
Alishka sudah berada didalam kamarnya,, gadis itu duduk termenung.
"Yang kak edric katakan itu benar,, semua yang dia lakukan hanya untuk kebaikan ku" alishka menatap langit langit kamarnya
Tak lama pretty juga masuk ke kamar,, pretty melihat alishka yang termenung.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti juga amarah rich meredah" ucap pretty melangkah ke tepi tempat tidur
"Kak pretty" alishka menoleh
"Terimakasih ya kak, sudah membela ku di depan kak edric" alishka tersenyum
"Aku tidak membela mu,, aku hanya mengatakan yang sebenarnya" balas pretty acuh
"Tapi tetap saja, terimakasih kak" alishka masih tersenyum
"Ya sudah lupakan saja" pretty memutar bola matanya malas
*ada apa dengan kak pretty? sepertinya dia sedikit berubah* batin alishka
Pretty mengambil kopernya lalu memasukan semua bajunya yang ada di lemari alishka ke dalam kopernya.
"Kenapa semua baju kakak di pindahin ke koper?" tanya alishka menatap bingung
"Karena aku akan pindah ke kamar tamu" pretty tetap acuh
Pretty melangkah pergi,
"Tapi kenapa kak?" alishka semakin heran
"Karena aku tidak ingin mengganggu mu" ucap pretty sambil melangkah keluar kamar
Setelah pretty pergi,, alishka semakin bingung.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kak pretty menjauhi ku" alishka bertanya pada dirinya sendiri
...----------------...
Di dalam kamar utama, samara terlihat gelisah... wanita itu terus berjalan kesana dan kesini,, mondar mandir tidak jelas.
"Apa yang terjadi diluar? apa edric memarahi alishka?" samara tidak berhenti berpikir
"Ya tuhan, jangan sampai alishka dihukum" samara merasa cemas
"Ini semua salah ku,, seharusnya aku tidak bertanya perihal alishka" samara merasa bersalah
"Tapi kenapa edric masih belum datang" samara menghela nafas
Samara terduduk di sofa, hatinya tidak tenang.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, samara langsung berdiri menoleh.
Edric masuk dengan wajah sedikit lelah,,
"Ed, apa alishka sudah pulang?"
"Apa yang terjadi? kalian tidak bertengkar?"
"Apa kau menghukumnya?"
"Jawab aku ed" teriak samara
Begitu banyak pertanyaan dari samara,,, edric mendekati samara dan memegang bahu wanita itu.
"Aku lelah, aku ingin istirahat,, sebaiknya kita tidur" ucap edric, lalu berbaring di kasurnya
"Hah, kenapa kau" samara sedikit heran
Tidak satupun pertanyaannya di jawab,, itu membuat samara terbengong.
"Apa yang kau tunggu, cepat tidurlah" edric memejamkan matanya
"Ya, baiklah" samara akhirnya ikut berbaring di sebelah edric
*hmm, terkadang sulit sekali menebak isi pikiran mu* samara menatap wajah suaminya yang terlelap.
Samara lalu memejamkan matanya, memeluk edric.
*aku tidak ingin melihat mu cemas dan gelisah,, maafkan aku beby, aku sudah membentakmu* edric tersenyum menatap wajah istrinya.
...----------------...
Malam telah berganti pagi,, samara bangun dari tidurnya, wanita itu memandang suaminya yang masih tertidur.
*kau semakin terlihat tampan meskipun sedang tertidur,, kenapa tuhan menciptakan manusia setampan dirimu sayang* samara tersenyum memperhatikan wajah pria dihadapannya
"Jika kau terus menatapku seperti itu,, aku pasti akan terlambat ke kantor beby" edric membuka matanya
"Ehh" samara terkejut
"Sayang, kau sudah bangun" samara memastikan edric sadar atau masih tertidur
"Kenapa? apa kau sudah mengakuinya? jika aku ini sangat tampan" edric tersenyum bangga
"Cih, kau terlalu percaya diri ,, aku bahkan tidak mengatakannya" samara memalingkan wajah
"Hey come on,, yang ku katakan itu benar kan" edric masih ingin mendengar dari samara
"Tidak, kau tidak tampan" ucap samara berbohong
"Beby, kau" edric ingin menarik tangan samara
Namun wanita itu berlari ke bathroom,, edric tertawa melihat tingkah istrinya.
"Sudah jelas tertangkap basah,, kau masih tidak mengakuinya" edric sedikit tertawa.
...----------------...
Pagi ini di meja makan sudah tersedia banyak makanan, dan tentu saja sesuai perintah tuan muda,, semua masakan adalah hasil resep dari samara.
Setelah para pelayan menghidangkan makanan,, tak lama edric dan samara datang menuju meja makan.
"Silahkan tuan muda" pak hendy menarik kursi untuk edric
Edric duduk di tempatnya,, begitu juga dengan samara,
"Sayang, biar ku ambilkan ya" ucap samara
"Tunggu beby, kita akan makan setelah alishka dan pretty turun" pinta edric
"Baiklah" samara kembali duduk ditempatnya
Pretty keluar dari kamarnya, sudah terlihat rapi dan cantik,, gadis itu mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat elegant.. edric dan samara dapat melihatnya dari bawah.
"Sejak kapan pretty tidur dikamar tamu?" gumam edric
Tak lama terlihat alishka juga keluar dari kamarnya,, pretty yang berjalan melewati alishka, memberikan tatapan tidak suka.
Alishka yang baru keluar tersenyum melihat pretty,, namun gadis itu terheran, karena mendapat lirikan tajam dari pretty.
*ada apa dengan kak pretty? sejak tadi malam dia menatapku seperti itu* pikir alishka.
"Kenapa mereka keluar dari kamar yang berbeda?" samara bergumam sedikit heran.
Pretty yang lebih dulu sampai di meja makan, langsung duduk disebelah samara,, sontak itu membuat samara semakin heran.
*sebelumnya dia tidak pernah ingin duduk didekat ku? ada apa ini sebenarnya?* samara melirik pretty
"Selamat pagi samara" pretty tersenyum melihat samara
"Ya selamat pagi" samara sedikit canggung
Kemudian alishka juga ikut bergabung dimeja makan,, namun karena merasa tidak enak, alishka memilih duduk didekat edric.
__ADS_1
"Beby" edric memegang tangan samara
"Hah, ya sayang" samara menoleh
Samara yang mengerti, langsung mengambilkan lauk ke piring edric,, mereka semua mulai makan dengan hening.
"Apa aunty belum bangun rich?" pretty memulai percakapan
"Mamah pergi keluar kota,, mengunjungi temannya" jawab edric
"Begitukah?" pretty sambil mengunyah makanan
*kenapa rasanya sedikit berbeda? ini tidak sama seperti yang sebelumnya* pikir pretty saat merasakan makanan
"Kakak, ini tidak seperti masakan mamah" ucap alishka yang juga heran
Samara terlihat takut, mendengar respon dari alishka.
*apa alishka tidak menyukainya?* batin samara
"Tentu saja bukan,, karena mulai sekarang para koki mengikuti racikan samara" balas edric santai
"Kakak ipar bisa memasak?" alishka menatap samara
"Hehe, iya,, dulu aku sering memasak dirumah" samara tersenyum malu
Pretty manggut manggut memahami,,
"Ini enak,, ternyata kau pintar memasak juga" ucap pretty tersenyum manis ke samara
"Benarkah? terimakasih" samara terlihat senang
"Tentu saja,, kau bisa membuka restoran dengan masakan mu ini" pretty memberi saran
"Haha, kau sangat berlebihan,, aku tidak sehebat itu" samara tertawa mendengar pujian dari pretty
*ternyata dia orang yang asik,, aku merasa nyaman ngobrol dengannya* samara menatap pretty
Edric hanya tersenyum melihat istrinya bercanda tawa dengan pretty.
Mereka telah selesai makan,, disaat edric berdiri, semua ikut berdiri.
"Kakak, apa kau sudah memaafkan aku?" tanya alishka menatap edric
Pretty memalingkan wajah, malas melihat alishka.
"Apa kau sudah menyadari kesalahan mu?" tanya edric
"Iya kak" alishka menganggukkan kepala
"Baiklah, aku memaafkan mu,, tapi lain kali, jangan pernah kembali lewat dari jam yang ku tentukan, paham?" edric menekan suaranya
"Iya kak,, aku mengerti, terimakasih" alishka tersenyum
"Ya sudah,, ayo berangkat, atau gajimu akan ku potong" ancam edric
"OK, siap tuan" alishka langsung berlari keluar menuju mobil
Pretty hanya menyunggingkan senyuman di bibirnya,, melihat alishka.
Pretty berjalan sampai depan pintu utama,, disusul edric dan samara.
"Apa kau bertengkar dengan alishka?" tanya edric
"Tidak" pretty terlihat acuh
"Lalu kenapa kau pindah ke kamar tamu?" edric menatap pretty
"Tidak ada,, aku hanya tidak ingin mengganggunya, itu saja" ucap pretty berbohong
"Aku harus pergi sekarang" pretty menatap jam di tangannya
Melangkah pergi, masuk kedalam mobilnya,, disaat ingin melajukan mobil, tiba tiba alishka mengetuk kaca mobil.
"Ada apa?" tanya pretty cuek
"Ban mobilku bocor, boleh aku menumpang kak?" pinta alishka
"Tidak,, aku tidak searah dengan mu" ucap pretty cuek
Pretty langsung menutup kaca mobil dan pergi begitu saja,, itu membuat alishka terkejut.
Edric yang melihat itu semakin curiga,, merasa ada sesuatu yang mengganjal,, begitu juga dengan samara.
*kenapa pretty terlihat kasar?" pikir samara
Alishka yang murung langsung menghampiri edric,,
"Kakak, ban mobilku bocor" alishka merasa sedih
"Aku takut jika harus naik bus" alishka trauma akan kejadian di halte bus
"Ikut denganku saja,, kita masih satu kantor kan" edric mengelus kepala adiknya
"Tidak merepotkan mu?" tanya alishka
"Tentu saja tidak, ayo cepat" ucap edric
"Beby, aku pergi ya" edric pamit mengecup kening samara
"Hati hati sayang" samara tersenyum
Setelah edric menghilang dari pandangannya ,, samara kembali masuk kerumah, wanita itu hendak membereskan bekas piring kotor.
"Jangan nona, biar kami saja" ucap sang pelayan
"Tidak apa, hari ini biar aku yang melakukannya" pinta samara
"Jangan nona,, nona istirahat saja, jika tuan muda tau,, kami bisa di hukum nona, tolong kasihanilah kami nona" sang pelayan memohon
"Baiklah" samara menghela nafas
Samara menaiki tangga menuju kamarnya,,
"Hmm, apa yang harus ku lakukan?" samara jenuh dikamar sendiri
"Apa aku kebutik saja?" pikir samara
"Tapi jam segini, apa keiza sudah datang?" samara masih bergumam sendiri
"Ya sudah,, lebih baik aku lihat saja sendiri" samara akhirnya memutuskan untuk kebutik
Tidak lupa membawa tas, samara pergi menggunakan mobil yang di berikan edric untuknya.
...----------------...
Di tempat lain tepatnya dirumah sakit,, david sedang membaca koran.
"Selamat pagi david" dokter darren datang untuk memeriksa keadaannya
"Dokter, sampai kapan aku harus menunggu?" tanya david yang sudah jenuh
"Sabar, kita masih harus mengecek kondisi lukamu dulu" ucap dokter darren
Disaat dokter darren sedang mengecek,, tak lama thalia datang.
"Apa keadaan mu sudah membaik?" tanya thalia menghampiri david
"Aku rasa sudah,, cepat sekali kau datang?" david menatap thalia
Setelah melihat dokter darren selesai mengecek kondisi david,,
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya thalia
"Lukanya sudah hampir pulih" ucap dokter darren, lalu menatap thalia
__ADS_1
"Kalau begitu, apa dia bisa pulang?" tanya thalia lagi
"...."
Namun dokter darren masih terpesona dengan thalia,, sampai tak mendengar suara thalia.
*gadis ini, gadis manis yang kemarin menabrak ku* hati dokter darren berbunga
David terlihat kesal dengan dokter darren yang terus menatap adiknya,,
*ahh, kenapa dia diam saja? apa yang sudah dilihatnya? sampai terpelongo begitu* david kembali memperhatikan thalia
Thalia mengenakan pakaian yang terlihat seksi,, itu membuat david salah paham.
"Hey, dokter" bentak david
Itu membuat dokter darren terkejut,,,
"Ada apa?" dokter darren menatap david
"Apa yang kau lihat dokter? kenapa kau terus menatap adikku seperti itu?" david menatap tajam
"Adik? dia adikmu?" dokter darren kaget mendengarnya
"Tentu saja,, apa aku pernah berbohong" balas david
"Kakak jangan begitu,, tidak baik marah marah terus" thalia tersenyum ke dokter darren
Itu membuat dokter darren semakin jatuh cinta,,
"Ahh, tidak tidak,, tidak masalah, aku sudah sering menghadapi pasien yang pemarah" dokter darren tersenyum
"Terimakasih ya dok,, sudah merawat kakak saya" ucap thalia
"Iya itu sudah menjadi tugasku" balas dokter darren
Thalia tersenyum malu kepada dokter darren,,
*astaga, dokter ini kok tampan banget ya,, ya tuhan jantung ku deg deg kan* batin thalia
"Kalau begitu, aku permisi dulu ya" dokter darren mengedipkan sebelah matanya ke thalia
Thalia kaget, wajahnya memerah menahan malu,, setelah itu dokter darren meninggalkan ruangan.
"Hey, apa yang membuatmu bersikap sok imut begitu?" david mencibir
"Kakak, apa kau baru menyadarinya? aku itu memang imut sejak dulu" ucap thalia bangga
"Hah, terserah kau saja" david malas menanggapi adiknya yang selalu begitu
"Ayo makan,, aku sudah bawakan bubur untukmu, ini enak masih hangat" thalia membuka kemasan bubur
"Baiklah, tapi kau akan menyuapiku kan" david tersenyum
"Ya tentu saja,, ayo buka mulut" thalia mulai menyuapi david dengan sendok
"Kakak harus makan banyak,, biar cepat sembuh ya" thalia tersenyum
David memakan bubur sampai habis disuapi oleh thalia,,, setelah itu tidak lupa thalia, memberikan minum untuk kakaknya.
Gadis itu sangat telaten mengurus kakaknya,, thalia sangat menyayangi kakaknya itu,
"Ibu? apa kakak tau bagaimana wajah ibu?" thalia duduk di sebelah ranjang david
"Apa dia cantik?" tanya thalia
"Kenapa tiba tiba kau menanyakan ibu?" david melirik thalia
"Apa kau merindukan ibu?" lanjut david
"Aku bahkan tidak tau bagaimana cara merindukannya,, aku tidak ingat wajahnya" thalia terlihat murung
"Tentu saja kau tidak ingat,, ibu meninggal disaat usia mu 3 tahun" ucap david
"Lia, jika kau ingin melihat ibu ,, kau bisa melihat kecermin, maka kau akan melihat ibu" lanjut david tersenyum
"Bagaimana bisa?" thalia tidak percaya
"Kau sangat mirip dengan ibu,, ibu sangat cantik, persis seperti dirimu" ucap david mengelus wajah thalia
"Sungguh? benarkah?" thalia terlihat senang
"Mendekatlah" pinta david
Thalia mendekat ke david,, david mengambil sebuah kaca di lacinya.
David menaruh kaca itu tepat di depan wajah thalia,,
"Seperti itulah wajah ibu,, kalian sangat mirip" ucap david
"Ibu" thalia memegang wajahnya sendiri
"Ibu" thalia mulai menangis
"Sudahlah" david mengelus rambut adiknya.
...----------------...
Beralih ke hotel mewah,, pretty berjalan memasuki hotel,, para staf hotel langsung berbaris hormat padanya.
"Selamat pagi miss" ucap bella
"Pagi, aku suka penampilan mu bella" balas pretty yang terus berjalan ke ruangannya.
"Miss cantik sekali ya" bisik salah satu staf hotel,
Dan bella dapat mendengar hal itu,,
"Ssstt, kalian jangan pernah membicarakan tentang miss,, nanti kalian bisa di pecat" bella mengingatkan.
...----------------...
Di sebuah mansion mewah,, terdapat seorang pria muda, berparas tampan dan bertubuh tinggi,, sedang santai menikmati wiski di tangannya.
"Ada telfon untuk anda tuan" sang asisten memberikan sebuah ponsel
Pria itu menerima ponsel, lalu menjawab panggilan tersebut.
"Che cos'è?" ("Ada apa?")
"Avete bisogno di aiuto?" ("Kau membutuhkan bantuan?")
"Hmm, sai che devi pagare molto per quello" ("Hem, kau tau harus membayar mahal untuk itu") pria itu tersenyum penuh makna
"Ci vediamo al club stasera" ("Temui aku di club malam ini")
Pria itu memutuskan panggilan...
"Wanita itu bersedia melakukan apa saja demi semua keinginannya" pria itu tersenyum jahat
Andrian Edmund, pria yang dijuluki putra iblis.
Merupakan ketua gengster, yang berasal dari Italia,, Pria ini memiliki aura yang memikat namun juga mematikan, dia bisa membunuh semua musuhnya hanya dengan tangan kosong ,, berurusan dengannya itu sama saja dengan bunuh diri.
Pria yang tidak kenal ampun,, dan sangat membenci cinta, tidak ada wanita yang bisa menaklukan dirinya,, wanita hanyalah sebatas mainan baginya.
Bersambung.....
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻
__ADS_1