Cinta CEO Yang Kejam

Cinta CEO Yang Kejam
Belanja Dipasar


__ADS_3

"Hiks hiks hiks" terdengar tangisan seorang gadis


Bulu kuduk keiza berdiri ketika melangkah masuk ke dalam toilet,,


"Seperti ada yang menangis? apa aku salah dengar ya"


"Ahh, mungkin perasaanku saja" keiza menepis pikirannya


Kemudian keiza membasuh wajahnya, karena merasa wajahnya kusam,, lalu keiza melapisi wajahnya dengan bedak, sedikit mengoles lipstik ke bibirnya agar tidak pucat.


Gadis itu masih berkaca melihat wajahnya,,


"Nah, sudah beres" keiza tersenyum menatap kaca


Tak lama ponselnya berdering,, keiza langsung mengangkat telfonnya


"Ya hallo"


"Benarkah? apa kau serius?"


"Aku masih di toilet"


"Baiklah, tunggu disitu aku akan datang"


Keiza mematikan panggilan tersebut,, gadis itu kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya.


Keiza ingin melangkah pergi,,namun...


"Hiks hiks hiks" suara tangisan semakin keras


Langkah kaki keiza berhenti.


*tidak, aku tidak mungkin salah dengar* batin keiza


Keiza langsung berbalik,, gadis itu sedikit tercengang


"Tidak ada siapapun disini" ucap keiza


Keiza mendekati setiap pintu mengecek apakah ada orang didalamnya,,


"Hanya tersisa 1 pintu lagi" keiza di depan pintu terakhir


Dengan mengumpulkan keberanian keiza membuka pintu bathroom itu.


Brak


Keiza membuka dengan keras dan ternyata...


"Kau...kau si..siapa?" tanya keiza menatap pretty dengan heran


Keiza sedikit takut mendapati seorang gadis sedang terduduk di lantai sambil menangis,, wajahnya tertutup rambut tidak dapat dilihat.


*apa dia manusia? dia bukan hantu kan?* pikir keiza sedikit merinding


"Hey, kenapa kau menangis?" tanya keiza


Pretty mengangkat wajahnya menatap keiza,, pretty bangkit dan berdiri.


"Maafkan aku jika membuatmu takut,, tapi tolong tinggalkan aku sendiri"


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini? apa kau punya masalah?" keiza mulai prihatin


*gadis yang cantik,, kenapa dia menangis? apa terjadi sesuatu padanya* keiza menatap ibah


"Kau tidak mengenalku,, ini bukan urusanmu, pergilah" pinta pretty


"Ya, aku memang tidak mengenalmu ,, tapi jika kau menangis lagi disini, kau hanya akan menakuti orang yang masuk ke toilet" keiza setengah berteriak


"Baiklah aku akan pergi,, tapi sebaiknya kau berhenti menangis" ucap keiza


"Mungkin kau membutuhkan ini" lanjut keiza menyerahkan saputangan kepada pretty


Keiza melangkah pergi keluar lalu perlahan menghilang,, pretty hanya menatap ke arah keiza pergi.


"Terimakasih" ucap pretty menatap saputangan itu dengan tersenyum.


...----------------...


Seorang pria sedang duduk menunggu di lorong rumah sakit, sambil sesekali melihat ponselnya.


"Kenapa lama sekali" arthur melihat ke kanan dan ke kiri


"Hai" keiza datang menghampiri


Arthur begitu mendengar suara langsung menoleh,, arthur berdiri menatap keiza.


"Apa kau terlalu lama menunggu? maaf ya" keiza memasang wajah melas


"Ntah apa yang kau lakukan? aku sudah menunggumu 15 menit" arthur sedikit cemberut


"Baiklah aku minta maaf,, tapi kau jangan marah ya" keiza memegang tangan arthur


"Baiklah,, aku ingin menjenguk ayahmu" arthur tersenyum


"Cepat, antar aku menemuinya" ajak arthur


Arthur menggenggam tangan keiza dengan erat,, gadis itu tersenyum senang menatap genggaman tangan mereka.


Arthur dan keiza sepertinya sudah dekat satu sama lain,, setelah sebulan pertemanan mereka,, meskipun keiza sangat menyukai arthur, namun keiza tidak ingin berharap terlalu besar,, karena arthur belum mengatakan apapun tentang hubungan mereka,, masih hanya sebatas pertemanan saja.


...----------------...


Edric menatap lurus ke lorong pasar,, pria itu masih berdiri ditempatnya.


"Sayang, apa yang kau tunggu? ayo cepat jalan" teriak samara yang sudah mulai masuk ke pasar


*kenapa tidak ke supermarket saja sih* batin edric


"Beby, apa aku harus ikut masuk? akan lebih baik jika aku menunggu disini" edric tersenyum kecut


Samara menajamkan matanya ke arah edric,,

__ADS_1


"Kau bilang ingin menemaniku kan sayang?" samara menekan nada bicaranya menatap edric


"Baiklah beby, aku menemanimu tapi setelah ini aku ingin hadiah" edric menatap samara dengan nakal


"Dasar licik, baiklah kau boleh minta hadiahnya nanti,, ayo cepat" samara menarik tangan edric, agar mengikutinya


Dengan berat langkah edric masuk kedalam pasar, mengikuti langkah kaki samara.


Begitu banyak pedagang yang berjualan di pinggir jalan,, sehingga jalanan menjadi sedikit becek.


Edric melangkah pelan takut sepatunya terkena kotoran,, samara hanya tertawa menatap suaminya yang terlihat jijik dengan keadaan dipasar.


"Sayang, kalau kau berjalan seperti ini, kau akan tertinggal nanti" ucap samara tanpa beban


Samara kemudian berjalan dengan santai, meskipun kakinya terkena genangan air,, wanita itu tidak perduli tetap berjalan biasa saja.


"Beby, tunggu" edric berjalan sedikit cepat menyusul istrinya


"Ahh, sial" gerut edric saat menginjak becekan air


Karena sudah terlanjur kotor, edric mulai berjalan dengan biasa.


Samara berhenti didepan pedagang ikan segar.


"Beby, kenapa berhenti?" edric terlihat bingung


"Aku ingin membeli ikan,, tunggu sebentar ya" samara tersenyum


Terlihat samara melakukan transaksi kepada pedagang,, sementara edric yang tidak terbiasa, terasa mual mencium aroma ikan dan ingin muntah.


"Kenapa bau sekali? apa dia menjual ikan busuk" ucap edric menutup hidungnya dengan tangan


"Sayang, jaga bicaramu .. memang seperti inilah bau ikan yang baru di potong" jelas samara


"Apa kau tidak pernah membeli ikan segar?" tanya samara


"Tidak" edric geleng kepala


"Kalau begitu jangan menyalahkan pedagang, itu tidak baik" samara mengingatkan


"Beby, apa kau sering kepasar?" edric menatap samara heran


"Tentu saja,, dari kecil mommy selalu mengajakku ke pasar" samara tersenyum


*what? nyonya jane sering kepasar?* edric sedikit terkejut mendengarnya


"Ayo, aku ingin membeli sayuran dan beberapa buah" ajak samara


*kau sangat berbeda dengan fiona,, fiona tidak pernah mengajakku kesini* edric tersenyum melihat samara dari belakang.


"Beby, kenapa kau suka belanja disini? bukankah disini kotor dan juga panas" edric mengelap keringatnya dengan tisu yang ada disakunya


"Karena disini menyenangkan,, dan kita tidak harus selalu belanja disupermarket,, karena disini masih banyak pedagang yang berjualan" seru samara


"Selain harganya yang terbilang murah, kita juga membantu para pedagang mencari nafkah,, dengan cara membeli dagangan mereka" lanjut samara tersenyum


"Benarkah beby?" edric sedikit kagum mendengar jawaban samara


"Oh begitu" edric mulai memahami sifat samara


*ternyata kau bukan hanya wanita yang baik,, kau juga wanita yang penuh pengertian terhadap sesama manusia, kau benar benar sempurna beby* edric merasa bangga dengan istrinya


"Sayang pegang ini" lanjut samara menyerahkan plastik belanjaan kepada edric


"Beby, kau menyuruhku membawa ini" edric menatap semua belanjaan


"Iyah, tolong bantu aku dan pegang ini" pinta samara


Edric menerima semua kantong plastik yang diberikan padanya,, sekarang kedua tangannya sudah penuh dengan belanjaan yang dibeli samara.


"Beby, apa masih ada yang lain?" tanya edric


"Tidak, ayo kita pulang" ajak samara


Edric menghela nafas, dan mengikuti langkah kaki samara,,


"Sayang sebentar"


"Ada apa beby?" edric menoleh ke istrinya


Samara berhenti di sebuah penjual baju,,


"Tunggulah disini, sebentar saja kok" pinta samara


Sekitar 5 menit edric menunggu, tak lama samara muncul dari dalam.


"Beby, apa itu?" edric menatap kantong plastik yang dibawa samara


"Aku akan beritau setelah sampai rumah" samara menarik tangan edric


"Aku mau tau sekarang beby" pinta edric


"Tidak, dirumah saja" samara langsung masuk kedalam mobil


"Baiklah" edric mengalah dan juga masuk kedalam mobil.


"Katakan untuk apa kau membeli semua bahan masakan? dirumahkan sudah ada beby" edric heran menatap belanjaan di bangku belakang


"Aku ingin memasak untukmu malam ini" samara tersenyum malu


"Oh really beby?" edric tersenyum senang


Samara menganggukkan kepalanya,


"Apa kau yakin bisa memasak?" edric sedikit ragu


"Tentu saja aku bisa, apa kau meragukan ku?" samara sedikit ngambek, memalingkan wajahnya


"No beby, aku percaya padamu" edric mengedipkan sebelah matanya


Setelah itu edric melajukan mobilnya ke jalan raya,, dan setelah kepergian edric dan samara, ada sepasang mata menatap arah mobil itu pergi.

__ADS_1


"Sudah cukup kau bersenang senang,, sudah saatnya melihatmu hancur samara" ucap fiona dengan kebencian mendalam


"Hahaha, aku memberimu waktu untuk hidup tenang,, tapi sepertinya kau sudah melupakan ku" fiona tersenyum jahat


"Kali ini aku pasti berhasil,, edric bagaimanapun caranya, kau harus kembali padaku" fiona tertawa keras, seperti tidak waras.


...----------------...


Hari sudah hampir malam,, alishka masih bersama david dirumah sakit.


"Dav, apa yang harus ku lakukan?" alishka berbaring disebelah david


Posisi mereka saat ini berbagi ranjang,, david memeluk alishka dengan erat, pria itulah yang meminta alishka untuk tidur disebelahnya.


"Ada apa?" david mencium bahu gadis itu


"Mamah meminta pertunangan ku dan oppa dipercepat,, karena sebentar lagi malam pergantian tahun" alishka berbalik badan


Kini mereka saling bertatapan,,


"Kau tenang saja,, aku akan sembuh sebelum malam pergantian tahun, jadi jangan khawatir" david tersenyum memegang wajah alishka


"Apa kau yakin sembuh sebelum tahun baru?"


"Aku tidak tau,, akan ku tanyakan pada dokter" david tersenyum


"Jika tidak boleh pulang?"


"Aku akan kabur dari rumah sakit, untuk menemuimu" david sedikit tertawa


"David, aku serius" alishka mencubit lengan david


"Haha, aku bercanda sayang" david tertawa melihat alishka marah


"Bagaimana kalau mamah tau hubungan kita? apa kau akan beritau mamah?" tanya alishka


"Ya, aku akan bilang kalau aku mencintai putrinya yang cerewet ini ,, dan aku ingin menikahinya" david tersenyum


"Kita akan menikah?" alishka mulai menangis


"Tentu saja kita akan menikah" david mendekatkan wajah mereka


"Kenapa kau tidak bisa berhenti menangis? jangan menangis lagi, aku tidak suka melihatmu menangis" lanjut david menyeka air mata gadis itu


"David, aku mencintaimu" alishka membenamkan wajahnya didada david


"Aku juga sangat mencintaimu sayang" david mengelus rambut alishka


David mengangkat dagu alishka, mendekatkan wajahnya dan kemudian..


Cup


Satu ciuman mendarat dibibir alishka,,


Alishka terkejut menatap david,, namun mereka kembali berciuman dengan sangat lembut,, ciuman pertama bagi mereka berdua.


Ciuman itu terus berlanjut,, sampai kemudian..


"Suster kembalilah,, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk memeriksa kondisi pasien" teriak dokter darren melihat david dan alishka sedang berciuman


Mendengar suara dokter darren, sontak david langsung melepaskan ciuman mereka.


"Dokter disini" david sedikit gugup


"Ya aku ingin melakukan pemeriksaan lanjut kepadamu,, memastikan lukamu sudah pulih atau belum? tapi sepertinya kau sudah sangat sehat" dokter darren menekan suaranya


"Nona, tidak seharusnya kau naik ke ranjang pasien,, itu tidak dibenarkan nona" lanjut dokter darren menatap alishka


"Maaf dokter" alishka menundukkan wajahnya, langsung turun dari ranjang


Wajah alishka memerah menahan malu di hadapan dokter darren,, david menepuk keningnya karena kepergok dokter darren.


Dokter darren langsung memeriksa luka diperut david,,


"Sepertinya lukamu sudah membaik" dokter darren manggut manggut


"Apa aku sudah bisa pulang?" tanya david


"Tentu saja,, tapi setelah pemeriksaan kedua" ucap dokter darren


"Kenapa aku merasa kau begitu bersemangat setelah mendapat obat yang spesial" dokter darren menyindir david


"Baiklah sudah cukup,, dan ya, lain kali tolong perhatikan situasi karena ini dirumah sakit bukan penginapan" lanjut dokter darren


Dokter darren meninggalkan ruangan,, alishka langsung mencubit lengan david dengan keras.


"Aww, ini sakit sekali" david meringis


"Kau membuatku malu" alishka geram menatap david


"Maaf ya" david sedikit tertawa


"Ini sudah malam,, aku harus pulang" ucap alishka


"Tidak bisakah kau menginap saja" david sedikit murung


"Tidak, kak edric pasti akan menjemput ku jika aku tidak pulang,, kau tau sendiri dia seperti apa?" alishka tersenyum


"Tapi aku masih merindukanmu" david masih tidak rela ditinggalkan sendiri


"Aku juga merindukanmu,, besok aku akan kembali, OK?" alishka mengelus kepala david


"Aku akan menunggumu" david mencium tangan alishka


"Aku pergi ya" alishka mencium pipih david


Tak lama alishka menghilang dari pandangan david,,


Bersambung....


...Sekian, dikit dulu ya readers πŸ™πŸ»...

__ADS_1


...Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak πŸ™πŸ»...


__ADS_2