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻