
Pretty yang terkejut mematung di tempatnya berdiri, saat ini rasa takut dan gelisah telah menyelimuti hatinya.
Tubuhnya sedikit bergetar disaat Andrian melangkah maju mendekatinya,, jika ada pilihan? mungkin saat itu juga Pretty ingin berlari secepat kilat.
Andrian terus menatapnya dengan tajam dan selangkah demi selangkah dekat dengan dirinya, Andrian berhenti tepat di depannya.
Kini jarak di antara mereka hanya 5 centi saja,, Andrian tersenyum kecil melihat Pretty yang sangat ketakutan.
"Ternyata kau masih punya keberanian untuk bertemu denganku ya?" Cibir Andrian
"Apa kau ingat? Yang ku katakan padamu tempo hari?" Bisik Andrian di telinga Pretty
Pertanyaan itu sontak membuat bulu kudu Pretty merinding setengah mati,, sangat jelas jika Pretty masih mengingat perkataan Andrian.
Mati aku, dia pasti akan melenyapkan ku,, apa yang harus ku lakukan sekarang? Tuhan, kenapa kau harus membuat ku bertemu dengan psikopat ini lagi, hiks. Batin Pretty
"Ya" Pretty mengangguk takut
Karena tak berani menatap mata Andrian, Pretty memilih untuk menunduk.
"Bagus" Andrian tersenyum
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menghilang dari hadapanku?" Andrian mengangkat dagu Pretty agar menatapnya
"Tapi kau justru datang kepadaku? Apa kau sudah bosan hidup?" Ancam Andrian
"Apa kau tau? Aku tidak pernah melepaskan mangsa ku" Bisik Andrian
"Tidak, tidak" Pretty langsung panik
"Maafkan aku, tolong lepaskan aku" Pretty menangis takut
Pretty berjalan mundur karena takut, namun Andrian terus maju mendekat,, sehingga Pretty terpojok di sudut ruangan itu.
"Kau mau lari kemana? Hahaha" Tanya Andrian tertawa
Namun suara tawa itu terdengar sangat menakutkan di telinga Pretty.
Habislah aku. Pretty menelan salivanya
Andrian menatap wajah Pretty dan tangannya tergerak menyentuh pipi gadis itu,, ada perasaan aneh yang bergejolak di hatinya.
Andrian mendekatkan wajahnya ke Pretty hendak menciumnya, namun Pretty yang ketakutan sangat panik sehingga membuyarkan perasaan Andrian.
"Tidak, jangan" Teriak Pretty menutup matanya
"Jangan bunuh aku, aku tidak ingin mati" Pretty terpejam menggelengkan kepalanya
Andrian pun tersadar jika wajahnya terlalu dekat,, pria itu langsung menjauh.
Sial, kenapa aku bisa tergoda olehnya. Batin Andrian
Andrian langsung meneguk air dingin yang tersedia di ruangan tersebut,, Andrian perlahan mengatur emosinya yang hampir tidak terkontrol.
Sementara Pretty yang merasa tiba-tiba senyap membuka mata perlahan.
Apa? Kenapa dia tidak membunuhku? Sedang apa dia?. Pikir Pretty melihat Andrian yang membelakanginya
Pretty yang merasa ini kesempatan terbaik untuk kabur,, tidak akan menyiakan kesempatannya.
Dengan perlahan Pretty membuka pintu dan hendak keluar, namun tiba-tiba Andrian berbalik melihatnya.
"Hey, gadis konyol" Teriak Andrian
Andrian langsung menahan tangan Pretty,, namun Pretty yang panik menendang bagian inti Andrian.
__ADS_1
"Ahhh" Teriak Andrian kesakitan memegang bagian miliknya
Pretty yang melihat Andrian kesakitan merasa bersalah, namun tidak ada pilihan lain.
"Maaf" Ucapnya sebelum lari kabur
Andrian menatap kepergian Pretty sambil meringis kesakitan.
"Awas kau gadis konyol" Pekik Andrian kesal
"Aww, sakit" Andrian meringis
"Aduh, Sanca"
"Sanca, kau luka tidak? Kau di dalam baik-baik saja kan?" Gumam Andrian memegangi bagian intinya
"Maaf Sanca, kau jadi sakit karena gadis sialan itu"
"Tapi ku harap kau masih bisa hidup Sanca" Andrian terus mengoceh
Takut rudalnya terluka dan tidak bisa bertempur lagi.
Tak lama Ken datang dari luar, dan mendapati tuannya yang terduduk lemas.
"Tuan, Apa yang terjadi tuan?" Tanya Ken
"Anda baik-baik saja?" Ken cemas
"Apa kau pikir aku baik-baik saja?" Bentak Andrian
"Gadis itu sudah menyakiti Sanca ku" Pekik Andrian
"Aku tidak akan melepaskannya" Mata Andrian penuh kekesalan
"Maaf Tuan, saya datang terlambat" Ken menunduk namun menahan tawanya
"Aku akan kasih perhitungan dengannya,, tapi sebelum itu hubungi Jonas, suruh dia datang kerumahku" Ucap Andrian
"Baik Tuan" Ken mengangguk paham
...----------------...
Jam sudah pukul 9 malam, terlihat di kediaman keluarga Michael sudah ada para tamu yang berdatangan.
Party penyambutan tahun baru pun dimulai,, Mama Rosa stand by di ruang tamu menyambut kedatangan para tamu, namun Edric dan yang lainnya belum terlihat.
Terlihat para staf kantor yang di undang juga sudah hadir di rumah utama, dan juga teman serta kerabat lainnya.
"Hai Rosa" Sapa Nyonya Manda
"Hai Manda, selamat datang" Balas Mama Rosa tersenyum
"Terimakasih sudah ikut menghadiri party ini ya Manda" Ucap Mama Rosa
"Ya tentu, sama-sama Rosa" Nyonya Manda tersenyum
"Kemarin itu kau sudah berkunjung kerumahku, sekarang giliran ku yang berkunjung kerumahmu Ros" Pekik Nyonya Manda
"Iya Manda, kau benar" Mama Rosa mengangguk
"Seperti itulah namanya teman Ros,, oh ya? Dimana putra dan putrimu?" Tanya Nyonya Manda melihat sekeliling
"Ahh ya, mereka belum turun,, mungkin sebentar lagi" Balas Mama Rosa
Kedua wanita paruh baya itu pun mengobrol dan sesekali saling memeluk melepaskan rasa rindu telah lama tak berjumpa,, Keduanya merupakan teman baik sejak dini.
__ADS_1
Disisi lain, David selaku asisten Tuan Muda juga ikut menyambut para tamu yang datang kerumah.
"Oh hi David" Sapa tuan Aldebaron
Sepertinya keluarga Samara juga di undang dan turut hadir bersama yang lainnya.
"Hello Mr Aldebaron" David menunduk hormat
"Dimana Edric dan Samara?" Tanya Aldebaron
"Tuan Muda dan Nona Muda sedang bersiap,, silahkan anda menikmati pestanya Tuan dan Nyonya" David tersenyum
Tuan Aldebaron dan Nyonya Jane pun mengangguk dan bergabung bersama tamu yang lainnya.
...----------------...
Di dalam kamar utama, Edric sudah terlihat tampan dengan memakai stelan jasnya,, saat ini dia tengah menunggu sang istri yang sedang di rias oleh penata rias terbaik.
Edric duduk di sofa menunggu sambil memeriksa ponselnya dan sesekali dia melirik sang istri.
Samara sedang di bantu oleh beberapa pelayan dan satu penata rias,, karena gaun yang di belikan Edric cukup berat, membuat Samara kesulitan jika harus memakainya sendirian.
Setelah selesai memasang gaun di tubuh Samara, barulah wajah Samara mulai di rias,, Samara duduk sambil memejamkan mata, membiarkan si penata rias mengerjakan tugasnya untuk membuatnya terlihat cantik layaknya seorang ratu.
"Apa harus seperti ini? Aku tidak biasa memakai makeup tebal begini" Gerutu Samara
"Beby! Diam saja dan jangan banyak tanya" Pekik Edric
Seketika Samara terdiam dan tak mengeluh lagi.
"Cepat selesaikan" Perintah itu terdengar dingin
"Baik Tuan" Ucap sang penata rias
Sang penata rias pun melakukan bakatnya dengan sebaik mungkin,, dia tidak ingin melakukan kesalahan dalam merias wajah istri dari Tuan Muda kejam itu.
Karena nyawa adalah taruhannya, ya seperti itulah jika berurusan dengan seorang Edric.
...----------------...
Sementara di kamar lain, seorang gadis juga sedang di rias bak seorang putri raja.
"Jangan lupa pakaikan henna untukku" Pinta Alishka
Banyak pelayan di kamarnya yang membantunya berdandan,, karena gadis yang satu ini memang banyak maunya.
Tidak seperti Samara yang mengeluh karena di dandani, Alishka justru sangat senang jika kakaknya menyewa penata rias handal untuknya.
"Anda mau pakai warna apa Nona?" Si perias menunjukkan pilihan lipstik
"Aku mau light pink" Jawab Alishka
Lalu dengan segera perias itu mengoleskan lipstik dengan hati-hati ke bibir Alishka.
Tanpa Alishka sadari jika sang kekasih memperhatikan dari ambang pintu.
"Jangan sampai bibir itu lecet, karena itu bagian faforite ku" Ucap David mendekat
"Ahh, sayang" Alishka kaget
"Kau lama sekali, aku sudah menunggu sejak lama" David memegang bahu Alishka
"Wanita memang butuh waktu lama untuk berdandan" Alishka tersenyum
Bersambung.....
__ADS_1
Dikit dulu ya guys 🙏🏻